NovelToon NovelToon
Setelah Menjadi Istri Pertama Yang Jahat, Aku Bertahan Hidup Lewat Mulut Tajam

Setelah Menjadi Istri Pertama Yang Jahat, Aku Bertahan Hidup Lewat Mulut Tajam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:977
Nilai: 5
Nama Author: Permen

Shen Qingyue adalah istri pertama keluarga Marquis Yong'an yang dikenal kejam dan pencemburu. Ditinggalkan suami di malam pernikahan, ia mati setelah meminum semangkuk "sup penenang" yang diracun.

Tapi takdir berkata lain.

Ketika Lin Xiao, seorang direktur pemasaran modern yang mati kelelahan, terbangun di tubuh Shen Qingyue, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah keluarga bangsawan yang penuh intrik. Suami yang dingin, selir yang licik, dan ibu mertua yang kejam—semua orang ingin melihatnya jatuh.

Namun Lin Xiao bukanlah Shen Qingyue yang lemah. Dengan kecerdasan verbal dan logika modernnya, ia bertekad untuk bertahan hidup dengan martabat. Satu per satu, jebakan dibongkar, musuh dipermalukan, dan rahasia gelap keluarga Marquis mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Enam Belas

Pagi baru saja menyingsing ketika pintu Paviliun Timur diketuk.

Bukan ketukan ragu-ragu untuk mencoba peruntungan, melainkan ketukan tenang dan mantap, seolah orang di luar sudah yakin penghuni di dalam telah bangun. Qingxing, yang masih mengenakan mantel tipis, berlari membuka pintu. Begitu melihat siapa yang berdiri di sana, ia langsung terpaku.

Pei Yanzhi berdiri di ambang pintu dengan jubah panjang berwarna putih keperakan. Ikat pinggang giok melingkari pinggangnya, sementara rambutnya tersisir rapi. Cahaya fajar membentang di belakangnya, melapisi sosoknya dengan warna emas yang lembut.

"Tu... Tuan Marquis?" Qingxing tergagap sambil membungkuk hormat. "Mengapa Tuan datang sepagi ini...?"

"Aku sudah bilang akan menjemputnya untuk memberi salam kepada Nyonya Tua."

Tatapan Pei Yanzhi melewati Qingxing dan mengarah ke ruang utama.

"Apakah dia sudah bangun?"

"Nyonya sudah bangun sejak tadi!" Qingxing buru-buru menyingkir. "Nyonya sedang bersiap di dalam. Silakan masuk, Tuan Marquis."

Namun, Pei Yanzhi tidak masuk.

Ia berdiri di halaman tengah dengan kedua tangan di belakang punggung, memandangi pohon begonia yang tampak setengah mati di Paviliun Timur. Qingxing berdiri di sampingnya dengan canggung, tidak tahu apakah harus masuk memberi tahu atau tetap menemani.

Tirai pun tersibak.

Lin Xiao keluar dari ruangan mengenakan outer berwarna biru muda. Ikat pinggang perak menghiasi pinggangnya, sementara rambutnya hanya disematkan satu jepit giok putih dan sepasang anting perak sederhana. Di bawah cahaya pagi, seluruh dirinya tampak bersih dan segar, seperti baru diangkat dari mata air yang jernih.

Tatapan Pei Yanzhi berhenti sejenak padanya sebelum akhirnya berpaling.

"Ayo."

Keduanya berjalan keluar dari Paviliun Timur, satu di depan dan satu di belakang. Lin Xiao memperhatikan satu hal kecil: langkah Pei Yanzhi jelas melambat, cukup lambat sehingga ia tidak perlu mempercepat langkah untuk mengikutinya.

Dalam ingatan Shen Qingyue yang lama, Pei Yanzhi tidak pernah menunggunya saat berjalan.

Namun, Lin Xiao tidak mengatakan apa pun.

Mereka melewati koridor, menembus taman, dan menuju halaman utama.

Di sepanjang jalan, beberapa pelayan dan perempuan tua yang sedang menyapu tertegun melihat mereka berjalan bersama. Ada yang menjatuhkan sapunya, ada yang membungkuk memberi salam lalu lupa berdiri kembali, dan ada pula yang hanya menatap dari kejauhan dengan mulut menganga.

Lin Xiao mendengar bisik-bisik pelan dari belakang.

"Kenapa Tuan Marquis berjalan bersama dia?"

"Bukankah dia sedang dikurung?"

"Lihat pakaiannya hari ini... dulu dia tidak pernah memakai warna seperti itu..."

Pei Yanzhi tentu mendengarnya.

Namun, ia tidak menoleh dan tidak memperlambat langkah.

Saat mereka tiba di depan halaman utama, tiba-tiba Pei Yanzhi melambat dan melirik Lin Xiao.

"Kau lewat dulu."

Lin Xiao terdiam sejenak.

Ambang pintu halaman utama hanya cukup dilalui satu orang sekaligus. Menurut tata krama, laki-laki seharusnya masuk lebih dulu, sedangkan perempuan mengikuti di belakang.

Tetapi sekarang, Pei Yanzhi mempersilahkannya berjalan di depan.

