NovelToon NovelToon
The Chosen Soul

The Chosen Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Time Travel
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: kyc_ibell

Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.

Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.

Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.

Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11

Di sebuah ruangan pertemuan yang megah di dalam istana, Kaisar, Putri Hikari, Master Seijun, Yua, Ryujin, dan Haru berkumpul untuk membahas kejadian yang telah mengguncang istana semalam. Cahaya matahari yang menembus jendela-jendela besar membuat suasana ruangan terasa hangat dan damai, jauh berbeda dari ketegangan yang mereka rasakan beberapa waktu lalu.

Kaisar berdiri dari singgasananya lalu menatap para pemburu dengan penuh rasa hormat.

"Aku sangat berterima kasih atas kerja keras kalian semua," ucapnya dengan suara tegas namun hangat. "Berkat keberanian dan pengorbanan kalian, makhluk yang selama ini menyebarkan fitnah serta membuat kekacauan dengan mengatasnamakan Ratu akhirnya berhasil dimusnahkan."

Yua, Ryujin, dan Haru saling berpandangan. Meskipun tubuh mereka masih menyimpan lelah akibat pertempuran semalam, ucapan Kaisar membuat semua usaha yang mereka lakukan terasa sepadan.

Putri Hikari kemudian melangkah mendekati Yua. Matanya yang jernih dipenuhi rasa syukur.

"Yua, terima kasih karena telah menyelamatkanku," katanya sambil tersenyum tulus. "Jika bukan karena dirimu, aku mungkin tidak akan berada di sini hari ini."

"Dengan senang hati Tuan Putri, itu sudah menjadi tugasku sebagai pemburu," jawabnya rendah hati.

Master Seijun yang sedari tadi memperhatikan hanya tersenyum tipis. Baginya, murid-murid muda itu telah menunjukkan keberanian yang luar biasa.

Di luar ruangan, kehidupan istana juga mulai kembali normal. Para pelayan bekerja tanpa rasa takut, para penjaga menjalankan tugas mereka dengan tenang, dan bisik-bisik rumor yang selama ini menyudutkan Ratu akhirnya menghilang. Kebenaran telah terungkap, membuat orang-orang istana memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Keamanan yang sempat terusik kini perlahan pulih. Namun tanpa mereka sadari, di balik kedamaian yang baru saja kembali itu, bayangan ancaman lain sedang menunggu waktunya untuk muncul dari kegelapan.

Di kediaman keluarga Yamato, suasana mendadak menjadi tegang ketika Tuan Yamato memasuki ruangan tempat Jinsei berada. Wajahnya dipenuhi amarah setelah mendengar laporan mengenai keterlibatan putranya dalam pertempuran bersama para pemburu.

"Berapa kali sudah kuperingatkan dirimu untuk tidak pernah mendekati para pemburu?!" bentaknya dengan suara keras.

Jinsei yang sedang duduk hanya mengangkat pandangannya. Tidak ada sedikit pun rasa takut di wajahnya. Dia menatap ayahnya dengan santai, seolah kemarahan yang ditunjukkan Tuan Yamato tidak memengaruhinya sama sekali.

"Kau malah ikut bertarung bersama mereka! mengapa kau menempatkan dirimu dalam bahaya? apa kau sedang mencoba merusak rencana ayah?!" Ucapnya dengan tegas.

Tatapan Jinsei berubah tajam.

"Tidak akan kubiarkan siapa pun mencelakai, termasuk makhluk suruhan Ayah sekalipun!"

Tuan Yamato terdiam sesaat. Rahangnya mengeras menahan kekesalan. Dia tidak menyukai cara putranya membela seorang pemburu yang selama ini berada di pihak Kaisar.

"Yua adalah pemburu tingkat Elite. Dia berpihak kepada Kaisar!" kata Tuan Yamato dengan nada dingin. "Jika kau ceroboh, kau tidak akan pernah bisa mengambil alih takhta. Pikirkan baik-baik sebelum kau melangkah lebih jauh."

Namun Jinsei justru tersenyum tipis, seolah dia sudah memikirkan semuanya sejak lama.

