Sintya tidak pernah bermimpi akan masuk disekolah tempatnya para anak orang kaya.
Karena orang tuanya telah meninggal, terpaksa Sintya harus tinggal dengan Tantenya, Diana.
Sekolah Menengah Atas tempat baru Sintya ternyata membuat suatu perubahan dalam hidup Sintya.
Markus siswa tampan, dingin dan datar adalah primadona para gadis disekolah baru Sintya.
Markus siswa anak orang terkaya nomor satu dikota Sintya.
Banyak siswi tergila-gila pada Markus, dan ingin menjadi kekasih Markus.
Dan Sintya tidak pernah bermimpi kalau hidupnya akan terlibat dalam kehidupan seorang Markus sang primadona sekolahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Makan siang.
Seperti yang telah dijanjikan Markus, siangnya Markus membawa Sintya istirahat keluar sekolah.
Markus sengaja menyuruh sopirnya untuk datang menjemput mereka ke sekolah.
"Jam istirahat hanya satu jam saja, kenapa harus makan diluar..bikin capek saja!" kata Sintya cemberut.
Markus tersenyum melihat wajah Sintya yang cemberut, itu terlihat imut.
Tangan Markus dengan lembut membelai kepala Sintya, lalu mengacak rambut Sintya dengan gemas.
"Apa sih, tadi dielus..eh, malah diacak..kusut!" kata Sintya kesal, lalu membenarkan rambutnya yang diacak Markus.
"Habisnya wajahmu sangat imut kalau cemberut, membuat aku tidak tahan melihatnya!"
Sintya tidak mau menjawab Markus, dia menoleh melihat keluar mobil.
"Maaf sayang!" ucap Markus menarik tangan Sintya, lalu mengecup punggung tangan Sintya dengan lembut.
Sintya tersentak dengan tindakan Markus tersebut, di pandangnya tangannya yang dikecup Markus.
Markus tersenyum memandang Sintya yang terlihat bengong melihat tindakannya barusan.
Tidak lama kemudian mobil berhenti.
"Kita sudah sampai, Ayo!" kata Markus menarik tangan Sintya untuk turun dari mobil.
Ternyata Markus membawa Sintya ke restoran keluarganya lagi.
"Makan siang disini?" tanya Sintya merasa tidak percaya, Markus terlalu boros.
Makanan di restoran keluarganya sangat mahal, berapa harga yang akan dibayar Markus nantinya.
"Jangan pedulikan soal pembayaran, Ayo!" Markus membawa Sintya ke sebuah ruang VIP.
Markus membuka pintu, lalu membawa Sintya masuk kedalam ruang VIP tersebut.
Ternyata didalam sudah ada beberapa orang, yang sepertinya telah menunggu mereka.
Sintya langsung merasa canggung dengan keadaan itu, dia merasa tidak enak ikut makan siang bersama keluarga Markus.
"Markus, kenapa kau membawaku kemari..kau ingin mempermalukan aku ya?" sahut Sintya pelan didekat Markus.
"Tidak, aku ingin memperkenalkan mu kepada orang tuaku dan orang tua Angela!" kata Markus.
"Apa?!" mata Sintya terbelalak tidak percaya dengan apa yang dikatakan Markus.
"Aku ingin membatalkan pertunangan ku dengan Angela!" kata Markus pelan.
"Kau..!" Sintya tidak bisa berkata apa lagi kepada Markus.
"Ayo, jangan malu..kau calon istri masa depanku, kemari lah!" Markus menarik tangan Sintya mendekati meja yang telah terisi penuh makan siang.
Dan di sana telah duduk beberapa orang yang tengah memandang kearah mereka dengan tatapan tajam.
Sintya begitu kikuk dipandang oleh kalangan elite tersebut, rasanya dia ingin secepatnya pergi dari sana.
Ini tidak menyenangkan, benar-benar tidak cocok untuknya.
Markus menarik satu kursi kosong didepan sepasang suami-istri yang diduga Sintya pasti ke-dua orang tua Markus, karena wajah lelaki paruh baya itu sangat mirip dengan Markus.
Markus mempersilahkan Sintya untuk duduk pada kursi yang ditariknya itu, lalu menarik satu lagi disamping Sintya.
Mereka duduk berdampingan.
"Apakah Papa dan Mama sudah lama menunggu?" tanya Markus pada sepasang suami-istri yang duduk didepan mereka dengan santainya.
Kedua orang tua Markus tidak menjawab, mata mereka masih memandang terus ke arah Sintya.
Dan, itu membuat Sintya semakin kikuk saja, dia merasa tidak nyaman.
Markus menyentuh tangan Sintya dan mengelusnya dengan lembut, agar Sintya tidak perlu kikuk dan tegang.
"Pa..Ma..aku sudah datang!" sebuah suara perempuan terdengar dari pintu yang terbuka.
Semua mata memandang kearah pintu, dan melihat seorang gadis yang memakai seragam sama dengan Sintya dan Markus masuk kedalam ruang VIP tersebut.
Mata Sintya terbelalak melihat gadis itu.
Angela! bisik hati Sintya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Angela ikut makan siang juga dengan mereka.
Perasaan Sintya sudah semakin tidak enak melihat kehadiran Angela didalam ruangan itu.
"Kenapa dia ada disini?!" tanya Angela dengan suara yang kencang.
Angela terkejut melihat Sintya makan siang bersama dengan mereka juga.
Sintya hanya bisa menunjukkan wajah biasa saja, dia merasa akan ada drama yang membuat dia dipermalukan.
Bersambung.....
eh trnyata gada lanjutan