NovelToon NovelToon
Aku Bukan Taruhan

Aku Bukan Taruhan

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Tamat
Popularitas:18.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fatisya

non.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatisya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Anggara

Tristan merasa sangat frustasi. Ia hanya berdiam diri dalam kamar sejak kepulangannya dari apartemen Arindi tadi. Ia duduk bersandar di samping tempat tidurnya. Matanya memandang kosong pada kalender meja yang ia pegang di atas lututnya yang tertekuk.

Sebuah lingkaran berwarna merah melingkar pada angka dua puluh tiga. Lingkaran yang ia buat tepat tiga bulan lalu saat ia membaca tanggal lahir Arindi yang tertera pada selembar kertas. Kertas itu merupakan berkas CV yang akan digunakan untuk wawancara anggota BEM.

Tristan tidak membubuhkan catatan apapun di bawahnya karena ia mengingat dengan jelas apa arti khusus lingkaran merah itu.

Di lantai, tepat di samping tempatnya duduk bersandar tergeletak sebuah kotak kecil berwarna hitam polos dengan pita berwarna rose gold di atasnya. Sebuah hadiah kecil yang ia beli beberapa hari yang lalu dengan sangat antusias.

Tristan berencana untuk memberikannya pada Arindi tepat pada tanggal itu, tanggal dimana Arindi berulang tahun. Ia selalu bersemangat setiap kali memikirkan hari itu tiba.

Tapi kejadian pagi ini membuat semangatnya luntur dalam sekejap. Rasanya baru saja ia bisa terbang tinggi dan sekarang angin menghempaskan tubuhnya ke tanah. Sakit. Hatinya sakit dan pikirannya kacau.

Kata-kata yang diucapkan Nadine tadi pagi bagaikan kenyataan pahit yang selama ini ia sembunyikan dengan alasan agar selalu bisa bersama Arindi. Karena ia, yang secara tidak langsung, telah membuat gadis itu kesulitan dan menderita.

Tak lama ia pun melepaskan kalender yang tadi ia pegang dan meletakkannya sembarang ke lantai. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya. Dengan cepat ia membuka aplikasi percakapan instant. Ia berniat menghubungi Arindi.

Wajah Arindi saat melepaskan kepulangannya tadi tiba-tiba terlintas di benaknya. Gadis itu bersedih, pikirnya. Ia pun mulai mengetikkan sebuah pesan obrolan. Tapi tangannya tiba-tiba berhenti.

"Ga. Ga sekarang. Aku harus memberinya waktu," batin Tristan sambil mengunci layar ponselnya kembali.

...----------------...

Sementara itu di apartemen Arindi.

"Anggara?" ujar Arindi setelah mendengar suara pria yang baru saja melangkah masuk ke dalam apartemennya. Nadine dan Rasya pun mengucapkan kata yang sama secara bersamaan karena tak kalah terkejutnya.

Mereka bertiga pun langsung berdiri menanti sosok Anggara yang dalam hitungan sepersekian detik akan segara muncul di hadapan mereka.

"Kakak?" ujar Arindi pada sosok Anggara yang sedang berjalan mendekati mereka bertiga.

"Lo di rumah ternyata. Ada Rasya Nadine juga!" seru Anggara menelisik tajam sosok ketiga sahabat itu satu persatu. Ia pun melemparkan senyum datarnya pada mereka bertiga.

"Oh halo kak apa kabar?" ujar Rasya memberi salam dengan sopan.

"Kak," ujar Nadine singkat sambil mencengkram erat pergelangan tangan Rasya yang ada disampingnya.

"Pagi-pagi kalian udah berkumpul aja. Rupanya kalian punya banyak waktu luang ya," ujar Anggara santai namun menusuk seperti biasanya.

"Oh itu kami kesini karena Arindi sa...." Nadine menghentikan kata-katanya karena Rasya secara sengaja menginjak kaki Nadine agar Nadine tak melanjutkan kata-katanya. Bisa panjang urusannya jika Anggara tahu kalau Arindi sakit pikir Rasya.

