NovelToon NovelToon
Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mafia
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.

Repan menetap di Kota Bogor.

Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.

Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.

Bagaimana kelanjutannya..?

"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Ketegangan melonjak tajam menyentuh puncaknya.

Suara raungan knalpot brong bergemuruh hebat, mengguncang kawasan aspal di depan SMA 09 Cimanggu.

Para siswa yang tadinya berkumpul menonton mendadak panik dan terbirit-birit melarikan diri saat melihat lebih dari seratus anggota Geng GBA membanjiri jalanan, menciptakan atmosfer yang luar biasa mencekam.

Bau sangit asap bahan bakar bercampur dengan hawa ketegangan yang membakar udara.

Ratusan sepeda motor berhenti semrawut. Dari bagian tengah kerumunan konvoi tersebut, sesosok pria berbadan tegap dengan rambut dikuncir rapi turun dari atas kendaraan roda duanya.

Dialah Angga, Ketua Utama Geng GBA. Ia mengenakan jaket kulit hitam dengan kalung rantai perak yang berkilau di bawah pendar sinar matahari sore.

Dengan santai, Angga melangkah ke barisan paling depan. Sorot matanya tertuju lurus pada Repan yang berdiri tenang di pinggir jalan.

"Jadi... lo anak sekolah yang sudah berani mempermalukan nama besar Geng GBA?" ucapnya seraya menyunggingkan seringai meremehkan.

"Tampilan lo biasa saja, nggak kelihatan jago. Gue rada sulit percaya kalau kuli bangunan bentukan kayak lo bisa membantai anak-anak gue."

Repan tidak bergeming sedikit pun, sepasang matanya tetap memancarkan ketenangan absolut.

"Kalian ini memang bebal. Nggak ada kapok-kapoknya walau sudah dipermalukan habis-habisan. Apa gue perlu membubarkan seluruh geng kalian hari ini sekalian?" sahut Repan dingin, vokalnya rendah menusuk.

Angga terkekeh kecil, walau sorot matanya tetap tajam berbahaya.

"Kami datang ke sini bukan cuma buat urusan balas dendam pribadi. Kami datang buat menegaskan pesan ke seluruh anak sekolah di Bogor... bahwa berani menantang Geng GBA adalah kesalahan terbesar dalam hidup kalian."

Sebelum Repan sempat membalas, suara vokal berat Jhonson memotong dengan nada keras.

"Nggak usah banyak bacot lo, Sampah! Cepat maju! Tangan gue udah gatal dari tadi pengin memukuli orang!"

Jhonson merangsek maju satu langkah, matanya menyala-nyala, diiringi menyunggingnya seringai lebar di wajahnya.

Ia bahkan tak memedulikan apa akar permasalahannya. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah melampiaskan hasrat bertarung.

Repan melirik sekilas ke arah Jhonson, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Angga.

"Area jalanan depan gerbang ini terlalu sempit. Ayo pindah ke area belakang. Ada lapangan kosong luas yang jauh lebih pas buat... menuntaskan masalah kita."

Tanpa menunggu persetujuan, Repan berbalik badan dan melangkah santai memasuki sebuah gang sempit di samping bangunan sekolah.

Lorong kecil itu menuntun mereka menuju ke sebuah area tanah lapang luas yang biasa dipakai warga dan siswa untuk bermain bola.

Tak butuh waktu lama, deru puluhan mesin motor kembali terdengar menyusul. Ratusan anggota Geng GBA mengekor di belakang, lalu memarkirkan kendaraan mereka secara teratur memutari tepi lapangan.

Kini, di tengah hamparan lapangan berdebu itu, Repan dan Jhonson berdiri bersisian.

Dua orang siswa SMA melawan seratus dua puluh berandalan jalanan yang dipersenjatai tongkat kayu, pemukul besi, dan rantai.

Dari barisan musuh, gelak tawa bernada ejekan bergemuruh riuh. Beberapa anggota bahkan meludah ke tanah, menganggap bentrokan ini hanyalah pertunjukan pembantaian yang konyol.

Jhonson menggulung lengan seragamnya hingga ke siku, lalu menoleh pada Repan seraya tersenyum miring.

"Lo beneran yakin mau meladeni orang sebanyak ini cuma berdua?"

Repan meliriknya lempeng. "Kenapa? Lo mendadak takut?"

Jhonson tertawa terbahak-bahak. "Takut?! Jangan ngelawak deh! Kagak ada kamus kata takut dalam sejarah hidup gue!"

Repan menganggukkan kepalanya pelan. "Kalau gitu, mari kita buat taruhan."

"Siapa di antara kita berdua yang sanggup merobohkan musuh paling banyak, dia pemenangnya. Dan yang kalah... wajib menuruti satu permintaan dari si pemenang," pukas Repan santai seraya memutar lehernya pelan hingga berbunyi kerotok.

Jhonson mengamati Repan selama beberapa detik, lalu mengangguk cepat dengan raut penuh gairah bertarung.

"Taruhan yang sangat menarik! Bersiap-siaplah lo, Repan... Lo bakal resmi jadi anak buah gue setelah ini!"

"Kita lihat saja nanti."

Angin sore bertiup pelan menyapu debu. Dan di tengah lapangan itu—dua monster dari SMA 09 Cimanggu bersiap menghadapi lautan berandalan motor.

Pertempuran brutal dua orang melawan seratus dua puluh musuh resmi dimulai.

Repan berdiri tegap, pandangan matanya menyapu barisan ratusan anggota geng di hadapannya.

Sorakan liar dan teriakan intimidasi dari personel Geng GBA membahana memenuhi area lapangan.

Namun di dalam benak Repan, hanya ada satu suara yang bergema: Sistem.

