Clara Ansilla, seorang gadis periang yang berubah menjadi pendiam akibat satu kejadian yang menimpanya. Hanya berusaha menolong seorang pria, Chris Neutron, membuatnya kehilangan kehormatan.
Clara kehilangan penglihatannya, sekaligus mengalami kelumpuhan akibat kejadian itu. Hingga beberapa tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pansy Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
NITTT....NITTT....
Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel Chris.
Semua persiapan sudah selesai, sekarang kamu hanya perlu mempersiapkan dirimu untuk selalu mencintaiku.
"Shitttt!!!" umpat Chris sambil melempar ponselnya ke sembarang arah, yang ntah sudah berwujud apa setelah dilempar.
Han yang mendengar suara dari ruangan bos nya, langsung masuk ke dalam.
"Tuan, ada apa?" tanya Han.
"Laksanakan segera proses pembebasan Clara. Kita tidak bisa terlalu lama menunggu. Cari cara agar proses ini tidak diketahui siapapun, terutama wanita iblis itu,” Chris mengepalkan tangannya dengan penuh kemarahan.
“Tapi orang kita baru bergerak ke sana dan mencari celah,” kata Han.
“Aku tak peduli. Mereka harus bergerak lebih cepat dan segera menyelesaikannya.”
"Baik Tuan."
**
"Woiii tuh cewe ilang!"
"Yang bener lo?"
"Lo lihat aja sendiri, nggak ada kan?"
"Mati kita. Madam bisa marah besar …,” kata seorang penjaga.
"Trus?"
"Kalau gitu mendingan kita kabur aja, gimana?"
"Iya iya, benar. Kita nggak bisa di sini dan menerima kemarahan Madam.”
Baru mereka melangkahkan kaki mau pergi meninggalkan tempat itu untuk melarikan diri, segerombolan polisi sudah mengepung mereka.
"Kacau!" Kata salah seorang dari mereka.
Mereka semua pun ditangkap. Untungnya posisi mereka masih berada di dalam Switzerland, meskipun berada di perbatasan Switzerland dan Jerman, sehingga masih bisa dalam penanganan kepolisian Switzerland.
Mereka semua segera diinterogasi. Apa, siapa, kapan, bagaimana dan mengapa mereka melakukan itu. Semua akan tercatat dalam berkas laporan berita acara mereka.
Tentu saja, mereka tidak mau menanggung kesalahan itu sendiri. Dengan bayaran yang tidak sebanding dengan kebebasan mereka, makan mereka akan turut menyeret Madam mereka. Mereka pun memberikan laporan yang sama, menyebutkan nama orang yang sama yang telah meminta mereka melakukan dan membayar mereka.
Kepolisian Switzerland langsung bergerak cepat, dengan menangkap Marcella di apartemennya dengan sangat mudah. Saat ia sedang menikmati keberhasilannya akan menikah dengan Chris, dia malah ditangkap oleh pihak kepolisian.
Kekesalan dan kemarahan berkumpul dalam hatinya. Dendamnya semakin bertambah. Ia berjanji tidak akan membiarkan orang-orang yang telah membuatnya menderita, hidup tenang dan bahagia.
**
Sementara itu Clara yang kabur dari lokasinya disekap, menemukan sebuah rumah kecil di pinggiran Switzerland. Area yang masih sangat asri dan dipenuhi dengan bunga bunga.
Ia ingin kembali ke pusat kota, tapi saat ini ia tidak tahu arah jalan ke sana, apalagi ia takut orang-orang jahat itu akan menemukannya dan menyekapnya lagi.
Jadi, untuk sementara waktu mungkin akan lebih baik jika ia bersembunyi di daerah ini.
Clara mengetuk salah satu pintu rumah. Saat pintu terbuka, terlihat seorang wanita tua yang sudah putih rambutnya, tersenyum ke arahnya.
"Mom, siapa?" tanya seseorang dari dalam, kemudian ikut keluar.
Seorang wanita paruh baya melihat Clara dari ujung kepala hingga ujung kaki, kemudian mempersilakan dirinya masuk.
"Kamu siapa? apakah kamu tidak apa apa?" tanya Ellen, wanita paruh baya itu.
"Terima kasih," ucap Clara yang saat ini sedang duduk di sebuah sofa.
"Perkenalkan, aku Ellen, dan ini ibuku Dorothy."
"Namaku Clara," kata Clara memperkenalkan diri dengan sedikit terbata.
Clara tak menyangka mereka begitu hangat menyambutnya, yang bahkan sama sekali tidak dikenal oleh mereka.
Rumah mereka terlihat sangat sederhana, namun kehangatan begitu terasa di dalamnya. Ellen menyiapkan teh hangat untuk Clara, dan membantunya membersihkan beberapa luka di tubuhnya.
"Ayo kita makan bersama," kata Grandma Dorothy.
"Nyonya …,” panggil Clara.
