Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Jalanan di sepanjang pasar itu selalu ramai, berisik, dan penuh warna. Orang hilir mudik sambil menawar harga, suara pedagang mempromosikan dagangannya, dan aroma masakan yang menguar dari pinggir-pinggir jalan langsung menyapa hidung begitu kami melangkah masuk.
Arjun berjalan di sampingku, tangannya sesekali mengelak orang yang lewat terlalu dekat, seolah menjaga jarak aman supaya aku nggak tersenggol siapa pun. Hari ini aku nggak masuk kerja karena libur, dan dia mengajakku jalan-jalan ke sini, bilang mau nunjukin sesuatu yang wajib banget aku tau soal kebiasaan orang India.
"Kita mau ke mana sih? Ramai banget gini," tanyaku sambil menunduk menghindari dahan pohon yang menjulur ke jalan.
Arjun tertawa kecil, suaranya terdengar jelas meski di tengah keramaian. "Sebentar lagi sampai. Tenang aja, tempatnya enak kok, makanannya juga paling juara. Kamu belum pernah coba Roti Canai kan?"
Aku menggeleng. "Denger nama rotinya sih pernah, tapi belum pernah nyicipin sama sekali."
"Nah, pas banget. Makanya aku ajak ke sini. Di budaya aku, makanan itu bukan cuma buat kenyang, lho. Ada filosofinya juga, sama kayak hal-hal lain," jawabnya antusias sambil menunjuk sebuah kedai kecil di pojok.
Kedai itu sederhana banget, bangkunya kayu, meja-mejanya sudah agak kusam kena usia, tapi pengunjungnya penuh sesak. Di depan, ada seorang bapak paruh baya sedang bergerak lincah. Tangannya menari-nari meremas adonan, melemparnya ke atas, memipihkannya sampai setipis kertas, lalu melipatnya jadi kotak rapi sebelum ditaruh di atas wajan datar besar. Gerakannya cepat, luwes, dan terlihat indah banget kalau dilihat.
Arjun menepuk bahuku pelan. "Lihat deh cara dia bikinnya. Tiap langkahnya ada maknanya."
Aku memusatkan perhatian ke tangan si bapak itu. "Apa maknanya? Cuma lipat-lipat adonan kan?"
"Jangan remehkan itu, Aira," sela Arjun cepat sambil tersenyum. "Kakek aku dulu pernah bilang, bikin roti ini butuh tiga hal: sabar, teliti, dan ikhlas. Adonannya harus diuleni lama banget biar elastis, nggak boleh buru-buru. Kalau terburu-buru, rotinya bakal keras, nggak enak dimakan. Terus pas dipipihin, harus hati-hati biar nggak ada yang bolong. Kalau bolong, nanti isinya keluar atau rasanya jadi nggak pas. Terus pas dimasak, apinya harus pas. Jangan terlalu besar nanti gosong, jangan terlalu kecil nanti mentah."
Dia diam sebentar, membiarkanku mencerna penjelasannya, lalu melanjutkan lagi.
"Kata kakek aku lagi, hidup itu persis kayak bikin roti gini. Harus sabar menjalani prosesnya, teliti ngelakuinnya, dan ikhlas ngejalaninnya. Kalau mau hasil yang enak dan indah, nggak ada jalan pintas. Semuanya butuh waktu dan ketelatenan."
Aku manggut-manggut sambil terus ngeliatin gerakan tangan si bapak itu. Ternyata di balik makanan sederhana kayak gini, ada pelajaran hidup yang dalem banget ya.
Nggak lama kemudian pesanan kami datang. Sepiring roti pipih berwarna keemasan, renyah di pinggirnya tapi lembut di tengahnya, disajikan sama kuah kari kental yang baunya sedap banget. Wangi rempah-rempahnya nyampur jadi satu, bikin perutku langsung keroncongan.
"Makan sini caranya pakai tangan ya, biar rasanya lebih nikmat," kata Arjun sambil memperagakan cara menyobek rotinya, mencelupkan ke kuah, lalu memakannya dengan lahap. "Di India, kami percaya kalau tangan itu anugerah. Pakai tangan pas makan itu bentuk rasa syukur sama makanan yang ada di depan kita. Terus katanya sih, rasa makanan bakal lebih terasa kalau kita sentuh langsung pakai tangan kita sendiri."
Aku ikutan nyobain, pelan-pelan biar nggak belepotan ke mana-mana. Pas gigitan pertama masuk, mataku melebar dikit. "Wah... enak banget Arjun. Rasanya gurih, kuahnya kental banget rempahnya, tapi nggak bikin enek."
Arjun tersenyum puas banget lihat reaksiku. "Kan? Ini resep turun-temurun lho. Bumbunya aja ada belasan macam, semuanya harus pas takarannya. Sedikit aja salah, rasanya bakal beda jauh. Nah, ini juga ada maknanya lagi."
Dia minum teh tariknya sebentar, lalu natapku lagi.
"Kakek aku bilang, rasa hidup itu kayak rasa makanan India. Ada gurihnya, ada manisnya, ada asinnya, ada pedasnya. Semuanya nyampur jadi satu. Nggak ada rasa yang berdiri sendiri. Sama kayak kita berinteraksi sama orang lain. Kita harus bisa menyesuaikan diri, bisa bawa suasana, bisa ngerti orang lain. Biar jadinya pas, enak, dan nggak bikin orang lain nggak nyaman."
Aku diam sejenak, mengunyah pelan sambil mikirin kata-katanya. Arjun emang gitu ya. Ngomongin makanan aja, ujung-ujungnya dia bisa nyambungin sama cara hidup dan cara bersikap ke orang lain.
"Kamu tuh... pinter banget ya nyambungin hal biasa jadi hal yang keren gitu," kataku sambil nyengir dikit.
Arjun ketawa renyah. "Bukan aku yang pinter, Aira. Cuma aku diajarin buat ngeliat segala sesuatu itu nggak cuma dari luarnya aja. Semua hal diciptakan Tuhan pasti ada gunanya, ada pesannya. Tinggal kita aja yang mau ngeliat lebih dalem atau nggak."
Dia naruh rotinya yang terakhir, lalu natapku lekat-lekat.
"Seneng lho bisa ajak kamu ke sini. Biasanya orang asing kalau diajak ke tempat begini, ribet banget. Ada yang jijik pakai tangan, ada yang nggak suka baunya, ada yang nggak tahan rempahnya. Tapi kamu... santai aja, mau nyoba, mau dengerin cerita aku. Rasanya... enak aja gitu ngajak kamu jalan."
Wajahku rasanya agak panas dibilang gitu, tapi aku cuma menggaruk pipi sambil nyengir canggung. "Ya... kan aku emang penasaran. Aku pengen tau banyak hal dari kamu, dari kebiasaan kamu. Lagian... seru kok, jadi tau banyak hal baru yang nggak aku dapet dari buku atau tempat lain."
Arjun tersenyum lebar, matanya berbinar cerah. "Nah, gitu dong. Nanti kalau kamu mau, masih banyak banget tempat seru, makanan enak, dan cerita keren yang belum aku bagi. Kita pelan-pelan aja ya, kenalin satu-satu. Biar kamu makin tau, apa aja sih yang ada di kepala dan hidup aku."
Siang itu kami habiskan waktu di situ sampai perut kenyang banget. Di antara hiruk-pikuk pasar dan aroma rempah yang kental, aku makin yakin satu hal: kenal sama Arjun itu kayak buka buku cerita tebal yang isinya indah dan penuh kejutan. Tiap lembarnya selalu ada hal baru yang bikin aku kagum dan senang.