Shen Yunan mengalami kematian tragis. Dikhianati keluarga, dikhianati pria yang dia cintai, menghabisii orang yang mencintainya dengan tulus.
Mendengar tawa sang putra mahkota yang baru naik tahta, dengan pedang di tangan yang telah menusuknya, bersama Shen Yuxiao, putri palsu yang mencuri tempatnya di kediaman Marquis selama 17 tahun. Shen Yunan bersumpah, dia akan membalas mereka semua. Dia akan membuat semua orang yang menertawakan kematiannya menangis.
'Jika ada kehidupan kedua, aku akan habisi kalian semua!'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Sementara itu, pagi setelah tidur siang Shen Yuxiao segera berdiri dan berjalan ke arah cermin. Dia kerap melakukan itu sebelum memanggil pelayan. Karena bahkan di depan pelayan, dia tidak ingin terlihat buruk.
"Agkkkk!"
Begitu Shen Yuxiao melihat wajahnya sendiri di cermin. Wanita itu langsung berteriak histeris.
"Kenapa wajahku..." Shen Yuxiao menjeda ucapannya, dan melihat ke arah tangannya.
Matanya melebar, ketika dia melihat tangannya juga bentol-bentol merah seperti yang ada di wajahnya.
"Agkkkk! Lan Lan!" pekiknya memanggil pelayan pribadinya.
Pelayan yang memang selalu menjilatt majikannya itu segera muncul di samping Shen Yuxiao.
"Nona, ada a..."
Begitu dia menoleh ke arah wajah Shen Yuxiao. Kata-kata yang mau dia ucapkan terhenti seketika. Lan Lan terkejut, dan sedikit takut sampai menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.
"No... nona kenapa wajahmu?" tanya Lan Lan yang bicara dengan nada aneh.
Seperti seseorang yang melihat sesuatu yang cukup mengerikan. Hingga membuatnya enggan mendekat.
Mendengar suara pelayannya yang seolah takut padanya, Shen Yuxiao semakin geram.
"Kenapa reaksi mu begitu? kamu takut atau jijik?" tanya Shen Yuxiao dengan sangat sarkas.
Dia memang sedikit rasional saat ini. Dia saja yang tadi pertama kali melihat wajahnya seperti itu, begitu jijik. Dia tahu Lan Lan kemungkinan juga pasti sama seperti itu.
Tapi, karena masih sayang dengan nyawanya. Tentu saja Lan Lan tidak mungkin menunjukkan kalau dia jijik pada majikannya. Dia bisa kehilangan kepala kalau sampai Shen Yuxiao tahu, dia sempat merasa sangat jijik ketika melihat wajah Shen Yuxiao pertama kali tadi.
"Tidak nona, saya hanya kaget nona berteriak!" jawabnya memberikan alasan yang cukup masuk akal di dengar oleh majikannya yang memang sangat galak dan arogan itu.
"Panggil tabib Tao! cepat!" teriak Shen Yuxiao.
Lan Lan langsung mengangguk, membungkuk patuh.
"Baik nona!"
Lan Lan segera pergi meninggalkan tempat itu. Memanggil tabib yang seharusnya datang untuk memeriksa Shen Yunan.
Shen Yuxiao kembali memanggil seorang pelayan, lalu memintanya melihat bagaimana kondisi Shen Yunan. Kalau sampai Shen Yunan tidak apa-apa, dia akan menyalahkan pelayan dan koki yang memasak di dapur kediaman Marquis.
Pelayan itu pun mengendap-ngendap, ke paviliun Shen Yunan. Di paviliun tempatnya tinggal, pelayan itu melihat sendiri Shen Yunan tidak apa-apa. Dia masih sibuk bicara dengan Cao Cao dan juga seorang pria yang sepertinya familiar bagi pelayan itu.
Pelayan Shen Yuxiao memperhatikan dengan teliti, bahkan maju lebih dekat. Dan memang Shen Yunan sedang dalam keadaan yang sangat baik. Tidak ada bentol atau tanda merah sedikit pun di wajah atau tangannya.
Pelayan yang sudah merasa sangat yakin itu pun meninggalkan paviliun Shen Yunan dan bergegas melapor pada Shen Yuxiao.
"Bagaimana? dia juga sama bentol-bentol merah begini kan?" tanya Shen Yuxiao.
Dia sungguh berharap kalau apa yang dialami oleh Shen Yunan bahkan lebih parah darinya.
