Alena Rahmawati tidak pernah menyangka bahwa menemukan dompet seorang pria asing di tengah bioskop tengah malam yang akan akan mengubah kehidupannya.
Demi biaya sekolah adiknya Dimas, Alena menerima tawaran aneh dari Arven Alfarizi, seorang CEO muda yang tampak memiliki segalanya. Sebagai imbalan sejumlah uang, Alena harus membuat Arven jatuh cinta kepada dirinya dalam waktu tiga puluh hari.
Awalnya semua hanya kesepakatan. Namun seiring berjalannya waktu, batas antara sandiwara dan perasaan yang sesungguhnya mulai menghilang. Saat Alena benar-benar jatuh cinta, ia baru mengetahui rahasia yang selama ini Arven sembunyikan.
Mampukah Alena membuat Arven jatuh cinta ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 ( Dilema )
Sejak malam tadi Alena terus memikirkan mobil milik Papah Arven..
Kemudian ia mencoba mencari di galeri ponselnya, tentang kecelakaan yang menewaskan kedua orang tua Alena saat itu.
Alena menyimpan potongan koran yang ia simpan, karena sampai sekarang tak ada kejelasan mengenai kecelakaan kedua orangtuanya.
Dan benar..
Nomor plat itu sama persis dengan nomor plat milik Papah Arven..
Tangan Alena bergetar..
Jantungnya berdegup dengan cepat..
Matanya mulai terasa panas..
...
Sementara di kantor Arven masih mencoba menentang sang Papah..
Seperti siang ini, sang Papah kembali menemui Arven di kantornya.
" Mau apa lagi kesini sih ? "
" Kamu tidak bisa menolak Arven "
" Kenapa saya tidak bisa menolaknya ? "
" Karena tanggal pertunangan kamu sudah saya tentukan "
" Besok malam datang kerumah, pertunangan akan segera kita laksanakan "
Belum sempat Arven menjawab, sang Papah sudah keluar dari ruangan Arven
Alena mendengar semuanya, ia lansung bersembunyi saat Papah Arven keluar dari ruangan Arven.
Alena pun langsung menemui Arven, saat ia masuk ia melihat Arven yang tidak baik-baik saja.
Arven sedang memegangi kepalanya, hal itu membuat Alena merasa khawatir sekaligus panik
" Lo kenapa ? " tanya Alena dengan khawatir
" Cuma sakit kepala "
" Ar.. "
Arven menarik tubuh Alena dan memeluknya.
" Apapun yang terjadi, jangan tinggalin gue Alena "
" Dan apapun nanti, gue akan tetap milih lo "
Mata Alena memanas, ia tak bisa menyembunyikan tangisnya saat ini.
" Lo minum obat dulu ya, habis itu tidur dulu. Istirahat yah "
" Iya"
Arven tak membantah, ia menuruti apa kata Alena saat ini.
Setelah meminum obatnya, Arven mulai tertidur dipangkuan Alena..
Alena mengusap kepala Arven dengan lembut, bisa Alena lihat raut wajah Arven yang tidak baik-baik saja.
Ting..!!
Sebuah pesan masuk kedalam ponsel miliknya, pesan itu ia terima dari orang yang tidak ia kenal
[xxxx : Saya Papah Arven]
[xxxx : Saya ingin bertemu dengan kamu Alena ]
[xxxx : Lokasi ]
Alena merasa gugup saat ini, ia tau apa yang akan dibahas oleh papah Arven nanti.
Terpaksa Alena meninggalkan Arven yang sedang tidur, Alena harus pergi untuk menemui Papah Arven.
....
Saat Alena sampai disebuah restoran, Alena melihat Papah Arven yang sudah lebih dulu tiba.
Dengan rasa gugup, Alena pun melangkah masuk bertemu dengan Papah Arven.
" Permisi om "
" Duduk Alena "
Alena mengangguk, kemudian ia pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Papah Arven.
" Jadi benar kamu dan Arven itu pacaran ? "
" Benar om "
" Kamu tau kan kalau Arven itu sakit ? "
" Iyah saya tau om "
" Lalu apa lagi yang kamu cari dari anak saya ? "
" Kamu juga pasti tau kalau umur anak saya ga lama kan ? "
Alena masih diam, ia terus menundukkan kepalanya.
