belum di revisi
Tolong baca nya jangan di lompat!
SEKUEL SAYEMBARA JODOH
kisah anak-anak Dira dan Juna.
"Sampai sekarang aku masih mencintaimu, Bun."
"Kakak jangan gila! Aku ini calon adik iparmu!"
"Apa kamu mencintai Angkasa?" tanya Fajar.
Embun pun menjawab sambil membuang muka. "Ya. Aku mencintainya! Puas?"
Embun tidak pernah menyangka dipertemukan kembali dengan Fajar--seseorang yang datang dari masa lalu. Lelaki yang sangat mendambakan dirinya. Akan tetapi, Embun harus meninggalkan Fajar sebab begitu banyak tekanan yang dia hadapi. Tembok mereka cukup tinggi.
Saat ini Embun sudah bersama dengan pria lain. Pria yang memiliki kedekatan cukup erat dengan Fajar, yang menjadi pilihan ayahnya.
Lalu, bagaimana dengan Fajar? Cinta yang dia simpan rapat-rapat kini kembali bergejolak setelah pertemuannya. Akankah dia menyimpan cinta itu untuk selamanya? Atau justru berjuang untuk mendapatkan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jika Fajar tanpa Embun
"Papa ke Jakarta berapa lama?" tanya Embun sambil menyiapkan segelas teh hangat.
Trias ke Jakarta untuk menyelesaikan kasus pembersihan nama baik. Termasuk mempidanakan Marcel yang selaku biang utama masalah ini. Dia akan di bantu sama Rayyan dan tentunya orang kepercayaan atasannya. Namun, Trias memilih merahasiakan soal itu dari kedua putrinya. Di samping itu akan menambah pikiran mereka. Dia juga tidak ingin masa pengungsian terganggu.
"Iya, papa kayaknya lama di sana. Kalian tidak apa kan, papa tinggalkan sementara di sini?"
" Enggak apa, Pa. Kalau ada yang macam-macam sama kak Embun biar aku patahkan lehernya."
Trias tertawa. Sejak kapan putri bungsunya jadi strong begitu. Tapi dia bersyukur kalau hubungan Lintang dan Embun semakin kuat. Hatinya sedikit tenang, walaupun dia tahu sewaktu-waktu Embun bisa saja bertemu dengan Fajar.
Bukannya kata Embun, Fajar tinggal di Bandung. Ah, Bandung kan luas. Bisa jadi di kota nya. Batin Trias.
"Minum dulu, Pa. Teh nya. Oh ya, Pa. Besok aku menemani Lintang urus daftar kuliah ke Bandung. Daerah Dago." kata Embun.
" Kalau soal urusan daftar kuliah kan bisa melalui online. Tidak usah langsung ke sana. Papa sudah tidak punya anak buah lagi. Dan Papa tidak akan izinkan kalian keluar daerah. Apalagi Bandung itu jauh." ulti Trias.
" Iya, Pa." Suara Lintang terdengar lesu.
"Nah, gitu. Itu baru anak papa." Trias mengacak rambut Lintang.
Trias sudah berdiri di ruang tengah. Dia tinggal di sebuah perumahan milik Rayyan. Katanya rumah itu dulu di tempati Bu Yasmin. Tapi sekarang beliau tinggal bersama Oka, adik bungsu Rayyan yang berstatus duda. Istrinya Oka meninggal dunia karena penyakit ganas, meninggalkan dua orang anak kembar sekarang beranjak remaja.
Obrolan mereka terhenti ketika ada yang mengetuk pintu luar. Ketika Trias membuka pintu, ada sopir suruhan Rayyan. Dia pun meminta pak sopir untuk duduk dan menunggu di ruang tamu.
"Papa sudah mau berangkat?" tanya Embun. Tampak Trias hanya membawa ransel saja.
"Papa kayak anak kuliahan pakai tas kayak gitu." ucap Lintang sambil tertawa.
"Papa kan masih muda. Umur boleh tua tapi jiwa papa tidak kalah muda dari kalian. Yasudah papa berangkat dulu. Itu Sofian sudah menunggu." pamit Trias.
Embun dan Lintang menyalami papanya secara bergantian. Tampak beberapa orang yang akan ikut bersama Trias. Mereka mengantarkan papanya sampai di depan pagar rumah.
Selepas Trias pergi, Embun dan Lintang masuk ke dalam rumah. Mereka memulai aktivitas seperti biasa, dari beres-beres rumah, membersihkan teras depan. Waktu terus bergulir, mereka pun memilih beristirahat.
