Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 017 : Sisa-sisa Inang yang Tertinggal
Sementara berbagai keanehan meliputi Farah beserta yang lain di lain tempat. Kita akan kembali apa Tuan dan Nyonya Antony yang kini berada di rumah sakit.
Sekitar pukul satu malam. Setelah kesadarannya direnggut paksa oleh sosok menyeramkan di kantor polisi.
Nyonya Antony, samar-samar kembali membuka kedua matanya. Nyonya Antony mengerjapkan kedua matanya sejenak. Mengumpulkan kesadarannya.
"Pa.." lirih Nyonya Antony, memanggil satu nama yang menjadi pusat dunianya kini.
Tuan Antony yang duduk menungguinya di sofa. Perlahan mengalihkan fokusnya dari layar ponsel ke arah ranjang istri tercintanya ketika mendengar suara istrinya memanggilnya.
Betapa senangnya Tuan Antony, sehingga kedua matanya membulat tatkala melihat sang istri kembali siuman setelah beberapa jam lalu kehilangan kesadarannya. Dari duduknya, Tuan Antony bangkit.
"Mama!" sapa Tuan Antony menyambut panggilan istrinya. Dia berjalan ke arah Nyonya Antony.
Dia menarik kursi kecil yang ada di sisi ranjang lalu mendudukinya. Dia menatap lembut istrinya. Sungguh, pria ini adalah sosok yang lembut.
Dia mengulurkan telapak tangan besarnya ke arah wajah istrinya. Membelainya dengan penuh kasih. Sembari isi kepalanya kini masih tersemat perihal bagaimana keadaan anak semata wayangnya, Farah?
"Kamu kenapa, sayang? Tiba-tiba saja pingsan?" ujarnya pada Nyonya Antony, begitu khawatir.
Nyonya Antony kembali mengingat seluruh memori sebelum kesadarannya hilang pada saat itu.
Ketika Tuan Antony menggenggam tangannya. Menariknya ke arah bibirnya, menciuminya.
Di situ, Nyonya Antony mengulurkan telapak tangannya halus. Membelai lembut kepala suaminya dan berkata,
"Aku melihat hal yang aneh!" ujar Nyonya Antony, memulai ceritanya.
Tuan Antony memperhatikannya. Dia bersandar di kursi tempat dia duduk kini. Dia menatap ke arah istrinya. Menaikkan salah satu alisnya.
"Hal aneh apa itu, Sayang?" tanya Tuan Antony padanya. Di situ, tersirat cukup jelas bagaimana Tuan Antony menatap Nyonya Antony dengan wajah yang cukup serius.
"Antony!" panggil Nyonya Antony lembut.
"Hmm.." jawab Tuan Antony kepada istrinya.
Kedua mata mereka beradu sekarang. Nyonya Antony tahu betul. Bahwa suaminya bahkan tidak mempercayai hal-hal mistis.
Bagi Tuan Antony, itu adalah hal yang tak ada. Dan itu juga lah yang diyakini oleh nyonya Antony hingga kini.
Tetapi, apa yang dia lihat di kantor polisi tadi. Sudah cukup membuktikan bahwa mereka hidup di sini selama ini, berdampingan dengan mereka yang ada di alam sebelah.
"Aku melihat hantu!" kata Nyonya Antony pada akhirnya. Melepaskan seluruh beban yang ada di dalam kepalanya untuk mengutarakan beberapa kalimat yang sulit diloloskan.
Tuan Antony terdiam. Dia tetap diam selama beberapa detik. Kemudian, dia berkata,
"Sejak kapan kita..." ucapan Tuan Antony terpotong sebab Nyonya Antony memberi suaminya isyarat untuk diam.
Dengan meletakkan jari telunjuknya tepat ke arah bibir Tuan Antonya.
"Jika semuanya tidak bisa dilogika. Kamu boleh menganggapku gila, Antony!" ujar Nyonya Antony padanya.
Tuan Antony terdiam. Dia mulai memberi ruang untuk istrinya berbicara. Sembari memperhatikan Tuan Antony. Nyonya Antony tersenyum tipis.
Sepertinya suaminya sudah mulai memberinya ruang. Sekarang adalah saat yang tepat baginya bersuara.
"Apa kamu ingat lukisan yang digambar oleh anak kita, Antony?" Nyonya Antony bertanya lirih pada suaminya.
Pertanyaan kecip dari istrinya itu membuatnya memutar otak sejenak. Dia memutar memori beberapa hari lalu sebelum Farah pergi.
Ketika Ardin datang dan ketika mereka pergi. Ketika gambaran lukisan itu tersemat kembali dalam kepalanya. Dia ingat! Tempat yang Farah lukis.
"Ya, aku ingat! Kenapa memangnya?" tanya Tuan Antony pada istrinya. Nyonya Antony tersenyum.
