Lady suka uang.
Lady juga cinta uang!
But, jika Lady disuruh memilih antara Ace atau uang, maka jawabannya sudah pasti Ace, karena bagi Lady, Ace adalah sumber uangnya. Simple kan jawabannya..
Menikah dengan Ace adalah salah satu hal yang tak pernah terlintas di pikiran Lady. Menikah dengan cowok galak yang memiliki tingkat kesabaran setipis tisu. mungkin juga lebih tipis dari tisu, gak tau deh.
Andaikan saja cowok itu tidak kaya raya serta berwajah jelek, maka mustahil Lady mau menerima perjodohan paksa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon capr.gurlll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 21
"Rumah segede gaban, tapi pelitnya seluas samudra," gumam Gio yang sedang bermain PlayStation di dalam kamar Liam.
Hari ini berjalan seperti biasa juga, bangun, makan, sekolah, main, makan tidur lagi.
Tapi bedanya, hari ini Siswa-Siswi SMA Star di pulangkan setelah jam istirahat tadi, karena para staf Guru semuanya akan mengikuti pelatihan lanjut dari badan kementrian Indonesia. Makanya mereka di pulangkan, agar bisa istirahat. Kapan lagi sekolah di cepat pulangkan, kan ya?
Tapi bukanya pulang istirahat, Para anak Thunder lebih tepatnya mereka anggota inti itu malah nongkrong dirumahnya Si Atan yang maniak animals itu.
Atan mengangkat acuh bahunya sembari membuka lemari kecil yang ada di ujung kamarnya. Cowok itu mengambil baju Doraemon untuk David dan kemudian memakaikannya.
"Udah jelek, banci pula," Ejek Ace melihat penampilan David. Seketika cowok itu langsung mendengus saat David malah menjulurkan lidahnya.
"Gilak!" Sontak Leon memegangi dadanya yang kaget saat seekor monyet tiba-tiba menempelkan wajahnya di kaca jendela kamar Atan sambil tersenyum lebar.
Monyet tersebut lantas cengengesan melihat wajah syok Leon.
"Nggak usah takut, itu Elizabeth. Monyet baru gue," ucap Atan memperkenalkan monyetnya yang imut-imut itu kepada para sahabat-sahabatnya.
Atan lalu membuka kaca jendelanya dan mempersilahkan Elizabeth untuk masuk ke kamarnva.
Uuk...aak...
Suara monyet tersebut yang kemudian masuk ke dalam kamar Atan dan menghampiri David sembari membawa pisang di tangannya. Dipeluknya David dengan erat sambil tersenyum manis.
David tersenyum kegirangan saat Elizabeth memberinya pisang. Makanan kesukaannya.
"Gila. Ngapain lo pelihara monyet? Udah punya bulol, masih pengen monyet lagi lo?" ucap Ace yang geleng-geleng kepala.
Atan mengangkat acuh bahunya. "Tuh monyet harganya mahal banget loh. Gue sengaja beli yang paling cantik gitu biar nanti bisa dijadiin hadiah kalau Neng Lady ulang tahun," ucap Atan tersenyum lebar.
Leon mendengus. "Goblok. Mana mau adek gue dikasih monyet sebagai hadiah ulang tahun."
"Mau. Gaidan, kan, pernah bilang sama gue kalau Neng Lady tuh sukanya sama yang mahal-mahal. Nah, jadi gue beliin monyet cantik ini buat dia. Harganya mahal banget loh," jelas Atan, membuat semua orang di dalam kamarnya langsung tepuk jidat.
Tapi nggak monyet juga kalik!
*
Saat ini, beda lainnya sepulang sekolah cepat, Lady menghentikan mobil Pajero Sport yang sedang dikendarainya di depan sebuah pemakaman.
Tempat yang selalu ia datangi setiap minggunya setelah pulang sekolah.
Lady celingak-celinguk di depan pagar pemakaman tersebut seperti sedang mencari sesuatu.
"Eh, ada Mbak cantik. Mbak mau beli bunga buat dipakai ziarah ke makam?" Tawar seorang bapak-bapak penjual bunga sambil menghampiri Lady.
Lady mengangguk antusias. "Iya, Pak. Saya mau beli satu buket bunga buat ziarah."
"Siap, Mbak."
Lady mengernyit heran saat bapak-bapak di depannya ini malah menyodorkan buket bunga Krisan kuning kepadanya.
"Saya maunya bunga buat ziarah, Pak," ujar Glora melihat bunga yang disodorkan oleh si bapak.
