Xu Ming adalah pemuda biasa dari Bumi yang sangat menggemari novel dan komik kultivasi. Suatu hari, keinginannya untuk menjadi tokoh utama benar-benar terkabul. Ia tiba-tiba terbangun di Dunia Tianxuan dan memperoleh Sistem Pembimbing Kultivasi. Namun, alih-alih menjalani petualangan besar, ia justru dipaksa berlatih pedang, berkebun, memasak, melukis, memainkan qin, menulis kaligrafi, hingga melakukan berbagai pekerjaan sederhana selama sepuluh tahun.
Saat Xu Ming mengira perjalanan sebagai seorang kultivator baru akan dimulai, sistem justru menghilang setelah menyatakan bahwa tutorial telah selesai.
Menganggap dirinya masih seorang mortal yang lemah, Xu Ming memilih tinggal di Desa Qinghe dan menjalani hidup tenang. Tanpa ia sadari, seluruh latihan itu telah membuatnya melampaui semua tingkatan kultivasi. Sementara Xu Ming terus meragukan kekuatannya, seluruh dunia justru memanggilnya Senior, menganggapnya sebagai pertapa agung yang menyembunyikan identitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 — Karya Pengrajin yang Dianggap Harta Karun
Setelah meninggalkan toko senjata, Xu Ming melanjutkan perjalanan bersama Tetua Mu dan yang lainnya.
Baginya kejadian tadi tidak terlalu penting.
Ia hanya memberikan pendapat tentang sebuah pedang.
Sebagai seseorang yang sudah lama mempelajari berbagai kerajinan, melihat ukiran yang kurang rapi adalah hal biasa.
Namun...
Bagi para kultivator yang melihat kejadian itu...
Hal tersebut memiliki arti yang berbeda.
Di belakang Xu Ming.
Tetua Liu masih memikirkan kejadian tadi.
"Guru..."
Li Qingxue melihatnya.
"Apa yang terjadi?"
Tetua Liu menghela napas.
"Senior Xu..."
"Beliau benar-benar berbeda."
Tetua Mu mengangguk.
"Beliau tidak menggunakan kekuatan."
"Tidak menggunakan teknik."
"Hanya melihat dengan mata biasa."
"Tapi mampu menemukan sesuatu yang bahkan ahli senjata tidak sadari."
Mereka terdiam.
Mereka tidak tahu bahwa Xu Ming sebenarnya hanya memperhatikan ukiran seperti seorang pengrajin.
Sementara itu...
Xu Ming berhenti di depan sebuah toko.
Sebuah papan besar tergantung di atas pintu.
Toko Kerajinan Kayu Qingyun.
Matanya langsung berbinar.
"Oh?"
"Toko kerajinan."
Ia segera masuk.
Tetua Mu dan yang lainnya mengikuti.
Di dalam toko terdapat berbagai macam benda.
Patung kayu.
Kotak ukiran.
Hiasan rumah.
Mainan anak-anak.
Xu Ming melihat satu per satu.
"Hmm..."
"Teknik mereka cukup bagus."
Ia mengambil sebuah patung kecil berbentuk kucing.
"Namun..."
"Bagian telinganya terlalu kaku."
"Kalau dibuat sedikit lebih melengkung, akan terlihat lebih hidup."
Pemilik toko yang mendengar perkataannya langsung memperhatikan.
Awalnya ia ingin membantah.
Namun setelah melihat lebih dekat...
Ia terdiam.
Karena memang ada sedikit kekurangan.
"Anak muda."
Pemilik toko mendekat.
"Apakah kamu seorang pengrajin?"
Xu Ming tersenyum.
"Bukan."
"Aku hanya pernah belajar sedikit."
Sedikit.
Kata itu membuat pemilik toko bingung.
Karena orang yang hanya belajar sedikit tidak mungkin melihat detail seperti itu.
Namun ia tidak bertanya lebih jauh.
Xu Ming melihat beberapa kayu yang dijual.
"Aku ingin membeli beberapa bahan."
"Apakah ada kayu yang bagus untuk ukiran?"
Pemilik toko menunjukkan beberapa jenis kayu.
Ada kayu biasa.
Ada kayu keras.
Dan ada beberapa kayu langka.
Xu Ming mengambil salah satu kayu berwarna gelap.
"Yang ini bagus."
"Teksturnya halus."
"Seratnya juga cocok untuk membuat patung."
Pemilik toko terkejut.
Kayu yang dipilih Xu Ming adalah salah satu bahan terbaik di tokonya.
Bukan karena langka.
Tetapi karena sulit digunakan.
Banyak pengrajin tidak menyukainya.
Namun Xu Ming langsung memilihnya.
"Berapa harganya?"
Tanya Xu Ming.
Pemilik toko berpikir.
"Seratus batu roh tingkat rendah."
Xu Ming mengangguk.
Ia mengambil batu roh.
Namun sebelum membayar...
Pemilik toko ragu.
"Senior..."
"Apakah benar ingin membayar dengan batu roh?"
Xu Ming bingung.
"Memangnya tidak boleh?"
"Tentu boleh."
Pemilik toko segera menerima.
Namun dalam hati ia merasa aneh.
Pemuda ini membeli bahan kayu seperti orang biasa...
Tetapi membayar dengan batu roh.
Setelah keluar dari toko.
Xu Ming membawa beberapa potong kayu.
"Aku ingin membuat beberapa patung baru."
Li Qingxue bertanya,
"Senior akan membuat patung lagi?"
Xu Ming mengangguk.
"Iya."
"Beberapa yang lama sudah mulai memenuhi rumah."
Tetua Mu hampir tersandung.
Memenuhi rumah?
Benda yang dianggap harta oleh banyak orang...
Bagi Xu Ming hanya membuat rumah penuh.
Malam itu.
Di penginapan.
Xu Ming duduk di dekat jendela.
Ia mulai mengukir kayu yang baru dibelinya.
Gerakannya santai.
Tidak ada aura besar.
Tidak ada cahaya aneh.
Hanya seorang pemuda yang menikmati hobinya.
Namun tanpa ia sadari...
Setiap goresan pisau ukir membuat pola yang sangat sempurna.
Di luar penginapan.
Beberapa kultivator diam-diam mengamati.
"Dia membuat sesuatu lagi."
"Apa yang sedang dibuat Senior Xu?"
"Aku tidak tahu."
"Tapi apa pun yang keluar dari tangannya pasti bukan benda biasa."
Sementara mereka menunggu dengan penuh harapan...
Xu Ming hanya berpikir.
"Semoga kali ini bentuknya lebih bagus."
Karena menurutnya...
Patung sebelumnya masih memiliki banyak kekurangan.
Bersambung...