NovelToon NovelToon
Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Penyesalan Suami
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.

Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.

Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mampu menghangatkan hati Nadia yang sejak tadi dipenuhi luka. Dila tersenyum lembut. "Aku tahu malam ini kamu merasa duniamu runtuh. Tapi percayalah, Nad. Laki-laki yang pergi bukan akhir dari kehidupan seorang perempuan." Nadia hanya diam, mendengarkan. "Kamu cantik, kamu pintar, kamu juga pekerja keras. Selama ini kamu terlalu sibuk menjadi istri yang baik sampai lupa kalau kamu juga perempuan hebat." Dila mengusap punggung tangan Nadia pelan. "Besok mungkin kamu akan menangis lagi. Minggu depan mungkin kamu masih merasa sakit. Bulan depan pun mungkin lukanya belum sembuh. Tapi suatu hari nanti..." Dila tersenyum penuh keyakinan. "Kamu akan bangun pagi tanpa memikirkan Reno lagi."

Nadia menundukkan kepala. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya kembali jatuh. "Aku harap hari itu benar-benar datang."

"Pasti datang."

"Kalau ternyata aku gagal?"

Dila menggeleng mantap. "Nggak ada kata gagal buat perempuan yang berani keluar dari hubungan yang menyakitinya." Ia lalu memeluk Nadia erat. "Mulai malam ini, kamu nggak perlu menghadapi semuanya sendirian."

Nadia membalas pelukan itu. "Terima kasih, Dil."

"Nggak usah berterima kasih." Dila tersenyum sambil menatap mata sahabatnya. "Cukup izinkan aku berjalan di sampingmu... sampai kamu mendapatkan kembali kebahagiaan itu. Kebahagiaan yang kali ini bukan bergantung pada Reno, melainkan lahir dari dirimu sendiri."

***

Dua hari kemudian, Nadia akhirnya menemukan sebuah rumah kontrakan sederhana yang letaknya tidak jauh dari sekolah Kian. Rumah itu hanya terdiri dari dua kamar tidur, satu kamar mandi, ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga, serta dapur kecil di bagian belakang. Cat temboknya mulai memudar dan beberapa sudut rumah tampak membutuhkan perbaikan, tetapi bagi Nadia, tempat itu sudah lebih dari cukup. Setidaknya, tidak ada kenangan tentang Reno di sana.

Setelah menandatangani perjanjian sewa, Nadia dan Kian mulai menata rumah baru mereka. Tidak banyak barang yang mereka miliki. Hanya beberapa koper berisi pakaian, dokumen penting, serta perlengkapan seadanya yang dibawa dari rumah lama.

Namun, ada satu barang yang sengaja dibeli Nadia sebelum membeli kebutuhan lain. Sebuah mesin jahit. Mesin itu berdiri di sudut ruang tamu, masih mengilap karena baru keluar dari kardus. Nadia mengusap permukaannya perlahan, seolah sedang menyentuh secercah harapan yang selama ini terkubur. "Dari sinilah kita mulai lagi," gumamnya pelan.

Kian yang berdiri di sampingnya ikut tersenyum. "Ibu mau bikin baju? Banyak?"

Nadia mengangguk. "Semoga nanti banyak yang pesan."

Sebenarnya, menjahit bukanlah hal baru bagi Nadia. Jauh sebelum menikah dengan Reno, ia pernah kuliah di jurusan desain busana. Sejak kecil ia memang menyukai kain, benang, dan pola. Ia sering membayangkan suatu hari nanti memiliki merek pakaiannya sendiri. Sayangnya, mimpi itu berhenti di tengah jalan.

Saat Reno melamarnya, Nadia memilih menikah. Kuliahnya terpaksa ditinggalkan. Setelah itu, hari-harinya habis untuk mengurus rumah tangga dan mendukung Reno membangun usahanya.

Bertahun-tahun berlalu. Mimpi itu nyaris terlupakan. Hingga akhirnya, pengkhianatan Reno justru membangunkannya kembali. Kini, di rumah kontrakan sederhana itu, Nadia memutuskan untuk memulai dari nol. Ia memasang pengumuman di media sosial dan grup warga sekitar bahwa dirinya menerima jasa permak pakaian, menjahit gamis, kebaya, seragam sekolah, hingga busana muslim sesuai pesanan. Ia sadar, penghasilannya mungkin tidak langsung besar. Bahkan mungkin, dalam sebulan pertama ia hanya akan mendapat beberapa pelanggan. Tetapi Nadia tidak punya pilihan selain terus melangkah. Ia tidak memiliki orang tua yang bisa dimintai bantuan. Ia tidak memiliki suami yang akan menanggung kebutuhan hidupnya. Dan yang paling penting, ia memiliki seorang anak yang setiap hari harus diberi makan, disekolahkan, dan dibesarkan dengan layak.