Lin Xiao sangat memahami arti tindakan itu di kediaman Marquis ini.

Ia melirik pria itu, lalu tanpa menolak, melangkah melewati ambang pintu lebih dahulu.

Di aula utama, Nyonya Tua sudah duduk di kursi kehormatan. Istri Paman Kedua, menantu keluarga cabang ketiga, dan beberapa nyonya dari keluarga besar juga telah berkumpul dan sedang mengobrol.

Begitu melihat Lin Xiao masuk lebih dulu, senyum mereka langsung membeku.

Lalu, Pei Yanzhi masuk dari belakangnya.

Aula mendadak sunyi.

Tatapan Nyonya Tua berpindah dari Pei Yanzhi ke Lin Xiao, lalu kembali lagi ke Pei Yanzhi. Wajahnya tetap datar, tetapi jemari yang sedang memutar tasbih Buddha sempat berhenti.

"Tuan Marquis datang. Qingyue juga datang. Duduklah."

Lin Xiao berjalan menuju tempat duduknya.

Pei Yanzhi tidak duduk di tempat biasanya di sisi lain ruangan. Sebaliknya, ia duduk di kursi tepat di sebelah Lin Xiao.

Gerakan sederhana itu membuat ekspresi beberapa orang berubah.

Istri Paman Kedua berdeham lalu tersenyum.

"Wah, hari ini Tuan Marquis punya waktu mengantar Qingyue memberi salam rupanya?"

"Kebetulan searah."

Pei Yanzhi mengangkat cangkir teh dengan nada sedatar membicarakan cuaca.

Senyum wanita itu sempat membeku sesaat sebelum akhirnya ia beralih mengobrol dengan menantu keluarga cabang ketiga.

Lin Xiao duduk diam sambil menyeruput teh.

Ia tahu adegan tadi telah menanam benih dalam benak semua orang.

Pei Yanzhi datang bersamanya.

Pei Yanzhi mempersilahkannya masuk lebih dulu.

Pei Yanzhi duduk di sampingnya.

Satu tindakan mungkin tampak sepele, tetapi jika digabungkan, semuanya cukup untuk membuat orang-orang yang menunggu kehancurannya mulai berpikir ulang.

Setelah acara memberi salam selesai, semua orang perlahan bubar.

Lin Xiao baru saja hendak pergi ketika Nyonya Tua memanggilnya.

"Qingyue, tunggu sebentar."

Ia menoleh dan melihat Nyonya Tua memberi isyarat kepada Mama Zhang. Wanita tua itu mengangguk lalu masuk ke ruangan dalam. Tak lama kemudian, ia kembali sambil membawa baki merah yang di atasnya terletak sebuah kotak brokat.

Nyonya Tua membuka kotak itu.

Di dalamnya terdapat sebuah jepit rambut emas.

Pekerjaannya tidak terlalu rumit, tetapi emasnya cukup berat. Di ujungnya terukir bunga plum kecil.

"Nyonya Tua..."

"Pakailah."

Nyonya Tua mendorong kotak itu ke arahnya.

"Jepit perak di kepalamu terlalu sederhana. Istri sah harus memiliki martabat seorang istri sah."

Beberapa orang yang belum sempat pergi langsung menghentikan langkah.

Martabat seorang istri sah.

Kalimat itu memiliki arti yang sama sekali berbeda jika keluar dari mulut Nyonya Tua.

Dulu, ia hanya berkata, "Istri sah harus punya kelapangan hati," atau, "Istri sah tidak boleh berebut kasih sayang dengan para selir."

Belum pernah sekali pun ia berbicara tentang martabat.

Lin Xiao memandangi jepit rambut emas itu, lalu menerimanya tanpa menolak.

"Terima kasih atas hadiah Nyonya Tua."

Ia tidak langsung memakainya dan hanya menyerahkan kotak itu kepada Qingxing di belakangnya.

Nyonya Tua meliriknya sebentar sebelum melambaikan tangan agar ia pergi.

Begitu keluar dari halaman utama, Qingxing memeluk kotak itu erat-erat. Wajahnya nyaris bersinar karena kegembiraan.

"Nyonya! Nyonya Tua menghadiahi Anda jepit emas! Ini pertama kalinya! Dulu beliau selalu memberi hadiah kepada Selir Zhou!"

"Pelankan suaramu."

Qingxing buru-buru menutup mulutnya, tetapi matanya masih berbinar.

Sementara itu, Lin Xiao sama sekali tidak merasa seringan Qingxing.

Nyonya Tua memberinya jepit emas hari ini bukan karena tiba-tiba menyukainya.

Melainkan karena tindakan Pei Yanzhi yang mengantarnya pagi ini membuat Nyonya Tua mulai menilai ulang nilainya.

Seorang istri sah yang tidak mendapat dukungan suaminya tidak berarti apa-apa di rumah besar ini.

Namun, seorang istri sah yang diantar sendiri oleh suaminya memiliki bobot yang berbeda.

Jepit emas itu hanyalah harga yang dipasang Nyonya Tua untuk "bobot" tersebut.

1
Trie Broto
critanya penuh teka-teki...lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!