Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.
Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...
“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
[ Luka yang Tak Pernah Sembuh ]
Pagi itu, hujan gerimis kembali menyelimuti kota.
Rhea sedang menyiram bunga-bunga di depan toko ketika sebuah mobil hitam berhenti di tepi jalan. Vincent turun seorang diri, mengenakan kemeja hitam tanpa jas. Wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya.
"Kau belum sarapan?" tanya Rhea.
Vincent menggeleng pelan.
"Kalau begitu tunggu sebentar."
Rhea masuk ke dalam, lalu kembali membawa dua cangkir kopi hangat dan beberapa potong roti panggang.
"Aku tidak pandai memasak."
"Setidaknya tidak akan membuatmu kelaparan."
Vincent tersenyum kecil.
"Terima kasih."
Mereka duduk berdampingan di bangku kayu depan toko. Untuk beberapa menit, tidak ada yang berbicara.
Keheningan di antara mereka justru terasa nyaman.
"Apa kau pernah kehilangan seseorang?" tanya Vincent tiba-tiba.
Rhea terdiam.
"Semua orang pasti pernah."
Vincent menatap jalan yang mulai dipenuhi kendaraan.
"Aku kehilangan semua orang yang paling penting dalam hidupku."
Rhea tidak menyela.
Ia membiarkan Vincent melanjutkan.
"Dulu... keluargaku bukan mafia."
Rhea menoleh.
"Ayahku memiliki perusahaan logistik. Ibuku seorang guru. Kami hidup sederhana."
Vincent tersenyum tipis, seolah sedang mengingat sesuatu yang sangat jauh.
"Ibuku sangat menyukai bunga."
Tatapan Rhea melembut.
"Itu sebabnya kau sering membeli bunga?"
Vincent mengangguk.
"Beliau selalu menanam mawar putih di halaman rumah."
"Katanya, mawar putih adalah lambang harapan."
Ia tertawa pelan.
"Dulu aku menganggap itu hanya cerita orang dewasa."
Senyumnya perlahan memudar.
"Sampai suatu malam..."
Suara Vincent menjadi jauh lebih pelan.
"Rumah kami diserang."
Rhea menggenggam cangkir kopinya erat.
"Mereka datang untuk membunuh ayahku."
"Karena ayah menolak bekerja sama dengan sebuah organisasi kriminal."
Vincent menarik napas panjang.
"Di depan mataku..."
"...ibuku ditembak saat berusaha melindungiku."
Rhea membeku.
"Ayahku selamat malam itu."
"Tapi hanya untuk beberapa tahun."
"Beliau dibunuh ketika sedang mencari pelaku yang menghancurkan keluarga kami."
Vincent tersenyum pahit.
"Sejak hari itu..."
"...aku hidup sendirian."
Rhea tidak mampu berkata apa-apa.
Selama ini, semua berkas yang ia baca hanya menceritakan siapa Vincent sekarang.
Tak satu pun menjelaskan bagaimana seorang anak kehilangan seluruh keluarganya dalam semalam.
"Lalu..." tanya Rhea pelan.
"Kenapa kau memilih menjadi mafia?"
Vincent menundukkan kepala.
"Aku tidak memilih."
"Aku dipaksa."
"Orang yang menyelamatkanku malam itu adalah pemimpin Black Raven."
"Beliau membesarkanku."
"Mengajariku bertahan hidup."
"Mengajariku menggunakan senjata."
Vincent menatap kedua telapak tangannya.
"Sejak kecil tanganku sudah dipenuhi darah."
"Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali hidup sebagai anak biasa."
Rhea merasakan dadanya semakin sesak.
Ia ingin berkata bahwa semua akan baik-baik saja.
Namun ia tahu...
Ia tidak berhak mengucapkan itu.
Karena pada akhirnya, dialah orang yang akan menghancurkan kehidupan Vincent sekali lagi.
Menjelang siang, Vincent berdiri.
"Aku harus pergi."
Rhea ikut berdiri.
"Terima kasih... sudah mau bercerita."
Vincent tersenyum hangat.
"Aneh."
"Apa?"
"Aku tidak pernah menceritakan masa laluku kepada siapa pun."
Tatapan mereka bertemu.
"Tapi saat bersamamu..."
"...aku merasa tidak perlu menyembunyikan apa pun."
Jantung Rhea seakan berhenti berdetak.
Kalimat itu membuat rasa bersalahnya semakin besar.
Vincent melangkah menuju mobil, lalu berhenti.
"Rhea."
"Iya?"
"Kalau suatu hari nanti..."
"...kau mengetahui siapa aku sebenarnya."
"Apakah kau akan tetap melihatku seperti hari ini?"
Rhea mematung.
Ia ingin menjawab.
Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.
Karena ia sudah mengetahui siapa Vincent sebenarnya.
Dan ia juga tahu...
Akan datang hari ketika pria itu menatapnya bukan dengan kepercayaan...
melainkan dengan hati yang hancur.
Vincent akhirnya masuk ke dalam mobil dan pergi.
Rhea masih berdiri di depan toko, menatap mawar putih yang bergoyang pelan diterpa angin.
Tanpa sadar, setetes air mata jatuh ke kelopak bunga itu.
"Maafkan aku, Vincent..." bisiknya lirih.
"Semakin aku mengenalmu..."
"...semakin aku takut pada akhir dari cerita kita." 💔