NovelToon NovelToon
Setelah 9 Tahun Bersama

Setelah 9 Tahun Bersama

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Selingkuh
Popularitas:65.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.

Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.

Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.

Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.

Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.

Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.

Jena datang dengan penuh harapan.

Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Setelah 9 Tahun Bersama

"Ayah Ihsan, Bunda Jasmine ... Jovian janji akan jaga Jena. Kalian berdua tidak usah khawatir. Istirahatlah dengan tenang di sana."

Jena memeluk Jovian erat di hadapan nisan kedua orang tuanya.

"Sayang, kamu tidak usah merasa sendiri. Karena mulai saat ini, kamu adalah bagian dari keluargaku. Orang tuaku adalah orang tuamu juga. Jangan bersedih terlalu lama ya. Aku janji ... kita akan bersama selamanya dalam suka mau pun duka."

Janji-janji Jovian di masa lalu terus berputar memenuhi kepala Jena.

Perhatian, kasih sayang dan perlakuan manis yang selama sembilan tahun ini tak henti bermunculan.

Semuanya, tak ada yang terlewat. Dari awal mereka bertemu hingga peristiwa kemarin. Ketika mereka bermesraan dan Jovian nyaris kebablasan.

Malam ini, semua janji dan perlakuan itu terasa seperti lelucon. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Ia merasa semuanya seperti mimpi.

Tatapan Jena kosong, namun telinganya menangkap dengan jelas tepuk tangan dan ucapan selamat yang makin riuh memenuhi ruangan.

"Selamat, Jovian."

"Selamat, Michelle."

"Semoga lancar sampai hari pertunangan."

Gelak tawa dan obrolan hangat bersahut-sahutan. Para tamu bergantian menghampiri Jovian dan Michelle untuk berjabat tangan. Bimo, Sifa, Mario Suroso, dan Mayang Ayu menerima ucapan selamat dengan wajah penuh kebanggaan.

Jihan tak lepas memeluk Michelle sambil mengatakan, "Aku seneng banget Kak Michelle yang akhirnya jadi Kakak iparku!"

Kerabat Jovian pun menggaungkan kalimat yang nyaris sama.

Jena menggertakan giginya. Kedua tangannya saling menggenggam erat di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Ia masih sulit mempercayai apa yang baru saja didengarnya.

"Putra saya, Jovian Ardhana ... akan bertunangan dengan Michelle Ayu Suroso."

Kalimat itu terus bergema di kepalanya.

Semakin ia berusaha mengusirnya, semakin keras kalimat itu menghantam hatinya.

Dadanya sesak. Napasnya terasa memberat.

Di seberang sana, Jovian sedang berdiri menerima ucapan selamat dari para tamu. Senyum tipis tak pernah lepas dari wajah lelaki itu. Tak sekali pun ia menoleh ke arah Jena.

Jena menundukkan kepalanya. Bibirnya bergetar pelan. "Jadi ... apa arti dari semua perhatian, kata-kata manis, dan harapan yang selama ini aku simpan?" gumamnya dalam hati. Air matanya mulai menggenang. Namun ia menahannya sekuat tenaga. "Aku tidak boleh menangis di sini. Tidak di hadapan semua orang. Tidak di depan orang-orang kaya tak punya hati nurani ini. Kuat Jena. Kamu harus kuat." Ia mengeratkan giginya sampai membuat telinganya berdengung dan tenggorokannya sakit.

Para ART mulai menyajikan hidangan makan malam. Aroma makanan memenuhi ruangan.

Tak ada satu pun tamu yang memperhatikan dirinya. Semua larut dalam kebahagiaan keluarga Ardhana.

Seolah keberadaan Jena memang tidak pernah berarti.

Perlahan, Jena menarik kursinya. Nyaris tak terdengar. Ia berdiri dengan gerakan hati-hati sambil menggenggam tas kecilnya. Tak ada yang menoleh. Tak ada yang memanggil namanya.

Semua mata masih tertuju kepada pasangan yang baru saja diumumkan.

