Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 - Kecoak
"Ayo kita makan saja," tambah Adnan sambil sudah menarik kursi dan hendak menyantap nasi hangat itu.
Gladys segera menyadari, wajahnya makin memerah padam melihat kelalaian pemuda itu. "Hei... tunggu dulu! Pakailah baju dulu, Ad! Mana pantas makan hanya dengan handuk begitu? Nanti sakit kedinginan juga!" serunya sambil mendorong bahu Adnan pelan agar kembali ke kamar. "Cepatlah, aku mau mandi juga setelah ini. Kamu makan saja duluan, jangan tunggu aku."
Adnan terkekeh pelan sambil menggaruk kepalanya yang masih basah, baru sadar dirinya masih setengah telanjang. "Iya, iya... maaf, aku terlalu lapar sampai lupa diri. Baiklah, aku pakai baju dulu, kamu mandilah pelan-pelan ya." Ia pun berjalan santai menuju kamarnya, tak lama kemudian kembali mengenakan kaos oblong dan celana panjang yang nyaman, lalu duduk menikmati hidangan sederhana namun lezat buatan Gladys.
Sementara itu, Gladys mengambil pakaian ganti yang sudah disiapkannya tadi, lalu melangkah masuk ke kamar mandi yang bersih itu. Ia mengunci pintu dari dalam, merasa aman dan tenang.
Segera dia melepas pakaiannya, membiarkan air mengalir membasahi seluruh tubuh, menghapus rasa lelah dan ketegangan yang menumpuk berhari-hari lamanya. Rasa dingin air yang segar membuatnya merasa seolah jiwanya juga ikut dibersihkan dari debu masa lalu yang kelam.
Namun tiba-tiba, saat ia memejamkan mata menikmati siraman air, pandangannya menangkap bayangan kecil berwarna cokelat gelap yang bergerak cepat di sudut dinding dekat lubang pembuangan. Matanya terbelalak kaget. Serangga bersayap lebar dengan kaki yang panjang dan mengerikan itu, kecoak besar tiba-tiba terbang rendah tepat ke arahnya!
Refleks ketakutan langsung menguasai dirinya. Ia melompat mundur sambil menepis-nepis udara, lalu tanpa sadar melontarkan teriakan melengking yang menggetarkan dinding kamar mandi.
"Adnan!! Tolong! Ada... ada kecoak besar sekali!!"
Suara jeritan itu begitu keras dan panik hingga seketika membuat sendok yang sedang dipegang Adnan terjatuh ke piring. Tanpa berpikir dua kali, rasa khawatir mendesak dadanya. Ia melompat bangun dari kursi dan berlari cepat menuju pintu kamar mandi.
"Gladys! Apa yang terjadi?!" serunya sambil mengetuk pintu cepat. "Kau tidak apa-apa?!"
Belum sempat dia selesai bertanya, pintu itu tiba-tiba tersibak lebar dari dalam. Dan seketika mulut Adnan ternganga lebar, matanya membelalak tak percaya hingga rasanya mau copot dari rongganya.
Gladys berdiri di sana, di ambang pintu, namun tidak ada sehelai kain pun yang menutupi tubuhnya. Kulitnya yang putih bersih masih basah berkilau terkena percikan air, setiap lekuk tubuhnya yang indah dan halus terekam jelas oleh mata Adnan yang mendadak kaku dan tak bisa berkedip. Darah seketika mengalir deras ke wajah dan telinganya, membuatnya merah padam seperti cabai matang. Ia langsung menutup matanya rapat-rapat dengan kedua telapak tangan, membalikkan badannya sedikit ke belakang.
"Ya Tuhan! Kenapa kau keluar begitu saja?!" seru Adnan dengan suara serak dan tertahan, napasnya tersendat-sendat karena terkejut luar biasa. "Segera pakai handuk! Cepat ambil handukmu, Gladys!"
Namun Gladys seolah lupa segalanya karena ketakutan yang meluap-luap. Tubuhnya gemetar hebat, matanya berkaca-kaca penuh air mata ketakutan, dan ia malah melangkah keluar sedikit lagi sambil menunjuk gemetar ke arah dalam kamar mandi. "Tidak mau... tidak mau masuk lagi! Itu besar sekali, Ad... mengerikan sekali! Dia terbang ke arahku tadi!" tangisnya mulai terdengar, ia sama sekali tidak sadar atau lupa bahwa ia sedang berdiri telanjang bulat di depan pria lain.
Adnan bingung setengah mati. Di satu sisi ia sangat khawatir melihat ketakutan gadis itu, tapi di sisi lain ia merasa sangat canggung dan tidak tahu harus melihat ke mana. Ia tetap memejamkan mata rapat, satu tangannya terulur ke depan namun berhenti di udara tak berani menyentuh.
"Kau... kau lupa kalau tidak memakai apa-apa?!" keluh Adnan setengah berbisik, suaranya campur aduk antara panik, malu, dan sedikit geli yang tak bisa ditahan. "Aku tidak melihat... aku janji tidak melihat! Tapi tolong ambil kain atau handuk dulu! Nanti masuk angin lho!"
"Tapi aku takut!" rengek Gladys, ia malah berjalan mendekat sedikit lagi karena mencari perlindungan, membuat Adnan makin panik sampai harus mundur selangkah sambil tetap memelototi langit-langit seolah ada hal menarik di sana.
"Baiklah, baiklah! Aku yang akan mengusirnya! Tunggu sebentar di sini, jangan bergerak!" akhirnya Adnan mengambil keputusan cepat. Dengan mata masih melirik sekilas hanya untuk memastikan arah, ia meraih handuk besar yang tergantung di dinding lorong, lalu dengan cepat namun sopan ia lempar-lipatkan ke arah tubuh Gladys hingga menutupi bagian pentingnya. "Sudah tertutup! Sekarang tunggu di sini ya, aku selesaikan masalah serangga itu!"
Adnan pun melangkah masuk ke kamar mandi dengan wajah masih merah padam, sementara Gladys yang kini sudah terbungkus kain tebal akhirnya sadar betapa memalukan kejadian tadi. Wajahnya memerah sampai ke telinga, ia meringkuk di sudut lorong sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, namun perlahan terdengar suara tawa kecil yang memecah ketegangan.
Tak lama kemudian Adnan keluar kembali dengan wajah lega dan sedikit senyum tersembunyi di sudut bibirnya. "Sudah pergi... serangga kecil saja bisa membuatmu lupa segalanya ya?" godanya pelan, meski matanya penuh kelembutan.
Gladys mendongak sambil tersenyum malu namun juga tertawa kecil, suasana yang kacau itu justru membuat beban di hati mereka terasa lebih ringan dan penuh warna yang tak terduga.
udah baca Thor novel terbarunya 🔥🔥🔥🔥seru