"Mulai dari sekarang kamu adalah putraku, kamu yang akan menduduki tahta naga. Gantikan posisi kaisar, injaklah keparat itu."
Sang permaisuri berbisik sembari tersenyum, menatap ke arah seorang pangeran kecil berpakaian lusuh di istana terbuang.
Lin Krisan, merupakan putri tunggal dari jendral yang berkuasa. Diangkat menjadi permaisuri, setelah mendukung suaminya dari status pangeran hingga menjadi kaisar.
Namun, kasih sayang tidak didapatkannya. Kaisar lebih menyayangi para selirnya. Hingga pada akhirnya permaisuri Lin meninggal di istana dingin, setelah diracuni oleh kaisar.
Wanita yang terlahir kembali, kembali mengulangi waktu.
"Aku tidak akan berusaha merebut cintamu lagi. Tapi aku akan merebut tahtamu."
Menjadikan istana bagaikan papan catur, melucuti kekuasaan kaisar pengkhianat. Menjadikan putranya yang manis sebagai kaisar baru.
Tapi lebih dari itu, mata perdana menteri mengawasinya...atau menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekuat Tenaga
Wajah selir Shen terlihat pucat pasi. Dirinya masih menunduk, kemudian mengepalkan tangannya menghela nafas.”Yang mulia, hamba benar-benar tidak apa-apa. Yang mulia Ibu Suri lah yang memberikan tusuk konde ini pada hamba. Tapi jika yang mulia permaisuri menginginkannya, hamba benar-benar tidak apa-apa…”
Wanita yang menitikkan air matanya, memeluk Kaisar begitu erat. Menggunakan pakaian dengan warna yang mencolok, hiasan rambut yang begitu elegan dan mewah. Air matanya mengalir, bagaikan tidak dapat dihentikan. Bersandar pada Kaisar kemudian diam-diam tersenyum kepada permaisuri.
Berharap memprovokasi wanita ini, hingga Kaisar semakin membencinya.
“Hanya sedikit mirip tidak mungkin—” kalimat dari Kaisar terhenti, permaisuri menunjukkan tusuk konde giok tersebut.
“Tidakkah yang mulia familiar dengan simbol keluarga ini? Apakah ini simbol lambang kerajaan? Ataukah ini adalah simbol dari keluarga Shen…tapi ini terlihat begitu familiar seperti simbol keluarga Lin.” Itulah yang diucapkan oleh permaisuri, menunjukkan tusuk konde itu pada Kaisar.
Jemari tangan Kaisar gemetar meraihnya, matanya menatap ke arah simbol kecil yang terdapat di sana. Hampir semua harta bawaan permaisuri memang memiliki simbol yang serupa. Simbol milik keluarga Lin.
Namun dirinya harus berusaha tetap tenang, wajah wanita itu terlihat begitu sombong mengintimidasinya.
Perlahan Kaisar tersenyum mengetahui mengapa permaisuri seperti ini. Sudah pasti ini karena kecemburuan tidak dapat menghabiskan malam dengannya.
“Jangan perpanjang masalah ini, maka aku akan menemuimu tepat pada tanggal 15.” Itulah yang diucapkan oleh sang Kaisar, terlihat begitu arogan dan tenang.
“Aku cukup sibuk tanggal 15. Sudah aku katakan berikan kehormatan untuk melayani yang mulia kepada Selir Wen. Yang aku inginkan hanya satu, hukum harus ditegakkan…siapa yang bersalah dan siapa yang mencuri. Harus benar-benar dihukum.” Sang permaisuri menyeringai, benar-benar senyuman yang mengerikan.
Biasanya wanita ini akan tersenyum lembut padanya. Tapi kali ini menggunakan pakaian berwarna hitam, dengan kombinasi merah. Riasan wajahnya membuatnya terlihat begitu cantik dan berbahaya. Hiasan rambutnya, membuatnya terlihat begitu elegan.
“Yang mulia, ini sudah pasti karena kakak iri pada hamba. Hamba tidak apa-apa jika tidak harus melayani yang mulia malam ini. Malam ini yang mulia bisa menemani Kakak permaisuri saja. Hamba benar-benar tidak apa-apa.”
Sang Kaisar malah terlihat iba, mendengarkan apa yang dikatakan oleh selir Shen.
“Permaisuri, kamu dengar sendiri, bahkan selir dengan pangkat lebih rendah saja, tidak memiliki sifat iri hati dan pencemburu sepertimu. Kamu itu seorang permaisuri, harus menjadi teladan. Tidak pantas menghukum seorang selir hanya karena perasaan cemburu saja.” Sang Kaisar membentaknya.
Perlahan permaisuri tertawa, benar-benar sebuah tawa yang kencang.”Aku rasa aku harus mengundang tabib untuk memeriksa keadaan yang mulia Kaisar. Di bagian mana Aku terlihat cemburu? Di bagian mana Aku terlihat begitu menginginkan menghabiskan malam dengan Kaisar.” Perlahan tawa wanita itu terhenti, kembali mengintimidasi dengan senyuman mengerikan.”Aku hanya ingin menegakkan hukum, siapa yang berani melanggar peraturan, harus menerima sangsinya. Aku tidak ingin ketertiban di istana belakang rusak. Siapa yang sudah mencuri, maka akan menerima hukumannya.”
