Lelah menjadi budak korporat di kota besar tanpa hasil dan malah dikhianati oleh orang terdekatnya, Yao Wi memutuskan menyerah dan pulang ke kota kelahirannya yang miskin dan terbelakang. Namun, siapa sangka keputusannya untuk menyerah justru menjadi titik balik hidupnya saat sebuah sistem misterius tiba-tiba aktif di kepalanya.
Ding!
[Selamat datang, Tuan Rumah Yao Wi.]
[Sistem ini bertujuan untuk membantu Anda mengubah kota kelahiran Anda yang tertinggal menjadi kota paling makmur di bumi.]
[Aturan Utama Sistem: Tuan rumah akan menerima seratus ribu setiap hari dari setiap jiwa yang terdaftar resmi sebagai warga kota ini.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Ngiung! Ngiung!
Suara sirine mobil polisi meraung-raung membelah kesunyian jalanan distrik selatan Kota Linzhou yang biasanya mati.
Tiga mobil patroli polisi dan sebuah sedan dinas mewah berwarna hitam berhenti mendadak tepat di depan pelataran Linzhou Corp.
Brak!
Pintu sedan hitam itu ditendang terbuka dari dalam dengan sangat kasar.
Pejabat Sun melangkah keluar dengan perut buncitnya yang berguncang, wajahnya merah padam menahan amarah yang meledak-ledak.
Di belakangnya, seorang pria berseragam polisi dengan pangkat Kepala Kepolisian Distrik, Kapten Zhao, ikut turun dengan wajah garang.
"Tutup semua akses jalan menuju gedung ini dan pasang garis polisi sekarang juga!" teriak Kapten Zhao memberikan perintah kepada belasan anak buahnya.
Para polisi berpangkat rendah itu segera berlarian mengelilingi pelataran gedung kaca hitam yang menjulang tinggi tersebut.
Pejabat Sun menengadah menatap logo holografik Linzhou Corp yang menyala terang di puncak gedung dengan tatapan penuh kebencian.
"Berani sekali ada orang yang membangun gedung pencakar langit di wilayahku tanpa menyetor satu sen pun ke kantongku," geram Pejabat Sun sambil mengisap cerutunya dalam-dalam.
"Tenang saja, Pak Walikota, kita akan menyegel tempat ini atas tuduhan pelanggaran izin mendirikan bangunan," balas Kapten Zhao sambil tersenyum menjilat.
"Setelah disegel, pemilik gedung ini pasti akan datang merangkak dan memohon kepada Anda sambil membawa koper berisi uang tunai."
Pejabat Sun tertawa keras mendengar rencana busuk yang sudah sangat sering mereka lakukan bertahun-tahun itu.
Mereka berdua berjalan dengan angkuh melewati pintu kaca otomatis yang terbuka perlahan menyambut mereka.
Hawa sejuk seketika menerpa wajah mereka, membuat Pejabat Sun dan Kapten Zhao terdiam mematung di ambang pintu.
Mulut mereka terbuka lebar melihat kemewahan lobi utama yang terbuat dari marmer putih tanpa sambungan tersebut.
Ini bahkan seratus kali lebih mewah daripada lobi balai kota yang dibangun menggunakan uang pajak warga.
"Selamat datang di Linzhou Corp, apakah ada yang bisa saya bantu, Tuan-tuan?" terdengar sebuah suara wanita yang sangat merdu namun tanpa emosi.
Pejabat Sun mencari sumber suara itu dan melihat sebuah layar holografik di atas meja resepsionis yang menampilkan avatar wanita cantik.
Itu adalah sistem kecerdasan buatan penjaga lobi yang diinstal langsung oleh sistem saat renovasi semalam.
"Panggil bosmu sekarang juga, dasar mesin rongsokan!" bentak Kapten Zhao sambil menggebrak meja marmer itu dengan tongkat polisinya.
Trak!
Tongkat polisi itu malah terpental keras, membuat tangan Kapten Zhao kesemutan seolah ia baru saja memukul balok baja murni.
"Peringatan, tindakan vandalisme terdeteksi di area lobi," ucap AI resepsionis itu dengan nada yang mulai berubah dingin.
"Akses keamanan tingkat satu diaktifkan, memanggil Direktur Utama."
Ting!
Suara denting pintu lift dari ujung lobi berbunyi memecah ketegangan di ruangan raksasa tersebut.
Pintu lift terbuka dan Yao Wi melangkah keluar dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana jas mahalnya.
Langkahnya sangat santai dan tenang, seolah belasan polisi bersenjata di luar sana hanyalah pajangan manekin baginya.
"Pagi yang sangat berisik untuk sebuah kota mati, ada apa Walikota Sun berkunjung ke perusahaan kecilku?" sapa Yao Wi sambil tersenyum sinis.
Pejabat Sun memicingkan matanya, mencoba menilai pemuda berpakaian mahal yang berdiri beberapa meter di depannya ini.
Ia belum pernah melihat wajah Yao Wi sebelumnya di jajaran pengusaha elit maupun di acara pemerintahan provinsi.
"Jadi kau tikus kecil yang bersembunyi di balik gedung ilegal ini?" ejek Pejabat Sun sambil membuang abu cerutunya sembarangan ke lantai marmer.
