NovelToon NovelToon
Malam Pertama Dengan CEO

Malam Pertama Dengan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikah Kontrak
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9

Rahang Rina mengeras. Dadanya dipenuhi rasa iri yang hampir meledak. Sejak tadi ia sesumbar seolah menjadi orang paling dekat dengan Adrian. Namun, pada kenyataannya justru Kayla yang terus mendapatkan perlakuan istimewa.

"Kay, kok laukmu lebih banyak daripada punyaku?" tanya Lisa sengaja mengeraskan suaranya sambil melirik isi kotak makan Kayla.

"Kalau bukan karena jual diri, karena apa lagi?" celetuk Rina sinis. "Benar-benar perempuan murahan. Demi makanan saja rela tidur dengan laki-laki sembarangan."

Jari-jari Kayla langsung menggenggam sendok erat. Rahangnya mengeras menahan amarah. Namun, ia memilih tetap diam. Saat ini ia tidak memiliki tenaga untuk melayani ucapan perempuan itu.

"Aku pernah dengar kalau Kayla sama Pak Doni hubungannya dekat. Jangan-jangan mereka..." ujar Mila sambil menyeringai.

"Tentu saja dekat," potong Rina cepat sebelum Mila menyelesaikan ucapannya. "Aku pernah melihat mereka masuk ke kamar hotel bersama."

Mila dan Mira langsung tertawa kecil seolah baru saja mendengar lelucon paling lucu hari itu. Sementara Lisa berdiri dengan wajah memerah karena marah. Ia sudah hendak membalas, tetapi Kayla lebih dulu menggenggam pergelangan tangannya, meminta sahabatnya itu tetap tenang.

"Aku dengar perusahaan sedang melakukan PHK besar-besaran," ucap Kayla akhirnya dengan suara dingin tanpa sedikit pun menoleh. "Aku jadi penasaran bagaimana nasib orang-orang yang kerjanya hanya menyebarkan fitnah dan bergosip."

"Kamu bilang aku tukang gosip?" bentak Rina sambil berdiri.

Kayla tetap menatap makanan di depannya. Ia sama sekali tidak memberi perhatian kepada Rina yang mulai kehilangan kendali.

"Kelakuanmu sendiri yang bikin orang curiga. Makananmu berbeda dari semua orang. Kalau bukan karena jual diri, memangnya karena apa?"

Kayla akhirnya mengangkat wajah. Tatapannya tenang, tetapi ucapannya menusuk tepat ke hati lawannya.

"Biasanya orang yang paling sering menuduh perempuan lain menjual diri adalah orang yang paling paham cara melakukannya."

Wajah Rina seketika memerah padam. Ia menghentakkan kursi lalu melangkah cepat ke arah Kayla dengan tangan mengepal.

Namun, sebelum sempat mendekat, Sulis yang merupakan karyawan paling senior langsung berdiri menghadang di depan Rina.

"Sudah, jangan ribut hanya gara-gara makanan."

Rina mendengus kesal.

"Bu Sulis tidak lihat? Dia dapat perlakuan khusus."

Sulis melirik isi kotak makan Kayla sekilas, lalu mengangguk pelan.

"Kalau aku tidak salah, sup itu memang biasanya diberikan untuk ibu hamil. Kakakku waktu mengandung juga sering membeli sup seperti itu atas anjuran dokter."

"Benarkah?" tanya Rina dengan mata langsung berbinar.

"Iya. Setahuku sup itu memang mengandung bahan-bahan yang bagus untuk ibu hamil, terutama pada trimester awal."

Sudut bibir Rina perlahan terangkat membentuk senyum licik. Kini ia semakin yakin dengan dugaannya.

"Jadi benar... Kayla memang hamil."

Tatapannya berubah semakin dingin.

"Kamu sudah berkali-kali mempermalukanku. Sekarang giliranku menghancurkanmu."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Rina langsung meninggalkan ruang makan menuju lantai administrasi.

Beberapa menit kemudian, langkah Rina berhenti di depan sebuah ruangan yang pintunya bertuliskan:

Direktur HRD

DONI PRATAMA

Rina merapikan rambutnya terlebih dahulu sebelum mengetuk pintu dengan pelan. Ia ingin memberikan kesan sebagai tamu penting yang harus dihormati.

"Silakan masuk."

Suara Doni terdengar dari pengeras suara kecil yang terpasang di samping pintu.

Rina membuka pintu sambil tersenyum tipis. Di balik meja kerja, Doni masih sibuk menatap layar komputer. Jemarinya terus bergerak di atas papan ketik sebelum akhirnya menghentikan pekerjaannya dan mengangkat kepala.

"Ada apa, Rina?" tanyanya singkat.

"Pak Doni tahu saya siapa, kan?" tanya Rina penuh percaya diri.

Pertanyaan itu membuat Doni mengernyit. Ia mengamati wajah Rina beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepala pelan.

"Kalau tidak salah, kamu dari keluarga Permana, ya?"

"Benar."

"Lalu?"

Rina sengaja menarik napas pelan sebelum mengucapkan kalimat berikutnya. Ia ingin membuat Doni benar-benar terkesan.

"Pak Adrian, Presiden Direktur yang baru... beliau adalah calon kakak ipar saya."

Alis Doni langsung terangkat.

"Maksudmu bagaimana?"

"Kakak saya, Dila Permana, sedang dijodohkan dengan Pak Adrian. Kedua keluarga sudah saling mengenal sejak lama. Tinggal menunggu waktu saja sampai mereka resmi menikah."

