NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:707
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Bayangan pohon ek.

Sebuah pohon ek tua yang rimbun berdiri dengan kokoh, ditiup angin sepoi-sepoi yang membawa aroma tanah dan kesegaran alami. Di bawah naungan rindangnya yang sejuk, terhampar luas karpet alam berupa hamparan bunga daisy putih yang bermekaran dengan cantik, menari-nari lembut mengikuti irama angin siang buta.

Di tengah-tengah oasis tersembunyi itu, sebuah meja bundar putih dengan dua kursi besi tempa bergaya klasik telah ditata dengan rapi. Di sanalah Saka dan Prisha kini duduk berhadapan. Di atas meja, beberapa menu makan siang yang ringan namun mewah tersaji dengan estetis, lengkap dengan dua gelas jus buah segar yang berembun di bagian luarnya.

Saka menyandarkan punggungnya, membiarkan sepoi angin menerpa wajahnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pria itu merasakan sebuah sensasi rileks yang teramat asing merayapi seluruh tubuhnya.

Selama bertahun-tahun, Saka adalah tipe pria yang selalu menyibukkan diri sendiri dengan tumpukan dokumen, rapat-rapat korporat yang melelahkan, dan ambisi untuk terus membesarkan Tanubrata Group.

Di dalam kamus hidupnya, makan siang adalah tentang efisiensi waktu di dalam ruangan ber-AC yang dingin. Ia tidak pernah sekali pun terpikir, atau bahkan meluangkan waktu, untuk sekadar duduk dan menikmati makan siang di bawah pohon seperti ini.

“Lihatlah bunganya semakin cantik!” seru Prisha tiba-tiba, memecahkan keheningan yang sempat tercipta di antara mereka.

Gadis itu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menunjuk ke arah sekumpulan bunga daisy yang tumbuh subur di dekat kaki meja mereka. Wajah Prisha tampak begitu cerah, binar matanya memantulkan cahaya matahari yang menerobos di sela-sela daun pohon ek.

Saka menurunkan pandangannya, beralih dari gelas jusnya untuk menatap Prisha. Pria itu tertegun selama beberapa detik di tempatnya duduk. Di bawah pencahayaan alami siang ini, dengan rambut yang sedikit berantakan karena angin dan senyuman tanpa beban yang mengembang di bibirnya, Saka membatin dalam hati. 'Mungkin ... di antara semua bunga yang sedang bermekaran di halaman luas ini, kaulah yang tampak paling cantik.'

Namun, ego dan harga diri Saka buru-buru menepis pemikiran tak terduga itu. Ia menolak untuk memperlihatkan ketertarikannya. Alih-alih merespons seruan riang Prisha dengan kata-kata manis, Saka cuman meneguk jus jeruk di tangannya secara santai, memasang kembali topeng acuh tak acuhnya yang biasa.

“Itu hanya bunga biasa," sahut Saka datar.

Prisha mendengus pelan, sedikit mengerucutkan bibirnya. “Kak Saka benar-benar tidak punya jiwa seni ya. Ini namanya keindahan alam.”

Saka hampir saja melontarkan kalimat balasan untuk mendebat Prisha, namun niatnya seketika terhenti. Tiba-tiba, ponsel di dalam saku kemeja Saka berdering dengan nyaring, memecah atmosfer santai yang baru saja mulai terbangun di antara mereka berdua.

Saka merogoh sakunya, mengeluarkan benda persegi tersebut, dan menatap layarnya. Begitu melihat nama yang tertera di sana, ekspresi wajahnya yang semula santai dan rileks seketika berubah drastis.

Alisnya bertaut rapat, dan sorot matanya mendadak berubah menjadi sangat serius sekaligus tegang. Tanpa membuang waktu, Saka langsung menggeser tombol layar dan mengangkat panggilan tersebut, mendengarkan suara di seberang sana dengan saksama selama beberapa saat tanpa mengucapkan satu patah kata pun.

Melihat perubahan air muka yang begitu mendadak, Prisha menghentikan kegiatannya memotong buah. Ia menatap Saka dengan dahi berkerut, rasa ingin tahu langsung hinggap di kepalanya. “Siapa itu, Kak? Apakah dari kantor?” tanya Prisha penuh selidik.

