NovelToon NovelToon
SANGHYANG RASA

SANGHYANG RASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.

Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.

Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.

Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.

Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.

Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.

Dan apinya... baru saja mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 : KARTA SANG MATA MATA

Pasar Ciaruteun riuh rendah sejak matahari baru naik setinggi galah. Suara teriakan pedagang, tawar-menawar, derap kuda, dan kicauan burung bercampur jadi satu. Debu halus beterbangan di antara deretan lapak, bercampur bau tanah basah, bumbu dapur, dan amis ikan segar. Orang-orang berdesakan, sibuk urusan masing-masing—tak ada yang menyadari ada mata-mata yang menyusup di antara mereka.

Di sudut paling ujung, dekat pagar kayu pasar, berdiri lapak kecil yang terbuat dari tikar bekas. Di atasnya tersusun keranjang anyaman berisi ayam hidup dan potongan daging segar. Di belakang lapak berdiri seorang anak laki-laki berwajah bersih, rambutnya diikat asal-asalan dengan kain kotor, bajunya lusuh penuh noda lumpur. Itu Karta—yang pagi ini berperan sebagai anak desa yang membantu pamannya jualan unggas.

Dia membetulkan posisi keranjang dengan gerakan canggung, lalu berdeham keras.

“Ayam segar! Daging empuk! Harganya ramah di kantong!” teriaknya sekuat tenaga. Suaranya malah terdengar terlalu berat dan tegas, tak seperti suara anak penjual biasa. Beberapa orang lewat melirik sekilas, lalu berlalu sambil geleng-geleng kepala.

Karta mengerucutkan bibir. “Aduh... salah nada lagi,” bisiknya pelan.

“Harusnya lebih cempreng dikit kan?”

Dia mencoba lagi, berusaha menipiskan suaranya. “Ayam... ayam bagus nih, Nyai!”

Kali ini malah terdengar seperti orang sakit tenggorokan. Dia menggaruk kepala yang tak gatal.

“Yaa sudahlah, yang penting kelihatan sibuk aja kali ya.”

Dari balik rimbunnya pohon pisang di pinggir pasar, Bayu mengintai diam-diam. Dia hanya menampakkan sedikit bahu, matanya tak lepas mengawasi sekeliling. Tadi pagi mereka sepakat: Karta masuk pasar untuk mencari info, sementara Bayu menunggu di luar siap siaga kalau ada bahaya.

“Jangan nekat,” pesan Bayu tadi. “Dengar saja, jangan cari masalah. Kalau ada apa-apa, ketuk keranjang tiga kali.”

Karta mengangguk mantap waktu itu. Tapi sekarang melihat keramaian di sekeliling, rasa penasaran mulai mengalahkan rasa hati-hati.

Tak lama kemudian, dua orang berjalan lewat di depan lapaknya. Pakaian mereka seragam prajurit Kadipaten, hanya bedanya tanpa senjata lengkap. Mereka berhenti di lapak sayur sebelah, lalu mulai berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah pendopo Kadipaten yang terlihat atapnya di kejauhan.

Karta segera menunduk, pura-pura memeriksa kaki ayam. Tapi telinganya dibuka lebar-lebar.

“...katanya dari Istana Galuh udah sampai tadi malam,” kata prajurit pertama pelan.

“Raden Sukma sama Putri Larasati. Wajahnya kelihatan nggak percaya sama cerita Adipati Rangga Sasmita.”

“Terus kenapa gudang istana di sini kebobolan?” sahut temannya.

“Kan itu yang bikin Prabu Kertayuda marah besar. Katanya pintu gudang terkunci rapat, kuncinya cuma ada di tangan bendahara istana. Tapi isinya hilang semua.”

“Gosipnya sih... bukan cuma satu gudang itu. Ada laporan lain yang belum disebar luas. Ternyata ada jejak kain sama persis kayak yang ditemukan di tempat kejadian lain. Tapi anehnya... kunci gudang itu nggak ada tanda dirusak. Kayak yang punya kunci sendiri.”

“Berarti bukan pencuri biasa?”

“Bukan urusan kita. Adipati perintahkan kita cari orang bawa busur kayu cendana. Kalau ketemu, tangkap hidup-hidup. Katanya itu orang yang bertanggung jawab atas semuanya.”

Mereka pun berjalan pergi setelah mengambil seikat kangkung. Karta mengangkat kepala perlahan, matanya berbinar. Info itu penting sekali—ternyata ada yang menyembunyikan sesuatu soal pencurian gudang istana, bukan semata-mata ulah Bayu.

Tapi sebelum dia sempat bergerak, datanglah seorang ibu-ibu gemuk berjalan mendekat. Matanya menatap tajam ke arah ayam-ayam di keranjang.

“Anak muda, yang paling gemuk berapa harganya?” tanyanya tegas.

Karta terkejut sejenak, lalu buru-buru senyum lebar. “Tiga keping uang tembaga, Nyai. Dagingnya manis, tak banyak lemak!”

Ibu itu menyipitkan mata. “Kamu bukan anak penjual biasanya ya? Biasanya yang jual di sini anak Ki Soleh. Dia ke mana?”

“Eh... itu... Ki Soleh sakit Bu! Saya disuruh bantu sementara,” jawab Karta asal, berharap tak ditanya lebih jauh.

“Begitu ya. Ambilkan yang ini.” Ibu itu menunjuk ayam jantan besar di keranjang paling atas.

Saat Karta hendak mengangkatnya, ayam itu tiba-tiba berkokok keras lalu melompat keluar keranjang. Ia berlari cepat ke arah belakang lapak, lalu berhenti tepat di dekat kaki Karta.

