Hukum tidak berpihak pada Anggita, jadi aku yang akan jadi hukumnya. Satu misi yang menjadi tujuanku hancurkan Arvin Teriaz. Aku Nabila Azzahra, topengku sekretaris, senjataku kode. Rencana sempurna begitu sempurna sampai Galen Teriaz, dokter yang membenci darahnya sendiri, mengulurkan tangan dalam misiku.
Apakah misi mereka berhasil dalam, menghancurkan seorang Arvin Teriaz ?
Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 BULAN MADU DAN SURAT MISTERIUS
Tiga hari setelah pernikahan, Nabila dan Galen akan pergi bulan madu. Dan sekarang mereka sduah berada di, Bandara Husein Sastranegara rame.
Bu Narti nyodok rantang ke tangan Galen
"Buat di pesawat nak, takutnya kalian laper" Ucap Astrid
"Jangan lupa oleh-olehnya, ya" Timpal Laras
Sedangkan Dito, biasa anak itu akan live di tiktok
"Guys ini dia honeymoon! Doain lancar ya!" Ucap Dito sambil mengarahkan kameranya kepada Nabila dan Galen
Anggita peluk Nabila lama
"Kak jaga Nabila, baik-baik ya" Ujar Anggita dalam pelukan Nabila tapi matanya mengarah kepada Galen
Galen cium tangan Mami Ratna.
"Mama Astrid, mama Lea. Kami titip rumah" Ucap Galen
"Iya ma, dan doakan kami di sana" Timpal Nabila
Lalu mereka melangkah meninggalkan kelaurganya, untuk menuju ke pesawat karena sebenatar lagi jadwal penerbangar menuju Bali. Sednagkan para bapak-bapak, mereka tidak ikut karena sibuk bekerja.
Di pesawat Galen genggam tangan Nabila.
"Gugup?" Tanya Galen
Nabila ketawa kecil …
"Sedikit, tapi tenang karena sama kamu" Jawab Nabila
Galen sandarkan kepala Nabila di bahunya …
"Tanpa gugatan, tanpa Bram. Hanya kita sama Tuhan" Ucap Galen
*****
Setelah sampai di Bali pada sore hari, mereka jalan-jalan ke ubud untuk melihat sawah dan dudukdi salah satu warung di sana sambil menulis rencana selama mereka di Bali.
"Kita bangun rumah singgah di Lembang ya," Kata Nabila.
Galen mencium kening Nabila
"Oke realisasikan, buat anak-anak Tuhan" Jawab Galen
*****
Perjalanan yang tak terlalu panjang membuat Nabila tetap merasa nyaman, begitu mendarat di Bandara Ngrah Rai. Nabila langsung merasakan pindah ke dimensi yang berbeda. Suasana Bali yang begitu lekat, sejak saat mereka sampai di Bandara.
“Galen dan Nabila ?” Sambut seseorang yang di area penjemputan
“Iya” Jawab Galen
“Silahkan, ini atas nama keluarga Teriaz. Jika anda membutuhkan sopir selama di sini, saya siap kapan pun” Ucap Laki-laki itu lalu menyerahkan sebuah kunci mobil pada Galen
Nabila takjub karena Wijaya bahkan telah menyiapkan mobil beserta dengan sopir, untuk mereka selama ada di Bali.
“Tidak usah terima kasih, saya tidak memerlukan sopir” Jawab Galen
“Baik kalau begitu, silahkan mobilnya ada di sebelah sana. mari saya bantu bawakan, barang-barang anda” Ujar Laki-laki itu dengan sangat sopan lalu mengambil alih barang-barang bawaan Nabila dan Galen
“Terima Kasih” Ucap Galen
Nabila merasa hangat, dia yakin kalau mereka akan terus melewati semuanya sama-sama.
“Duh… senangnya” Ucap Nabila dengan pemuh suka cita
“Kita ke resort, istrahat dan baru setelah itu kita keluar untuk jalan-jalan” Kata Galen
“Oke ! Makasih banyak ya, gak nyangka banget kalau kita bisa liburan seperti ini. Begitu banyak masalah dan tantangan di hidup kita, tapi kita bisa melewatinya” Balas Nabila
*****
Sesampai di resort, Nabila malah merasa nyaman dan ingin berlama-lama di sana. fasilitas resort membuat dirinya sangat betah dan vibe liburan semakin kental terasa.