Injakan kaki Rasya itu membuat Nadine meringis sakit. "Ergh...."

"Arindi saat ini lagi mencari inspirasi buat karya barunya kak," jelas Rasya cepat sebelum Nadine membuka mulutnya lagi.

"Ha-ha-ha... Iya Rasya bener kak," ujar Arindi tertawa garing sambil membenarkan ucapan Rasya barusan.

"Bukannya kalian beda jurusan ya?" ujar Anggara menyelidik. Ia tahu mereka berbohong padanya. Anggara pun meletakkan tas punggung yang dari tadi menempel di tubuhnya.

"Kak zaman sekarang ide kancbisa dicari dengan berdiskusi sama teman beda jurusan, jadi idenya lebih berkembang gitu kak. Lintas jurusan gitu," ujar Arindi menjelaskan dengan semangat meskipun kata-katanya terdengar sangat melantur.

"Bukannya karena lo emang ga punya temen lain selain mereka?" ujar Anggara dengan dingin. Ia melepas jaket kulitnya dan meletakkannya di atas meja yang ada ditengah ruangan dengan santai. Menyisakan baju kaos berwarna putih ketat yang menonjolkan bentuk tubuh atletisnya.

"Hadeuh mata gue ga kuat," batin Rasya.

"Wah keren, gue juga pengen punya otot sixpack kaya gitu," batin Nadine.

Sedangkan Arindi tertohok dengan pertanyaan retoris kakaknya barusan. "Bener-bener kakak ga punya akhlak."

"Ha-ha kakak bisa aja, ga mungkin lah adek kakak yang cantik ini ga punya temen lain. Ya udah Sya, Nad lo bilang tadi mau buat maket bareng kan?" ujar Arindi memberi kode melalui tatapan matanya supaya kedua sahabatnya itu cepat pergi dari sini.

"Buruan gih sono kerjain!!" ujar Arindi sambil mendorong paksa Rasya dan Nadine.

"Owh i-iya bener. Yuk lah Nad." Rasya pun menarik tangan Nadine yang ternyata masih bengong karena belum memahami apa maksud Rasya dan Arindi.

"Maket kita kan dah di kumpul," bisik Nadine pada Rasya dengan polosnya.

"Ugh... Udah ikut aja napa?" balas Rasya yang juga berbisik pada Nadine.

"Kak, Arin anter Nadine ama Rasya dulu ya," ujar Arindi mengekor dengan cepat pada kedua sahabatnya. Memastikan mereka meninggalkan apartemennya secepatnya.

Anggara hanya mengibaskan tangannya cuek pada Arindi. Ia pun berjalan santai menuju sofa panjang di depannya lalu merebahkan tubuhnya ke atasnya. Perjalanan dari rumah menuju apartemen Arindi dengan menggunakan motor sport-nya selama tiga jam perjalanan membuat tubuhnya terasa sangat lelah.

"Kenapa kakak ga bilang sih kalo mau kesini?" tanya Arindi setelah kedua sahabatnya tadi menghilang. Ia pun mengambil tempat duduk di salah satu sofa lainnnya.

"Emang kenapa kalo bilang?" Anggara menurunkan tangannya yang tadi menutupi matanya dan melirik pada Arindi yang ada di sampingnya.

"Yaah Arin kan bisa... beli makanan buat kakak."

"Ga ada alasan lain?" tanya Anggara dingin.

"Nope. Ngomong-ngomong ngapain kakak kesini eh maksudnya ada alasan apa sampe kakak mengunjungi Arin di hari kerja begini?"

"Ga ada alasan."

"Serius, emang boleh gitu? Gimana kerjaan kakak? Emang boleh ditinggal?"

"Kakak disini juga karena kerjaan kok!"

"Kerjaan? Pake motor?"

"Ga salah kan?"