Pelayan yang ada di depan Shen Yuxiao itu tampak ketakutan. Dari wajahnya, ekspresi dan cara bicara majikannya. Jelas sekali sangat ingin mendengar kalau pelayannya mengatakan, keadaan Shen lebih parah darinya. Tapi kenyataannya kan tidak? jadi pelayan itu merasa santai takut. Majikannya itu orang yang sangat kasar. Tidak punya hati dan perikemanusiaan, kalau mau pukul orang bahkan tidak perlu menunggu orang itu memiliki kesalahan. Kalau memang mau pukul, ya pasti dipukul.
Tangan pelayan itu saling meremass, tapi jawaban yang tak kunjung di dengar oleh Shen Yuxiao, malah membuat Shen Yuxiao semakin geram dan tidak sabar.
"Kenapa diam saja?" bentak Shen Yuxiao pada pelayannya, sampai pelayannya itu tersentak kaget.
"I... itu nona..."
Ucapan pelayan itu kembali terjeda, dan hal itu membuat Shen Yuxiao semakin geram.
"Katakan!" bentaknya lagi.
Bahu pelayan itu naik sangat tinggi. Jelas dia sangat terkejut.
"No... nona, nona keempat baik-baik saja...!"
"Apa maksudmu dengan baik-baik saja?" pekik Shen Yuxiao lagi.
Pelayan itu wajahnya sudah sangat pucat. Di jawab salah, di bentak. Tak di jawab juga semakin salah, dan semakin di bentak.
"Nona, no... nona muda keempat, tidak bentol-bentol seperti nona ketiga..."
Dugh
Brukk
"Aghkkk! tidak berguna!" pekik Shen Yuxiao sangat emosi.
Bahkan sebelum pelayan itu selesai bicara, Shen Yuxiao sudah menendang dada pelayan itu sampai terhuyung jatuh ke belakang dengan sangat kuat.
Pelayan itu matanya basah, tangannya memegang dada. Dia jelas kesakitan. Karena Shen Yuxiao memang menendang pelayan itu dengan sangat kuat. Dia marah, dia kesal, tentu saja dia melampiaskan kekesalannya dengan kuat.
"Tidak berguna! pergi!" pekiknya yang tak sudi melihat pelayan yang sudah membuat dia makin kesal itu.
Pelayan itu berusaha bangkit. Dia tahu betul kalau dia tidak segera bangkit, yang ada dia akan menjadi sasaran kemarahan Shen Yuxiao lagi.
Dengan tertatih, sambil memegang dadanya yang sakit. Pelayan itu berusaha keluar dari paviliun Shen Yuxiao.
Begitu sampai di luar, pelayan itu kembali tumbang. Dia jatuh karena memang tak sanggup menahan rasa sakit di dadanya sambil berjalan.
"Uhukkk!"
Akhirnya pelayan itu muntah darahh. Mungkin tendangan itu Shen Yuxiao yang memang sangat kuat itu sudah melukai atau mencederai bagian dalam dada pelayan itu.
Di saat yang bersamaan. Lan Lan juga sudah datang dengan tabib Tao di belakangnya. Pelayan itu sangat kesakitan, dia mengulurkan tangannya, dengan maksud meminta bantuan Lan Lan atau tabib itu.
Tapi dengan cepat Lan Lan menepis tangan pelayan yang sudah tidak berdaya itu. Tabib Tao juga, dia bahkan hanya melirik sekilas lalu pergi. Padahal dia adalah seorang tabib, bukankah seharusnya melihat pelayan itu yang mulutnya berlumuran darahh. Dia membantunya. Itu etika seorang tabib bukan? sayangnya tabib Tao bahkan tidak memperdulikannya.
Sama seperti Lan Lan yang menepis tangan pelayan itu lalu masuk ke paviliun. Tabib Tao bahkan tidak menoleh untuk kedua kalinya.
"To... tolong!" lirih pelayan itu merasa sangat kesakitan.
Dari jauh, Shen Yunan yang tahu kalau tadi pelayan itu mengendap-ngendap di paviliunnya. Mengajak Murong Yan atau Jinlang, bersama dengan Cao Cao melihat pelayan yang sangat menderita itu.
"Di... dia benar-benar tidak di tolong?" Cao Cao yang juga merasa dia hanya pelayan, merasa kasihan pada pelayan itu.
Shen Yunan hanya diam. Memang seperti itulah persaingan, bahkan sesama pelayan tidak saling perduli itu sudah hal biasa. Pelayan di sisi Shen Yuxiao saling menjilatt, tentu saja tidak akan membantu pelayan yang sudah dianggap tidak ada gunanya.
***
Bersambung...
Gengsi aja di gedein.. Menggemaskan..🤣🤣🤣