Untuk memperkuat ucapannya, Rina segera membuka galeri ponselnya. Ia menunjukkan beberapa foto keluarga saat menghadiri sebuah acara bisnis. Dalam beberapa foto itu, Dila memang terlihat berdiri tidak jauh dari Adrian. Meski tidak ada satu pun foto yang membuktikan mereka bertunangan, kedekatan kedua keluarga cukup membuat cerita Rina terdengar masuk akal.

Doni memperhatikan foto-foto itu dengan saksama. Semakin lama ia melihat, wajahnya semakin ramah.

"Wah... ternyata begitu."

Rina tersenyum puas. Ia tahu umpannya mulai berhasil.

"Makanya, kalau aku menyampaikan sesuatu kepada Kak Dila, besar kemungkinan beliau akan menyampaikannya langsung kepada Pak Adrian."

Sikap Doni langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Senyum menjilat mulai terlihat jelas di wajahnya.

"Nona Rina, kalau nanti benar-benar menjadi keluarga Pak Adrian, jangan lupakan saya, ya. Saya sudah belasan tahun bekerja di hotel ini."

Rina mengangguk kecil sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Tentu saja. Orang yang berpihak kepadaku pasti akan kuingat."

"Kalau begitu... apa yang bisa saya bantu?"

Rina melangkah mendekati meja Doni. Senyum tipis menghiasi wajahnya, tetapi sorot matanya dipenuhi kebencian.

"Sebenarnya aku hanya ingin menyingkirkan satu orang."

"Siapa?"

"Kayla Permana."

Doni menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil tersenyum kecil.

"Kalau hanya seorang wakil manajer, itu bukan perkara sulit."

Rina kemudian membungkuk sedikit dan mulai membisikkan rencana yang telah ia susun. Semakin lama Doni mendengarkan, senyumnya semakin lebar. Sesekali ia mengangguk tanda setuju.

Baginya, menyingkirkan seorang karyawan bukanlah pekerjaan yang sulit. Terlebih lagi jika setelah itu ia benar-benar mendapat dukungan dari keluarga Permana. Kesempatan untuk naik jabatan jelas terlalu menggiurkan untuk dilewatkan.

Sementara itu, di ruang kerja, Lisa memperhatikan Kayla yang sejak tadi hanya memandangi kotak makan siangnya tanpa benar-benar berniat menyentuhnya.

"Kay, kok tidak dimakan? Kelihatannya enak sekali."

Kayla menggeleng pelan.

"Aku tidak tahu kenapa. Rasanya perutku penuh terus."

"Coba makan sedikit saja. Sayang kalau tidak dimakan."

Kayla akhirnya menganggukkan kepala. Ia mengambil sendok, lalu menyendok sedikit kuah sup hangat yang masih mengepulkan uap.

Namun, baru aroma sup itu sampai ke hidungnya, wajah Kayla langsung berubah pucat.

Rasa mual datang begitu hebat hingga membuat perutnya seperti diaduk-aduk.

Kayla buru-buru menutup mulut.

"Aku ke kamar mandi dulu."

Tanpa menunggu jawaban Lisa, ia langsung berlari keluar ruangan sambil menahan rasa mual yang semakin menjadi.

Begitu sampai di depan wastafel kamar mandi, Kayla langsung memuntahkan isi lambungnya. Namun, karena sejak pagi hampir tidak makan apa pun, yang keluar hanyalah cairan bening dan sedikit lendir. Tenggorokannya terasa perih, sementara matanya mulai dipenuhi air mata.

"Astaga..." gumamnya lirih sambil menyeka bibir menggunakan tisu.

"Jadi begini rasanya orang hamil."

Ia memandangi bayangannya sendiri di cermin. Wajahnya terlihat semakin pucat dibandingkan pagi tadi. Perlahan, tangannya kembali mengusap perutnya.

"Maafkan Ibu... Ibu benar-benar belum siap."

Setelah membasuh wajah hingga rasa mualnya sedikit mereda, Kayla menarik napas panjang sebelum kembali menuju ruang kerjanya.

Baru saja ia duduk di kursinya, Lisa langsung menghampiri dengan wajah sedikit cemas.

"Kay, kamu dipanggil Pak Doni."

Kayla mengangkat kepala.

"Pak Doni? Ada urusan apa?"

Lisa menggeleng.

"Aku juga tidak tahu. Tadi staf HR yang menyampaikan supaya kamu segera datang."

Entah mengapa, dada Kayla kembali dipenuhi firasat buruk. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat tanpa alasan yang jelas.

Ia perlahan berdiri, merapikan seragamnya, lalu melangkah menuju ruang Direktur HRD dengan perasaan yang semakin tidak tenang.

1
Ariany Sudjana
Linda juga sama, apa ga ada niat untuk mencari kebenaran dulu? malah mau saja percaya dengan omongan pelacur murahan
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Lina, dan mau saja dibodohi sama perempuan sampah seperti Rina... katanya orang kaya, tapi bodohnya kebangetan
Ariany Sudjana
berarti Kayla anak kandungnya Linda yang hilang itu ya? semoga Adrian bisa menemukan siapa orang tua kandungnya Kayla, dan membungkam mulut si pelacur murahan Rina, juga Lina itu
Ariany Sudjana
kenapa bab 28 dan 29 isinya sama?
Adi Sudiro
wanita 2 menjijik kan apak mereka anak kandung..?
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan yang ga tahu diri kalian itu, Rina, Mila, sama saja, sama-sama pelacur dan kalian harusnya dibunuh saja, karena sudah mengusir istri bos. mampus kalian🤣🤣😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!