"Ardin bilang lukisan itu, nyata!" kata Nyonya Antony. Sejenak pandangan kedua insan ini kembali beradu. Tatapan mereka serius sekarang.
"Kita harus mencari tempat itu!" saran Nyonya Antony pada suaminya.
"Sayang, tapi..."
"Aku melihat anak kita, di sana! Tolong, percayalah padaku!" Nyonya Antony kembali memangkas ucapan suaminya. Tuan Antony mencoba menenangkan pikiran istrinya yang kalut dengan mengusap-usap lembut puncak kepalanya.
"Bagaimana kamu bisa melihatnya? Dari mana? Itu gak masuk akal sama sekali!" tutur Tuan Antony. Dia sedikit kesal sekarang atas perkataan istrinya yang menurutnya tidak logis.
"Antony, jika aku tanya ke kamu perihal pesan Ardin dan Farah yang sampai padamu. Apakah itu lumrah?" Nyonya Antony kembali melempar pertanyaan pada suaminya.
Mencoba mengingatkan padanya bahwa, Farah dan Ardin bukan tipe orang yang akan mengirimkan pesan tak masuk akal. Tuan Antony mengernyitkan keningnya.
Dia mengingat kembali perihal pesan yang Ardin kirimkan kepadanya. Benar, dia pun sama! Dia mengenal Ardin, sebab Ardin adalah salah satu anak didiknya yang sangat dekat dengannya.
"Antony, jika kamu sudah memikirkannya. Hantu yang aku lihat di kantor polisi itu. Memperlihatkan aku sebuah belantara. Di sana, aku melihat Farah! Jika kamu ingat, Farah kita pernah melukiskan belantara beserta dengan bangunan tua yang usang. Dan satu lagi, Ardin bilang! Katanya apa yang dilukis oleh Farah adalah nyata! Artinya, anak kita berada di sana bersamanya!" jelas Nyonya Antony.
Segala hal yang dikatakan oleh Istrinya, entah mengapa? Bisa dia terima secara perlahan. Mau tidak mau, Tuan Antony menyerah berpikir positif. Dia mencoba menerima perkataan istrinya. Sorot mata tajamnya itu menatap lekat ke arah istrinya. Keseriusan jelas tersirat di sana.
"Jadi?" tanya Tuan Antony kepada Istrinya. Pada akhirnya, nada bicara Tuan Antony merendah dan tenang.
Itu mengundang senyum tipis di wajah Nyonya Antony. Sambil menggenggam tangan suaminya, dia pun berkata,
"Mari kita cari hutannya! Kita cari apa yang Farah gambar. Aku yakin, apa yang terjadi kepadaku. Sampai pada lukisan anak kita, itu segalanya terhubung! Cobalah percaya itu dan gunakan koneksimu. Supaya Farah kita, segera ditemukan!" tutur Nyonya Antony meminta kepada suaminya.
Di situ, sejenak hening menerpa mereka beberapa detik. Namun tak lama, sambil masih menatap istrinya. Tuan Antony pun menganggukkan kepalanya. Pertanda, bahwa dia setuju.
"Baiklah, aku akan mengerjakan apa yang kamu mau!" jawabnya, dia menunduk mengarahkan wajahnya ke arah istrinya. Sebuah kecupan lembut mengakhiri pembicaraan mereka.
Saat itu, tak jauh dari tempat mereka berada. Di balik jendela. Sesosok anak kecil berkulit hitam terbakar terbang di luar sana. Bola matanya yang memerah itu, memperhatikan kedua pasangan suami istri yang sedang diliputi kegundahan itu.
Jarum jam di dalam ruangan itu adalah satu-satunya musik yang menemani kedua insan itu. Seiring dengan berjalannya jarum jam itu.
Tiap detiknya memunculkan asap-asap hitam di balik tubuh sosok anak kecil berkulit hitam terbakar itu.
Fokusnya tak teralih mematri Tuan Antony dan Istrinya di dalam sana. Dia, yang ada di balik jendela adalah sosok yang sama yang membuat Nyonya Antony sampai pingsan. Sebelum kepulan asap itu meliputi tubuhnya. Sosok itu berkata,
...'Farahmu adalah kutubku! Farahmu adalah kunci yang sudah ditetapkan untuk datang. Jika kalian menginginkannya. Maka datanglah, jemput dia!'...
Syuthhhhh
Kalimat-kalimat kecil itu seakan menggema. Kalimat-kalimat kecil malam itu yang datang dari sosok anak kecil itu. Seakan menembus jendela.
Seakan ada rongga di sana yang menghubungkan batas luar dan dalam. Sehingga kalimatnya sampai tepat ke arah daun telinga Nyonya Antony.
Dan pada saat itulah, dia mengedarkan pandangannya ke arah jendela. Namun, tak ada siapapun di sana! Sosok itu sudah menghilang.
ternyata dia lebih tua dari aku🤣