NovelToon NovelToon
WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Theurgist

Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.

Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.

Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 – Kembali ke Titik Awal

---

Suara klakson bersahut-sahutan di luar gedung perkantoran.

Arga memijat pelipisnya yang terasa nyeri.

Jam di layar komputer menunjukkan pukul 23.47.

Lantai kantor sudah hampir kosong. Lampu di sebagian ruangan bahkan telah dimatikan.

Namun Arga masih duduk di depan meja kerjanya.

Tumpukan laporan setinggi hampir satu jengkal memenuhi sisi kanan meja.

Punggungnya terasa kaku.

Matanya panas.

Perutnya kosong sejak sore.

Tetapi pekerjaannya belum selesai.

"Kalau laporan ini belum masuk besok pagi, habis saya dimarahi lagi."

Arga tertawa kecil.

Tawa yang terdengar pahit.

Usianya tiga puluh lima tahun.

Sudah lebih dari sepuluh tahun bekerja di perusahaan ini.

Setiap tahun ia berharap hidupnya akan membaik.

Setiap tahun ia berpikir bahwa sedikit pengorbanan lagi akan membuat semuanya berubah.

Namun kenyataannya tidak pernah seperti itu.

Gajinya memang naik.

Tetapi biaya hidup juga naik.

Utang orang tua belum lunas.

Tabungan tidak seberapa.

Rumah belum punya.

Mobil pun tidak ada.

Bahkan hubungan yang telah dijalin selama lima tahun berakhir begitu saja.

Alasannya sederhana.

Ia dianggap tidak memiliki masa depan.

Arga menatap layar komputer.

Di sudut layar terdapat foto keluarganya.

Ayah.

Ibu.

Dan dirinya.

Foto itu diambil bertahun-tahun lalu ketika warung kecil milik ibunya masih buka.

Warung sederhana di depan rumah.

Warung yang dulu menjadi sumber penghasilan utama keluarga.

Namun karena berbagai masalah, warung itu akhirnya tutup.

Sejak saat itu kondisi ekonomi keluarga semakin sulit.

Arga menghela napas panjang.

Andai saja waktu bisa diulang.

Andai saja ia lebih berani mengambil keputusan.

Andai saja ia membantu orang tuanya mengembangkan usaha sejak dulu.

Mungkin hidupnya tidak akan seperti sekarang.

Tiba-tiba dadanya terasa sesak.

Arga mengernyit.

Rasa sakit itu datang tanpa peringatan.

Awalnya hanya seperti ditusuk jarum.

Namun dalam hitungan detik berubah menjadi nyeri luar biasa.

"Uhuk..."

Tangannya gemetar.

Napasnya menjadi pendek.

Keringat dingin membasahi dahinya.

Ia mencoba berdiri.

Tetapi pandangannya berputar.

Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Bruk!

Kursi terjatuh.

Laporan berserakan ke lantai.

Arga terjatuh bersama kursinya.

Matanya menatap langit-langit kantor.

Suara alarm dari komputer terdengar samar.

Semuanya menjadi kabur.

Sangat kabur.

Pikiran terakhir yang muncul di benaknya hanyalah satu.

"Aku... lelah..."

Lalu gelap.

---

"Arga!"

"Arga! Bangun!"

Seseorang mengguncang bahunya.

Arga membuka mata perlahan.

Cahaya matahari yang terang membuatnya refleks menyipitkan mata.

Ia berkedip beberapa kali.

Kepalanya masih terasa berat.

Namun rasa sakit di dada sudah hilang.

Ia menatap sekeliling.

Kamar sederhana.

Dinding bercat hijau yang mulai pudar.

Lemari kayu tua.

Kipas angin kecil di sudut ruangan.

Semua terlihat sangat familiar.

Arga membeku.

"Tidak mungkin..."

Ia langsung duduk.

Jantungnya berdegup kencang.

Kamar ini...

Bukankah ini kamar lamanya?

Kamar yang sudah bertahun-tahun tidak ia lihat.

"Arga! Cepat bangun! Nanti terlambat!"

Suara wanita dari luar kamar kembali terdengar.

Arga menelan ludah.

Suara itu...

Suara ibunya.

Tubuhnya langsung bergerak.

Ia membuka pintu kamar dengan tergesa-gesa.

Seorang wanita paruh baya berdiri di depan rumah sambil membawa sapu.

Wanita itu tampak lebih muda dibandingkan yang ia ingat.

Tidak ada kerutan berlebihan.

Tidak ada rambut memutih.

Tidak ada wajah lelah akibat bertahun-tahun bekerja keras.

"Ibu..."

Wanita itu mengerutkan dahi.

"Kenapa lihat Ibu begitu?"

Arga tidak menjawab.

Matanya memerah.

Di kehidupan sebelumnya, ibunya meninggal karena komplikasi penyakit beberapa tahun lalu.

Ia bahkan tidak sempat menemani di hari-hari terakhir.

Karena saat itu dirinya terlalu sibuk bekerja.

Kini wanita itu berdiri tepat di depannya.

