Kehamilan yang selama ini mati-matian disembunyikan Anisa akhirnya terbongkar. Ironisnya, orang pertama yang mengetahui rahasia itu justru Reinhart—dokter magang di kampus tempatnya menimba ilmu.
Sejak hari itu, hidup Anisa berubah. Semakin ia berusaha menghindar, semakin sering takdir mempertemukan mereka. Tatapan penuh rasa ingin tahu dari Reinhart perlahan berubah menjadi kepedulian yang sulit diabaikan.
----------------------------
"Siapa ayah dari bayimu?"
"Itu bukan urusan Dokter."
"Kalau begitu... izinkan saya menjadi ayah untuk bayi itu."
Anisa hanya tersenyum getir.
"Maaf. Saya menolaknya."
-----------------------
Namun, sampai kapan rahasia itu bisa disembunyikan? Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, apakah cinta Reinhart masih cukup kuat untuk menerima Anisa... beserta luka dan masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbongkar
Sedikit terpaksa, Anisa mengikuti apa yang diinginkan Reinhart. Anisa takut jika mereka bicara di dalam kelas, akan ada yang mendengar dan membuat semuanya menjadi bertambah rumit.
Langkah kaki Anisa kini menuju ke taman terlarang kampus sesuai dengan arahan Reinhart tadi.
"Pintu belakang taman terlarang?" gumam Anisa dengan harap-harap cemas. Ia menunduk hormat saat pak penjaga membukakan pintu masuk taman terlarang.
"Silakan, Nona." Pak Penjaga bersikap ramah pada Anisa. Mungkin karena ini adalah perintah Reinhart.
Tanpa Anisa sadari, ternyata Renata mengikuti jejak Anisa yang masuk ke taman terlarang. Renata yakin jika ia bisa masuk juga seperti Anisa.
"Maaf, Nona. Mau kemana?" Pak penjaga menghadang Renata.
"Saya mau masuk, Pak," balas Renata dengan mengulas senyum.
"Taman ini terlarang untuk mahasiswa, Non. Silakan pergi." Pak Penjaga mengusir Renata.
"Tapi, tadi ... saya lihat ada yang masuk kesini." Renata harus bisa menguak hubungan Anisa dan Reinhart. Ia sangat yakin jika Anisa masuk ke taman terlarang untuk menemui Reinhart.
"Tidak ada yang masuk kesini, Nona!" tegas Pak Penjaga.
"Jangan bohong! Jelas-jelas tadi saya lihat ada yang masuk kesini kok." Renata keukeuh berjuang agar bisa masuk.
"Saya bilang tidak ada ya tidak ada!" Pak Penjaga juga ikut ngotot.
Renata menghela napas kasar. Sepertinya ini semua memang sudah direncanakan. Renata tidak akan bisa menembus pintu masuk ini dengan cara baik-baik.
"Aku harus cari cara supaya bisa masuk ke dalam. Tapi, gimana caranya ya?" gumam Renata dalam hati. Dengan berat hati, Renata pergi dari sana sesuai dengan perintah pak penjaga.
***
Anisa telah tiba di area belakang taman terlarang. Ia tidak tahu jika disana ada pintu keluar yang langsung menuju ke jalan raya.
Mobil Reinhart menghampiri Anisa yang berdiri di tepi jalan.
"Masuklah!" perintah Reinhart.
Anisa menurut dan membuka pintu bagian depan. Ia duduk dengan tenang tanpa bicara apapun pada Reinhart.
Wajah Reinhart masih saja tak bersahabat. Anisa tak mau mengusiknya dulu.
Setelah berkendara selama tiga puluh menit, Anisa mulai bingung.
"Sebenarnya Dokter mau bawa saya kemana?" tanya Anisa.
Tiba-tiba Reinhart menginjak rem dan mobil berhenti di tempat yang sepi.
"Turunlah! Kita bicara di luar." Reinhart turun dari mobil.
Anisa memutar bola mata malas. "Mau ngomong aja sampai pergi sejauh ini. Apa sih maunya dia?" gerutu Anisa.
Anisa berjalan menghampiri Reinhart.
"Dokter mau ngomong apa?"
Reinhart menatap Anisa dingin. "Apa kamu yang sudah menyuruh Ibu untuk menghindari saya?"
Anisa mengembus napas pelan. "Iya. Salahnya dimana?"
"Kenapa?"
Anisa memejamkan mata sejenak. Ia harus bisa mencari alasan yang bagus untuk Reinhart.
"Saya gak mau terjadi fitnah untuk kita berdua."
"Fitnah? Fitnah apa?"
"Saya sudah menikah!" tegas Anisa.
Reinhart tertawa sumbang. "Terus saja berbohong. Saya tahu kebenarannya."
"Dokter yang membohongi diri dokter sendiri. Saya gak berbohong! Saya memang sudah menikah!" Suara Anisa bergetar saat mengatakan semua itu.
"Tapi kenapa harus meminta Ibu menghindari saya? Apa salah saya?" Reinhart mengacak rambutnya.
"Salah! Semuanya salah! Saya mohon jangan ganggu kehidupan saya dan Ibu saya."
"Saya gak mengganggu, Anisa."
"Tapi saya merasa terganggu dengan kehadiran Dokter!"