Tidak ada waktu untuk meratapi nasib. Tidak ada waktu untuk berleha-leha. Setiap detik yang ia habiskan untuk menangisi Reno adalah detik yang seharusnya bisa digunakan untuk membangun masa depan Kian.

Nadia menarik kursi, duduk di depan mesin jahit barunya, lalu menarik napas panjang. "Reno pernah bilang aku nggak akan bisa hidup tanpa dia," bisiknya pelan sambil menyalakan mesin jahit itu untuk pertama kali. Suara mesin mulai berdengung memenuhi ruangan yang masih sederhana. Nadia tersenyum tipis. "Kalau begitu... biar mesin ini yang membuktikan kalau ucapannya salah."

***

Sore itu, Nadia baru saja selesai menyapu lantai rumah kontrakannya. Meski masih banyak kardus yang belum dibongkar, setidaknya rumah kecil itu mulai terasa layak dihuni. Ponselnya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar. Nama Reno kembali muncul di layar. Nadia menghela napas pelan sebelum membuka pesan itu.

[Kalau mau pergi, jangan bawa mobil. Itu mobilku. Sharelok sekarang, atau aku laporkan ke polisi karena sudah membawa kabur mobilku!]

Nadia mematung. Tangannya perlahan turun. Dadanya kembali terasa sesak. "Ya Allah..." lirihnya.

Dila yang sedang membantu menyusun peralatan dapur menoleh. "Kenapa lagi?" Tanpa berkata apa-apa, Nadia menyerahkan ponselnya. Dila membaca pesan itu sekali, lalu mendengus kesal. "Kurang ajar."

Nadia memejamkan mata sejenak. "Padahal..." suaranya bergetar. "Mobil itu hadiah pernikahan dari dia." Ia masih ingat betul hari ketika Reno menyerahkan kunci mobil itu kepadanya. Dengan senyum lebar, Reno berkata, 'Ini hadiah buat istri tercantikku. Mau dipakai sampai kapan pun, mobil ini milik kamu.' Nadia begitu bahagia waktu itu. Ia tidak pernah menyangka, hadiah yang dulu diberikan atas nama cinta kini ditarik kembali dengan ancaman. "Ternyata... hadiah pun bisa berubah jadi senjata."

Dila mengembalikan ponsel itu sambil menggeleng pelan. "Benar-benar ya, Reno benar-benar sudah dibutakan sama cinta barunya." Nadia terdiam. "Orang yang dulu bilang ingin membahagiakan kamu seumur hidup, sekarang bahkan tega mengancam ibu dari anaknya sendiri gara-gara sebuah mobil." Dila menghela napas panjang. "Sudahlah. Kalau memang itu haknya menurut dokumen kepemilikan, kembalikan saja." Nadia menatap sahabatnya. "Biar dia puas mengambil semuanya. Tapi jangan pernah biarkan dia mengambil harga dirimu."

Kalimat itu membuat Nadia mengangguk pelan. Ia kembali membuka pesan Reno, lalu mengetik balasan singkat.

[Baik. Mobil akan saya kembalikan hari ini. Terima kasih atas hadiahnya selama ini. Eh maksudku, pinjaman hadiahnya. Hehehe.]

Tidak ada makian. Tidak ada permohonan. Tidak ada perdebatan. Hanya sebuah kalimat yang sekaligus menjadi penutup atas semua kenangan yang pernah mereka bangun bersama. Begitu pesan terkirim, Nadia memandangi kunci mobil yang berada di atas meja. Ia menggenggamnya erat selama beberapa detik, lalu meletakkannya kembali. "Kalau kebahagiaanmu ternyata lebih berharga daripada janji yang pernah kamu ucapkan," bisiknya lirih, "ambillah mobilmu, Reno. Aku masih bisa mencari kendaraan baru. Tapi kehormatan yang sudah kamu hilangkan dariku tidak akan pernah bisa kamu kembalikan."

1
falea sezi
knp jd bertele tele thor😒 kayak ikan terbang🤣
falea sezi
kenapa Fachri jd goblokk🤣🤣 niat bantuin. g sih
Iffanaya 😽
kk aku ikutan mewek...pls Thor bikin kian balik ke ibunya trs bongkar kebusukan karin Thor gk tega liat kian tertekan 😭😭
Muji Lestari
lanjutt thorrr
falea sezi
lanjut
falea sezi
makanya jd istri jangan bego wkt jd istri nabung yg banyak kuras harta sembunyikan klo suami selingkuh qm cerai g susah 😒
Iffanaya 😽
ditunggu lanjutannya kk 🫶
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!