" Saya akan menjodohkan Arven dengan perempuan pilihan saya, namanya Clara "
" Besok malam tepatnya Arven dan Clara akan bertunangan "
Dada Alena terasa sesak saat ini..
Ia mencoba untuk menahan tangisnya saat ini..
" Dia itu dokter dan saya rasa cocok untuk Arven saat ini "
" Kalau kamu hanya ingin uang, saya bisa berikan berapapun kepada kamu Alena "
" Kalau kamu sayang dan cinta sama Arven, tolong jauhi dia biarkan dia bahagia dengan Clara "
Dibawah meja tangan Alena mengepal dengan keras.
Alena tidak diberikan kesempatan untuk berbicara maupun membela dirinya.
" Saya ga butuh uang Om "
" Tapi kalau memang menurut om itu yang terbaik, saya akan meninggalkan Arven "
" Bagus kalau kamu sadar Alena "
" Saya rasa cukup pertemuan kita, terimakasih karena kamu sudah datang "
Air mata yang ia tahan sejak tadipun gagal untuk ia tahan.
Alena pun menangis saat itu juga..
Untuk pertama kalinya, Alena tau bahwa ia harus merelakan seseorang yang ia cintai.
...
Malam hari Arven mendatangi rumah Alena dengan ditemani oleh Bayu.
Arven merasa ada yang berbeda dari Alena hari ini.
" Gue turun ga ? "
" Ga usah, gue aja "
Arven pun turun dari mobilnya..
Namun saat hendak mengetuk pintu rumah Alena, Alena justru lebih dulu membuka pintu rumahnya.
" Lo kemana ? Ko tadi pergi gitu aja "
" Gue ada urusan tadi "
" Urusan apa ? "
Alena mengatur nafasnya..
Dengan rasa sesak di dadanya ia pun mengeluarkan kalimat yang sangat ia benci.
" Gue mau putus "
Arven terdiam
" Putus ? "
" Lo pasti lagi bercanda kan ? "
" Gue serius Arven "
" Kenapa Alena ? "
" Ya karena kita ga cocok "
" Ga cocok gimana sih ? Sebenarnya ada apa sih Al ? "
" Mending lo nikah sama Clara aja ya, jangan sama gue "
" Clara ? Tunggu lo ketemu sama bokap gue ? "
Alena diam, tapi diamnya Alena menjawab pertanyaan Arven
" Lo ketemu sama bokap gue Al ? Jawab gue ? "
" Dia ngomong apa sama lo Al ? "
Arven merasa frustasi saat ini, bahkan saat ini kepalanya kembali terasa sakit namun ia menahannya.
" Bokap lo bilang kalau kita ga cocok Ar "
" Clara lebih cocok sama lo Arvan "
Alena berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
" Gue cape dinilai buruk Arven "
" Dikampus gue dinilai kalau gue simpenan "
" Dimata bokap lo, gue deketin lo karena harta "
Alena mulai menangis didepan Arven
" Kenapa orang kayak gue selalu dianggap rendah sih Ar ? kenapa ? "
Arven terdiam, bahkan ia sendiri pun saat ini sudah menangis dihadapan Alena.
" Jadi sekarang lo pergi Arven "
Alena mendorong tubuh Arven
" Jadi lo nyerah Al ? "
" Lo nyerah sama semuanya? "
" Ini yang lo bilang cinta ? "
Alena tak bisa menjawab
" Kalau emang itu mau lo, oke "
" Gue bakal nikah sama Clara "
" Gue pikir lo sama dengan gue Al, sama sama berjuang ternyata gue salah "
Arven tersenyum pahit kemudian ia pun meninggalkan Alena
Arven masuk kedalam mobilnya dalam keadaan hancur..
Bayu yang berada disana tak bisa ikut campur, ia memilih untuk diam.
" Cabut " ucap Arven singkat
Alena kembali masuk kedalam rumahnya, ia pun menangis dengan kencang.
Alena bukan tidak ingin berjuang, tapi Alena tau jika ia memang sudah kalah.