"Ayah tenang saja," ujarnya penuh keyakinan.

"Percayalah kepadaku. Pada akhirnya, Yua pasti akan berpihak kepadaku."

Mata Tuan Yamato menyipit. Dia tidak tahu dari mana datangnya keyakinan sebesar itu, tetapi yang jelas perasaan Jinsei terhadap Yua telah berkembang jauh melampaui yang ia perkirakan.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Tuan Yamato berbalik dan meninggalkan Jinsei. Langkah kakinya terdengar berat, menandakan kekesalan yang masih Dia pendam.

"Perasaanmu itu akan menjadi kelemahan yang menghancurkanmu suatu hari nanti," ucapnya dingin tanpa menoleh lalu meninggalkan ruangan.

Sementara itu, Jinsei tetap berdiri di tempatnya sambil menatap ke arah pintu yang telah tertutup. Senyum tipis masih terukir di wajahnya, seakan dia sama sekali tidak meragukan kata-katanya sendiri.

"Aku akan membuatmu berdiri di sisiku, Yua... bagaimanapun caranya." gumamnya pelan.

---

Tuan Yamato pergi ke Hutan Terlarang untuk menemui Master Genjiro.

Setelah tiba, Master Genjiro menatapnya tajam dan bertanya,

"Apa kau berhasil mendapatkannya?"

Tanpa banyak bicara, Tuan Yamato menyerahkan sebuah gulungan kertas. Master Genjiro menerimanya lalu perlahan membuka gulungan tersebut. Di dalamnya terdapat lukisan seorang wanita muda yang sangat cantik.

"Jadi, dia yang membunuh makhluk ciptaanku dengan teknik pembalik itu?" tanya Master Genjiro sambil mengangkat sebelah alisnya.

"Benar, Tuan. Namanya Yua Geisyuku. Dia adalah pemburu makhluk kutukan tingkat Elite, pemilik Katana Air, sekaligus murid Seijun."

Mendengar penjelasan itu, sorot mata Master Genjiro berubah.

"Tunggu..." katanya pelan.

"Bisa kau ulangi nama belakang gadis itu?"

"Geisyuku, Tuan. Nama lengkapnya Yua Geisyuku."

Master Genjiro terdiam. Tatapannya kembali tertuju pada lukisan tersebut. Seolah-olah nama itu membangkitkan kenangan lama yang telah lama terkubur.

"Geisyuku..." gumamnya lirih.

Jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu di sampingnya. Kerutan muncul di dahinya saat dia berusaha mengingat sesuatu.

"Aneh. Aku merasa sangat familiar dengan nama itu. Seakan-akan aku pernah mendengarnya bertahun-tahun yang lalu."

Ruangan itu mendadak sunyi. Hanya suara angin malam yang berembus dari sela-sela dinding rumah tua tersebut, sementara Master Genjiro terus tenggelam dalam pikirannya, mencoba mengingat rahasia yang tersembunyi di balik nama Geisyuku.

---

Yua melihat Kaisar dan Putri Hikari sedang bercanda gurau di sebuah paviliun. Dia memperhatikan mereka dari kejauhan sambil tersenyum tipis.

"Senang sekali jika mempunyai orang tua."

Entah mengapa, hatinya terasa kosong hari itu. Dia merindukan masa depan yang pernah dilihatnya, masa depan yang masih dipenuhi banyak misteri.

Untuk mengusir rasa bosan, dia berjalan menyusuri luasnya istana seorang diri. Langkahnya membawanya hingga ke halaman belakang.

Di sana, matanya langsung terpaku pada dinding batu tinggi yang membatasi halaman itu. Dipenuhi tanaman merambat dengan bunga-bunga berwarna cerah. Kelopaknya bergoyang lembut tertiup angin sore, menciptakan pemandangan yang begitu indah.

"Indah sekali."

Dia mendekat sambil mengagumi setiap detailnya. Jemarinya menyentuh beberapa kelopak bunga dengan hati-hati. Sesekali dia mendekatkan wajahnya untuk mencium aroma harum yang menenangkan.