Saka tidak langsung menjawab pertanyaan Prisha. Setelah memutuskan sambungan telepon dengan satu gerakan cepat, ia langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Pria itu bangkit berdiri dari kursinya, merapikan letak pakaiannya dengan terburu-buru.

“Ini penting, aku harus pergi sekarang,” ucap Saka dengan nada suara yang tegas dan tidak menerima bantahan.

Tanpa menunggu balasan atau ucapan selamat tinggal dari Prisha, Saka langsung berbalik dan berjalan cepat dengan langkah-langkah lebar, meninggalkan area taman belakang dan membiarkan Prisha sendirian di bawah pohon ek tersebut.

Prisha hanya bisa menatap punggung tegap Saka yang perlahan menghilang. Namun, anehnya, kali ini Prisha tidak mengamuk ataupun mengejarnya seperti yang biasa ia lakukan jika ditinggalkan begitu saja. Prisha merasa tidak apa-apa dan hatinya tetap terasa hangat.

Baginya, fakta bahwa Saka sudah mau meluangkan waktu untuk duduk diam dan menemaninya makan siang di bawah pohon ek ini sudah merupakan sebuah kemajuan yang sangat besar. Gadis itu tersenyum tipis, kembali menyuap potongan buah kiwi ke dalam mulutnya dengan santai.

Tidak berselang lama setelah kepergian Saka, beberapa orang pelayan mansion datang mendekat ke arah meja makan, berjalan beriringan bersama Bora yang memimpin di depan. Mereka bergerak dengan cekatan untuk mengemasi piring-piring dan gelas bekas makan siang majikan mereka.

Melihat para pelayan mulai sibuk membersihkan meja, Prisha memutuskan untuk beranjak dari kursinya. Ia melangkah anggun menuju sebuah ayunan kayu besar yang digantung di salah satu dahan pohon ek yang kuat, tidak jauh dari posisi meja. Prisha mendudukkan dirinya di sana, membiarkan tubuhnya berayun kecil secara perlahan, menikmati embusan angin siang yang semakin sejuk.

Sementara para pelayan sibuk mengemasi sisa makanan, Bora memilih untuk tidak ikut campur dalam pekerjaan domestik tersebut. Bora berjalan mendekati ayunan Prisha. Dengan gerakan yang penuh rasa hormat namun tampak santai, Bora duduk diam di atas rumput hijau yang bersih, tepatnya di samping ayunan tempat Prisha berada.

Bora menyandarkan punggungnya di batang pohon ek yang besar, meluruskan kakinya, dan memejamkan mata sejenak untuk menikmati belaian angin sepoi-sepoi sambil tetap menjaga pandangannya pada Prisha yang terus berayun kecil di sebelahnya.

Suasana di sekitar mereka mendadak terasa begitu syahdu dan tenang, hanya menyisakan suara gesekan daun-daun ek dan denting pelan piring yang sedang ditata oleh para pelayan di kejauhan.

“Bora,” panggil Prisha tiba-tiba dengan suara yang teramat lembut, pandangannya tetap lurus menatap hamparan bunga daisy di depannya tanpa menoleh sedikit pun ke arah pelayannya.

Bora membuka matanya, menolehkan kepalanya sedikit ke atas untuk menatap sang majikan. “Iya, Nona? Ada yang Anda butuhkan?”

Prisha menghentikan sejenak gerakan kakinya yang mengayun, membuat ayunan kayu itu berhenti bergerak. Sebuah ekspresi melankolis yang jarang sekali diperlihatkan oleh seorang Prisha Kaelen kini tergambar jelas di wajahnya. “Jika suatu hari nanti aku pergi dari sini ... maukah kau menjaga tempat ini agar tetap terawat dengan baik?”

Mendengar pertanyaan yang tidak terduga itu, sudut hati Bora mendadak merasa tercubit. Wajah syahdu dan nada suara Prisha yang terdengar seolah-olah ia akan menghilang dalam waktu dekat seketika membuat Bora merasa sedih.

Selama ini, Bora sudah melihat banyak sisi dari Prisha—mulai dari amukannya yang mengerikan hingga sifat manjanya—namun melihat sisi rapuh gadis ini selalu berhasil menyentuh rasa simpatinya.

Bora membetulkan posisi duduknya, menatap Prisha dengan sorot mata yang penuh keyakinan. “Nona pasti akan tetap berada di sini. Anda tidak akan pergi ke mana-mana.”

