NovelToon NovelToon
ISTRI TITIPAN ABANG

ISTRI TITIPAN ABANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LENYAPNYA BENTENG TERAKHIR

Malam kembali menyelimuti kediaman keluarga Al-Idrus dengan sunyi yang berbeda. Tidak ada suara motor Zaid yang meraung di garasi, tidak ada suara Umi menyetel pengajian di ruang tengah. Hanya ada angin yang menabrak jendela kaca dan langkah Zaid yang berat menaiki anak tangga satu persatu.

Tubuhnya remuk. Bahu pegal karena seharian kuliah, kepala pening karena urusan geng yang belum selesai. Satu-satunya yang ia inginkan malam ini hanyalah satu: merebahkan diri di sofa kulit coklat kesayangannya. Sofa itu sudah jadi benteng terakhirnya. Garis pemisah yang jelas antara dunia kelam miliknya dan dunia suci milik Khadijah.

Tangan Zaid memutar gagang pintu. Klek.

Dan ia mematung.

"Lho? Mana sofanya?" gumamnya pelan, nyaris tidak percaya.

Ruangan itu kosong. Hanya ada ranjang besar di tengah dengan seprai putih polos. Tidak ada sofa. Tidak ada selimut tambahan. Tidak ada tempat untuk ia lari.

Di sudut kamar, Khadijah yang baru saja selesai merapikan mukenanya juga tampak terkejut. Matanya yang teduh membesar di balik cadar. Ia meremas ujung mukena putihnya gugup.

"Tadi sore beberapa orang suruhan Abi membawanya keluar, Zaid. Saya ingin melarang, tapi..." Suaranya tertahan, seperti takut salah bicara.

Belum selesai kalimat Khadijah, suara lain memotong dari ambang pintu.

"Umi yang buang."

Umi Syarifah berdiri di sana dengan mukena ungu dan tatapan yang tidak bisa dibantah. Dagunya terangkat. "Umi lelah melihat anak laki-laki Umi tidur meringkuk seperti kucing di sofa setiap malam. Punggungmu pasti sakit. Hati Umi juga sakit."

Ia melangkah masuk, menatap ranjang itu lama, lalu menatap Zaid dan Khadijah bergantian.

"Umi ini sudah tua. Teman-teman Umi, kalau kami bertemu di pengajian atau arisan, yang dibicarakan selalu soal cucu. 'Cucu saya sudah bisa jalan', 'Cucu saya sudah mulai bicara'. Sementara Umi? Umi cuma bisa diam."

Tok.

Pintu ditutup rapat dari luar.

Tinggal mereka berdua. Dan keheningan yang menyesakkan dada.

Zaid menghela napas panjang. Rahangnya mengeras. Dengan gerakan kaku dan penuh kesal, ia naik ke atas ranjang. Kasur berderit pelan. Ia memilih sisi kiri, paling ujung, sejauh mungkin dari sisi kanan.

Khadijah mengikutinya dengan hati-hati. Ia duduk di tepi ranjang dulu, berdzikir pelan, baru kemudian berbaring di sisi kanan. Jarak di antara mereka cukup untuk muat satu orang lagi.

Tebal. Keheningan di antara mereka terasa setebal tembok. Sampai-sampai suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman palu menghantam dada.

Zaid menoleh sedikit. Dari sudut matanya ia melihat Khadijah berbaring membelakanginya. Punggungnya kaku. Hijab tidurnya masih lengkap. Cadar tipisnya masih menutup rapat hingga ke leher. Bahkan untuk tidur pun ia "bersembunyi".

Dada Zaid mendadak sesak. Entah karena gerah, atau karena hal lain.

Gadis ini sudah kehilangan calon suaminya. Sudah dipaksa menikah dengannya. Dan sekarang... bahkan di kamarnya sendiri, ia tidak boleh melepas perisainya?

"Khadijah?" panggil Zaid pelan. Suaranya serak, pecah di tengah malam.

Khadijah tersentak kecil. "Iya, Mas Zaid?" jawabnya lirih, suaranya bergetar samar.

Zaid menatap langit-langit. Tangannya terlipat di bawah kepala. Jantungnya berdebar tidak karuan, entah kenapa.

"Apa kamu... betah tidur dengan cadar seperti itu?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Tanpa saringan. Tanpa pikir.

Ia tidak mengerti. Ia hanya merasa aneh. Merasa bersalah. Merasa seperti sedang memenjarakan seseorang di dalam rumahnya sendiri.

Ia menunggu jawaban. Sedetik. Dua detik.

Tapi rasa penasaran itu kalah oleh lelah yang menghantam. Bahu yang pegal. Mata yang perih. Otaknya yang sudah terlalu bising seharian.

Tanpa menunggu jawaban Khadijah, tanpa mau tahu apakah istrinya itu merasa sesak atau nyaman, Zaid memejamkan mata rapat-rapat.

Dan bodohnya, hanya dalam hitungan detik, napasnya teratur. Ia tertidur. Meninggalkan pertanyaan yang menggantung dan satu hati yang kebingungan.

Ia menoleh perlahan. Menatap punggung lebar Zaid yang kini tertidur pulas. Napas pria itu dalam dan tenang. Berbeda sekali dengan napasnya yang tertahan.

Pertanyaan Zaid tadi... terasa seperti kepedulian. Canggung, kaku, tapi tulus.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, ada yang bertanya apakah ia "betah", bukan "harus".

Tapi pria itu keburu pergi ke alam mimpi sebelum ia sempat menjawab.

Air mata Khadijah menggenang di balik cadar. Ia mengusapnya cepat-cepat.

"Saya hanya mencoba menjaga amanah, Mas," bisiknya sangat pelan pada gelap. "Amanah dari almarhum. Amanah dari Allah. Dan... amanah untuk tidak melukai hati Mas."

Ia memejamkan mata. Ranjang yang tadinya luas, malam ini terasa jauh lebih sempit. Bukan karena jaraknya. Tapi karena di antara mereka, benteng terakhir... sudah benar-benar lenyap.

1
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!