Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Ganda melangkah masuk ke dalam rumah baru mereka dengan helaan napas yang jauh lebih ringan.
Wejangan penuh hikmah dari Abah Kiai di pondok tadi berhasil mengurai benang kusut di kepalanya.
Meskipun begitu, ia tahu badai di dalam rumah ini belum sepenuhnya reda; atmosfer di ruang tengah masih terasa begitu kaku dan dingin.
Tanpa membuang waktu untuk menunda masalah, Ganda langsung mengumpulkan kedua istrinya di ruang tengah.
Diaz yang baru saja mematikan televisinya dan Laura yang masih bermuka masam kini duduk berseberangan.
"Siap-siap sekarang. Kita semua ke mall untuk belanja bulanan dan membeli sisa perabotan yang masih kurang," ujar Ganda, memecah keheningan dengan nada suara yang tenang namun tak membantah.
Diaz langsung mendengus, melipat tangan di dada dan menolak mentah-mentah.
"Pergilah berdua dengan Laura, Ganda. Aku di rumah saja."
Mengingat nasihat Abah Kiai untuk bersikap tegas dan tidak membiarkan egonya maupun ego istri-istrinya mengacaukan rumah tangga, Ganda langsung menggunakan otoritasnya sebagai suami. Ia menatap Diaz lekat-lekat.
"Tidak ada bantahan, Diaz. Kamu istri pertamaku, dan ini rumah kita bersama. Kamu harus ikut untuk memilih sendiri keperluanmu. Ayo bersiap," potong Ganda dengan ketegasan yang mutlak, sorot matanya mengunci perdebatan.
Melihat kilat ketegasan yang jarang ditunjukkan Ganda itu, Diaz akhirnya mendesah pasrah.
Ia mengalah dan bangkit berdiri untuk bersiap-siap, meskipun wajahnya ditekuk penuh keterpaksaan.
Di sudut lain, Laura tersenyum puas, mengira ketegasan Ganda adalah bentuk pembelaan untuknya agar mereka segera keluar.
Sesampainya di mall besar di pusat kota, tujuan pertama yang mereka datangi adalah sebuah butik pakaian ternama.
Ganda menuntun kedua istrinya masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi deretan busana berkelas tersebut.
"Pilihlah baju yang kalian sukai. Ambil saja yang menurut kalian nyaman," ucap Ganda lembut kepada keduanya.
Namun, alih-alih hanya menunggu, Ganda justru turun tangan langsung ke barisan manekin.
Langkah kakinya membawa pria itu ke bagian pakaian wanita dewasa.
Dengan jeli, Ganda memilihkan beberapa pasang pakaian elegan bergaya modern-minimalis yang sangat cocok dengan postur tubuh Diaz.
Tak hanya itu, mengingat momen mendebarkan dan sakral di hotel mewah malam sebelumnya, jemari Ganda perlahan mengambil sepasang baju tidur berkualitas tinggi—sebuah gaun tidur lembut yang anggun—lalu menyerahkannya langsung ke tangan Diaz.
Diaz tertegun, wajahnya mendadak merona tipis menerima pilihan suaminya yang begitu spesifik.
Melihat pemandangan itu, Laura yang berdiri tak jauh dari mereka seketika merasa tersisih.
Rasa cemburu dan gengsinya seolah diinjak-injak
Laura langsung merengek, memegangi lengan jubah Ganda dengan wajah manja yang dipaksakan.
"Mas Ganda... kok hanya Diaz? Aku juga mau dipilihkan baju oleh Mas! Pilihkan yang bagus untukku demi gengsi kita kalau ke pondok, Mas!"
Saat Ganda baru saja hendak menanggapi rengekan Laura, dari arah sudut dekat ruang ganti, dua orang karyawan butik tampak sedang merapikan gantungan baju.
Mereka memperhatikan interaksi segitiga tersebut dan mulai berbisik-bisik, mengira suara mereka tidak akan terdengar.
"Eh, lihat deh mas-mas yang itu. Istrinya dua ya? Tapi kalau dilihat-lihat, masih cantikan istri yang pakai jilbab syar'i itu ya, adem banget dilihatnya. Cocok sama suaminya," bisik karyawan berambut pendek.
"Iya, benar. Daripada yang satunya itu... dandanannya rada aneh untuk ukuran istri ustaz, gaya kota banget, kurang pas," sahut temannya sambil melirik ke arah Diaz dengan pandangan menilai yang merendahkan.
Suara itu sejatinya cukup jelas tertangkap oleh rungu Diaz yang berdiri hanya beberapa meter dari mereka.
Sontak, jemari Diaz yang memegang gaun tidur pilihan Ganda sempat menegang sejenak.
Namun, alih-alih mengamuk hebat atau melayangkan tamparan brutal seperti yang ia lakukan pada Laura tadi pagi, Diaz justru menarik napas panjang.
Ia hanya menggelengkan kepalanya pelan dengan senyum tipis yang sarat akan kepasrahan.
Sisi kerasnya tidak terusik oleh komentar picik seperti itu; ia sudah teramat kenyang dengan stigma dan penghakiman sepihak orang-orang daerah terhadap penampilannya sebagai wanita kota.
Diaz memilih abai, meletakkan baju pilihan Ganda di lengannya, dan melangkah menuju kasir tanpa berniat memperpanjang urusan.