"Andai saja aku bisa berfoto di sini."

Namun tiba-tiba, dia merasakan sesuatu.

Sebuah gelombang energi yang sangat halus.

"Apa itu tadi?"

Karena penasaran, Yua mengalirkan sedikit energinya ke tembok tersebut.

Seketika bunga-bunga yang merambat di atas tembok bergerak menjauh satu sama lain. Terdengar suara gemeretak pelan dari balik susunan batu.

Mata Yua membelalak.

Di hadapannya, tembok itu perlahan terbuka seperti sebuah pintu rahasia.

"Menarik."

Dengan hati-hati, Yua melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian, dia keluar dari sisi lain.

Ketika menoleh ke belakang, pintu rahasia itu telah tertutup kembali dan menyatu sempurna dengan tembok. Tidak ada seorang pun yang akan menyangka bahwa di sana terdapat jalan rahasia. Yua memandang sekelilingnya.

Ternyata ia sudah berada di luar area istana.

"Jadi ini pintu rahasia? wah, sangat misterius. Tapi siapa yang membuatnya?"

Belum sempat ia berpikir lebih jauh, suara derap kaki kuda terdengar dari kejauhan. Yua langsung menoleh ke arah suara tersebut.

"Sepertinya tuan rumah sudah kembali."

Tanpa membuang waktu, dia berlari kecil dan bersembunyi di antara rimbunan pohon bambu yang tumbuh tidak jauh dari sana.

Dari balik dedaunan, Yua mengintip.

Beberapa orang berjubah hitam datang menunggangi kuda. Wajah mereka tertutup tudung sehingga sulit dikenali.

Yang membuat Yua terkejut, mereka berhenti tepat di depan tembok yang baru saja dilaluinya.

Salah satu dari mereka meletakkan telapak tangannya pada bunga-bunga yang merambat di sana.

Sesaat kemudian, tembok itu kembali terbuka.

Para penunggang kuda itu memasuki pintu rahasia satu per satu sebelum akhirnya pintu tersebut menutup kembali.

Yua mengernyitkan dahi.

"Siapa mereka? sangat mencurigakan."

Setelah memastikan keadaan aman, Yua keluar dari persembunyiannya. Tatapannya menjadi tajam dan penuh kewaspadaan.

"Aku harus mencari tahu."

Namun Yua tidak berniat menggunakan pintu rahasia itu lagi. Jika lorong tersebut memang digunakan secara diam-diam, kemungkinan besar ada jebakan atau penjaga di dalamnya.

Karena itu, dia memilih kembali ke jalan utama.

Dengan langkah tenang, Yua berjalan menuju gerbang depan istana, sementara pikirannya terus dipenuhi pertanyaan tentang identitas orang-orang berjubah misterius itu dan hubungan mereka dengan lorong rahasia yang tersembunyi di balik tembok bunga.

Yua kembali memasuki istana melalui gerbang depan. Saat sedang berjalan melewati halaman, ia bertemu dengan Ryujin yang tampaknya baru saja selesai berpatroli.

"Yua, kau dari mana?" tanya Ryujin.

Yua terdiam sesaat. Pikirannya langsung teringat pada pintu rahasia di balik tembok bunga. Namun dia merasa belum saatnya menceritakan penemuannya kepada siapa pun.

Karena itu, dia menjawab dengan tenang,

"Hanya mencari udara segar di luar istana."

Ryujin menghela napas kecil.

"Aku masih khawatir jika kau bertemu makhluk kutukan lagi. Jangan pergi sendirian. Jika kau mau, aku bisa menemanimu."

Yua tersenyum tipis.

"Tidak apa-apa. Jangan khawatirkan aku. Terima kasih atas tawarannya."

Belum sempat percakapan mereka berlanjut, suara derap kaki kuda terdengar mendekat ke arah gerbang.

Yua dan Ryujin menoleh bersamaan.

Di atas seekor kuda hitam, Jinsei tampak sedang memasuki area istana. Saat melihat Yua dari kejauhan, dia segera memperlambat laju kudanya.