"Panggil saja Grandma," senyum GrandmaDorothy.
"Grandma."
"Nah begitu lebih baik."
Mereka menyantap makan malam mereka dalam kehangatan. Meskipun udara diluar semakin dingin, tapi Clara merasakan suasana yang hangat. Ia sangat bersyukur bisa bertemu dengan keduanya di saat ia sedang melarikan diri dari para penjahat itu.
"Kamu dari mana?" tanya Aunty Ellen.
"Aunty, saya sedang berkuliah di London. Datang ke sini sebenarnya hanya ingin mengunjungi teman, tapi ... ," ucapan Clara terpotong.
"Kamu perlahan saja. Kami juga tidak akan memaksamu bercerita jika itu malah melukaimu."
Melihat Aunty Ellen, ia sangat merindukan Mom Kezia. Apakah saat ini Mom Kezia merasa kuatir akan dirinya?
"Apa kamu ingin pergi ke suatu tempat, aku bisa mengantarmu besok," kata Aunty Ellen.
"Ya, tapi apakah itu tidak merepotkan?" tanya Clara.
"Tentu saja tidak," jawab Aunty Ellen, dibarengi dengan senyuman Grandma Dorothy.
Clara merasa sangat beruntung. Saat ia berhasil melarikan diri dari orang jahat, ia bertemu dengan orang-orang baik.
Aku percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Di saat kita kesusahan, pasti akan ada jalan jika kita mau berusaha, dan kita akan menemukan bahwa Tuhan telah mempersiapkan hal yang baik untuk kita. - batin Clara.
**
Chris, Ervan dan Han berada dalam ruang kerja Chris. Sedari tadi, sejak proses penangkapan Marcella, mereka sudah berkumpul, menunggu kabar baik dari pihak kepolisian.
Namun, kabar itu tidak kunjung datang. Pada akhirnya, Han berinisiatif untuk menelepon pihak kepolisian. Tak menyangka bahwa mereka sama sekali tidak menemukan keberadaan Clara.
Yang lebih parahnya, pihak Marcella dan anak buah bayarannya tidak dijerat hukuman yang lama, karena mereka tidak terbukti menyekap Clara, buktinya Clara sama sekali tidak bersama mereka dan tidak ditemukan ada bersama mereka di lokasi.
Pihak Chris masih meminta kepolisian untuk menelusuri lebih jauh mengenai keterkaitan mereka akan kejahatan lain yang mungkin saja berhubungan.
"Ara, Ara, kamu itu ke mana sih?" gumam Ervan sambil mengacak-acak rambutnya. Ia sudah mulai kuatir tingkat tinggi. Selain karena ia sangat menyayangi Clara, ia juga tidak tahu harus memberi laporan seperti apa pada Nicholas.
"Hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama, nona melarikan diri, kedua ia disekap ditempat lain," kata Han.
"Iya, kamu benar Han. Kalau melihat dari jumlah penjaga yang ada, lebih besar kemungkinan Clara melarikan diri," jelas Ervan.
"Han, minta orang kepercayaan kita untuk memeriksa daerah sekitar lokasi. Selidiki kota-kota kecil, perbatasan, ataupun perkebunan," perintah Chris.
Han menganggukkan kepalanya, berjalan ke luar ruangan dan mulai menyibukkan dirinya dengan ponsel.
"Bro, thank you ya. Meskipun kita belum menemukan Clara, tapi setidaknya kita udah berhasil menangkap dalangnya," kata Ervan sambil melihat ke arah Chris.
"Nggak perlu say thanks. Gue juga seneng kok wanita iblis itu ketangkep ... Kalo nggak, bisa rusak en runyam hidup gue ke depannya."
NITTTT.... NITTTTT
"Iya Nic," Ervan memgangkat ponselnyabyang berbunyi.
“Bagaimana keadaan Clara?” tanya Nicholas.
"Saat ini, dalangnya sudah ditangkap pihak kepolisian, tapi di mana Clara berada belum disa diketahui. Besok pagi kita akan mulai proses pencarian di daerah sekitar situ, sekarang udah malam soalnya," lanjut Ervan.
Terdengar dari ujung telepon, suara yang sangat khawatir akan keselamatan adiknya.
"Tenang, Nic. Kita sudah bekerja sama dengan pihak kepolisian kok buat mencari keberadaan Clara. Besok aku akan segera kasih kabar lagi."
"Okay, thank you ya Van," kata Nicholas.
Ervan pun menutup sambungan ponsel tersebut, dan kembali berbincang-bincang dengan Chris untuk memikirkan langkah selanjutnya.
🌹🌹🌹
sama perempuan kayak gitu aja susah banget beresinnya...huh..
jadi laki kudu setrong pribadi tangguh Chris, jangan mental tempe
kan mom Hera krn ga tau jadi mikirnya ella bagus ajah
terimakasih kak, as always ceritanya bagus 👍👍👍😍😍😍