The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.
Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.
📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lakeview Inn
Evergreen muncul ketika matahari sudah hampir menyentuh garis perbukitan di sebelah barat.
Dari kejauhan, desa itu tidak tampak seperti desa pertanian sebagaimana namanya membuatku membayangkan. Tidak ada hamparan ladang luas, pagar-pagar panjang, atau lumbung besar yang berdiri di antara rerumputan. Evergreen adalah desa pelabuhan yang dibangun mengikuti lengkungan tepi Blue Lake. Rumah-rumah beratap curam berdesakan di sepanjang jalan menurun, sementara dermaga-dermaga kayu menjulur dari pantai seperti jari-jari gelap ke atas air.
Danau itu terbentang jauh di hadapan kami.
Aku pernah melihatnya pada peta, juga pada beberapa lukisan yang tergantung di ruang pertemuan istana, tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar memperlihatkan ketenangannya. Air Blue Lake begitu jernih dan luas hingga permukaannya tampak menyatu dengan langit. Cahaya senja yang berwarna jingga jatuh di atasnya dalam bentangan panjang, bergetar ketika disentuh riak-riak kecil dari perahu yang pulang menuju dermaga.
Tiang-tiang layar berdiri di sepanjang pelabuhan. Sebagian kapal hanya perahu nelayan kecil dengan jaring digulung di buritan. Beberapa lainnya lebih besar, memiliki ruang penyimpanan tertutup dan layar yang dilipat rapat. Para pekerja mengangkat peti ikan, karung gandum, tong minyak, serta keranjang buah dari geladak. Suara mereka bercampur dengan decit katrol, benturan kayu, kepakan burung air, dan bunyi tali kapal yang menegang setiap kali arus mendorong lambung ke sisi dermaga.
Bau danau memenuhi udara. Air dingin, ikan, kayu basah, asap perapian, dan garam yang dipakai mengawetkan hasil tangkapan melekat di sepanjang jalan utama.
Aku memandang papan bertuliskan EVERGREEN yang tergantung miring di antara dua tiang dekat gerbang desa. Huruf-hurufnya dicat hijau tua, dikelilingi ukiran daun cemara.
Nama itu tetap terasa seperti kesalahan.
Evergreen terdengar seperti tempat para petani menanam gandum di bawah bukit hijau, bukan desa pelabuhan yang hidup dari ikan dan kapal. Namun mungkin pohon-pohon cemara yang tumbuh rapat di lereng utara danau menjadi asalnya. Aku tidak bertanya. Setelah perjalanan berhari-hari, alasan sebuah desa diberi nama tidak terasa cukup penting untuk menghabiskan tenaga.
Gerobak melambat ketika memasuki jalan yang semakin ramai. Orang-orang menyingkir agar ketiga kuda dapat lewat. Kuda jantan di bagian depan mengangkat kepala, mendengus keras, lalu menarik gerobak melewati deretan kios yang mulai menutup untuk malam. Dua kuda betina mengikutinya dengan langkah lebih lambat, tubuh mereka mengeluarkan uap tipis setelah perjalanan panjang.
Aku dan Marlow masih berada di bawah kanopi ketika gerobak berhenti dekat sebuah gudang rempah. Pria tua itu menarik tali kekang, lalu mengumumkan bahwa kami sudah sampai di Evergreen dengan nada seolah ia baru menyelesaikan pekerjaan yang dilakukan setiap minggu sepanjang hidupnya.
Marlow turun lebih dahulu. Ia mengangkat ujung kanopi, memeriksa jalan sebelum memberi ruang kepadaku untuk keluar. Ketika kakiku menyentuh tanah, lututku terasa kaku setelah terlalu lama duduk di antara karung-karung rempah. Aku meluruskan punggung perlahan dan menahan rasa nyeri yang menjalar dari rusuk.
Ishar sudah turun dari kursi depan.
Mantel Rosh masih membungkus bahunya. Angin dari danau menggerakkan rambut pirangnya yang kusut, tetapi ia tidak berusaha merapikannya. Selama perjalanan, ia lebih banyak mendengarkan pria tua itu berbicara daripada menjawab. Kini ia berdiri sedikit jauh dari kami, memandang air danau yang memantulkan matahari senja.
Pria tua itu turun dari gerobak untuk memeriksa tali pada salah satu karung. Marlow mendekatinya dan mengulurkan tangan.
“Terima kasih atas tumpangannya.”
Pria itu menerima jabatan tangannya, lalu mendengus kecil.
