Pacar Palsu, Jodoh Asli
Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Orang yang Menghilang
Hujan kembali turun malam itu.
Butiran air membentur kaca jendela ruang rapat kecil tempat Almira dan Reynard masih bertahan meski jam sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam.
Di atas meja terbentang berbagai dokumen.
Foto-foto.
Laporan audit.
Catatan hasil investigasi.
Dan kini, satu nama baru berada di tengah semua itu.
Dimas Pratama.
Staf administrasi gudang Makassar.
Orang yang sempat menarik perhatian mereka saat kunjungan lapangan.
Dan sekarang...
Menghilang.
"Aku tidak suka ini."
kata Almira untuk kesekian kalinya.
Reynard yang sedang menatap layar laptop hanya mengangguk.
"Aku tahu."
"Tidak, maksudku benar-benar tidak suka."
"Aku juga benar-benar tidak suka."
Almira menghela napas panjang.
Biasanya masalah bisnis hanya melibatkan angka.
Data.
Kontrak.
Uang.
Namun saat seseorang mulai menghilang, semuanya berubah.
Masalah ini tidak lagi sekadar soal proyek.
Masalah ini mulai menyentuh kehidupan nyata.
Dan itu jauh lebih berbahaya.
"Tim HR Makassar sudah menghubunginya?"
tanya Almira.
"Sudah."
"Bagaimana hasilnya?"
"Tidak aktif."
"Keluarganya?"
"Mereka bilang Dimas tidak pulang sejak dua hari lalu."
Almira langsung terdiam.
Ruangan terasa semakin dingin.
Karena itu berarti satu hal.
Dimas bukan sekadar mangkir kerja.
Ia benar-benar hilang.
Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
Mencoba memahami situasi yang semakin rumit.
Karena semakin jauh mereka melangkah, semakin banyak pertanyaan baru yang muncul.
Dan hampir tidak ada jawaban.
"Kita harus ke Makassar lagi."
kata Almira akhirnya.
Reynard mengangkat kepala.
"Kamu membaca pikiranku."
"Itu mulai mengkhawatirkan."
"Mungkin kita terlalu sering bekerja bersama."
Almira membuka mulut untuk membalas.
Namun kemudian menyerah.
Karena kali ini Reynard benar.
Mereka memang terlalu sering bersama.
Dan entah sejak kapan hal itu terasa normal.
Pagi berikutnya.
Keputusan sudah dibuat.
Mereka akan kembali ke Makassar.
Secara resmi untuk melakukan evaluasi lanjutan proyek.
Secara tidak resmi untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Dimas.
Dan mungkin menemukan potongan puzzle yang selama ini hilang.
Namun sebelum keberangkatan, sesuatu terjadi.
Sesuatu yang tidak mereka duga.
Almira baru saja keluar dari ruang rapat direksi Valencia Group ketika sekretarisnya menghampiri dengan wajah bingung.
"Bu Almira."
"Ya?"
"Ada seseorang yang menitipkan ini."
Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat.
Tanpa nama pengirim.
Tanpa alamat.
Tanpa keterangan apa pun.
Hanya amplop biasa.
Namun justru itulah yang membuat Almira langsung waspada.
"Siapa yang memberikan?"
"Tidak tahu, Bu."
"Bagaimana bisa tidak tahu?"
"Katanya kurir."
Almira menerima amplop tersebut.
Perasaannya langsung tidak nyaman.
Sangat tidak nyaman.
Lima belas menit kemudian ia sudah berada di kantor Reynard.
Amplop itu tergeletak di atas meja.
Belum dibuka.
"Kamu yakin ini aman?"
tanya Reynard.
"Tidak."
"Lalu kenapa membawanya ke sini?"
"Karena kalau isinya bom, setidaknya kita meledak bersama."
Reynard menatapnya beberapa detik.
Lalu tertawa.
"Aku tidak tahu itu candaan atau ancaman."
"Mungkin keduanya."
