Zavier terpaksa harus mencari seorang wanita untuk di jadikan istri secepatnya, karena di paksa oleh sang kakek yang sedang sakit parah. Sebagai seorang pewaris tunggal dirinya di tuntut oleh sang kakek untuk memiliki istri di usianya yang ke 27 tahun, hal ini membuat Zavier hampir gila.
Sementara itu di sisi lain, Sofia yang baru saja kehilangan sang papa, kini menjadi yatim piatu hidup menderita di tangan mama dan adik tirinya. Namun sebuah teragedi tak terduga terjadi, mama tiri Sofia tiba-tiba menjual Sofia kepada seorang laki-laki tua demi uang. Namun pada akhirnya hal ini malah membuat jalan bagi Sofia bertemu dengan Zavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"yasudah nona, ayo kita lanjutkan," kata bik Rua yang kemudian berjalan mendahului Sofia untuk mengitari mansion kembali.
"Iya bik," jawab Sofia yang kemudian berjalan mengikuti bik Rua sang kepala pelayan.
Sudah sangat lama mereka mengelilingi mansion tersebut, melihat ke seluruh ruangan yang sudah tertulis di buku panduan bik Rua.
"Nona, ini adalah perpustakaan milik tuan muda Zavier, apakah mau masuk ke dalam?" tanya bik Rua sambil memperlihatkan ruang tersebut.
"Wahhh, ini sangat luar biasa," kata Sofia kagum, dia sebelumnya memang sangat suka membaca.
"Mari nona," kata bik Rua yang kemudian membuka pintu perpustakaan tersebut karena merasa Sofia sangat tertarik dengan tempat itu.
Mereka pun tampa ragu-ragu masuk ke dalam perpustakaan tersebut, Sofia benar-benar mengagumi tempat yang sangat bagus itu, begitu banyak rak buku di dalam nya, dan tidak hanya itu isinya juga full dan sangat menarik bagi Sofia.
"Aku tidak menyangka kalau kak Zavier suka membaca," kata Sofia sambil memeprhatikan buku-buku yang ada di hadapannya.
"Iya nona, tuan muda malah sangat suka membaca, jika tuan Wiliam tidak menemukan nya di manapun di dalam mansion ini, itu artinya tuan muda sedang bersemayam di dalam perpustakaan dan membaca banyak buku, untuk menghilangkan rasa bosannya," jelas bik Rua sambil tersenyum.
Sofia tersenyum, dia tak terlalu ambil tau dengan apa yang bik Rua katakan barusan, dia malah asik melihat-lihat buku yang ia sukai.
Namun tiba-tiba seseorang pelayan datang ke ruangan tersebut menghampiri kepala pelayan Rua.
"Kepala pelayan," pangil maid tersebut.
"Ya, ada apa?" tanya bik Rua sambil menatap bawahan nya dengan tatapan bingung.
"Anu kepala pelayan, barang-barang makanan untuk persediaan tiga bulan sudah masuk dan kami membutuhkan anda untuk mengatur dan mengurus nya," ujar maid itu dengan wajah gelisah.
"Astaga aku sampai lupa," ujar bik Rua sambil menepuk jidatnya.
"Tidak apa-apa bik, kau bisa menyelesaikan nya terlebih dahulu, setelah itu ke sini lagi untuk menemani ku keliling," kata Sofia yang sempat mendengar hal tersebut.
"Benar tidak apa-apa nona? Ini mungkin tidak akan lama hanya tiga sampai empat puluh menit saja," kata bik Rua.
"Iya, sungguh, biarkan aku menunggu mu di sini sambil membaca dan melihat-lihat buku," kata Sofia sambil tersenyum manis.
"Baik lah nona, terimakasih banyak, kalau begitu saya dan maid permisi dulu," kata bik Rua kelas Sofia.
"Baik bik," jawab Sofia sambil mengangguk paham.
Bik Rua dan juga maid tersebut pun segera keluar dari perpustakaan meninggalkan Sofia sendiri di sana karena tugas mendadak yang sempat di lupakan bik Rua ini.
Sementara Sofia melanjutkan hobinya, ya itu membaca dan melihat buku-buku kesukaan nya.
Sementara itu di sisi lain.
"Tuan muda, seperti nya anda harus mengecek pabrik kita yang ada di kota X, bahan-bahan nya tidak kunjung masuk dalam seminggu ini, aku khawatir ada yang berbuat curang," kata Glen sambil menatap layar tablet nya.