'Sistem, naikkan atribut kekuatanku. Tambahkan 10 poin.'

[Peningkatan atribut membutuhkan konsumsi 50 Poin. Apakah Anda yakin?]

'Iya. Konfirmasi peningkatan sekarang,' pukas Repan pelan.

[Peningkatan Berhasil!]

[Tingkat Kekuatan Anda Saat Ini: 60]

Seketika itu juga, gelombang sensasi hangat menjalar memenuhi seluruh aliran darah Repan.

Ia bisa merasakan otot-otot tubuhnya mengetat sempurna, refleks bertarungnya menajam laksana penglihatan elang, dan detak jantungnya tetap stabil meskipun ia bakal berhadapan dengan 120 orang musuh.

Deru napasnya teratur, namun gelora tenaga baru yang mengalir membuatnya makin siap beraksi.

Ia meremas jemari tangannya, merasakan denyut kekuatan fisik baru yang membara namun terkendali.

'Bagus, gue bisa merasakan lonjakan kekuatanku... tapi ini masih kurang. Sistem, tingkatkan keahlian Wing Chun milikku ke Level 3.'

[Peningkatan Keahlian Wing Chun ke Level 3 Membutuhkan Konsumsi 100 Poin. Apakah Anda yakin?]

'Tingkatkan sekarang.' Repan sama sekali tak ragu.

[Peningkatan Berhasil!]

[Status Keahlian: Wing Chun Lv.3]

[Deskripsi: Anda Kini Memiliki Penguasaan Teknik Bela Diri Wing Chun Setara Akumulasi Latihan Intensif Selama 30 Tahun]

BOOM!

Bagaikan kilatan cahaya, ribuan pemahaman teknik, pola pernapasan, pemetaan titik-titik vital tubuh manusia, hingga kontrol jarak pertarungan Wing Chun tingkat master merangsut masuk membanjiri benaknya.

'Luar biasa... Dengan tingkat kekuatan fisik di angka 60 dipadu penguasaan Wing Chun Level 3, gue siap melibas mereka semua.'

Di sisi lain, Jhonson melirik ke arah Repan yang berdiri santai dengan kedua tangan berada di dalam saku celana.

Tatapannya lempeng namun teramat tajam. Senyumannya tipis, dipenuhi rasa percaya diri yang absolut.

'Anak ini sama sekali nggak menunjukkan gestur gugup sedikit pun... Dia mirip kayak gue. Sosok yang terlahir khusus buat bertarung,' batin Jhonson seraya menyunggingkan seringai.

Sementara itu dari barisan terdepan musuh, Angga berdiri mantap menatap dua anak sekolah yang nekat menantang seluruh pasukannya.

Dengan helaan napas berat, ia mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi ke udara.

"SERBUUUUUUUUU!!"

Teriakan komandonya menggelegar mengocok lapangan.

"AAAAAAAAAA!!"

Gelombang seruan ratusan orang membahana. Bagai kawanan binatang buas, 120 personel Geng GBA bergerak menerjang ke tengah lapangan, mengayunkan rantai besi, tongkat kayu, dan pentungan ke arah dua remaja di depan mereka.

Jhonson tertawa lepas menyaksikan gelombang serangan itu.

"Gue acungi jempol mental lo, Repan! Gue kira cuma gue satu-satunya orang gila bertarung di sekolah kita!"

Repan meliriknya sekilas.

"Gue bukan berandalan kayak lo. Gue cuma malas saja diburu terus sama sampah-sampah nggak berguna kayak mereka."

"Heh, omongan lo sombong juga. Tapi gue suka gaya lo!" Jhonson tertawa, lalu merendahkan posisi tubuhnya siap melesat.

"Kalau begitu," Repan menyipitkan matanya tajam. "Mari kita ratakan mereka semua."

"AAAAAAAAA!!"

Jhonson meraung hebat, lalu melesat bagaikan banteng lepas menghantam bagian tengah kerumunan musuh.

Sementara Repan mengayunkan langkah kakinya secara perlahan.

Namun setiap pijakan kakinya terasa sangat mantap. Sepasang matanya menghitung kecepatan, pola formasi, serta celah pertahanan di antara gerombolan penyerang.

Langkahnya bagaikan serigala yang memasuki sarang domba.

BENTROKAN DAHSYAT PUN PECAH!

Jeritan kesakitan, benturan hantaman keras, dan tubuh-tubuh yang terpelanting mulai beterbangan di tengah lapangan.

Jhonson bergerak laksana badai menerjang. Satu orang terangkat ke udara, dua orang terlempar menghantam tanah. Namun yang paling menyedot perhatian—adalah pergerakan Repan.

Lewat pergerakan tubuh yang seolah melayang fleksibel, Repan memutar poros tubuhnya, mementalkan ayunan pukulan kayu, lalu melayangkan hantaman ganda tepat mengincar dua wajah lawan memakai teknik presisi Wing Chun Level 3.

BUK! BUK! TAK! TAK!

Musuh-musuh yang mencoba menyentuh seragamnya justru lebih dulu ambruk menghantam tanah secara mengenaskan.

Satu per satu, tubuh personel Geng GBA mulai berjatuhan. Namun jumlah mereka seolah-olah gelombang air laut yang tak pernah habis.

Pertempuran dua orang melawan seratus dua puluh musuh telah resmi membara, dan keduanya bertarung bukan cuma demi meraih kemenangan—melainkan buat membuktikan satu hal:

Siapa raja pertarungan sesungguhnya di SMA 09 Cimanggu.

1
Ahmad Wela
dua duanya aja biar seru.
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Hary
cerita anjing... skip and out
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!