Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selangkah Lebih Maju
Suasana kelas 12 siang itu cukup bising oleh obrolan para siswa di jam kosong sebelum istirahat pertama. Namun, di bangku sudut dekat jendela, Kayla hanya duduk terdiam sembari melamun. Sebuah buku novel fiksi tebal tampak terbuka di atas mejanya, tetapi pandangan matanya sama sekali tidak fokus pada barisan kata di sana. Pikiran Kayla terus-menerus berputar pada kejadian menegangkan kemarin siang.
Ada satu teka-teki besar yang membuat kepalanya pening sejak semalam: Bagaimana bisa Hesti tahu persis di mana dia berada?
Logikanya terus menolak untuk percaya. Oke, Arka memang menelepon rumah dan memberi tahu Hesti kalau dirinya bolos sekolah. Tapi, bagaimana caranya Hesti bisa secara spesifik dan seakurat itu menemukan keberadaannya di dalam gudang tua telantar yang tersembunyi—yang bahkan merupakan markas rahasia Gavin? Apakah wanita itu menyewa mata-mata profesional untuk membuntutinya ke mana pun?
Kayla sama sekali tidak menyadari satu fakta krusial yang tersembunyi rapat. Beberapa hari yang lalu, saat Hesti diam-diam memasukkan kotak bekal ke dalam tas sekolahnya, Hesti dengan sangat cerdas telah memasang sebuah alat pelacak mini (GPS tracker) berteknologi tinggi di dalam sela-sela gantungan kain tas ransel milik Kayla. Hesti yang serbatahu tidak perlu membuang energi untuk membuntuti; ia cukup memantau pergerakan titik koordinat Kayla secara real-time langsung melalui layar ponselnya. Wanita dewasa itu selalu selangkah lebih maju dari taktik remaja labil anak tirinya.
Saat Kayla masih tenggelam dalam lamunan panjangnya, sebuah bayangan tinggi mendadak menghalangi pantulan cahaya matahari dari jendela. Gavin berjalan masuk ke dalam kelas Kayla dengan gaya santainya, mengabaikan beberapa pasang mata murid lain yang menatap ke arah lebam di wajahnya.
"Hei, Princess... Lo gak diapa-apain kan sama nyokap lo kemarin setelah pulang?" tanya Gavin langsung begitu tiba di dekat meja Kayla. Cowok itu menduduki kursi kosong di sebelah Kayla, menatapnya dengan raut wajah penuh perhatian.
Kayla mengalihkan pandangannya dari novel, lalu mendengus dingin. "Dia bukan nyokap gue," ucap Kayla dengan nada datar dan menusuk.
Gavin terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana. "Yaa... kan sekarang dia udah resmi jadi istri bokap lo, jadi otomatis secara hukum dia nyokap lo sekarang, Kay."
"Serahlah. Gue muak banget kalau harus bahas dia. Pengin muntah rasanya," ketus Kayla, kekesalannya dari rumah terbawa hingga ke sekolah.
Melihat gurat stres dan amarah di wajah gadis yang disukainya, Gavin mencondongkan tubuhnya lebih dekat. Sebuah senyuman penuh arti terukir di bibirnya yang masih sedikit terluka. "Mau gue bantuin gak buat bales dendam ke dia?"
Kayla seketika mendongak, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Gavin. "Maksud lo?"
"Ya... maksud gue, kita sedikit jailin dia di rumah. Kita kasih pelajaran kecil biar dia gak sok berkuasa lagi di depan lo. Kayaknya seru," tawar Gavin, menawarkan solidaritas jalanannya yang liar.
Deg.
Ucapan Gavin barusan mendadak memicu ingatan Kayla pada percakapan teleponnya dengan Bu Meyda semalam. Hasutan sang Mommy untuk membuat Hesti stres dan tidak betah di rumah seolah menemukan jalannya sekarang. Kayla merasa sangat tertarik dengan tawaran Gavin. Bantuan dari ketua geng motor ini ia harap bisa menjadi permulaan yang sempurna untuk menggulingkan kekuasaan Hesti, dan membuat wanita itu angkat kaki selamanya dari kehidupannya.
"Lo... beneran mau bantuin gue?" tanya Kayla memastikan, suaranya merendah agar tidak terdengar oleh teman sekelasnya.