Biasanya wanita ini begitu penurut padanya, tapi entah kenapa permaisuri menjadi seperti ini. Kaisar menghela nafas, berusaha keras untuk menetralkan emosinya. Jika dirinya sedikit saja mengalah, maka permaisuri akan tetap tunduk padanya.
“Baiklah kali ini aku mengalah, malam ini kamu yang akan menemaniku. Aku akan pergi menghabiskan malam di istana Phoenix.” Kaisar mengepalkan tangannya. Benar-benar kesal rasanya dengan sikap permaisuri yang seperti ini.
Tapi.
“Aku sedang sibuk, Aku baru saja mengadopsi pangeran kelima. Aku harus mengurusnya, belum lagi kalau pangeran kelima terbangun nanti. Jadi hamba tidak dapat mengambil kehormatan itu. Hamba hanya dapat memohon maaf kepada yang mulia Kaisar. Punggung hamba sudah cukup pegal untuk tidur di lantai lagi.” Kalimat demi kalimat yang benar-benar menusuk, bagaikan benar-benar menembus relung kalbu pria itu.
Memang, setiap Krisan merajuk, maka Kaisar akan menghabiskan malam di istana Phoenix. Tapi dalam artian, kaisar yang tidur di atas tempat tidur hangat, berbalut selimut. Sedangkan permaisuri harus rela berkorban dengan tidur di lantai.
Alasan Kaisar hanya satu, terlalu mencintai permaisuri, hingga tidak ingin permaisuri melahirkan dan merasakan kesakitan. Sama sekali tidak ingin permaisuri mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan pangeran. Padahal itu hanya rencana busuknya saja agar tidak memperkokoh kekuasaan keluarga Lin dengan kelahiran pangeran.
“Lalu apa yang kamu inginkan?” Sang Kaisar mengepalkan tangannya.
“Hamba hanya ingin hukum ditegakkan seperti yang hamba katakan sebelumnya. Seorang pencuri harus dihukum, karena kebijakan yang tidak ditegakkan akan menghancurkan nama baik yang mulia Kaisar.” Wanita yang masih tersenyum hingga kini tetap kukuh kepada pendiriannya.
“Yang mulia permaisuri, hamba sudah mengatakan ini adalah pemberian Ibu suri.” Alasan yang dibuat oleh selir Shen, mengingat Ibu Suri adalah bibinya sendiri.
Sudah pasti ibu Suri akan berpihak kepadanya. Kemudian mengatakan bahwa ibu Suri yang memberikannya. Bagaimana mungkin permaisuri dapat melawan kekuasaan Ibu suri?
“Kalau begitu Ibu Suri yang harus dihukum. Hukum tidak pandang bulu seperti pedang yang harus tumpul ke atas maupun ke bawah.” Masih saja permaisuri bersikap begitu arogan, wanita yang menadahkan tangannya.
Seorang pelayan yang berada di belakangnya, segera memberikan apel merah yang segar, pada tangan permaisuri. Wanita yang memakannya, perlahan tersenyum. Bagaimana kedua orang bodoh ini akan melawannya. Dirinya benar-benar penasaran.
“Permaisuri!” Suara bentakan dari Kaisar terdengar.
“Maaf yang mulia Kaisar, telinga hamba masih normal. Yang mulia tidak perlu meninggikan ada bicara ketika berdiskusi dengan hamba.” lagi lagi kata-kata yang benar-benar elegan, menusuk dan mematikan.
“Hentikan semua kecemburuanmu! Sudah aku katakan berkali-kali aku dapat mengalah. Ini semua karena kamu cemburu, Bagaimana bisa seorang permaisuri memiliki rasa cemburu!? Bukankah dalam tata krama semuanya sudah tertulis? Apa permaisuri tidak membacanya, Bagaimana selayaknya tata krama sebagai seorang istri.” Kaisar menatap mengintimidasi.
“Bagaimana sebenarnya tata krama sebagai seorang istri? Baiklah hamba akan membahas ini satu persatu. Yang pertama selir yang mulia menuduh hamba telah melukainya. Padahal dia yang mencuri jepit rambut milik hamba. Apakah itu tata krama seorang gundik? Selir sepertinya seharusnya menghormati istri sah. Bahkan nyonya dari keluarga bangsawan terhormat pun, begitu menghargai hamba. Lagi pula…selir Shen mengatakan hamba mendorongnya?” Permaisuri mengangkat sebelah alisnya, kembali menggigit apel di tangannya.
“Jika hamba yang mendorongnya dengan sengaja. Bukan seperti itu caranya. Bukan seperti selir Shen yang setelah didorong sekuat tenaga malah tidak terluka sama sekali. Didorong sekuat tenaga? Atau Shen desain sendiri yang mengarahkan tangan hamba agar terlihat mendorongnya?” Lanjutnya tersenyum tenang.
“Yang mulia Kaisar, percayalah hamba benar-benar didorong oleh permaisuri. Semua pelayan dan kasih melihatnya bagaimana—” kalimat selir Shen terhenti.
Tepat ketika permaisuri, menendangnya, hingga jatuh tersungkur. Kemudian kepalanya terbentur batu. Selir Shen menyentuh pelipisnya.”Darah…” Gumamnya gemetar ketakutan.
“Nah…itu baru namanya Aku sengaja mendorongnya. Harus sekuat tenaga seperti itu…ha…ha…ha…” suara tawa permaisuri terdengar pada akhirnya.
kalau Indomie baru selera ku🤭🤣🤣
🤣🤣🤣