Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.
Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.
Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.
Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.
Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.
Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.
Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
END | Takdir Yang di Pilih
Alarm terus menggema di seluruh laboratorium.
09:59...
09:58...
Retakan di langit-langit semakin melebar. Debu mulai berjatuhan di sekitar mereka.
Di tangan Niel, kunci perak itu terasa semakin hangat.
Seolah-olah sedang menunggunya.
Leon berdiri di depan pintu keluar.
Tatapannya tidak lagi menunjukkan permusuhan.
Hanya kelelahan.
"Origin tidak bisa dihancurkan dengan kekuatan."
Suara Leon terdengar pelan.
"Origin hanya bisa dimatikan oleh dua orang yang memulainya."
Niel menggenggam kunci itu lebih erat.
"Dan itu kami."
Leon mengangguk.
"Kalian."
___________________________________________
Mereka berjalan menuju pilar di tengah ruangan.
Di bagian bawahnya kini terbuka sebuah lubang kecil berbentuk kunci.
Pas.
Sama persis dengan kunci yang dibawa Niel.
Namun sebelum Niel memasukkannya...
Aluna menahan tangannya.
"Tunggu."
Semua menoleh.
Aluna menatap layar yang masih menampilkan sosok ibu Niel.
"Kalau kami melakukan ini..."
"Apa yang akan kami kehilangan?"
Untuk beberapa saat, rekaman itu terdiam.
Lalu perempuan itu menjawab dengan suara lembut,
"Kalian tidak akan kehilangan masa depan."
"Tapi kalian akan kehilangan masa lalu."
Ruangan mendadak sunyi.
Niel mengernyit.
"Maksudnya?"
"Semua ingatan tentang Proyek Takdir..."
"Akan lenyap."
"Seluruh rasa sakit."
"Seluruh ketakutan."
"Seluruh rahasia."
Semuanya akan hilang."
Aluna menggigit bibirnya.
"Lalu..."
"Bagaimana dengan kita?"
Perempuan itu tersenyum.
"Itu tergantung pilihan kalian."
__________________________________________
Niel memandang Aluna.
Mereka saling menatap cukup lama.
Tak satu pun mengucapkan sepatah kata.
Namun keduanya mengerti.
Jika semua ingatan hilang...
Mereka mungkin akan kembali menjadi dua orang asing.
Tidak ada kenangan di perpustakaan.
Tidak ada janji masa kecil.
Tidak ada perjuangan mencari kebenaran.
Semua akan menghilang.
Aluna tersenyum kecil.
"Kalau begitu..."
"Aku akan mengenalmu lagi."
Niel membeku.
Aluna melanjutkan,
"Kalau memang kita ditakdirkan bertemu..."
"Seberapa banyak pun kenangan yang hilang..."
"Aku percaya kita akan menemukan jalan kembali."
Air mata jatuh di pipi Niel.
Untuk pertama kalinya...
Ia tidak merasa takut kehilangan.
Karena ia percaya pada pilihan mereka.
Bukan pada takdir yang dipaksakan.
_____________________________________
Niel mengangguk pelan.
"Bersama?"
Aluna mengulurkan tangan.
"Selalu."
Mereka menggenggam kunci itu bersama-sama.
Lalu...
memasukkannya ke dalam pilar.
Klik.
Seluruh laboratorium langsung dipenuhi cahaya putih.
Origin aktif.
Suara sistem terdengar untuk terakhir kalinya.
"PROYEK TAKDIR..."
"...DIHENTIKAN."
"...SELURUH DATA DIHAPUS."
Layar-layar mulai padam satu per satu.
Seluruh dokumen penelitian menghilang.
Semua data tentang eksperimen.
Semua catatan.
Semua nama subjek.
Lenyap.
Leon menatap pemandangan itu sambil tersenyum tipis.
"Akhirnya..."
Permainan yang berlangsung selama puluhan tahun...
berakhir.
_________________________________________
Cahaya semakin terang.
Niel mulai merasakan kepalanya terasa ringan.
Wajah Aluna di depannya perlahan menjadi kabur.
"Aku..."
Bisiknya.
"Jangan lupa..."
Aluna menggenggam tangannya lebih erat.
"Walaupun nanti kita lupa..."
"Cari aku."
Niel tersenyum.
"Pasti."
Itulah kata terakhir yang mereka ingat.
Sebelum semuanya berubah menjadi putih.
_________________________________________
Tiga bulan kemudian.
Sebuah perpustakaan kota yang baru selesai direnovasi.
Seorang perempuan sedang memilih buku di rak paling ujung.
Saat hendak mengambil sebuah novel...
Tangannya bersentuhan dengan tangan seseorang.
"Oh, maaf."
Keduanya menarik tangan bersamaan.
Pria itu tersenyum canggung.
"Tidak apa-apa."
Perempuan itu mengangguk pelan.
Entah mengapa...
Senyum pria itu terasa sangat familiar.
"Apa kita pernah bertemu?"
Pria itu menggeleng sambil tertawa kecil.
"Kurasa belum."
Hening beberapa detik.
Lalu pria itu mengulurkan tangan.
"Aku Niel."
Perempuan itu tersenyum.
"Aluna."
Untuk sesaat...
Angin dari jendela meniup halaman sebuah buku yang tergeletak di meja.
Halaman terakhirnya terbuka sendiri.
Di sana hanya tertulis satu kalimat.
"Takdir bukan tentang siapa yang ditentukan untuk bersama. Takdir adalah keberanian untuk saling memilih, berulang kali."
Niel dan Aluna berjalan keluar dari perpustakaan.
Berdampingan.
Tanpa mengetahui semua yang pernah mereka lalui.
Namun kali ini...
Mereka melangkah bukan karena sebuah eksperimen.
Bukan karena permainan.
Bukan karena masa lalu.
Melainkan karena pilihan mereka sendiri.
Dan di suatu tempat yang tak lagi bisa dijangkau manusia...
Suara seorang ibu berbisik pelan,
"Kalian berhasil."
TAMAT.