Sudah beberapa hari Zavier tidak mengurus perusahaan, begitu rumit masalah yang timbul, satu masalah sudah mereka selesaikan tadi, dan sekarang Glen membuka permasalahan kedua.
"Apa maksud mu adalah pabrik kapas yang ada di kota X?" tanya Zavier lagi.
"Ya tuan muda, itu benar, sekarang para karyawan kebingungan harus mengerjakan apa di sana karena bahan-bahan utama seperti Gossypium (Bahan utama kapas) yang biasa mereka gunakan tak kunjung tiba dari kapas yang kita import melalui petani kapas luar negeri," jelas Glen panjang lebar.
Ya, Zavier memiliki sebuah pabrik atau PT kapas, yang di mana itu adalah peninggalan kedua orang tua mereka, di mana mama nya Zavier sangat menyukai kapas dan akhirnya membangun sebuah pabrik kapas yang di mana kapas nya datang dari luar negeri, oleh para petani luar negeri.
Karena ini adalah peninggalan kedua orang tua nya, Zavier akan sangat memperhatikan pabrik ini, ia sangat peduli terhadap pabrik tersebut meskipun sekarang mendapatkan Gossypium itu sangat lah susah.
"Kau sudah menghubungi pengurus di sana?" tanya Zavier bingung.
Sebenarnya bagi Zavier yang sudah punya banyak koneksi di luar negri itu cukup mudah mendapatkan Gossypium, ini kejadian pertama untuk nya di mana pabrik nya tidak dapat kiriman Gossypium dari mereka.
Hal ini membuat Zavier sedikit merasa aneh dan merasa ada yang tidak beres.
"Ya tuan muda, semuanya sudah saya lakukan, termasuk menghubungi pengurus pabrik, dan dia bilang kalau mereka tak mengirimkan Gossypium ke kita, di karenakan banyak nya orderan permintaan Gossypium dari pabrik kapas yang lain dan mereka membelinya dengan harga lebih tinggi," kata Glen lagi.
Zavier terdiam, ini adalah masalah serius untuk nya, ia juga tak habis fikir kalau ternyata ada pabrik lain yang berusaha untuk bersaing dengan diri nya.
"Baik lah, aku akan pergi ke sana, namun setelah pesta yang di buat Kakek selesai," kata Zavier berusaha tetap tenang meskipun sejatinya dia sangat khawatir.
"Baik tuan muda," jawab Glen patuh.
"Oh ya, aku minta kau mengurus soal pelayan Sofia, dia meminta ku untuk mengambil pelayan pribadi nya yang saat ini masih tinggal di mansion Afdan, dia meminta kalau pelayan tersebut di bawa dan bekerja di mansion kita," jelas Zavier mengalihkan topik pembicaraan mereka agar tak terlalu memusingkan kepala.
"Siapa nama nya tuan muda?" tanya Glen.
Zavier berfikir sejenak dan kemudian menyebutkan satu nama.
"Luvi, ya kalau tidak salah namanya Luvi, dia adalah pelayan pribadi Sofia, carilah dia dan bawa ke pada Sofia," ujar Zavier.
"Tapi kenapa tuan muda menyetujui nya? Bukan kah di mansion kita sangat banyak pelayan? Nona muda bisa memilihnya satu untuk di jadikan pelayan pribadi nya," kata Glen sambil mengerutkan keningnya.
"Dia menginginkan orang nya, jadi cari saja," kata Zavier tak ingin Glen membantah ucapan nya lagi.
"Baik lah tuan muda," kata Glen segera mematuhi permintaan Zavier.
Sementara itu di sisi lain.
Siho berjalan melewati ruang tamu mansion, dia melihat begitu banyak orang-orang yang menghiasi dan menata mansion.
Hal ini memicu rasa penasaran Siho, ia semakin mempercepat langkah kaki nya untuk bertemu dengan sang Kakek untuk mempertanyakan apakah yang terjadi di mansion sehingga ada begitu banyak penata rias ruangan.
Namun hendak menuju tempat terapi sang kakek, Siho harus melewati perpustakaan milik Zavier.
Dukh ...
Dukh ...
Terdengar ada suara dari dalam ruang tersebut, suara tersebut terdengar seperti buku-buku jatuh.
Siho menghentikan langkahnya dan berfikir kalau itu adalah Zavier.
"Apakah dia sudah kembali? Aku harus memastikan nya, aku harus tau dari mana saja dia beberapa hari ini sampai membuat aku kerepotan mencari nya," batin Siho yang kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam perpustakaan itu.
Siho membuka pelan pintu tersebut dan kemudian berjalan masuk ke dalam nya.
Bersambung ....