"Ya gapapa sih cuma... Uhm sekelas kakak kan kalo misal mau perjalanan bisnis paling engga harus sama sekretaris pribadi gitu atau aspri gitu. Jadi kan kakak ga sendiri. Ya... maksud Arin seenggaknya ada yang ngatur jadwal pertemuan kakak, tempat tinggal kakak atau... ya sekedar yang nyopirin kakak lah," cerocos Arindi berusaha mencari tahu apa rencana kakaknya ini.

"Ngapain repot-repot. Lo punya apartemen dan mobil kan," jawab Anggara singkat.

"Punya kakak ngerepotin emang nyebelin. Maksud gue kenapa lo dateng kesini bukan ke hotel atau apa. Kenapa harus apartemen gue?" batin Arindi. Ia mencibirkan bibirnya pada Anggara yang telah menutup matanya lagi.

Usia Anggara dan Arindi terpaut enam tahun lamanya. Cukup lama. Sebagai kakak yang menyayangi adiknya sudah seharusnya ia menjaga adiknya dan sebagai balasan tentu saja adiknya harus menuruti perintah kakaknya. Begitulah konsep adik kakak yang disukai Anggara. Karena berbuat usil pada Arindi dan melihatnya kesal merupakan hobinya.

Semenjak Anggara mulai sibuk setelah menjadi bagian dari perusahaan orang tuanya dan Arindi kuliah di luar kota membuat keduanya jarang 'bertemu'. Atau lebih tepatnya saling mengusili.

Kebetulan Anggara memiliki agenda bisinis di kota tempat Arindi tinggal. Tentu saja ia yang memang sudah merindukan (untuk mengusili) adiknya tidak akan melewatkan kesempatan ini begitu saja.

"Kenapa? Ga suka kalo gue kesini?" ujar Anggara seolah tahu isi hati Arindi.

" Suka kok." Arindi berkilah sambil melayangkan tinjunya ke udara. "Berapa lama perjalanan bisnisnya?"

"Liat aja tas punggung yang gue bawa. Besar kan? Karena gue akan lama tinggal di apartemen lo."

Arindi melirik pada tas punggung yang kelihatannya sangat padat isinya. "Arin kan bukan nanya itu," Arindi mendengus kesal karena Anggara bersikap sok tahu tentang isi kepalanya.

"Ya udah Arin mau ke kamar," ujar Arindi lalu berangkat dari duduknya. "Kalo kakak mau sarapan tuh ada bubur di atas meja."

"Bubur? Sejak kapan lo suka bubur? Gigi lo ga kuat lagi ngunyah makanan?" tanya Anggara lagi.

"Sejak hari ini!" ujar Arindi tegas. Ia mulai kesal lalu bergegas menuju meja makan. Ia ingin mengambil bungkusan obat yang ada disana sebelum kakaknya melihat. "Bisa panjang urusannya kalo kakak liat ini, untung gue inget," batin Arindi.

"Gue mau mie pangsit!!!" teriak Anggara saat Arindi hendak membuka pintu kamarnya.

"Beli sendiri...," jawab Arindi setengah berteriak. Lalu ia masuk ke kamar dan menutup pintunya.

Arindi pun menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya. Ia sangat lelah. Urusannya dengan Tristan masih belum selesai sekarang ada lagi yang harus diurusin.

Arindi membuka ponselnya, memeriksa bilah notifikasi. Tak ada satu pun dari Tristan. Ia ingin menanyakan kabar pria itu tapi ia terlalu takut bahkan untuk mengiriminya pesan obrolan. Arindi pun mematikan layar ponselnya lalu melempar dengan kesal ke sampingnya.

Tak lama ponselnya berbunyi. Dengan cepat Arindi mencari sumber suara itu berada. Ternyata ponselnya sudah ada di lantai. Saat melemparnya, ponsel itu meluncur perlahan dari atas bedcover yang menjuntai menuju lantai.

Dengan susah payah Arindi merangkak untuk menggapai ponselnya. Ia senang karena akhirnya Tristan menghubunginya, itu yang dipikirkan Arindi.

Tapi setelah membaca nama penelepon di layar ponselnya yang bertuliskan 'Kakak Akhlak-less' Arindi sangat kesal. Ia pun menolak panggilan itu.