Jena menundukkan kepala dan melangkah keluar dari ruang makan. Satu langkah, dua langkah hingga tiga langkah. Tak seorang pun menghentikannya. "Aku harus pergi! Pergi, pergi!" Begitu keluar dari ruang makan dan sampai di ruang tengah, langkahnya mulai melemah. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tangisnya tidak pecah.

Saat itulah Pak Darsa, sopir keluarga Ardhana muncul dari arah ruang tamu. Lelaki itu sedikit tersentak melihat wajah Jena yang pucat. "Non Jena?" panggilnya pelan.

Jena buru-buru menyeka sudut matanya lalu memaksakan senyum. "Iya, Pak."

Pak Darsa langsung menghampiri. "Non mau ke mana? Wajah Non pucat sekali."

"S-saya ... saya mau pulang, Pak. Saya kurang enak badan."

Belum sempat Pak Darsa menanggapi, Mbok Yati yang membawa nampan minuman dari arah dapur ikut menghentikan langkahnya. "Lho, Non Jena mau ke mana? Makan malamnya belum dimulai." Ia memberikan nampan yang dibawanya kepada Pak Darsa. "Nih bagikan buat para sopir tamu di luar."

"Siap, Mbok." Pak Darsa pamit duluan.

"Non." Tatapan Mbok Yati tertuju lagi pada Jena.

Jena tersenyum kecil. "Saya mau pulang, Mbok. Kepala saya tiba-tiba pusing."

Mbok Yati memegang lembut tangan Jena. "Tunggu sebentar, Non. Mbok panggil Tuan, Den Jovian atau Nyonya dulu ya?"

Jena langsung menggeleng cepat. "Jangan, Mbok. Nggak usah." Suaranya nyaris pecah. "Nanti malah mengganggu acara mereka."

Mbok Yati memandang Jena dengan tatapan yang sulit diartikan. Pembantu paruh baya itu merasa ada yang tidak beres.

Tatapan mata Jena terlalu kosong. Senyumnya terlalu dipaksakan.

Namun dia hanyalah pekerja di rumah itu. Ia tidak berani bertanya lebih jauh.

Jena kembali tersenyum tipis. "Kalau gitu saya pamit dulu ya, Mbok. Kalau salah satu dari penghuni rumah ini menanyakan saya ... tolong sampaikan kalau saya pulang duluan."

Mbok Yati mengangguk pelan dengan sorot mata penuh iba. "Iya, Non. Semoga cepat baikan."

"Terima kasih." Jena membungkukkan badan pelan, lalu kembali melangkah menuju pintu utama.

Di belakangnya, suara tawa dan ucapan selamat masih terdengar begitu jelas.

Semakin jauh ia melangkah, semakin terasa bahwa kebahagiaan di rumah itu bukan lagi miliknya.

Malam itu, yang menyadari kepergiannya hanya dua orang. Mbok Yati dan Pak Darsa. Sementara orang yang paling ia harapkan untuk menghentikannya, bahkan tidak  menyadari bahwa ia telah pergi.

Begitu melewati gerbang rumah keluarga Ardhana, langkah Jena yang semula masih berusaha tenang mendadak berubah menjadi lari.

Ia berlari tanpa tujuan. Gaun hijau sage yang sejak sore begitu ia jaga kini berkibar tak beraturan diterpa angin malam. Sepatu hak rendah yang dikenakannya beberapa kali hampir terlepas, tetapi ia tak peduli. Yang ia tahu hanya satu. Ia harus pergi sejauh mungkin dari rumah itu.

Air mata yang sejak tadi mati-matian ia tahan akhirnya luruh tanpa bisa dibendung lagi. Pandangannya mulai kabur. Napasnya memburu. Dadanya terasa sesak hingga nyaris tak sanggup menghirup udara. "Kenapa ...?" lirihnya di sela isak. "Kenapa, kamu tega melakukan ini padaku, Jovian?"

Beberapa puluh meter dari rumah keluarga Ardhana, tubuhnya akhirnya kehilangan tenaga.