Setelah menyelesaikan urusan di butik pakaian, ketiganya melanjutkan agenda mereka ke area bahan pokok di supermarket besar mall tersebut.
Di sinilah dominasi Diaz sebagai wanita modern yang mandiri mulai terlihat sepenuhnya.
Berbeda dengan urusan memilih baju muslimah yang membuatnya canggung, untuk urusan dapur, Diaz sudah sangat hafal mana bahan makanan yang berkualitas, segar, dan layak konsumsi.
Tangannya dengan cekatan memilah sayuran, daging, dan bumbu-bumbu terbaik, lalu memasukkannya ke dalam troli yang didorong oleh Ganda. Tak lupa, ia juga mengambil beberapa camilan (snack) dan roti kesukaannya untuk stok di kamar.
Sementara itu, Laura yang tidak tahu banyak soal belanja bulanan berskala besar hanya bisa angkat tangan.
Ia mengekor pasif di belakang troli, membiarkan Diaz kelelahan memilih dan menimbang semua barang sendirian tanpa berniat membantu sedikit pun.
Saat Ganda sedang bergeser beberapa langkah ke lorong sebelah untuk mengambil minyak goreng, Laura memanfaatkan kesempatan itu.
Ia mendekati Diaz yang sedang memeriksa tanggal kedaluwarsa sekotak susu, lalu berbisik dengan nada yang teramat sinis, "Kamu memang cocok ya kerja memilah-milah barang begini. Cocok jadi pembantu rumah tangga di rumah baru kita nanti."
“Laura! Jaga bicaramu!”
Sebuah teguran bernada rendah namun teramat tajam tiba-tiba terdengar dari arah belakang.
Ganda, yang ternyata sudah kembali dan mendengar sayup-sayup ucapan merendahkan itu, menatap Laura dengan sorot mata memperingatkan.
Laura seketika bungkam, wajahnya berubah masam dan ia langsung membuang muka karena malu tertangkap basah oleh suaminya sendiri.
Setelah seluruh belanjaan selesai dibayar di kasir, Ganda membawa kedua istrinya menuju ke food court di lantai atas untuk makan siang.
Demi mencairkan suasana, Ganda memesan beberapa menu nusantara: nasi campur, mie goreng, dan ayam bakar untuk dinikmati bersama di satu meja panjang.
Di tengah suasana makan yang awalnya hening dan kaku, Diaz tiba-tiba meletakkan sendoknya.
Ia menatap Laura yang duduk di hadapannya dengan pandangan menantang.
Menunaikan niatnya yang sempat tertunda di kamar tidur tadi, Diaz melipat kedua tangannya di atas meja.
"Laura, ayo beritahu suamimu tentang obrolan kita di depan kamar tadi," cetus Diaz memecah keheningan.
Ganda seketika menghentikan kunyahannya. Ia meletakkan sendok, lalu mengerutkan keningnya dalam-dalam.
"Obrolan apa?" tanya Ganda, tatapannya bergantian menatap kedua istrinya.
Wajah Laura seketika memucat. Ia tergagap, meremas tisu di tangannya dengan panik.
"I-itu... enggak ada apa-apa, Mas. Diaz cuma bercanda..."
"Ada apa, Diaz? Katakan," tuntut Ganda, mengabaikan kepanikan Laura karena ia mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres yang sengaja disembunyikan darinya.
Diaz menyunggingkan senyum tipis, lalu berbicara dengan nada yang teramat santai namun setiap katanya terasa menusuk lurus ke ulu hati.
"Laura memintaku agar aku meminta cerai darimu, Ganda. Katanya, di rumah tangga ini aku hanya pengganggu hubungan kalian berdua. Dan setelah dipikir-pikir kembali, aku tidak masalah, Ganda. Karena aku kan baru sebentar bersamamu, sedangkan kalian berdua sudah lama punya hubungan di pondok."
Brak!
Ganda meletakkan sendok dan garpunya ke atas piring dengan sentakan tegas yang menimbulkan denting keras.
*Cukup!" bentak Ganda dengan suara yang ditekan rendah, menahan volumenya sekuat tenaga agar mereka tidak menjadi pusat perhatian pengunjung lain di food court.
Dada Ganda naik turun menahan emosi. Ia menatap Diaz dengan tatapan yang terluka sekaligus tegas.
"Hentikan bicaramu, Diaz. Ayo kita makan, dan jangan pernah lagi kamu berani bicara soal cerai di depanku," ucap Ganda, menyiratkan bahwa kata cerai adalah hal sakral yang tidak boleh dijadikan senjata mainan.
Setelah mengunci pergerakan Diaz, kilat amarah yang dingin di mata Ganda beralih sepenuhnya menatap Laura yang sudah gemetar di kursinya.
"Dan kamu, Laura. Dengarkan aku baik-baik. Jangan pernah suka mengadu domba, memancing keributan, dan menanamkan pikiran buruk pada madumu!"
Suasana di meja makan itu mendadak mencekam.
Laura hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam, menahan tangis malu dan takut karena lagi-lagi mendapat teguran keras dari Ganda di tempat umum
Sementara itu, Diaz kembali meraih sendoknya, melanjutkan makannya dengan tenang sembari menyembunyikan senyum kemenangan kecil di balik wajah cueknya.
Penilaian miring orang-orang di butik tadi terbayar lunas setelah melihat Laura tak berkutik di bawah ketegasan Ganda.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