“Aku hanya menyelamatkan kaki kalian. Jalan itu akan tetap membawa kalian kemari meski aku membiarkan kalian berjalan.”
Ia melihat kepada Ishar.
“Cari tempat yang hangat malam ini. Angin danau akan lebih dingin setelah matahari turun.”
Ishar menundukkan kepala sedikit. “Terima kasih.”
Pria tua itu kemudian memandangku. Tatapannya berhenti pada luka di wajah dan pakaian lembap yang sudah dipenuhi debu.
“Dan kau, anak muda, jangan cari perkelahian lagi sebelum luka lama menutup.”
Aku hampir mengatakan bahwa aku tidak pernah mencari perkelahian. Kalimat itu terasa terlalu bodoh bahkan sebelum keluar. Aku hanya mengangguk.
Ia tertawa kecil, menaiki kembali kursi pengemudi, lalu menggerakkan gerobaknya menuju gudang. Ketiga kuda berjalan pelan, membawa aroma pala, lada, kayu manis, dan daun kering menjauh bersama bunyi roda.
Kami berdiri bertiga di tepi jalan.
Marlow memeriksa bangunan-bangunan di sekitar pelabuhan. Sebuah papan bergambar ikan tergantung di atas rumah makan. Di seberangnya terdapat bengkel tali dan layar. Lebih jauh, lampu-lampu mulai dinyalakan di depan penginapan dua lantai yang menghadap langsung ke danau.
Tulisan pada papannya terbaca ketika kami mendekat.
LAKEVIEW INN
Nama yang tidak terlalu kreatif, tetapi setidaknya jujur.
Bangunan penginapan terbuat dari kayu gelap dengan fondasi batu. Jendela-jendela lantai atas memantulkan warna jingga dari langit, sementara cahaya kuning keluar dari ruang utama di bawah. Sebuah serambi sempit menghadap ke danau. Beberapa kursi diletakkan di sana, tetapi udara yang semakin dingin membuat semuanya kosong.
Ketika Marlow membuka pintu, udara hangat langsung menyentuh wajahku.
Ruang utama dipenuhi bau sup ikan, bir, kayu terbakar, dan pakaian basah. Beberapa meja sudah ditempati para pelaut serta pedagang yang baru kembali dari dermaga. Suara percakapan mereka menutupi bunyi langkah kami. Tidak ada seorang pun yang langsung memperhatikan wajahku, meskipun aku tetap menundukkan kepala dan membiarkan rambut jatuh ke dahi.
Seorang laki-laki bertubuh gemuk berdiri di balik meja penerima tamu. Rambutnya mulai menipis, tetapi kumisnya tebal dan terawat. Ia memandang pakaian kami, pedang Marlow, lalu Ishar yang berdiri sedikit terpisah.
“Kamar?”
“Dua,” jawab Marlow.
Pemilik penginapan mengangkat alis. “Satu malam?”
Marlow menoleh singkat ke arah jendela, mungkin mengukur waktu dan jarak yang masih harus kami tempuh.
“Satu malam.”
Pria itu menyebutkan harga. Marlow memasukkan tangan ke kantung bagian dalam mantelnya. Beberapa keping koin kecil terdengar saling bergesekan sebelum ia mengeluarkannya ke atas meja.
Aku mengenali koin-koin itu sebagai sisa uang yang dibawanya dari Gisa.
Marlow menghitungnya satu per satu. Setelah koin terakhir diletakkan, telapak tangannya tetap terbuka sesaat di atas meja. Tidak ada apa pun yang tersisa di sana. Pemilik penginapan mengambil semuanya, menggigit salah satu keping untuk memeriksa logam, lalu menyapu uang tersebut ke dalam laci.
Tanganku masuk ke saku tanpa kusadari.
Jari-jariku tidak menemukan koin tembaga, perak biasa, atau emas kerajaan. Yang kusentuh hanya satu benda bulat dengan tepian yang sudah kukenal. Aku mengeluarkannya sedikit, cukup untuk melihat permukaan perak yang berkilat redup di bawah cahaya lampu.
Seekor burung terukir di sana dengan sayap terbentang.
Koin yang diberikan Dad pada malam aku meninggalkan istana Izengard.
Benda itu mungkin memiliki nilai lebih besar daripada seluruh uang yang baru diserahkan Marlow. Peraknya murni dan pengerjaannya halus. Namun menggunakannya untuk membayar kamar terasa sama mustahilnya dengan menjual ingatan terakhir tentang Dad. Selain itu, siapa pun yang memahami ukiran tersebut mungkin akan mengajukan pertanyaan yang tidak ingin kami jawab.