Senyum tipis menghiasi wajahnya. Jinsei kemudian mengangkat satu tangannya dan melambaikannya ke arah Yua.

Saat melihatnya, wajah Yua langsung terlihat lebih cerah.

"Jinsei!" sapanya sambil melambaikan tangan.

Namun di sampingnya, Ryujin memperhatikan interaksi tersebut dalam diam. Sorot matanya berubah sedikit tajam.

"Yua, ayo kita pergi. Para junior sudah menunggu."

Tanpa memberi kesempatan Yua menjawab, Ryujin langsung menggandeng tangannya dan berjalan menjauh dari gerbang.

"Eh? Ryujin, tunggu."

Yua sempat menoleh ke belakang. Jinsei hanya berdiri diam sambil memandang mereka pergi, meskipun ekspresinya menunjukkan sedikit kebingungan.

Di sisi lain, Jinsei merasa ada sesuatu yang aneh.

"Kenapa dia terlihat tidak suka saat aku berbicara dengan Yua?" pikirnya.

Setelah berjalan cukup jauh dari gerbang, Yua tiba-tiba menghentikan langkahnya.

"Ryujin."

Ryujin ikut berhenti.

Yua melepaskan genggaman tangannya lalu menatapnya dengan heran.

"Kenapa terburu-buru sekali? aku bahkan belum sempat menyapa Jinsei dengan baik, kau sudah menarikku pergi."

Ryujin mengalihkan pandangan.

"Itu tidak penting. Para junior sudah menunggu. Kita tidak boleh membuat mereka menunggu terlalu lama."

"Tapi.."

"Ayo cepat."

Tanpa menjelaskan lebih lanjut, Ryujin kembali melanjutkan langkahnya.

Yua hanya bisa menatap punggung sahabatnya itu dengan bingung.

"Aneh sekali dia.."

Dengan menggelengkan kepala pelan, Yua pun mengikuti dari belakang.

Sementara itu, Ryujin berjalan di depan dengan wajah tenang. Namun jauh di dalam hatinya, ada perasaan yang bahkan dia sendiri belum mampu menjelaskannya.

Setiap kali melihat Yua tersenyum kepada Jinsei, entah mengapa dadanya terasa tidak nyaman.

Tuan Yamato yang masih berada di Hutan Terlarang kini sedang mendiskusikan langkah mereka selanjutnya dengan Master Genjiro.

"Jika terus seperti ini, tidak akan ada habisnya kita menciptakan makhluk kutukan, Master," ujar Tuan Yamato.

Master Genjiro menyilangkan tangan di depan dada.

"Dan sudah berapa banyak uang kerajaan yang kau korupsi untuk membiayai semua ini?"

Mendengar pertanyaan itu, Tuan Yamato hanya terdiam dan mengalihkan pandangannya.

"Kita membutuhkan rencana baru," lanjut Master Genjiro.

"Jinsei juga tidak bisa diajak bekerja sama. Dia hanya mementingkan perasaan pribadinya."

Sorot mata Master Genjiro berubah penasaran.

"Apa maksudmu?"

Tuan Yamato ragu untuk menjawab. Dia takut membangkitkan kemarahan gurunya karena selama ini Jinsei diam-diam telah beberapa kali mengganggu rencana mereka.

Namun karena sudah terlanjur membuka pembicaraan, dia tidak punya pilihan selain melanjutkannya.

Tuan Yamato menghela napas panjang.

"Sebelumnya aku meminta maaf, Master. Sebenarnya aku sudah berkali-kali memperingatkan Jinsei. Aku bahkan menyuruh Makhluk Kutukan Wanita Pendendam untuk memberinya pelajaran agar melupakan orang itu, tetapi tetap tidak berhasil."

Master Genjiro mengangkat sebelah alisnya.

"Siapa?"

"Bagaimana cara meyakinkannya, aku juga tidak tahu lagi."

Dengan rasa ingin tahu yang semakin besar, Master Genjiro berkata,

"Katakan padaku siapa orang itu. Jika dia berpotensi merusak rencana kita, aku bisa menyingkirkannya."

