NovelToon NovelToon
Aku Masuk Ke Tubuh Villainess Yang Akan Dieksekusi

Aku Masuk Ke Tubuh Villainess Yang Akan Dieksekusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Menjadi NPC
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rapat Revisi Takdir

Jika hidupku sekarang adalah naskah, maka penulisnya jelas tidak pernah mengikuti kelas “membangun karakter tanpa menyiksa tokoh utama”.

Di depanku, buku besar berjudul entah apa—aku menyebutnya Buku Takdir yang Tidak Punya Etika—terbuka di atas meja hitam. Kalimat pertama masih terasa seperti penghinaan pribadi.

Evangeline Arvella harus mati agar Saintess naik.

Harus?

Aku benci kata itu.

Di dunia modern, kata “harus” sudah cukup menyebalkan ketika muncul dalam bentuk “harus bayar tagihan” atau “harus lembur”. Di dunia ini, kata itu dipakai untuk membenarkan eksekusi seorang wanita yang bahkan tidak diberi kesempatan membela diri.

Aku menatap buku itu sambil menyilangkan tangan. “Baik. Kita perlu rapat.”

Adrian menoleh. “Rapat?”

“Iya. Rapat revisi takdir.”

Cassian memandang meja hitam, lalu aku. “Apakah itu istilah resmi?”

“Mulai sekarang resmi.”

Aku menarik kursi batu di dekat meja. Kursi itu berat, dingin, dan jelas dibuat oleh orang yang tidak percaya pada kenyamanan punggung. Aku duduk dengan wajah serius, lalu menunjuk Adrian dan Cassian agar ikut duduk.

Adrian tetap berdiri. “Aku berjaga.”

“Kakak, rapat keluarga pertama kita setelah mengetahui ibu mungkin dibunuh oleh ordo rahasia dan hidupku ditulis sebagai tumbal politik. Duduklah.”

Adrian duduk.

Cassian duduk dengan elegan, seolah ruang arsip bawah tanah adalah ruang teh biasa. Ia meletakkan peta, kunci perak, dan sendok Mira di meja.

Aku menunjuk sendok. “Masukkan itu sebagai barang bukti.”

Cassian mengangkat alis. “Barang bukti atau senjata?”

“Keduanya.”

Aku membuka buku itu lagi dengan hati-hati. Halaman berikutnya berisi narasi tentang Evangeline kecil: anak bangsawan yang lahir dengan “darah terlalu kuat”, “watak mudah dibentuk”, dan “posisi ideal sebagai bayangan Saintess”. Tulisan itu membuat perutku mual.

Mereka bukan hanya menunggu Evangeline menjadi jahat.

Mereka membentuknya.

Rumor. Isolasi. Pengabaian keluarga. Pertunangan politik dengan Lucien yang sejak awal diarahkan untuk gagal. Setiap luka kecil dijahit menjadi citra villainess. Setiap kesalahan diperbesar. Setiap kebaikan dihapus.

Aku membaca satu bagian dengan suara pelan.

“Pada usia dua belas, Evangeline akan dituduh mendorong putri Baron Elvie ke kolam. Kesaksian pelayan harus diarahkan agar menunjukkan niat jahat.”

Adrian mencengkeram meja. “Itu kecelakaan. Aku ingat. Eva menangis semalaman karena anak itu hampir tenggelam.”

Aku menatapnya. “Kau tahu?”

“Aku ada di sana. Aku ditarik ke akademi militer seminggu setelahnya. Ayah berkata aku terlalu membela adikku.”

Dadaku terasa sesak. Jadi Evangeline tidak selalu dibenci karena perbuatannya. Ia dibenci karena seseorang memastikan tidak ada yang mengingat versi benar.

Cassian membaca halaman lain. “Di sini tertulis tentang pesta usia lima belas.”

Aku mendekat. “Apa?”

“Ia direncanakan menumpahkan anggur ke gaun Seraphina.”

“Aku membaca bagian itu di novel.”

Keduanya menatapku.

Aku cepat-cepat berkata, “Maksudku, aku pernah membaca laporan gosip istana.”

Cassian tidak percaya, tetapi tidak mengejar. Untuk saat ini. Terima kasih pada prioritas krisis.

Di naskah tertulis bahwa pelayan harus mengganti jalur langkah Evangeline, membuatnya tersandung tepat saat membawa gelas. Namun dalam versi publik, Evangeline dianggap sengaja mempermalukan Seraphina.

Aku menutup mata.

Kasihan Evangeline.

Ia memang mungkin angkuh, menyebalkan, dan dramatis. Tapi jika sejak kecil dunia terus memaksanya menjadi penjahat, bagaimana ia bisa tumbuh menjadi orang yang lembut?

Aku merasakan kemarahan Evangeline yang lama seperti bara kecil di dadaku.

“Maaf,” bisikku dalam hati, entah kepada siapa. “Aku dulu ikut membencimu saat membaca cerita itu.”

Cassian memperhatikanku. “Kau baik-baik saja?”

“Tidak.”

“Jawaban jujur.”

“Aku sedang berusaha tidak melempar buku ini ke dinding karena sayang bukti.”