Karena merasa di tolak, Anggara terus membuat panggilan telepon pada adiknya sampai Arindi menyerah dan mengangkat panggilannya.

"Arghhh kakak rese... Kenapa harus hari ini sih dia datang," ujar Arindi setengah teriak.

"Kenapa lagi?" ucap Arindi sangat kesal saat berbicara pada Anggara melalui telepon.

"Lo ga kuliah? Bolos ya?" gurau Anggara.

"Engga, gue ga da kuliah hari ini!"

"Baguslah," ujar Anggara menyeringai senang. "Beliin gue mie pangsit. Inget pangsitnya di goreng jangan terlalu garing. Sayurannya banyakin!"

"Beli sendiri!" tegas Arindi kemudian.

"Gue sih rencananya cuma mau numpang nginep di tempat lo dua hari doang. Ya... Kalo sikap lo gini ke kakak tertampan di dunia ini, kakak kan jadi pengen lama-lama disini. Gapapa kan?" Anggara mulai mengancam Arindi. Anggara menahan tawanya di telepon. Ia bisa membayangkan wajah kesal adiknya saat ini.

Arindi tahu benar sifat keras kepala Anggara. Kalau permintaannya tak dituruti, ia akan terus mengusik Arindi sampai permintaanya dikabulkan.

"Ok!" jawab Arindi singkat lalu memutuskan panggilannya.

Arindi pun kembali menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia mengambil sebuah bantal dan menutupkannya ke wajahnya. "Kakak reseeeeeee...." Arindi memekikkan kekesalannya. Jeritannya teredam karena bantal itu.

1
Fatisya
semangat diriku
Slow ego
👌..... oke
kimraina
Yah kok tamat 😿
kimraina: Ama2 kakak imut 😻
total 4 replies
kimraina
Anggara 10 hati ga tuh 😹
kimraina: Wkwkwk 😆
total 4 replies
ig@aya_yaww
Aku mampir kak
Fatisya: iyya terima kasih ya
total 1 replies
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣
valid sih ini
Fatisya: true 👍👍👍👍
total 1 replies
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣
tokohnya belike: inginku berkata kasar, tapi authornya udah main nyensorr duluann 🤣
Fatisya: sebelum di sensor NT kak...😁😁🤭
total 1 replies
Mincek
good thor👍
kimraina
So sweet jd pengen meluk authornya eh salah meluk Kak Anggara maksudnya 😆
kimraina: Semangat jg ka 💪😻
total 4 replies
kimraina
Ini senengnya klo py kakak laki2 . . Merasa selalu terlindungi . . Ky kakak aku . .Tp Tergantung kakaknya juga sih 😆
Fatisya: 😁😁😁
mau mau...🤭🤭🤭🤭
total 3 replies
Author DELILAH
restu pun datang
Author DELILAH: ahsek.. ditunggu restu ortu
total 2 replies
Neonnorey
kak aku dah baca, sampe sini dulu ya, bagus ceritannya mampir jg ke novelku ya kak, ketika kakakku menyentuhku trimakasih
Fatisya: baiklah
mksih ya
total 2 replies
Neonnorey
iklan meluncurr
kimraina
Iya ka . . Jgn percaya sebelum cari tau yg bener 😹
Fatisya: bener... 👍👍👍
total 1 replies
Slow ego
ya dah sampek sni dlu thor. lumayan lah buat bacaan. 👌👍
Slow ego
empat sekawan cewek.. 👏
kimraina
Di goreng ga di oven aja 😹
kimraina: 😆 Semangat ka 💪😘
total 2 replies
kimraina
Mungkin ini sebabnya muncul pribahasa diam itu emas 😹
Fatisya: iya kak bisa jadi ya...
🤣🤣
total 1 replies
kimraina
Aduuh kacau deh 😿 kasian Ka Tristan ngdenger ini semua 😿 puk puk online
kimraina: Betul ka . . Tendang ke bulan aja ka klo nemu kaya gtu 😹
total 6 replies
semangat Tohor,
Fatisya: ok nuraya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!