Sehat.

Hidup.

Nyata.

"Bu..."

"Hah?"

Tanpa sadar Arga memeluk ibunya.

Wanita itu terkejut.

"Eh? Kenapa ini?"

Arga menggigit bibir.

Air matanya hampir jatuh.

Namun ia segera menahannya.

Kalau sampai menangis sekarang, ibunya pasti mengira dirinya gila.

"Tidak apa-apa."

"Dasar anak aneh."

Ibunya tertawa kecil.

"Lagipula kamu tidak berangkat sekolah?"

Sekolah?

Arga langsung menoleh.

"Sekolah?"

"Iya."

Ibunya memukul pelan bahunya.

"Masih ngantuk ya?"

Arga buru-buru masuk kembali ke kamar.

Di atas meja terdapat kalender.

Tahun 2010.

Matanya membelalak.

2010.

Enam belas tahun yang lalu.

Tangannya gemetar.

Ia segera mencari cermin.

Wajah yang muncul membuatnya membeku.

Wajah muda.

Kulit yang lebih bersih.

Tubuh kurus khas remaja.

Usia delapan belas tahun.

"Aku... kembali?"

Arga menatap bayangannya tanpa berkedip.

Ini bukan mimpi.

Semua terasa terlalu nyata.

Ia mencubit pipinya sendiri.

Sakit.

Benar-benar sakit.

Jadi ini kenyataan.

Ia benar-benar kembali ke masa lalu.

Ke titik awal kehidupannya.

Ke masa ketika semuanya belum terlambat.

Perlahan napas Arga menjadi berat.

Ingatan masa depan masih utuh.

Ia ingat seluruh kegagalan yang pernah dialami.

Ia ingat peluang-peluang yang pernah terlewat.

Ia ingat keputusan-keputusan bodoh yang menghancurkan hidupnya.

Dan yang terpenting...

Ia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya.

Tatapan Arga perlahan berubah.

Dari kebingungan.

Menjadi tekad.

Kuat.

Sangat kuat.

"Kalau aku benar-benar kembali..."

"Aku tidak akan mengulang hidup yang sama."

Ia mengepalkan tangan.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia selalu bermain aman.

Selalu takut mengambil risiko.

Selalu menunggu kesempatan datang.

Namun kesempatan tidak pernah menunggu siapa pun.

Kali ini berbeda.

Ia tahu masa depan.

Ia tahu peluang mana yang akan berhasil.

Ia tahu kesalahan mana yang harus dihindari.

Mungkin ia tidak bisa langsung menjadi kaya.

Namun setidaknya ia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki orang lain.

Pengetahuan.

Dan pengalaman.

Suara ibunya kembali terdengar dari luar.

"Arga! Sarapan dulu!"

"Aku datang, Bu!"

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arga tersenyum tulus.

Ia berjalan keluar kamar.

Di meja makan sederhana sudah tersedia nasi goreng dan teh hangat.

Ayahnya juga duduk di sana.

Masih sehat.

Masih kuat.

Masih tersenyum.

Dada Arga kembali terasa hangat.

Pemandangan sederhana ini dahulu sering ia abaikan.

Kini justru terasa sangat berharga.

Saat sedang makan, tanpa sengaja ia mendengar percakapan kedua orang tuanya.

"Kalau warung tidak ramai minggu ini, mungkin kita harus pinjam uang lagi."

Suara ayahnya terdengar pelan.

Ibunya mengangguk lemah.

"Semoga saja ada jalan."

Arga menghentikan gerakan makannya.

Warung.

Ia langsung teringat sesuatu.

Warung keluarganya memang sedang mengalami masa sulit pada tahun ini.

Tak lama kemudian warung itu tutup.

Utang mulai menumpuk.

Masalah demi masalah datang tanpa henti.

Namun sekarang...

Ia sudah mengetahui semuanya.

Ia tahu kesalahan yang dulu dilakukan.

Ia tahu bagaimana warung itu seharusnya dijalankan.

Bahkan ia tahu tren bisnis yang akan muncul beberapa tahun ke depan.

Perlahan senyum muncul di sudut bibirnya.

Mungkin ia belum punya modal.

Mungkin ia masih seorang siswa SMA.

Tetapi itu bukan masalah.

Karena perjalanan besar selalu dimulai dari langkah kecil.

Dan langkah pertama akan dimulai dari warung kecil milik keluarganya.

Arga menatap kedua orang tuanya.

Dalam hati ia membuat sebuah janji.

"Kali ini aku akan mengubah nasib keluarga kita."

"Kali ini warung itu tidak akan tutup."

"Kali ini aku akan menjadi kaya."

Di luar rumah, angin pagi berembus pelan.

Sementara itu Arga belum menyadari satu hal.

Keputusannya hari ini akan menjadi awal dari perjalanan yang mengubah hidupnya selamanya.

---

1
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah ini atau sistem gitu thor
Dewiendahsetiowati: ok Thor dan ditunggu up selanjutnya
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!