Jena jatuh berlutut di jalan kompleks yang sepi. Tangannya menopang tubuh yang gemetar hebat. Tangis yang sedari tadi ditahan kini pecah begitu saja. "Huuuu ..." Suara isaknya menggema di antara jalan yang lengang. Ia menangis tanpa memedulikan lagi siapa pun yang mungkin melihatnya.

Sembilan tahun.

Sembilan tahun ia mencintai Jovian.

Sembilan tahun ia menunggu.

Sembilan tahun ia percaya bahwa lelaki itu adalah pelabuhan terakhir hidupnya.

Semua kenangan berputar lagi, kini begitu cepat di dalam kepalanya.

Hari pertama mereka saling mengenal.

Saat Jovian menyatakan cinta. Hari-hari ketika mereka saling menguatkan.

Janji-janji yang diucapkan lelaki itu.

Ajakan Jovian ke Jepang ikut datang menghantam ingatan, lebih jelas dan tersusun rapi.

"Kamu mau pergi ke mana saja?"

"Aku mau lihat gunung Puji."

"Oke."

"Aku mau pakai Yukata."

"Siap."

"Aku ..."

"Aku ..."

Semua obrolan itu berhamburan dihantam kenyataan.

Tanpa penjelasan, pesan, atau pun ucapan maaf.

Lelaki yang ia cintai justru diumumkan akan bertunangan dengan perempuan lain.

"Kenapa, Jovian?" tangis Jena semakin pecah. "Kalau memang kamu sudah nggak mencintaiku ... kenapa nggak bilang?" Ia memukul-mukul jalanan tempatnya berlutut. "Apa salahku? Aku kurang apa?" Pertanyaan demi pertanyaan keluar di sela tangisnya.

Namun malam hanya menjawab dengan kesunyian.

"Pasti karena aku orang tak punya." Akhirnya Jena menjawab pertanyaannya sendiri. "Iya, benar. Itu masuk akal." Ia mengangguk-anggukan kepalanya. "Seharusnya dari awal aku sadar ... kalau Jovian dan keluarganya tak benar-benar mau menerimaku. Mereka hanya menjadikanku cadangan sampai akhirnya Michelle Ayu Suroso datang." Di sela tangisnya, Jena tertawa hambar. Ia lalu memeluk tubuhnya sendiri. Tangisnya tak kunjung reda.

Malam yang ia harapkan menjadi malam paling membahagiakan dalam hidupnya, berubah menjadi malam paling menyakitkan. "Setelah sembilan tahun bersama ... luka hati lah yang kudapatkan." Jena kembali bersujud, menumpahkan segala sakit yang melingkupi dadanya.