“Dulu, bisa liburan dan menginap di tempat seperti ini cuma sebatas angan saja. tapi sekarang benar-benar terwujud, banyak daftar tujuan wisata yang mau aku kunjungi. Tapi hanya terdiam di resort ini saja, rasanya sudah terasa lengkap” Oceh Nabila sembari mengagumi setiap sudut kamar resort yang ditenpatinya.
Bagaimana tidak ? Saat ini mereka menempati sebuah kamar resort kelas premium, yang harga sewa permalamnya mencapai ribuan dolar. Galen tidak menyahut apa-apa, dia hanya duduk santai di pinggir kolam kecil yang ada di bagian belakang kamar mereka. Sedangkan Nabila masih sibuk memotret kamar resort yang bergaya aesthetic itu, dia tak ingin melewatkan barang sedetik pun momen berharganya.
“Rasanya aku ingin makan seafood, rasanya tidak afdol jika ke Bali tidak memakan makanan yang ada di sini” Gumam Nabila
Nabila berjalan ke arah Galen …
“Mas, aku lapar pengen makan seafood” Pinta Nabila tanpa basa-basi
“Ayo, kita jalan kaki aja gak usah pakai kendaraan karena pusat kulinernya berjarak 300 meter saja dari sini” Jawab Galen
*****
Aroma laut dan aroma berbagai macam hidangan lezat sudah tercium terbawa oleh angin, Nabila tidak merasa khawatir oleh apa pun, saat ini yang dia tahu hanya bahagia saja. Begitu sampai di resto, Nabila memilih beberapa bahan segar untuk di oleh dengan saus pilihan nanti. Berbagai macam hasil laut, membuat Nabila kalap dan memilih banyak, Galen membiarkan saja, sama sekali tak mnecegah walau pun harganya sangat mahal.
Setelah menunggu 1 jam, 1 meja sudah di penuhi dengan semua makanan yang di inginkan oleh Nabila.
“Kalau nggak habis, boleh di bungkus nggak sih ?” Tanya Nabila sambil menyedok cumi saus tiram
“Yang kamu pesan ini bisa di makan oleh 4 orang sekaligus, sementara sekarang kita Cuma berdua” Jawab Galen sambil terkekeh
“Ya gak papa, kita bisa membungkusnya untuk nanti makan di resto” Ujar Nabila
Mereka sangat menikmati makanan yang mereka pesan …
“Mmmmm, ini sangat enak sekali. Coba deh mas” Ucap Nabila menyuapi Galen dengan sisa potongan yang baru saja dia gigit
“Enak kan ?” Tanya Nabila
“Iya” Jawab Galen mengangguk
“Nanti aku mau pelajari resepnya ah, biar bisa masak sendiri di rumah” Ujar Nabila dengan pipi yang mengembung
Mereka kembali ke resor karena waktu sudah malam, karena dalam masa honeymoon mereka memanaskan ranjang dengan begitu syahdu. Begitulah pasangan ynag sedang honeymoon, tak ingin melewatkan kesempatan untuk memadu kasih dan menyalakan gelora asmara di antara keduanya.
*****
Ke esokkan harinya, sebelum matahari terik Nabila mengajak Galen untuk pergi ke pantai. Walau pun waktu liburnya masih panjang, tapi Nabila tak ingin membuang momen liburan itu. Duduk santai di atas bean bag di tepi pantai sambil di payungi paying lebar, menikmati ombak yang berkejaran bersama dengan para wisatawan yang berlalu Lalang.
“Setelah dari sini, kita mau kemana lagi ?” Gumam Nabila sambil membayangkan agenda selanjutnya
Beberapa hari itu ponsel mereka sengaja di non-aktifkan, gak ada berita, gak ada notifikasi. Cuma ada doa pagi, sepeda keliling, foto berdua, dan obrolan sampe tengah malam. Rencana hari ini mereka akan pergi berjalan-jalan menjelajahi Kawasan pesawahan dengan sepeda motor, banyak restoran-restoran yang konsepnya menarik untuk memanjakan wisatawan yang lelah setelah berjalan-jalan.