Aku menggenggamnya, lalu memasukkan tangan kembali ke saku.
Pemilik penginapan menyerahkan dua kunci besi kepada Marlow. Satu memiliki keping kayu bernomor tujuh, sedangkan yang lain bernomor delapan.
“Dua kamar di lantai atas. Air hangat dibayar terpisah.”
Marlow mengeluarkan napas pelan. “Kami tidak punya uang lagi.”
Pria itu melihat keadaan kami sekali lagi. Tatapannya turun pada noda lama di pakaian Ishar dan luka-luka di wajahku. Ia menggaruk kumisnya, lalu menunjuk tangga.
“Aku akan minta anakku mengisi dua bak. Anggap saja supaya kalian tidak mengotori tempat tidur.”
Marlow mengangguk. “Kami berutang kepadamu.”
“Kalian berutang untuk tidak membawa kutu ke kamarku.”
Ia memanggil seorang pemuda yang sedang membawa tumpukan mangkuk. Pemuda itu mengambil dua ember kayu dan menghilang melalui pintu belakang, sementara kami menaiki tangga menuju lantai atas.
Lantainya berderit pada setiap langkah. Lorong di atas sempit, diterangi lampu minyak yang dipasang pada dinding. Bau sabun, kain lembap, dan kayu tua menggantikan aroma makanan dari bawah.
Marlow berhenti di antara kamar tujuh dan delapan.
Ia menyerahkan salah satu kunci kepada Ishar.
“Kamar ini untukmu.”
Ishar menerima kunci itu tanpa mengatakan apa pun. Matanya sempat bergerak dari kunci ke wajah Marlow, seolah tidak menyangka akan mendapat kamar sendiri.
Aku juga memandangnya.
Kami tidak memiliki uang tersisa. Dua kamar berarti dua tempat tidur, dua pintu, dan dua kali harga yang mungkin dapat dihemat dengan berdesakan dalam satu ruang. Namun Marlow tidak pernah mempertimbangkan meminta Ishar tidur bersama kami. Tidak setelah pakaiannya dirobek tentara, tidak setelah segala sesuatu yang terjadi di rumah Danmer.
Ia masih memikirkan kehormatan Ishar, bahkan ketika gadis itu sendiri mungkin terlalu lelah untuk memedulikannya.
Ishar membuka pintu kamar tujuh. Sebelum masuk, ia berhenti dan menatap Marlow.
“Terima kasih.”
Suaranya sangat pelan.
Marlow hanya mengangguk.
Pintu menutup di belakang Ishar, menyisakan aku dan Marlow di lorong. Ia membuka kamar delapan, lalu membiarkanku masuk lebih dahulu.
Kamar kami kecil, tetapi jauh lebih baik daripada tanah, rumput, atau lantai rumah yang ditinggalkan terburu-buru. Dua ranjang sempit berdiri di sisi berlawanan. Di antara keduanya terdapat meja kecil dengan lampu minyak. Sebuah jendela menghadap langsung ke Blue Lake. Warna jingga di atas permukaan air mulai berubah menjadi ungu gelap.
Di sudut belakang terdapat pintu menuju kamar mandi kecil. Bak kayu bundar telah diletakkan di dalamnya. Tidak lama kemudian, pemuda dari bawah datang membawa ember-ember air panas. Ia menuangkannya ke dalam bak, menambahkan air dingin sampai uapnya tidak terlalu tebal, lalu meninggalkan setumpuk kain kasar dan sabun kecil berwarna pucat.
Marlow membiarkanku mandi lebih dahulu.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, aku melepaskan pakaian yang telah menempel pada tubuh selama berhari-hari. Kainnya kaku oleh debu, keringat, lumpur, dan sisa darah yang tidak seluruhnya hilang di Sungai Verrin. Aku membilasnya di ember kecil, menggosok bagian yang paling kotor dengan sabun, lalu menggantungnya pada palang kayu dekat dinding.
Aku masuk ke dalam bak.
Air hangat naik sampai ke dada dan langsung melunakkan sesuatu di dalam tubuhku. Otot-otot punggung yang sejak pagi terus menegang perlahan melepaskan diri. Rasa sakit pada rusuk tidak hilang, tetapi kehangatan membuatnya lebih tumpul. Kakiku yang pegal berhenti berdenyut. Kulit yang lecet oleh perjalanan terasa perih sesaat, kemudian menjadi mati rasa.
