"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.
Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.
"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lompatan prestasi dan rencana sang CEO
Bulan-bulan berikutnya berjalan bagai putaran roda yang cepat namun melelahkan bagi Aira. Memasuki semester 4, Aira benar-benar membenamkan dirinya ke dalam dunia perkuliahan. Dia menggunakan kesibukan belajar sebagai tameng untuk mengalihkan pikiran dari rahasia besar yang sedang dia kandung di dalam perutnya.
Bakat Aira di bidang Akuntansi memang luar biasa. Dia memiliki kemampuan analisis data keuangan yang tajam dan presisi, sebuah bakat alami yang membuatnya selalu mendapatkan nilai sempurna di setiap ujian komprehensif. Dosen-dosennya kagum, dan Aira resmi menyandang predikat sebagai mahasiswa teladan di angkatannya. Karena prestasi dan indeks prestasi kumulatifnya yang mendekati sempurna, pihak dekanat memutuskan untuk memberikan hak istimewa kepada Aira: dia diizinkan untuk memasuki fase magang kerja lebih awal di semester 4, sebuah kesempatan yang biasanya hanya diberikan kepada mahasiswa tingkat akhir di semester 6 atau 7.
Sementara Aira berjuang dengan mual di pagi hari dan tumpukan buku-buku tebal, di sisi lain kota, Rayyan Wijaya sedang berada di puncak kesibukannya. Sebagai CEO Wijaya Group, dia baru saja menyelesaikan akuisisi beberapa perusahaan internasional dan memperluas gurita bisnisnya. Jadwalnya sangat padat, dipenuhi oleh rapat direksi lintas negara dan perjalanan bisnis ke luar negeri yang menyita seluruh waktu dan energinya.
Meski begitu, tidak sedetik pun Rayyan melupakan gadis vanila yang malam itu salah memasuki kamarnya. Di tengah kesibukannya yang luar biasa, setiap malam sebelum tidur, Rayyan selalu membuka ponselnya hanya untuk melihat laporan harian dari anak buah yang dia tugaskan untuk memantau keselamatan Aira dari jauh.
Rayyan tahu Aira tumbuh menjadi mahasiswi yang sangat berprestasi. Dia juga tahu bahwa kartu hitam yang dia berikan sama sekali belum pernah digesek oleh Aira, sebuah fakta yang membuat Rayyan semakin kagum sekaligus gemas dengan kemandirian dan kepolosan gadis itu.
Suatu sore, asisten pribadi Rayyan masuk ke ruang kerja utama dengan membawa berkas laporan tahunan dari universitas yang mereka danai.
"Pak Rayyan, ini adalah daftar mahasiswa berprestasi yang mendapatkan rekomendasi magang jalur cepat dari pihak kampus tahun ini," ujar asistennya sambil menyerahkan dokumen tersebut.
Rayyan mengambil berkas itu dengan malas, namun matanya langsung berbinar tajam ketika melihat nama Aira Kirana berada di urutan paling atas daftar mahasiswa jurusan Akuntansi.
Sebuah senyuman tipis, penuh dengan rencana matang, terukir di wajah tampan pria berusia 32 tahun itu. Bulan-bulan kesibukannya telah membuatnya menahan diri untuk tidak mendatangi Aira secara langsung karena dia ingin memberi gadis itu ruang untuk bernapas. Namun sekarang, takdir seolah kembali membukakan jalan yang lebar untuk mereka.
Rayyan meletakkan berkas itu kembali ke meja, lalu menatap asistennya dengan pandangan yang tidak bisa dibantah.
"Hubungi Dekan Fakultas Ekonomi malam ini juga," perintah Rayyan dengan suara berat dan berwibawa. "Katakan padanya, sebagai donatur utama, Wijaya Group secara khusus meminta agar Aira Kirana ditempatkan untuk melakukan magang di kantor pusat kami, langsung di bawah divisi audit internal korporasi utama."
Asistennya sedikit terkejut. Divisi audit internal kantor pusat adalah tempat yang sangat krusial, diisi oleh para profesional senior, dan hampir tidak pernah menerima anak magang dari semester awal. Namun, melihat sorot mata sang CEO, asisten itu tahu bahwa argumen apa pun tidak akan berguna.
"Baik, Pak Rayyan. Saya akan segera menyampaikannya kepada pihak Dekan."
Setelah asistennya keluar, Rayyan berdiri dan berjalan menuju jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota dari lantai teratas gedungnya. Dia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya, menatap langit senja dengan senyuman yang sarat akan antisipasi.
"Sudah cukup lama aku memberimu waktu untuk bersembunyi, Aira," gumam Rayyan lirih. "Sekarang, saatnya kamu kembali ke tempat yang seharusnya... di sisiku."