"Gedung ini tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan, tidak ada analisis dampak lingkungan, dan tidak ada setoran pajak daerah!"
Yao Wi hanya mendengus pelan dan menatap abu cerutu yang mengotori lantai lobinya dengan tatapan jijik.
"Gedung ini berdiri di atas tanah milik pribadiku, dan aku tidak butuh izin dari lalat korup sepertimu untuk membangun rumahku sendiri," balas Yao Wi tajam tanpa basa-basi.
Wajah Pejabat Sun seketika berubah ungu karena marah mendengar hinaan telak tersebut.
Selama sepuluh tahun menjabat sebagai walikota, tidak ada satu orang pun yang berani memanggilnya lalat korup tepat di depan wajahnya.
"Kurang ajar! Kau belum tahu siapa yang berkuasa di kota ini, anak muda!" teriak Pejabat Sun menunjuk wajah Yao Wi.
"Kapten Zhao, borgol pemuda sombong ini atas tuduhan melawan pejabat negara dan segel gedung ini sekarang juga!"
Kapten Zhao langsung mencabut borgol besi dari pinggangnya dan berjalan mendekati Yao Wi dengan senyum sadis.
"Kau salah memilih lawan, Nak, kehidupanmu akan berakhir di penjara bawah tanah kami hari ini," ancam Kapten Zhao sambil mengulurkan tangannya.
Yao Wi sama sekali tidak mundur selangkah pun, ia malah mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya.
"Menyegel gedungku? Menangkapku?" tawa Yao Wi perlahan mulai menggema di lobi yang luas itu.
"Walikota Sun, sebelum anjing peliharaanmu ini menyentuhku, ada baiknya kau mengecek kondisi keuangan pemerintah kotamu yang menyedihkan itu."
Pejabat Sun mengerutkan keningnya, firasat buruk tiba-tiba merayap di tengkuknya melihat ketenangan absolut dari pemuda di depannya.
Ding!
[Misi Sampingan Diaktifkan: Ambil alih hutang daerah Kota Linzhou.]
[Memindai data hutang obligasi macet milik Pemerintah Kota Linzhou di Bank Pusat Provinsi...]
[Total hutang yang jatuh tempo hari ini adalah sebesar dua miliar rupiah.]
Yao Wi menatap layar biru sistem yang melayang di udara dengan seringai iblis yang sangat mematikan.
"Bank Pusat Provinsi akan menyita balai kota dan seluruh aset pemerintahanmu hari ini karena kalian gagal membayar hutang obligasi macet selama lima tahun," ucap Yao Wi dengan suara rendah namun menggema.
"Daripada balai kotamu disita oleh provinsi, bagaimana kalau aku yang membelinya hari ini juga?"
Jari telunjuk Yao Wi menekan layar ponselnya dengan cepat, mengakses menu pembelian obligasi daerah khusus VIP.
Ding!
[Pembayaran sebesar dua miliar rupiah untuk pembelian surat hutang daerah berhasil diselesaikan.]
[Selamat, Tuan Rumah kini adalah kreditur tunggal dan pemilik sah atas seluruh aset jaminan Pemerintah Kota Linzhou.]
Kring! Kring! Kring!
Tepat pada detik sistem menyelesaikan transaksi itu, ponsel di dalam saku celana Pejabat Sun berdering dengan sangat nyaring dan panik.
Pejabat Sun mengangkat tangannya untuk menghentikan Kapten Zhao sejenak, lalu merogoh sakunya dengan tangan yang entah kenapa mulai berkeringat dingin.
Ia melihat layar ponselnya dan jantungnya hampir copot saat melihat nama Direktur Bank Pusat Provinsi tertera di sana.
"H-halo, Tuan Direktur, ada angin apa Anda menelepon saya pagi-pagi begini?" sapa Pejabat Sun dengan nada yang sangat menjilat dan membungkukkan badan.
"Sun sialan! Apa yang kau lakukan di kota miskinmu itu sampai menyinggung seorang dewa keuangan!" teriak suara dari seberang telepon dengan volume maksimal hingga terdengar oleh Yao Wi.
"S-saya tidak mengerti maksud Anda, Tuan Direktur, saya sedang menertibkan bangunan ilegal..."
"Tutup mulutmu yang bodoh itu!" potong sang direktur bank dengan penuh amarah.
"Seluruh hutang obligasi kotamu yang macet baru saja dibeli secara tunai oleh seorang konglomerat bernama Yao Wi satu menit yang lalu!"
Kaki Pejabat Sun mendadak lemas bagai kehilangan tulangnya saat mendengar nama pemuda yang berdiri di depannya disebut oleh atasannya.
"Mulai detik ini, Tuan Yao Wi adalah pemilik sah atas gedung balai kota, mobil dinasmu, bahkan celana dalam yang sedang kau pakai jika itu dibeli dari uang negara!" lanjut direktur bank tanpa ampun.
"Jika kau berani menyentuh sehelai rambutnya saja, aku sendiri yang akan memastikan kau membusuk di penjara dengan tuduhan korupsi massal!"
Klik.
Sambungan telepon itu diputus secara sepihak dengan suara bantingan yang sangat keras.
Ponsel di tangan Pejabat Sun meluncur jatuh ke lantai marmer dengan suara berderak patah.