Akhirnya amplop itu dibuka.
Dan isi di dalamnya membuat keduanya langsung membeku.
Karena hanya ada satu lembar kertas.
Dengan satu kalimat pendek yang diketik menggunakan huruf komputer.
BERHENTI MENCARI DIMAS.
Tidak ada nama.
Tidak ada tanda tangan.
Tidak ada penjelasan.
Hanya kalimat itu.
Hening memenuhi ruangan.
Untuk pertama kalinya sejak investigasi dimulai, mereka menerima ancaman secara langsung.
Meski sederhana.
Meski anonim.
Pesannya sangat jelas.
Seseorang tahu apa yang sedang mereka lakukan.
"Baik."
gumam Reynard.
Nada suaranya berubah.
Dingin.
Tenang.
Dan berbahaya.
"Ini bukan kabar baik."
kata Almira.
"Bukan."
"Karena mereka tahu kita sedang menyelidiki."
"Benar."
"Atau..."
Almira berhenti.
"Lanjutkan."
"Mereka ingin kita tahu bahwa mereka tahu."
Reynard langsung memahami maksudnya.
Dan itu bahkan lebih buruk.
Karena jika seseorang cukup percaya diri untuk mengirim pesan seperti ini, berarti mereka tidak takut.
Atau merasa unggul.
Dan orang seperti itu biasanya memiliki sesuatu yang melindungi mereka.
Hari itu juga mereka memutuskan mempercepat keberangkatan.
Tidak menunggu minggu depan.
Tidak menunggu jadwal resmi.
Mereka berangkat sore itu juga.
Pesawat menuju Makassar terasa jauh lebih sunyi dibanding perjalanan pertama.
Tidak ada candaan tentang gosip kantor.
Tidak ada perdebatan kecil.
Tidak ada suasana santai.
Karena kali ini mereka tahu sedang menuju sesuatu yang berbahaya.
Setelah mendarat, mereka langsung menuju hotel yang sama seperti sebelumnya.
Namun sebelum check-in selesai, Reynard menerima telepon.
Wajahnya langsung berubah serius.
"Ada apa?"
tanya Almira setelah panggilan berakhir.
"Itu tim keamanan."
"Apa yang terjadi?"
"Mereka menemukan sesuatu di apartemen Dimas."
Almira langsung berdiri tegak.
"Sesuatu apa?"
"Seseorang sudah lebih dulu masuk."
Seketika suasana menjadi tegang.
Karena itu berarti tempat tinggal Dimas sudah diperiksa.
Entah oleh siapa.
Dan kemungkinan besar bukan polisi.
Keesokan paginya mereka langsung menuju apartemen tersebut.
Bangunan sederhana di kawasan pinggiran kota.
Tidak mewah.
Tidak mencolok.
Tempat yang cocok untuk seseorang yang ingin hidup biasa.
Namun saat mereka tiba, garis polisi sudah terpasang.
Beberapa petugas masih berada di lokasi.
Seorang penyidik yang bekerja sama dengan perusahaan mereka menyambut kedatangan mereka.
"Kondisinya bagaimana?"
tanya Reynard.
Pria itu menghela napas.
"Berantakan."
"Maksudnya?"
"Seperti seseorang sedang mencari sesuatu."
Mereka diperbolehkan melihat bagian dalam apartemen.
Dan pemandangan yang muncul benar-benar membuat bulu kuduk berdiri.
Laci terbuka.
Lemari berantakan.
Dokumen berserakan.
Rak buku kosong.
Kasur terbalik.
Semua tampak seperti habis digeledah.
Namun anehnya...
Tidak ada barang berharga yang hilang.
Televisi masih ada.
Laptop lama masih ada.
Uang tunai di laci masih ada.
"Jadi bukan pencurian."
kata Almira.
"Bukan."
jawab penyidik.
"Mereka mencari sesuatu yang spesifik."
Reynard mulai memeriksa ruangan.
