Kesalahan yang dilakukan demi melepaskan diri dari jeratan pinjaman online tak disangka harus membuat Rudi harus membayarnya dengan menyelamatkan sembilan manusia dari kematian tragis. Mampukah Rudi menyelamatkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9 Nyawa 34
Rudi terduduk lemas saat membaca hasil lab pemeriksaan istrinya. Ia tak mengira jika istrinya yang selama ini selalu terlihat ceria ternyata mengidap penyakit kanker.
Hatinya hancur lebur mengingat bagaimana ia dulu memperlakukannya. Ia selalu memperlakukan istrinya itu dengan buruk.
Meskipun begitu Ayu tak pernah mengeluh apalagi menggugatnya cerai. Bahkan saat mereka di lilit hutang pinjol, ia tetap setia menemaninya, dan mendukung perekonomian keluarga mereka dengan bekerja sebagai asisten rumah tangga.
Wanita itu bahkan tak pernah marah meskipun Rudi jarang memberinya uang belanja kebutuhan sehari-hari, karena uang gajinya habis untuk membayar cicilan pinjol.
Bukannya bangga atau berterima kasih kepada sang istri yang sudah mau menerima kondisinya tanpa banyak menuntut, Rudi justru sering melampiaskan kekesalannya kepada sang istri. Tak jarang wanita itu selalu di maki-maki olehnya bahkan selalu disalahkan atas apa yang menimpanya.
Meskipun begitu Ayu selalu diam tanpa banyak bicara. Wanita itu memang selalu diam setiap Rudi memarahinya.
Ia tak pernah membalasnya apalagi membantahnya, entahlah... Mungkin dia sudah kebal dengan semua kata-kata kasar suaminya atau ia enggan membebani dirinya dengan perasaan stres atas perlakuan sang suami.
Kini Rudi menyesali semua perbuatannya kepada sang istri. Pria itu menangis tersedu-sedu di dalam mobilnya. Ia benar-benar tak mengira jika selama ini istrinya mengidap penyakit yang begitu berbahaya. Ia bahkan tak pernah bercerita kepadanya soal penyakitnya. Ayu memang selalu memendam semuanya seorang diri. Ia tak pernah memberitahukan suaminya hal-hal yang membuatnya sedih.
Ia hanya suka bercerita jika ia mendapatkan kebahagiaan, meskipun begitu Rudi tak pernah menanggapi setiap ceritanya. Ia selalu sibuk dengan tagihan pinjolnya.
"Maafkan aku sayang, harusnya saat ini aku ada di sisimu, harusnya aku bisa memberikan support untukmu, maafkan aku jika selama ini aku mengabaikan mu,"
Rudi kembali mengunjungi kafe tempat Ayu bekerja. Pria itu tak berkedip menatap wanita itu yang masih sibuk melayani para pengunjung kafe.
"Mau pesan apa Mas?" tanya seorang pelayan menghampirinya
"Nanti saja mbak, aku masih menunggu seseorang," jawab Rudi
"Ok,"
Pelayan pun pergi meninggalkan Rudi. Kali ini Rudi memperhatikan Ayu yang tengah membawa satu baki minuman dingin. Wanita itu tampak pucat, hingga membuatnya begitu khawatir. Apalagi saat ia melihatnya nyaris jatuh.
Rudi segera bangkit dari duduknya untuk membantunya, namun seorang pria lebih dulu menghampiri Ayu.
"Kamu gak papa Yu?" tanya pria itu
Ayu mengangguk pelan, dan berusaha terlihat kuat.
Sementara itu Rudi tak bisa mengalihkan pandangannya.
"Iya pak, gak papa kok, hanya kurang fokus dikit," jawab Ayu
"Wajah kamu pucat Yu, kalau kamu sakit, sebaiknya istirahat saja. Atau mau aku anterin pulang?" tanya pria itu lagi
"Gak papa kok Pak, aku baik-baik saja. Kalau gitu aku balik lagi ke belakang ya pak," jawab Ayu kemudian bergegas pergi
"Maaf apa aku boleh pesan kopi latte satu?" ucap Rudi menghampiri Ayu
"Baik, tunggu sebentar ya Mas," jawab Ayu ramah
Seketika bola mata Rudi membulat saat melihat darah segar mengalir dari hidung Ayu. Ia pun segera mengeluarkan sapu tangannya untuk membersihkannya. Namun dengan sigap Ayu segera menepis lengannya.
"Sorry, jika aku lancang, tapi hidung kamu berdarah?" ucap Rudi
Ayupun segera mengusap darah yang mengucur dari hidungnya. Wanita itu tampak shock saat mengetahui begitu banyak darah yang keluar dari hidungnya.
*Bruughh!!
sukurin...nyesel deh
tp tetep maju, tegakkan keadilan💪💪💪
hahaaa... berubah!!! 🦸♂️
lanjut...
yaaa... bundir, dosamu makin bertambah
waaduuuh pertanda apakah ini semua??