Gymora Sasami seorang mahasiswa yang terkenal akan kepintarannya, dia juga putri tunggal keluarga kaya.
Dia selalu dipuji dan dieluh-eluhkan di kampus.
Namun, citra yang sebelumnya sudah dibangun olehnya terancam dihancurkan oleh seorang Badboy kampus yang tidak sengaja memergoki dirinya digudang saat sedang memuaskan dirinya sendiri.
Pagi itu digudang, Draka Nilon mengambil alat yang ada ditangan Gymora, hal itu membuat Gymora yang akan mencapai titik kepuasannya terkejut.
"Aku tidak menyangka, seorang wanita cantik yang terkenal pintar dan jual mahal di kampus melakukan hal yang tidak terpuji seperti ini," sindir Draka.
Gymora langsung menutup tubuh bagian bawahnya.
"Draka aku mohon, jangan sebarkan video itu!" pinta Gymora.
Melihat Draka yang diam, Gymora terus memohon.
"Karena kamu terus memohon dan berlutut, baiklah kita buat kesepakatan. Kalau kamu ingin aku tidak menyebarkan videomu itu. Kamu harus melayaniku!"
Kedua bola mata Gymora membelalak, mengingat dia belum pernah melaku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32.
"Gymora, aku nggak bisa lihat kamu sama pria lain. Ini bohong, pria ini nggak mungkin kekasihmu." ucap Wiliam tidak terima, ia berusaha menarik tangan Gymora.
Tapi Gymora menjauhkan tangannya dari Wiliam. Lalu ia berkata, "iya, dia memang kekasihku. Wiliam aku harap kedepannya kamu nggak perlu ganggu kami lagi."
Doni berbisik pada Rio, "sepertinya ucapan Wiliam memang benar. Sekarang Gymora sudah berubah tidak mencintainya lagi."
Rio mengangguk membenarkan ucapan Doni. "Sepertinya Wiliam udah nggak memiliki kesempatan."
Wiliam berteriak marah dan panik. "Mora tolong kasih aku kesempatan, aku pasti akan berubah ... " Ia ingin memeluk Gymora. Tapi aksinya langsung dihentikan Draka.
"Gigi itu milikku ... Bukan milikmu lagi," ucap Draka seraya menghadang tangan Wiliam yang ingin menyentuh tubuh Gymora walaupun satu inci.
Ekspresi marah Wiliam langsung berubah lembut, saat citra seorang pria yang baik di ragukan oleh beberapa mahasiswa yang berkumpul disana.
Ia langsung bersujud didepan Gymora.
Tapi pinggang Gymora malah dipeluk Draka, "Tuan Wiliam. Gymora nggak akan memberikan kesempatan padamu. Hari ini aku cukup bersabar, tapi kedepannya aku nggak akan segan memukul mu!"
Rio buru-buru membantu Wiliam bangun dan berkata, "Wiliam kamu nggak bisa paksa Gymora lagi. Nanti dia malah semakin membencimu."
Doni menimpali, "iya, wanita sangat benci dipaksa."
Akhirnya mereka bertiga memberikan Gymora dan Draka jalan.
Draka malah semakin mengeratkan pelukannya, "untungnya dari awal aku berniat mengantarmu ke kelas. Kalau tidak, pacarku yang cantik ini pasti sudah diculik Wiliam."
Gymora malah tersenyum dengan wajah memerah.
Sekarang posisinya ia dan Draka menjadi pusat perhatian kampus.
Apalagi, ia merasa terlalu intim dengan Draka.
"Draka jangan begini ... Ini kampus," titah Gymora seraya memalingkan pandangan ke arah lain.
Sementara Draka malah mendekatkan bibirnya pada telinga Gymora yang memerah, lalu berbisik. "Nggak papa. Aku bahkan berniat mengakuisisi saham kampus ini untuk mu."
"Gigi, sekarang aku sangat mencintaimu."
Keduanya berjalan begitu mesra, ketampanan Draka dan kecantikan Gymora begitu mencolok.
Tak berselang lama, langkah keduanya terhenti didepan kelas Gymora.
"Kamu nggak ada kelas hari ini?" Tanya Gymora.
"Nggak ada, dosen pembimbing ijin. Jadi hanya dikasih tugas," jawab Draka bohong.
Bagaimana pun ia bersekolah hanya untuk main-main. Karena ia sebenarnya memang sudah lulus sekolah S3 diluar negeri.
Makanya sudah lima tahun kuliah disini, Draka masih semester dua, belum ada tanda-tanda akan lulus.
Gymora mengangguk.
"Aku akan menunggumu sampai kelas selesai," ucap Draka.
Sementara itu, ditempat lain.
Kania mengendap masuk ke dalam area kampus menuju laboratorium.
Bagaimana pun juga, ia harus mendapatkan chip itu.
Kania melangkah pelan di bawah bayang-bayang pepohonan rindang kampus, napasnya tertahan saat matanya menatap pintu masuk laboratorium yang tertutup rapat.
Hatinya berdebar, tekadnya membara untuk mendapatkan chip itu—barang yang bisa mengubah segalanya baginya.
Namun, dua sosok tegap berbalut seragam satpam menghadang jalannya.
"Nona, Anda tidak boleh masuk lagi ke sini!" suara salah satu satpam terdengar tegas, tapi Kania membalas dengan senyum dingin yang menyembunyikan amarahnya.
"Aku mau mengambil chipku," katanya dengan nada sombong, seolah itu hak mutlak yang tak bisa diganggu.
Satpam yang biasanya ramah kini berubah wajahnya menjadi dingin, matanya tajam menatap Kania seolah menilai apakah wanita itu benar-benar berniat jujur.
"Kata tuan Wiliam, Anda tertuduh mencuri beberapa chip milik mahasiswa lain untuk dijual. Jadi, sudah tidak bisa lagi masuk."
kasian gyomra harus patah hati n kecewa terusss...😔
cerita nya seruuu👍