"Kak, aku mau jalan-jalan sekitar sini. Kakak mau ikut, mumpung udaranya agak sejuk. Aku mau main di sekitar perkebunan." kata Lintang.
"Enak agak sore saja, Dek. Kakak lagi malas kemana-mana."
" Oke, lagian aku juga nggak mau ninggalin kakak sendirian. Nanti kayak kemarin, ada cowok yang moto diam-diam. Kita nggak tahu photo kakak mau di pakai apa sama cowok itu. Siapa tahu mau di buat photo atau video mesum."
"Nggak boleh gitu, kita harus berprasangka baik pada orang. Siapa tahu dia pengagum aku?" ucap Embun penuh percaya diri.
Lintang tertawa lepas. Belum pernah dia mendengar ucapan kakaknya penuh percaya diri. Baru kali ini dia mendengarnya.
...****...
"Ada apa, Kak?" ucap Fajar dalam sambungan telepon.
"Aku sudah berusaha cari kabar Embun. Bahkan dari pihak om Rayyan pun tidak tahu keberadaan mereka. Katanya papanya Embun sudah resign setelah keluar dari penjara.
Mendengar hal itu wajah Fajar berubah. Dia terlihat sangat kecewa.
" Sudah kak, jangan di cari lagi. Aku sadar Embun enggan punya pacar cacat. Mungkin ini sudah keputusan dia. Tapi aku akan berusaha sembuh agar bisa mencari keberadaan Embun." kata Fajar lirih.
"Jar, kalau saran aku lupakan Embun. Kalau dia cinta sama kamu, dia tidak akan meninggalkan kamu dalam kondisi apapun. Dia juga harusnya termasuk yang bertanggung jawab atas kondisi kamu. Sekarang terlihat, kan siapa yang ada di saat begini. Kedua orang tua kamu, adik-adikmu, dan keluarga yang lainnya. Jar, mulai sekarang biasakan tanpa memikirkan Embun."
Fajar hanya terdiam.
"Kak, maaf aku sudahi dulu. Terimakasih kak Roger sudah banyak membantu aku dalam hal apapun." ucap Fajar masih terdengar kecewa.
"Jika Fajar tanpa Embun, bukan berarti langit akan tetap mendung kan? Karena Fajar akan selalu muncul di pagi hari apapun kondisinya. Kamu itu laki-laki, Jar. Harus kuat, jangan lemah hanya karena seorang perempuan. Kalau kalian jodoh, pasti akan di pertemukan. Percayalah, Jar."
Percuma. Hati Fajar tetap merasa layu. Rasa pesimis pun kembali melanda dirinya. Ia merasa tidak punya semangat dan juga harapan. Dan harapan itu sudah mati bersama hilangnya orang yang dia cintai.
...****...
Embun berjalan bersama Lintang menuju ke perkebunan. Rumah mereka cukup jauh dari areal perkebunan. Mereka tidak sendiri, di temani salah satu pekerja perusahaan milik Rayyan.
Mereka memasuki hutan kecil nan sejuk. Embun mengedarkan pandangan di sekelilingnya. Seperti devaju dia memasuki salah satu rute, dia masih mencoba mengingat lokasi tersebut.
"Nah, itu pabrik keluarga Bramantyo. Orangnya baik non. Cuma ya mereka agak renggang karena Mas Juna batalin nikah sama non Delia. Terus katanya orang-orang pak Abdul menculik Bu Dira, yang jadi istrinya sekarang. Makanya hubungan mereka jadi makin runyam.
Cuma maaf ya, Non. Cerita saya jangan di adukan sama pak Rayyan. Saya masih buruh kerja, saya kerja sama mereka sudah 30 tahun." kata pak Amir.
Embun lama memandang gedung pabrik teh Bramantyo. Dia menyelipkan rasa kagum pada sosok yang katanya ayah dari Fajar.
Pandangannya beralih pada sosok yang sedang duduk di kursi roda. Sosok yang sepertinya sedang melamun.
"Kak!" suara Lintang mengejutkan dirinya.
"Aduh kakak ngapain bengong." pandangan Lintang pun beralih. Akhirnya dia tahu apa yang membuat sang kakak tak beranjak dari tempat berdirinya.
"Ingat, Kak. Kita sudah sepakat untuk tidak berurusan sama Kak Fajar." Lintang menarik kakaknya dengan paksa. Saat ini dia merasa harus menjaga kakaknya.
Terimakasih author buat cerita kerennya 😍😍 Walau masi penasaran sama ending kisah Darren dan Reva, juga jodohnya Lintang 😁