Mendengar itu, wajah Tuan Yamato sedikit berseri.

"Dia adalah Yua. Salah satu pemburu tingkat Elite."

Namun sesaat setelah nama itu terucap, suasana ruangan mendadak berubah. Master Genjiro tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya menjadi dalam, seolah sedang memikirkan sesuatu.

Senyum di wajah Tuan Yamato perlahan menghilang. Jantungnya berdegup lebih cepat. Dengan panik dia segera menundukkan kepala.

"Mohon ampun, Master. Jika Anda keberatan, biar aku saja yang menyingkirkan gadis itu. Aku akan memikirkan cara lain."

Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Lalu Master Genjiro tersenyum tipis.

"Aku rasa itu tidak perlu."

Tuan Yamato mengangkat kepalanya perlahan.

"Biarkan saja dia hidup."

"Apa?" gumamnya terkejut.

Master Genjiro menatap nyala lilin yang bergoyang pelan.

"Suatu hari nanti, gadis itu mungkin bisa kita gunakan."

Tuan Yamato tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu. Sebelum dia sempat bertanya lebih jauh, Master Genjiro kembali berbicara.

"Kita harus melepaskan lebah untuk mengetahui rencana mereka."

"Itu ide yang bagus, Master. Tapi jika penyamaran kita terbongkar, kita juga akan terseret masalah."

Master Genjiro tersenyum penuh arti.

"Siapa yang akan mencurigai seorang gadis yang cantik, polos, dan baik hati?"

Tuan Yamato mengernyitkan dahi. Dia menatap gurunya dengan kebingungan.

Perlahan sebuah dugaan muncul di benaknya.

"Master.. jangan-jangan anda sudah memiliki seseorang yang akan dijadikan mata-mata?"

Senyum Master Genjiro semakin lebar.

"Kazura.. kemarilah."

Beberapa saat kemudian, langkah kaki pelan terdengar mendekat.

Dari balik bayangan, muncul seorang gadis muda berusia sekitar tujuh belas tahun. Rambutnya hitam panjang, wajahnya cantik dan lembut, sementara tatapannya terlihat tenang dan penuh kepatuhan.

Dia berhenti di samping Master Genjiro lalu membungkukkan badan memberi hormat.

"Salam, Master. Salam, Tuan Yamato."

Tuan Yamato menatap gadis itu dengan kebingungan. Selama ini ia tidak pernah melihatnya berada di rumah tua tersebut.

"Siapakah dia, Master?"

"Dia adalah Kazura. Murid yang telah kudidik sejak usia tujuh tahun."

Kazura kembali menundukkan kepalanya dengan hormat. Tuan Yamato mengamatinya dari ujung kepala hingga kaki.

"Jadi ini rencana yang Anda maksud?"

"Benar."

Master Genjiro berdiri dari kursinya lalu berjalan perlahan menuju jendela.

"Kazura akan menjadi lebah yang kita lepaskan. Dia akan berada di dalam istana dan mengirimkan informasi kepada kita. Apa pun yang direncanakan para pemburu, pergerakan keluarga kerajaan, bahkan rahasia-rahasia yang mereka sembunyikan, semuanya akan sampai ke telinga kita."

Tuan Yamato mulai memahami maksud gurunya.

"Itu memang rencana yang bagus, tetapi bagaimana cara membawanya masuk ke istana? Para penjaga tidak akan sembarangan menerima orang asing."

Master Genjiro tersenyum penuh keyakinan.

"Aku sudah memikirkan semuanya."

Master Genjiro menatap Kazura. Tuan Yamato akhirnya menganggukkan kepala.

"Baik, Master. Aku akan membantu menjalankan rencana ini."

Sementara itu, Kazura menatap nyala lilin yang berkelap-kelip di tengah ruangan.

Di balik wajahnya yang tenang, tidak ada keraguan sedikit pun.

Karena sejak kecil dia telah diajarkan satu hal oleh Master Genjiro.

"Di dunia ini, kita hanyalah pion dalam permainan yang lebih besar. Perasaan tidak boleh menghalangi langkah kita."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!