Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 25
Pintu kamar itu terbuka perlahan, mengeluarkan derit halus yang memecah keheningan suasana di dalam. Arkha melangkah masuk dengan ragu, matanya langsung tertuju pada sosok wanita yang tengah duduk di tepi ranjang dengan bahu yang tampak sedikit terguncang.
Alysia menoleh. Wajahnya yang pucat dan mata yang sembab tampak kontras dengan cahaya lampu kamar yang temaram. Saat melihat sosok kecil di ambang pintu, ada kilatan emosi yang campur aduk di matanya, antara rasa sakit, rindu, dan kelelahan yang luar biasa.
"Mama..." suara Arkha lirih, memecah sepi.
Alysia tidak menunggu sedetik pun.
Dia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Tanpa berkata apa-apa, Arkha berlari kecil dan menghambur ke pelukan ibunya. Tangis yang sedari tadi ditahan di dalam mobil kini pecah saat merasakan dekapan hangat yang selama ini dia rindukan.
Ibunda Alysia memberi ruang untuk keduanya melepas rasa rindu. Walau sebenarnya tadi pagi mereke juga bertemu. Namun Arkhasa adalah anak yang sensitif dan perasa. Dia tahu kalau terjadi sesuatu antara Papa, Mama dan Omanya. Apalagi tadi pagi sebelum sang Oma datang, wajah ibunya tak seceria hari-hari biasa.
"Arkha... sayang," bisik Alysia, suaranya parau dan bergetar.
Dia membenamkan wajahnya di rambut putranya, menghirup aroma khas anak itu yang selalu bisa menenangkannya, meski hatinya sendiri masih terasa hancur berkeping-keping. Dengan semua kenyataan pahit yang dia dengar semalam dan bahkan di tambah dengan tadi pagi. Rasanya lengkap sudah rasa sakitnya.
Namun, dia juga tak bisa mengesampingkan rasa cinta dan sayang kepada Arkhasa. Anak yang dia rawat seperti anak kandung sendiri. Dia mencintai dan menyayangi Arkhasa tanpa ada alasan atau karena ingin di lihat oleh Damian. Semua yang dia rasa dan lakukan kepada Arkhasa. Murni dari naluri dan rasa cinta kepada anak itu.
Bahkan sampai saat ini Alysia sendiri tak pernah tahu siapa ibu kandung Arkhasa. Karena Damian seolah menutup informasi masa lalunya dari Alysia. Sebelumnya Alysia selalu maklum, mungkin karena Damian tak mau mengungkit karena menghargainya. Namun rupanya karena dia masih menyimpan rasa cinta yang mendalam untuk Ibu Arkha.
Sehingga dia baru benar-benar tahu dan sadar kalau Damian menikahinya karena membutuhkan wanita untuk menjadi Ibu bagi Arkhasa. Bukan sebagai pelengkap keluarga kecil itu. Menjadi ibu sekaligus istri di sana.
"Mama jangan nangis lagi. Arkha ikut sedih kalau Mama nangis," ucap Arkha di sela isakannya, tangan kecilnya mengusap pipi Alysia dengan lembut, seolah ingin menghapus jejak air mata ibunya.
Alysia menarik napas panjang, berusaha menstabilkan napasnya yang sesak. Dia menjauhkan sedikit tubuhnya agar bisa menatap mata putranya. Dia menghapus air matanya gar Arkhasa juga tak kembali ikut menangis.
"Mama tidak apa-apa, Nak. Mama hanya... Mama hanya terlalu senang dan tak menyangka Arkha menyusul Mama kesini."
"Papa tadinya mau menjemput Mama sendiri, tapi Arkha ingin ikut. Arkha takut kalau mama di rumah Uti dan nggak mau lagi bertemu Arkha. Oma pasti memarahi Mama lagi kan? Mama jangan takut ya... Papa bilang, Papa mau bicara dengan Eyang dan Uti. Papa juga akan bilang sama Oma! Papa bilang semuanya akan baik-baik saja," jelas Arkha polos, menatap wajah ibunya dengan penuh harap.
Ibunda Alysia yang masih berada di ambang pintu hanya bisa memalingkan wajahnya. Mengusap air mata yang malah menerobos dari kedua matanya. Dia tak mengira anak sekecil Arkha mengerti dan tahu rasa sakit yang di rasakan oleh ibunya.
Mendengar nama Damian disebut, otot-otot di wajah Alysia menegang sejenak. Namun, melihat sorot mata Arkha yang penuh ketulusan, dia berusaha melunakkan tatapannya. Dia tahu, dia tidak bisa membawa luka hatinya untuk meracuni pemikiran putranya.
"Arkha," panggil Alysia lembut sambil menggenggam kedua tangan mungil itu.
"Apa pun yang terjadi nanti, apa pun keputusan yang Mama ambil... Arkha harus tahu satu hal. Tidak ada hal di dunia ini yang lebih Mama cintai selain Arkha. Arkha adalah satu-satunya alasan Mama masih bisa bertahan sejauh ini."
Arkha menunduk, lalu kembali memeluk Alysia dengan erat, seolah takut jika dia melepaskannya, ibunya akan benar-benar pergi jauh.
Alysia mengeratkan pelukannya, memejamkan mata sejenak untuk mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Dalam dekap itu, dia bisa merasakan jantung Arkha yang berdegup kencang, sebuah pengingat nyata bahwa ada nyawa kecil yang dunianya bergantung pada keputusan yang akan dia ambil malam ini.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang sangat pelan memecah keheningan. Ibunda Alysia, yang sejak tadi berdiri di ambang pintu. Menggeser tubuhnya sedikit, memberi jalan bagi seseorang yang berdiri di belakangnya.
Damian berdiri di sana. Posisinya kaku, tangannya terkepal samar di samping tubuh, dan wajahnya menyiratkan permohonan yang begitu dalam.
Setelah bicara dengan Ayah Alysia di ruang tamu, gurat kelelahan di wajahnya kini bercampur dengan sesuatu yang lebih berat, penyesalan.
Alysia merasakan tubuh Arkha sedikit menegang saat merasakan kehadiran sang ayah. Arkha melepas pelukannya, menatap Alysia, lalu menoleh ke arah Damian. Ada gurat tanya di mata bocah itu, apakah dia harus pergi atau tetap di sini.
"Arkha," suara Damian memecah kesunyian kamar yang pengap.
Suaranya terdengar parau, jauh dari kesan otoriter yang biasanya dia tunjukkan.
"Boleh Papa bicara sebentar dengan Mama? Hanya berdua saja. Uti akan menemani Arkha di luar, ya?"
Arkha menatap Alysia, mencari izin. Alysia terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk pelan. Dengan berat hati, Arkha bangkit dan menghampiri neneknya yang sudah menunggu di ambang pintu. Sebelum benar-benar melangkah keluar, Arkha menoleh sekali lagi ke arah Damian, seolah memberikan peringatan bisu agar ayahnya tidak menyakiti ibunya lagi.
"Papa, tolong jangan buat Mama menangis ya. Papa sudah janji kepada Arkha..." ucap Arkha pelan.
"Iya sayang... Papa janji Nak...!" jawab Damian tersenyum sambil mengusap kepala anaknya pelan.
Pintu tertutup pelan. Kini, hanya tersisa mereka berdua. Suasana di sana langsung berubah. Terasa dingin dan juga sedikit mence-kam.
lanjut lg thooorrrr🥳🥳🥳🥳
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,