BUGH! Seakan ada yang menghantam dada Reinhart dengan telak. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Sakit sekali rasanya saat Anisa ternyata menganggapnya sebagai pengganggu.
"Masuklah, saya antar kamu kembali ke kampus." Reinhart berbalik badan dan masuk ke dalam mobil.
Anisa merasa bersalah karena telah membungkam Reinhart. Namun, ini lebih baik untuk mereka berdua.
Anisa masuk ke dalam mobil dan duduk tenang seperti saat berangkat tadi. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir keduanya.
"Maafkan aku, Dokter... Aku harus menyakitimu agar kamu pergi dari kehidupanku. Aku ... bukan perempuan yang pantas untuk kamu dekati..." Anisa membatin sambil memejamkan mata. Hatinya juga ikut sakit saat melihat Reinhart terluka. Entah apa yang dirasakannya pada Reinhart. Apakah hanya sekedar rasa kagum dan suka, atau ... sudah lebih dari itu?
*
*
*
Satu bulan telah berlalu sejak kejadian hari itu. Anisa sudah jarang melihat Reinhart di klinik kampus.
Menurut admin penggemar Reinhart, pria itu sedang mengambil studi spesialis di kampus Avicenna, kampus milik keluarga Renata.
"Benar begitu, Ren?" Rhea bertanya saat jam istirahat.
Mereka bertiga duduk satu bangku dan makan bakso bersama.
"Hmmm, iya benar. Aku udah dengar langsung dari Kak Rein." Renata melirik Anisa saat mengucapkannya. Ia ingin tahu reaksi Anisa.
"Wah, berarti kamu sering ketemu Dokter Reinhart?" Rhea antusias dengan pembahasan Reinhart.
Renata menggeleng. "Gak sering sih. Hanya beberapa kali aja kok."
"Kalau ketemu lagi titip salam ya, Ren." Rhea menaikturunkan alisnya.
Renata malah tertawa. "Jangan sedih kalau Kak Rein memilih gadis lain ya."
"Eh? Emangnya Dokter Reinhart punya pacar?" Mata Rhea mendelik.
"Enggak. Lebih tepatnya ... belum." Lagi Renata melirik Anisa yang hanya diam tak menanggapi.
"Jangan-jangan kamu suka ya sama Dokter Reinhart," tebak Rhea.
Renata tidak menjawab dan hanya mengulas senyum.
"Iz Ren! Kasih tau dong!"
"Rahasia!" Renata menjulurkan lidah. Kembali Renata menatap Anisa yang hanya diam dan ikut dalam obrolan.
"Sebenarnya apa yang kamu pikirkan, Anisa? Aku tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan tentang hubunganmu dan Kak Rein," batin Renata.
*
*
*
Setelah satu bulan mencari bukti-bukti akurat tentang status Anisa, akhirnya Riyan berhasil mengungkap sebagian hal yang disembunyikan Anisa selama ini.
"Rein, gue minta lo jangan kaget pas tahu ini semua," ucap Riyan sambil menyodorkan tablet pintar ke arah Reinhart.
"Apaan sih? Lo bilang gak mau urusin masalah gue lagi, trus apaan ini?" Reinhart mengibaskan tablet di depan Riyan.
"Gue tahu ini salah dan ilegal, tapi ... gue beneran pengen bantu lo setelah gue lihat Kak Raisa ada disini."
Reinhart mengerutkan dahi. "Bentar! Kok jadi bawa-bawa Kak Raisa?"
"Makanya lo tonton dulu aja itu!" Riyan menunjuk benda pipih di tangan Reinhart.
"Gue ngeretas CCTV gedung ini, Rein."
"What? Udah gak waras ya lo?" Reinhart menggeleng pelan, tapi tetap menonton apa yang disiapkan Riyan.
Video berdurasi tiga menit itu menunjukkan sosok Raisa yang keluar dari ruang tunggu lobi bersama Raya dan kemudian disusul Anisa yang ikut keluar dari sana.
"Ini ... beneran?" Reinhart masih tak percaya jika Raisa tidak berada di luar negeri.
"Dan lo harus lihat ini!" Riyan menyerahkan satu lembar kertas yang berisikan informasi penting.
Reinhart membacanya dengan seksama. "Ini gak masuk akal, Yan." Tubuh Reinhart tampak lemas dan bersandar pada sofa.
"Itu semua benar, Rein. Gue juga ngeretas data pemilik unit apartemen disini. Dan unit yang ditempatin Anisa ... disewa atas nama Rahwono. Lo tau siapa Rahwono?"
Reinhart menatap Riyan penuh tanya.
"Dia adalah Raya. Asistennya Kak Raisa."
Reinhart masih tak menemukan benang merah dari semua ini.
"Gimana ceritanya Kak Raisa bisa kenal sama Anisa?" tanya Reinhart dengan suara lemas.
"Itu dia yang masih gue selidiki, Rein. Kayaknya emang ada hal yang gak beres disini."
Reinhart mengusap wajahnya. "Gue yakin kalau Ruby bukan suaminya Anisa. Gue yakin 1000 persen."
Reinhart menatap Riyan penuh bangga. "Thanks banget ya, Bro. Berkat lo ... semua misteri ini mulai terbongkar." Ia menepuk bahu Riyan diiringi senyum yang tulus.
daebaklah! karya baru terus pkoknya!🤸