Prisha akhirnya menolehkan kepalanya, menatap mata Bora dengan senyuman yang tampak samar dan sedikit getir. “Benarkah? Bagaimana kau bisa seyakin itu, Bora?”

Bora mengangguk perlahan, mencoba memberikan ketenangan melalui kata-katanya. “Bora sangat meyakini Nona. Sebenarnya, jika Nona ingin tahu, gadis-gadis pilihan Nyonya Ratih yang dikirim ke mansion ini sebelumnya belum ada yang sanggup bertahan selama Nona. Mereka semua menyerah karena sikap dingin Tuan Saka. Salah satu yang paling lama bertahan di sini ... cuman satu bulan, setelah itu mereka mengepak barang dan pergi sambil menangis.”

Mendengar cerita kilas balik dari Bora, Prisha hanya bisa tersenyum tipis. Ia kembali mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke depan ke arah cakrawala luas di halaman mansion. Beberapa helai rambut indahnya tampak menari-nari dengan bebas di udara, ditiup oleh angin siang yang berembus konstan.

“Berarti ...” Prisha menggantungkan kalimatnya sejenak, nadanya berubah menjadi lebih rendah dan berhati-hati. “Wanita yang bernama Utami itu ... belum pernah dibawa ke sini?”

Bora seketika tersentak di tempat duduknya begitu mendengar nama itu meluncur bebas dari bibir Prisha. Sepasang matanya melebar sesaat, keterkejutan yang jarang ia perlihatkan kini tercetak jelas di wajahnya.

Nama Utami adalah sebuah hal tabu di mansion Tanubrata, sebuah nama masa lalu yang selalu berhasil memicu kemarahan atau keheningan dingin dari Tuan Muda mereka. Bora tidak menyangka bahwa Prisha sudah mengetahui keberadaan nama wanita tersebut.

Sebelum Bora sempat mengeluarkan kata-kata untuk merespons atau mengalihkan pembicaraan, Prisha sudah lebih dulu memotong dengan helaan napas pendek. “Aku memilih untuk tidak penasaran dengan wanita itu, Bora. Karena untuk saat ini ... aku hanya ingin fokus melakukan apa saja yang bisa kulakukan.”

Bora terdiam, menatap siluet samping wajah Prisha dengan rasa kagum sekaligus iba yang bercampur menjadi satu. Di balik segala tingkah gilanya di luar sana, Prisha ternyata memiliki kedewasaan dan ketabahan yang luar biasa untuk menghadapi posisi sulitnya sebagai tunangan yang tidak diinginkan.

Di saat yang sama, para pelayan mansion rupanya sudah selesai mengemasi seluruh peralatan makan di atas meja bundar putih tersebut. Mereka menjinjing nampan besar dan bersiap untuk melangkah pergi kembali ke dalam bangunan utama. Namun, sebelum mereka melangkah terlalu jauh, Bora mengangkat tangan kanannya dan bersuara tegas, menghentikan langkah kaki mereka.

“Tunggu sebentar,” panggil Bora kepada para pelayan tersebut.

Para pelayan itu langsung menghentikan langkah dan berbalik dengan patuh. Sebagai pelayan pribadi yang menempel langsung pada calon nyonya muda Tanubrata, posisi dan hierarki Bora di dalam mansion ini tentu saja jauh lebih tinggi dan dihormati daripada pelayan domestik lainnya.

“Tolong bawakan beberapa camilan manis lagi ke sini, dan jangan lupa siapkan juga buah-buahan segar yang baru dipotong,” perintah Bora dengan nada berwibawa namun tetap sopan. Bora tahu betul bahwa Prisha membutuhkan sesuatu yang manis untuk mengembalikan suasana hatinya.

“Baik, Nona Bora. Kami akan segera menyiapkannya dan mengantarkannya kembali ke sini,” jawab salah seorang pelayan dengan membungkuk hormat, sebelum akhirnya mereka benar-benar berlalu pergi meninggalkan area taman bawah pohon ek itu.

Prisha kembali menyandarkan kepalanya pada tali ayunan, melanjutkan ayunan kecilnya dengan perasaan yang jauh lebih tenang, ditemani oleh Bora yang tetap setia berjaga di bawah kakinya.

Bersambung....

1
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!