1
Oma Gavin
tuh obi calon tunangan yg mau dijodohkan sama kamu jihan oragan merendahkan orang gimana kira" kamu masih minat ngga kenalan 😂
Ama Apr: hahaha
total 1 replies
Dartihuti
Akirannya kedok asli sifat mereka 1 demi 1 terlihat tanpa di sadari keluarga yg merasa junjung tinggi aklak martabat,tunggu tar kl lo Jihan ketemu si toto gk tahunya org yg ingin klrg'm incar🙈😄
Ama Apr: wkwkwk
total 1 replies
EmakKece
nah, udah komplit kaaan .. ketemu emak sok kaya sudah, anak laki plenger sudah, anak cewek sombong sdh.. tinggal entar ketemu ramean .. kan seru tuh 😂
Ama Apr: wkwkwk🤣
total 1 replies
Nining Sariningsih
waaaahhhh seru nih kalo entar si Jihan ketemu Toto di acara tunangan si micin ma si Jo,ternyata si Toto anak nya pak Trisno gak malu apa doa ma kelakuannya yang sok begitu langsung entar tolak didepan semua orang aja kalo keluarga si Jihan minta perjodohan bakal malu plus karma buat mereka biar merasakan bagaimana perasaan jena dahulu,,,,,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
partini
ahhh ketemu Kunti bogel Jihan,,
Ama Apr: heuheuu
total 1 replies
Kota Tegalan
update LG donggg
Ama Apr: aku usahakan kk🫰
total 1 replies
Yeni Astriani
Jovian itu tipe laki2 pecundang, tidak tahu malu, tidak berprinsip dan tidak memiliki ketegasan.
laki2 seperti itu bila memimpin perusahaan baru satu tahun bangun besok nya udah bangkrut, apabila jadi suami baru pernikahan nya pasti hanya seumur jagung.
aku lebih suka Jena dg Mas Toto atau Obi sedangkan pasangan serasi Jovian hanya Michelle
Ama Apr: iya kk, jodoh cerminan diri
total 1 replies
EmakKece
kalau Obi alias Toto dateng apa gak syok tuh emaknya Jovian + Jovian .. scr pernah ngehina Obi Rebus scr lgsg
Yeni Astriani: apalagi ditambah Jihan juga merendahkan dan menghina Obi yg lagi nyamar jadi orang miskin, pasti kalau ketemu malu tuuuh muka
total 3 replies
Dartihuti
Aaah...yg udah terasa ada kupu" di hati...dapat sinyal pelangi semua nih si Jena mesti blm tahu masing masing🥰
Ama Apr: wkwkwk cinta bersemi di bulan agustus🫰
total 1 replies
partini
jadi ga usah bayar orang dong biar tau anaknya pak Tris,,di suruh datang ke pesta secara oto ketemu kalau Obi mau datang
Ama Apr: hooh, tp nggk yakin obi mau datang. Apalagi udah tahu mau dipertrmukan dg Jihan🤣
total 1 replies
Nining Sariningsih
PD sekali anda tak tahu saja orang nya sudah pernah ketemu dan tahu kelakuan anda sekeluarga tak malu apa,,,,halunya tingkat dewa awas pas nanti jatuh pasti sakit banget,,,,,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
Dartihuti
Diiih org maruk srakah...😄😄😄
Obisaking senengnya sampai preeeit...gk nyadar😄🤭mas toto🙈
Ama Apr: kyknya sih kk, sekarang msh pusing dikit🤭
total 3 replies
partini
punya detektif handal ini nyonya,,Obi semoga lebih peka kan di lapangan sekarang jadi tau banyak hal
Ama Apr: hihi iya
total 1 replies
partini
ortumu mah Very good 👍
Ama Apr: belum tahu dia😂
total 1 replies
Asphia fia
lanjut thor update LBH byk lg💪
Ama Apr: Insya Allah kk
total 1 replies
Nining Sariningsih
wah orang tua yang bijak,,,,,gak kayak keluarga si Jovan yang tonik,cocok thoorrrrrr kalau jena dapat keluarga kayak keluarga pak Trisno ma bunda Laila aku doa in mudah2an jodohnya jena,,,,,semangat thooorrr💪💪💪
Ama Apr: Aamiin, makasih kk🫰
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
namanya unik loh...Obi alias mas Toto 😅
Ama Apr: hihi iya
total 5 replies
Dartihuti
masya'allah betul ortu yg bijak ...kebahagian yg hakiki lbh utama dr pd gelimangan harta tp hati terasa hampa...harta bisa di cari bersama kebahagian gk akan mampu di beli dng semua yg harta punya aaa...betul " 👍pak Trisnoudah maruk dqn nafsu harta apapun susah tuk menyadarkan kl org dah egois bin srakah
Ama Apr: kan, masih ada orkay yg bijak🫰
total 1 replies
Yeni Astriani
Bimo belum tahu saja kalau Mas Toto itu Obi laki2 yg direndahkan derajat nya oleh anak istrimu kalau ketemu pasti menolak 100%, sebab kelakuan anak istrinya, dan untuk Jihan belum tentu dia masih perawan siapa tau udah jebol duluan melihat pergaulan nya saja begitu sama kaya Michelle
Ama Apr: hihi, kena mental mereka🤣
total 1 replies
partini
wah ternyata ga mulus ya pak Bimo mua main curang Tah jangan" Bimo kepikiran menjebak biar tangung jawab macam obat perangsang mungkin setalah tau siapa anak pak Tris tentu nya
pak Tris ortu yg 👍
Ama Apr: hehe, iya kk
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!