Sementara Almira memperhatikan meja kerja kecil di dekat jendela.
Nalurinya mengatakan sesuatu.
Namun ia belum tahu apa.
Sampai matanya menangkap sebuah detail kecil.
Sangat kecil.
Hampir tidak terlihat.
Ada bekas sobekan kertas di bawah meja.
Bukan dokumen utuh.
Hanya sebagian kecil.
Namun cukup untuk menarik perhatian.
Almira mengambilnya.
Lalu membersihkan debu yang menempel.
Tulisan di atasnya hanya tersisa beberapa huruf.
"...ARDIKA..."
Jantungnya berdetak lebih cepat.
"Reynard."
Pria itu langsung mendekat.
"Apa?"
Almira menyerahkan potongan kertas tersebut.
Reynard membacanya.
Lalu wajahnya berubah.
Karena mereka berdua memikirkan hal yang sama.
Mahardika.
Nama keluarga Reynard.
Nama perusahaan.
Atau sesuatu yang berkaitan dengannya.
"Ini bisa berarti banyak hal."
kata Reynard.
Namun nada suaranya terdengar tidak meyakinkan.
Karena mereka tahu kemungkinan itu terlalu spesifik untuk diabaikan.
Pemeriksaan berlangsung hampir dua jam.
Dan tepat ketika mereka mulai berpikir tidak ada lagi yang bisa ditemukan, salah satu petugas memanggil.
"Pak! Bu!"
Mereka segera mendekat.
"Ada apa?"
Petugas tersebut menunjukkan bagian bawah salah satu laci yang rusak.
Ternyata ada ruang rahasia kecil.
Kompartemen tersembunyi.
Dan di dalamnya terdapat sebuah flashdisk hitam.
Ruangan langsung hening.
Semua mata tertuju pada benda kecil itu.
Karena mereka tahu satu hal.
Jika seseorang sampai mengobrak-abrik seluruh apartemen untuk mencari sesuatu...
Mungkin benda inilah yang dicari.
Flashdisk tersebut langsung diamankan.
Mereka tidak berani membukanya sembarangan.
Terlalu berisiko.
Terlalu penting.
Sore harinya mereka kembali ke hotel.
Flashdisk kini berada di tangan tim forensik digital yang dipercaya.
Mereka hanya bisa menunggu.
Dan menunggu adalah hal yang paling dibenci Almira.
Pukul sembilan malam.
Telepon akhirnya datang.
Reynard mengaktifkan speaker agar Almira bisa mendengar.
"Bagaimana hasilnya?"
Suara dari seberang terdengar tegang.
"Kami berhasil membuka datanya."
"Dan?"
Hening selama beberapa detik.
Kemudian jawaban itu datang.
Jawaban yang mengubah segalanya.
"Di dalam flashdisk ada daftar transaksi rahasia."
Almira menahan napas.
"Transaksi siapa?"
"Bukan transaksi uang."
jawab suara itu.
"Ini daftar pertemuan."
"Pertemuan?"
"Ya."
"Kemudian?"
Hening lagi.
Lebih lama.
Lebih berat.
Lalu kalimat berikutnya terdengar.
"Sebagian besar nama yang tercatat adalah petinggi perusahaan."
Jantung Almira berdegup keras.
Namun kalimat terakhir itulah yang benar-benar membuat ruangan terasa membeku.
"Dan salah satu nama yang paling sering muncul..."
suara itu berhenti sejenak.
"...adalah ayah Anda, Nona Almira."
Tidak ada yang berbicara.
Tidak ada yang bergerak.
Dunia seolah berhenti selama beberapa detik.
Karena untuk pertama kalinya, investigasi ini tidak lagi hanya menyentuh proyek.
Tidak lagi hanya menyentuh bisnis.
Kini investigasi itu mulai menyentuh keluarga mereka sendiri.
Dan itu berarti tidak ada seorang pun yang benar-benar aman.