Aku menyandarkan kepala pada tepian bak.
Untuk pertama kalinya sejak istana jatuh, aku tidak perlu mendengarkan suara langkah di luar tenda, mencari bayangan di antara pohon, atau bertanya apakah seseorang akan mendobrak pintu. Dinding kamar mandi tipis dan penginapan penuh orang asing, tetapi air hangat membuat tempat itu terasa hampir aman.
Aku memejamkan mata.
Napas keluar perlahan. Uap menyentuh wajah, membawa bau sabun dan kayu basah. Tubuhku tenggelam sedikit lebih dalam sampai permukaan air menyentuh dagu.
Lalu wajah Dann muncul.
Bukan seperti ketika terakhir kali aku melihatnya di istana, melainkan sebagaimana ia mungkin berdiri sekarang. Mengenakan mahkota Dad. Duduk di kursi kerajaan. Mendengar laporan tentang enam tentara di Mitenn Highroad, tiga tentara di rumah Danmer, serta seorang pangeran buron yang terus bergerak ke barat.
Aku membuka mata.
Air di dalam bak bergoyang karena tubuhku mendadak menegang. Aku mengangkat kedua tangan dari permukaan dan memandang telapak yang kini sudah bersih. Tidak ada lagi darah pada garis kulit atau sela kuku. Debu dan keringat perjalanan telah larut dalam air.
Namun aku masih dapat merasakan gagang pedang di sana.
Mata tentara di rumah Danmer kembali muncul. Kehidupan yang perlahan padam ketika wajah kami hanya terpisah beberapa inci. Darahnya tidak lagi menempel pada tanganku, tetapi ingatan itu tidak ikut larut.
Aku tidak tahu berapa lama duduk seperti itu.
“Kal, apa kau akan tidur di dalam bak?”
Suara Marlow menembus pintu dan menyadarkanku.
Aku mengangkat kepala. Air sudah tidak sepanas ketika pertama kali masuk. Cahaya senja pada celah jendela kecil juga hampir hilang.
“Sebentar.”
“Aku juga perlu membersihkan diri.”
Nada suaranya datar, tetapi kelelahan di baliknya cukup jelas. Ia berjalan lebih jauh dariku, membawa dua tas, mendirikan kemah, memasak, lalu mengejarku kembali ke Arlenville. Mantelnya juga masih penuh debu dan darah.
“Ya, aku tahu.”
Aku bangkit dari bak. Air mengalir dari tubuh dan memercik kembali ke permukaan yang kini keruh. Kain kasar yang disediakan penginapan kugunakan untuk mengeringkan badan. Teksturnya terlalu kasar dibandingkan handuk di istana, tetapi saat ini aku tidak peduli.
Pakainku masih lembap ketika kuambil dari palang. Kemejanya dingin dan melekat pada kulit saat dikenakan kembali. Celana juga belum sepenuhnya kering, terutama pada bagian pinggang dan lipatan lutut. Aku menggigil sebentar, lalu memasang ikat pinggang dan membuka pintu kamar mandi.
Marlow berdiri dekat salah satu ranjang. Ia sudah melepas mantel dan perlengkapan pedangnya, menyisakan kemeja yang penuh noda keringat. Dua ember air hangat baru berada di dekat kakinya. Pemuda penginapan mungkin baru saja mengantarkannya.
Aku melangkah keluar, lalu menoleh kembali ke bak.
Air di dalamnya berwarna kecokelatan. Debu mengendap di dasar, sementara lapisan tipis kotoran mengambang di dekat tepian. Di istana, aku tidak pernah memikirkan apa yang terjadi setelah mandi. Pelayan akan datang setelah aku pergi, menguras air, membersihkan bak, membawa pakaian kotor, lalu mengisi kembali semua yang dibutuhkan sebelum hari berikutnya.
Kini tidak ada pelayan.
“Aku bisa membuang airnya,” kataku.
Marlow mengangkat salah satu ember. “Tidak perlu.”
Ia berjalan melewatiku menuju kamar mandi.
“Turunlah dan makan malam. Aku akan menyusul.”
Aku mengangguk. “Baik.”
Marlow masuk sambil membawa ember air hangat. Sebelum menutup pintu, ia memandangku sesaat, seolah memastikan aku benar-benar akan pergi ke bawah dan tidak menciptakan masalah lain dalam waktu yang dibutuhkannya untuk mandi.
Kemudian pintu menutup perlahan.
Bunyi kunci diputar dari dalam.