Karta bengong sejenak, lalu buru-buru menangkapnya. Tapi ibu itu sudah melangkah pergi.

“Heh anak nakal! Itu ayamnya mau lari!” seru seseorang dari arah samping.

Karta menoleh cepat, melihat pedagang ikan yang sedang menatapnya curiga. Dia tersenyum canggung.

“Bukan lari, Kang! Itu ayamnya... ayamnya yang malah mau mendekat ke saya! Tadi jalan pelan-pelan sendiri ke sini!”

Pedagang ikan itu melongo. “Ngomong apa kau? Ayam lari dibilang mendekat!”

Karta cuma bisa garuk-garuk kepala sambil menyembunyikan senyum. Benar juga kata Bayu, kalau ketahuan ambil ayam, alesannya selalu begitu. Dan kebetulan, di sela-sela keranjang tadi, dia sudah menyelipkan dua ekor ayam lagi yang “mendekat sendiri” ke arahnya.

Dia melihat sekeliling, memastikan tak ada yang memperhatikan, lalu bergegas membereskan lapak. Tugasnya sudah selesai: dapat info soal gudang istana yang kebobolan, ada hal yang disembunyikan Adipati, dan perintah penangkapan. Ditambah lagi dua ekor ayam buat bekal.

Saat hendak beranjak, dia mendengar dua wanita tua duduk di bawah pohon beringin besar sedang bergosip riuh.

“...dengar belum? Tadi malam ada orang lihat kereta kuda masuk ke ruang bawah tanah pendopo. Bukan kereta Adipati, bukan juga kereta tamu.”

“Lho? Terus isinya siapa?”

“Nggak tahu. Tapi katanya ada suara rantai besi. Kayak ada tawanan yang dibawa diam-diam.”

“Wah... aneh sekali. Apa hubungannya sama gudang yang hilang itu ya?”

Karta berhenti melangkah. Gosip ini terdengar nggak berhubungan sama sekali, tapi entah kenapa rasanya penting. Dia mencatatnya baik-baik di kepala.

Tanpa menunggu lama, dia menyelinap lewat lorong sempit di samping pasar, lalu berlari kecil menuju tempat persembunyian Bayu di pinggir hutan.

Sesampainya di sana, Bayu sudah menunggu di balik semak-semak. Begitu melihat Karta datang membawa dua ekor ayam di satu tangan dan kain lusuh di tangan lain, dia menghela napas panjang tapi tersenyum.

“Dapat info?” tanyanya singkat.

“Dapat banyak Kang!” seru Karta semangat. Dia meletakkan ayam di tanah, lalu mulai bercerita.

“Pertama, Adipati bilang gudang istana kebobolan gara-gara Kakang. Tapi bisikan prajurit, kuncinya tak rusak, kayak dibuka orang yang punya anak kunci. Kedua, mereka perintah cari pemuda yang bawa busur kayu cendana. Ketiga... ada kereta masuk ruang bawah tanah pendopo bawa rantai!”

Bayu mengernyit. “Ruang bawah tanah? Aku dengar dulu ada, tapi sudah lama ditutup.”

“Belum selesai!” Karta menunjuk ayam di tanah. “Ini buat makan tim, Kang! Tadi mereka berdua yang jalan sendiri mendekat, beneran! Bukan aku yang ambil paksa!”

Bayu tertawa pelan. “Iya, aku percaya.

‘Ayam yang mendekat sendiri’, begitu kan?”

“Bener banget! Lagipula tadi pas nyamar jualan ayam, suaraku malah kedengaran kayak orang dewasa, ada yang curiga dikit sih tapi lolos!” Karta cengengesan bangga.

Mereka pun duduk di dekat batang kayu tumbang. Bayu memikirkan info-info yang baru didapat. Kalau gudang istana dibuka dengan kunci asli, berarti ada orang dalam yang bekerja sama. Dan kalau ada tawanan di ruang bawah tanah, mungkin itu orang yang tahu kebenaran soal pencurian itu.

“Kita harus berhati-hati,” kata Bayu akhirnya.

“Adipati Rangga Sasmita tak cuma menuduh kita sembarangan. Dia menutupi jejak orang lain.”

“Terus kita mau ke mana?” tanya Karta sambil mengelus punggung ayam.

“Menunggu Larasati dan Sukma,” jawab Bayu tenang.

“Mereka satu-satunya harapan agar kebenaran bisa sampai ke telinga Prabu Kertayuda. Tapi Sukma yang angkuh itu takkan mudah percaya.”

Karta tiba-tiba berdiri tegak, tangannya mencengkeram gagang pisau.

“Kalau dia ngomong kasar lagi, aku kasih tahu dia kalau dia salah! Aku tak takut!”

Seketika itu juga dia meringis. Tangannya terasa berat sekali, seolah ada batu besar yang terikat di sana. Pisau Sanghyang Waja kembali menolak bekerja karena hatinya mulai penuh amarah.

“Aduh... berat lagi nih!” keluhnya sambil menggoyangkan tangan.

“Ya sudah deh, aku tenang dulu. Nanti aja ngomongnya kalau dia udah lihat bukti sendiri.”

Bayu menepuk pundaknya pelan. “Begitu. Kekuatan bukan buat memaksa orang percaya, tapi buat melindungi kebenaran.”

Matahari makin tinggi, menyinari jalan setapak menuju Kadipaten. Di kejauhan terlihat bayangan dua orang berkuda mendekat—Larasati dan Sukma. Perjalanan mereka belum lama berakhir, tapi benih keraguan sudah mulai tumbuh di antara mereka. Dan di balik pepohonan, dua sosok lain mengawasi dengan hati-hati, siap melangkah saat waktu yang tepat tiba.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!