“Naik motor, gak papa kan ? Harusnya bersepeda, tapi aku gak mau kamu menggowesnya” Ujar Galen sambil menggandeng tangan Nabila menuju halaman parkiran resort
Galen memakaikan helm untuk istrinya, love language yang sudah cukup menegaskan kalau cinta itu memang tak mesti selalu di ucapkan dengan kata-kata.
“Makasih, suamiku” Ucap Nabila begitu tersanjung
“Sama-sama, istriku” Jawab Galen sambil tersenyum manis
“Naiklah” Lanjut Galen lalu memastiakn step sudah siap, untuk pijakan istrinya
*****
"Sayang" Kata Galen di balkon malam terakhir
"Makasih udah bertahan sama aku dari awal" Tambah Galen
"Makasih juga udah gak nyerah" Ujar Nabila
Mereka berdoa bareng.
"Tuhan, jaga keluarga kami. Jaga rumah kami" Ucap Mereka
*****
Tak terasa, sudah 1 minggu mereka honeymoon di Bali dan sekarang jadwal mereka kembali pulang ke Bandung. Pas sudah sampai di rumah, rumah udah dihias "WELCOME HOME".
Tim Arisan nyambut pake kue dan balon, tapi di atas meja ada 1 amplop coklat tapi tidak ada namanya. Dan ekspresi Wijaya begitu tegang …
"Ini dari lapas, di kirim pas kalian di Bali" Ucap Wijaya
Galen buka dengan tangan gemetar, isinya tulisan tangan Bram.
Untuk Galen selamat menikah. Aku di dalam sini, tapi aku masih bisa liat. Kamu boleh menang di pengadilan, kamu boleh menang di gereja tapi kamu lupa 1 hal yaitu cek rekening yayasan dan cek orang kepercayaanmu.
_ Bram _
Nabila nahan napas
"Maksudnya?" Tanya Nabila bingung
Anggita langsung colok laptop, dna jari-jarinya ngetik cepet.
"KAK..." Suaranya pelan
"Ada transfer 2 miliar keluar 3 hari lalu, atas nama Bu Marta" Tambah Anggita
"GAK MUNGKIN!" Galen membentak
"Bu Marta orang paling jujur di panti!" Lanjut Galen
Nabila air matanya jatuh.
"Jangan-jangan dia dipaksa..."
HP Galen bunyi dari nomor asing.
Suara Bram sedang ketawa dari lapas
"Gimana bulan madunya? Manis kan? Nah sekarang nikmatin kenyataannya. Aku mungkin di penjara. Tapi aku masih pegang remote”
_TUT_
Galen banting HP ke sofa
"BRAM!!!" Teriak Galen
Astrid langsung peluk Nabila
"Udah nak, jangan nangis. Kita akan melawannya" Ucap Astrid menenangkan putrinya
"Kita berangkat ke Lembang sekarang!" Titah Alea
*****
Malam itu juga mereka berangkat dengan cuaca diluar hujan deras, jalan licin. Di mobil Galen genggam tangan Nabila erat.
"Maaf ya, damai kita dirusak lagi" Ucap Galen merasa bersalah
Nabila menggelengkan kepala
"Bulan madu kita udah sempurna, sayang. Sekarang waktunya kita berjuang lagi, buat Tuhan" Jawab Nabila
Sampai di Panti Asuhan Harapan, lampu mati semua dan suasana begitu sepi. Pintu kebuka, di dalam Bu Marta duduk sendiri dan di depannya ada koper.
"Bu..." Nabila lari.
Bu Marta langsung nangis.
"Maafin ibu nak... anak ibu disandera orang Bram dari lapas, dia ancam mau nyakitin. Ibu dipaksa transfer. Ibu takut..." Ucap Bu Marta sambil terisak
Galen jongkok
"Bu, kita selesaikan bareng. Kita lapor polisi dan kita doa" Jawab Galen menenagkan
Tiba-tiba dari luar kedengeran sirine Polisi datang, tapi di ujung jalan ada mobil hitam lewat kenceng, matiin lampu. Di dalamnya, dua orang liatin dari jauh lalu pergi.
Galen nengok ke Nabila.
"Perang ronde baru dimulai" Ucap Galen