Adrian berkata rendah, “Kita bawa buku ini ke Lucien. Ini cukup untuk membuktikan konspirasi.”

Aku menggeleng. “Tidak cukup.”

“Kenapa?”

“Karena buku ini terlalu aneh. Jika kita membawa buku yang katanya menulis takdir kerajaan, dewan bangsawan bisa menyebut kita gila, penyihir, atau keduanya. Apalagi reputasiku masih dalam masa pemulihan.”

Cassian mengangguk. “Benar. Kita perlu bukti yang bisa diterima secara politik: nama, transaksi, saksi, arsip resmi, dan hubungan dengan Ordo.”

Aku menunjuk buku. “Naskah ini peta. Bukan senjata utama.”

Adrian menghela napas berat. “Aku lebih suka senjata yang bisa kutebas.”

“Aku juga, Kakak. Tapi sayangnya musuh kita memakai dokumen, agama, rumor, dan pria tua yang menolak mati.”

Cassian membuka halaman-halaman berikutnya. Ada daftar nama bangsawan yang terlibat, tetapi sebagian disamarkan dengan gelar atau simbol. Salah satunya lambang matahari retak, satu lagi tiga daun perak, dan satu yang membuat Adrian langsung tegang: singa merah.

“Lambang keluarga Arvella,” katanya.

Aku sudah menduganya, tetapi tetap sakit.

Ayah Evangeline terlibat.

Atau setidaknya, seseorang dalam keluarga Arvella.

Di halaman lain, terdapat catatan tentang “pengamanan pewaris laki-laki” dan “pengendalian pewaris perempuan”. Aku menatap Adrian.

“Kakak ditarik ke akademi militer bukan kebetulan.”

Adrian diam.

Tangannya mengepal. Aku tahu ia sedang mengingat tahun-tahun jauh dari rumah, saat adiknya tumbuh sendirian di antara orang yang membencinya.

“Kakak,” kataku pelan.

Ia menatapku.

“Jangan menyalahkan dirimu.”

“Aku kakakmu.”

“Dan kau juga masih anak-anak waktu itu.”

Matanya melembut sedikit, tetapi rasa bersalah tidak hilang. Aku mengenali rasa itu. Rasa yang tidak bisa dihapus hanya dengan satu kalimat.

Cassian tiba-tiba berkata, “Ada halaman tentang Rosaline.”

Aku langsung mendekat.

Halaman itu berbeda. Tulisannya tidak seluruhnya hitam; ada coretan merah, seolah seseorang berusaha menghapus atau melawan isi naskah.

Rosaline Arvella membaca alur. Rosaline Arvella menolak. Rosaline Arvella mencuri halaman kematian. Rosaline Arvella harus dihentikan.

Di bawahnya, ada tulisan lain dengan gaya tangan berbeda. Mungkin tulisan ibuku.

Anakku bukan bayangan. Anakku bukan tumbal. Jika cerita membutuhkan penjahat, biarkan orang dewasa yang menulisnya menjadi penjahat.

Aku menutup mulut.

Mira tidak ada di sana, tetapi aku yakin jika ia membaca ini, ia akan menangis sampai membanjiri arsip.

Aku juga hampir menangis.

Hampir.

Tapi lalu aku melihat catatan di pinggir halaman.

Halaman kematian dipindahkan ke ruang utara kedua. Kunci: ingatan Cassian North.

Aku pelan-pelan menoleh ke Cassian.

Cassian membaca bagian itu, lalu wajahnya menjadi sangat kaku.

“Duke North,” kataku hati-hati.

“Tidak.”

“Saya belum bertanya.”

“Jawabannya tidak.”

“Apakah ini tentang kenangan masa kecil yang Anda kubur bersama kebiasaan tersenyum?”

Adrian menatapku. “Eva.”

“Apa? Kita harus membahasnya.”

Cassian berdiri. “Kita perlu keluar. Terlalu lama di sini berbahaya.”

Ia menghindar.

Jelas sekali.

Aku tidak menyalahkannya. Jika ingatan yang terkunci menyimpan sesuatu tentang kematian ibuku, ayahnya, dan naskah kematianku, wajar kalau ia tidak ingin membukanya. Tapi masalahnya, hidupku mungkin bergantung pada ingatan itu.

Aku menutup buku dan mengambil beberapa halaman salinan yang bisa dilepas. Anehnya, buku itu mengizinkan halaman-halaman tertentu diambil, seolah memang menunggu seseorang membawanya keluar.

Saat kami hendak pergi, sebuah bunyi retak terdengar dari dinding.

Cassian menoleh. “Kita harus cepat.”

“Kenapa?”

“Ruang ini tidak suka bukunya dipindahkan.”

Aku menatap rak-rak batu yang mulai bergetar. “Menara beku tidak suka tamu, arsip tidak suka pinjam buku. Apakah ada fasilitas Northmere yang punya pelayanan baik?”

“Perpustakaan utama cukup ramah.”

Dinding retak lebih keras.

“Catat untuk nanti!”