"Tentu aja. Apa sih yang enggak buat lo? Asal lo kasih perintah, gue bakal langsung bergerak sekarang juga," jawab Gavin mantap penuh keyakinan.
BRAKKK!
Belum sempat Kayla menyusun rencana pertamanya bersama Gavin, pintu ruang kelas mendadak didorong terbuka dengan sangat kasar hingga menghantam dinding pembatas.
Di ambang pintu, berdiri Pak Purnomo, guru BK yang terkenal paling killer seantero sekolah. Wajahnya tampak merah padam menahan amarah, dengan tangan yang memegang penggaris besi panjang. Matanya langsung menyapu ruangan dan terkunci tepat pada sosok Gavin.
"Gavin! Kamu ikut saya ke ruang BK sekarang juga!" seru Pak Purnomo dengan suara menggelegar, memotong seluruh keriuhan di dalam kelas kelas 12 tersebut.
Gavin langsung menghela napas pendek. Ia memutar bola matanya pasrah, lalu bangkit berdiri dari kursi di sebelah Kayla. Dengan santai, ia merapikan jaketnya yang sedikit berantakan.
"Yah, Kay... kayaknya gue bakal dapet sedikit paket hukuman dari laporan nyokap—maksud gue, istri bokap lo kemarin," bisik Gavin jenaka pada Kayla, sebelum akhirnya melangkah lebar keluar kelas untuk memenuhi panggilan maut tersebut.
Di dalam ruangan bimbingan konseling yang ber-AC dingin, suasana justru terasa sangat panas. Pak Purnomo tidak henti-hentinya mengomeli Gavin yang duduk di hadapannya. Guru berkacamata itu menepuk-nepuk meja kerja dengan keras, menuntut penjelasan tentang alasan Gavin bolos dan dari mana asal muasal luka lebam yang menghiasi wajah tampannya.
"Kamu ini ya, Gavin! Sudah bolos dari pagi, bawa anak gadis orang keluar sekolah tanpa izin, terus pulang-pulang mukanya sudah babak belur begini! Kamu mau jadi apa, hah?! Mau jadi jagoan pasar?!" omel Pak Purnomo dengan urat leher yang menegang.
Namun, Gavin tetap memasang ekspresi santai yang luar biasa. Ia menyandarkan punggungnya di kursi plastik, sesekali mengangguk-angguk formal tanpa niat untuk mendengarkan dengan serius. Ini bukan pertama kalinya ia disidang di ruangan ini; ruang BK sudah seperti rumah kedua bagi catatan pelanggaran disiplinnya. Baginya, omelan guru adalah makanan sehari-hari yang tidak akan memengaruhi mentalnya sedikit pun.
Melihat respons Gavin yang super cuek, Pak Purnomo akhirnya menggebrak meja sekali lagi, bersiap menjatuhkan sanksi mutlak sesuai dengan apa yang dilaporkan oleh Hesti kemarin siang.
"Karena orang tua Kayla kemarin meminta sekolah memberikan sanksi tegas, kamu tidak bisa lolos begitu saja kali ini! Sekarang juga, kamu keluar ke lapangan upacara! Lari 20 kali putaran di bawah terik matahari siang ini! Dan nanti, begitu bel istirahat kedua berbunyi, kamu wajib membersihkan seluruh area WC siswa sampai mengkilap! Paham?!" tegas Pak Purnomo final.
Gavin mengembuskan napas panjang, lalu tersenyum tipis. "Paham, Pak. Siap dilaksanakan," jawab Gavin santai.
Ia bangkit dari kursinya, menyalami tangan Pak Purnomo dengan penuh kelancangan yang sopan, lalu melangkah keluar menuju lapangan upacara untuk menjalani hukumannya. Di bawah terik matahari yang mulai menyengat kulit, Gavin mulai berlari putaran demi putaran. Alih-alih merasa kesal karena dilaporkan oleh Hesti, di dalam benak Gavin justru sudah tersusun rencana balas dendam yang matang. Ia bertekad, setelah hukumannya selesai hari ini, ia dan Kayla akan membuat perhitungan yang setimpal untuk mengacaukan ketenangan sang nyonya rumah baru.