Kami berlari keluar dari ruang arsip. Aku membawa halaman-halaman naskah di dada, Adrian menebas batu yang jatuh, Cassian menuntun jalur dengan peta. Saat kami kembali ke lorong utama, dinding yang sebelumnya menutup jalan mulai terbuka lagi—mungkin karena sihir Malric melemah.

Namun sebelum kami mencapai tangga, suara dari belakang terdengar.

Revisi ditolak.

Aku membeku.

Dari bayangan lorong, tulisan merah muncul di dinding.

Penjahat harus mati.

Aku membalik badan dan berteriak, “Penulis macam apa yang tidak menerima kritik konstruktif?!”

Adrian menarikku. “Eva, lari!”

Kami naik tangga dengan napas terengah. Aku hampir tersandung dua kali, sekali karena rok, sekali karena harga diriku yang menolak mengakui aku kurang olahraga. Cassian menahan pintu menara saat kami keluar. Begitu kami melewati ambang, pintu batu menutup keras di belakang.

Kami berdiri di ruang cermin, terengah-engah.

Mira langsung muncul dari pintu luar membawa sendok dan wajah panik. “Nona! Hamba mendengar suara seperti lemari marah!”

“Arsip bawah tanah memang tidak suka peminjaman.”

Mira melihat wajahku, lalu halaman di tanganku. “Nona menemukan sesuatu?”

Aku mengangguk.

“Bukti?”

“Lebih dari itu.”

Cassian berdiri diam. Wajahnya masih tertutup, tetapi aku tahu satu hal: catatan tentang ingatannya mengguncangnya lebih dalam daripada serangan apa pun.

Sebelum aku bisa bicara, Edmund muncul tergesa di depan pintu menara. Untuk ukuran Edmund, “tergesa” berarti langkahnya hanya sedikit lebih cepat dari bangsawan sopan.

“Yang Mulia Duke,” katanya. “Utusan istana tiba.”

Cassian mengernyit. “Dari Lucien?”

“Bukan.”

Aku merasakan firasat buruk.

Edmund memandangku. “Dari Saintess Seraphina.”

Mira mendesis seperti kucing. “Tingkat kecurigaan naik.”

Edmund menyerahkan surat bersampul putih dengan segel bunga lili.

Aku membukanya.

Tulisan Seraphina indah, lembut, dan membuatku ingin membersihkan tangan.

Lady Evangeline tersayang, aku mendengar perjalananmu ke utara berat. Aku khawatir padamu. Karena itu, aku telah memutuskan datang ke Northmere untuk menemuimu dan membantumu berdamai dengan takdir.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Lalu tertawa.

Mira pucat. “Nona?”

Aku mengangkat surat itu.

“Saintess kita akan datang.”

Cassian mengambil surat itu, wajahnya menggelap.

Adrian berkata, “Ini jebakan.”

“Tentu saja,” jawabku. “Tapi setidaknya dia cukup sopan memberi pemberitahuan.”

Di bagian bawah surat, ada satu kalimat tambahan.

Aku harap kau tidak menemukan hal-hal yang hanya akan menyakitimu.

Aku tersenyum.

Terlambat, Seraphina.

Aku sudah menemukan halaman pertamaku.

Sekarang aku akan menemukan halamanmu.

Mira, yang mendengar kabar kedatangan Seraphina, langsung menyusun daftar persiapan yang menurutku lebih cocok untuk menghadapi invasi.

“Satu: sendok cadangan. Dua: teh anti pingsan. Tiga: saputangan untuk Nona. Empat: saputangan untuk hamba. Lima: saputangan untuk situasi ketika Nona berkata sesuatu yang membuat semua orang ingin pingsan.”

“Itu banyak saputangan.”

“Berdasarkan pengalaman, masih kurang.”

Cassian melihat daftar itu dan berkata, “Tambahkan penjagaan koridor barat.”

Mira menulis dengan serius. “Baik. Penjagaan koridor barat di antara saputangan dan roti manis.”

Adrian mengerutkan kening. “Mengapa roti manis masuk rencana keamanan?”

Mira menjawab dengan martabat, “Orang lapar mudah membuat keputusan buruk, Tuan.”

Aku menunjuk Mira. “Dia benar.”

Adrian tampak ingin membantah, lalu menyadari sejarah membuktikan manusia memang sering menjadi bodoh saat lapar. Ia diam.

Di tengah kekacauan kecil itu, aku memandangi halaman naskah yang kusimpan. Harga revisi adalah ingatan. Kata-kata itu belum kuberitahukan kepada semua orang. Bukan karena aku ingin menyembunyikan, tetapi karena aku sendiri belum siap memahami.

Jika mengubah takdir berarti kehilangan ingatan, ingatan siapa yang akan diambil? Milikku sebagai Alena? Milik Evangeline? Atau ingatan Cassian yang sudah disebut sebagai kunci?

Untuk pertama kalinya, aku takut bukan pada kematian, tetapi pada kemungkinan selamat dengan kehilangan diri.

1
E H Mukti
Lady evangeline 👌👌👌
Carina Yuda: hi kak, makasih udah mampir
total 1 replies
E H Mukti
😍😍😍👌
Carina Yuda: selamat membaca :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!