"Iya. Saya tau, Mbak. Ini bunganya."
Lady berdecak. "Bapak tau nggak arti bunga Krisan kuning itu apa?"
"Nggak."
"Bunga Krisan kuning itu melambangkan kebahagiaan, kegembiraan, sama perayaan. Bapak fikir saya mau ngerayain kuburan Daddy saya? Bapak fikir saya bahagia karena Daddy saya meninggal?"
Bapak penjual bunga tersebut lantas mengangkat acuh bahunya. "Saya mana tau, Mbak. Yang penting sama-sama bunga."
"Gimana sih, Pak? Bapak nggak ikut les khusus, ya, sebelum ngedaftar jadi penjual bunga di depan makam?" Omel Lady.
Penjual bunga itu lantas menggeleng. "Nggak. Saya aja baru ngejual bunga hari ini, makanya masih suka salah ngartiin bunga."
Lady menghela panjang nafasnya. Sabar Lady, sabar. "Ya udah deh, Pak. Kalau gitu, kasih saya bunga Lili putih aja."
"Bunga Lili putih nggak ada, Mbak. Adanya bunga Mawar merah, bunga Krisan kuning, Aster putih, Tulip, bunga matahari, bunga Lavender, sama bunga bangkai."
Lady menggeleng. "Bapak niat jualan di makam nggak, sih?"
Tiga menit kemudian, terlihat Lady yang berjalan memasuki area pemakaman tersebut sambil membawa sebuah buket bunga Lavender di tangannya.
Percuma debat sama bapak-bapak itu, bisa gila dia.
Pandangan Lady lalu tertuju kepada sebuah makam yang dibuat hampir 3 bulan yang lalu. Lady menghampiri makam yang bertuliskan nama Daddy kesayangannya tersebut.
'Lonard Maesa'
"Dad, Glora datang lagi. Daddy kangen nggak sama anak Daddy yang cantik ini?" Lady berjongkok di sebelah makam Daddynya.
"Daddy kok tidurnya lama banget, sih? Lady jadi kangen banget loh," ujar Lady memperhatikan nisan Daddy nya itu.
"Semenjak Daddy pergi, Daddy tau nggak kalau Mommy jadi makin sering keluar masuk rumah sakit? Mommy selalu ngeluh kalau Mommy kangen banget sama Daddy. Bukan cuman Momi, Dad. Aku juga kangen sama Daddy. Leon juga."
Lady meletakkan bunga yang dibawanya ke sebelah nisan makam papinya. "Dad, Lady udah nikah loh sama Ace esuai kemauan Daddy."
Menghela nafas, Lady dapat merasakan angin sore yang meniup kulit putihnya.
Lady mencabut satu persatu rumput liar yang mulai tumbuh di atas makam Daddynya tersebut. "Ace sering kok ngasih aku banyak duit. Dia juga ganteng banget, Dad. Aku nggak nyesel dijodohin sama dia. Walaupun awal-awal aku gak mau, ngemaksa banget nikah sama cowok yang gak suka, gak dekat. Tapi seiring waktu, aku jalanin perjodohan ini. Jujur sekarang aku senang bisa dapet suami ganteng blesteran, apalagi kaya raya Dad, hehehe. " Tawa Lady.
"Daddy tau, apalagi Papa mertua aku. Aku punya mertua yang ganteng sama kaya banget, Dad. Kenapa Daddy nggak ngejodohin aku sama Papanya Ace aja?"
Lady lalu menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 16.45 WITA.
Aduh...ngobrol sama almarhum Daddynya, membuat Lady sampai lupa waktu.
"Dad, aku pulang dulu, ya? Udah sore. Nanti, aku bakal balik lagi kok kesini buat ziarah ke makam Daddy. Aku bakal datang sama Mommy dan Leon juga, Dad," Pamit Lady seraya mengusap nisan papinya.
"Bye, Dad. Lady pulang, ya," pamit gadis itu dan beranjak pergi dari sana karena waktu yang sudah semakin sore.
Lonard, beliau adalah seorang pebisnis sekaligus Daddy dari Lady dan Leon yang sudah meninggal hampir tiga bulan yang lalu. Penyebab meninggalnya sendiri adalah karena serangan jantung.
Dan sudah pasti, yang akan meneruskan perusahannya itu adalah anak pertamanya, Leonardo Maesa. Bahkan sejak sebulan lalu, Leon sudah mulai turun langsung ke perusahan Alm. Sang Daddy. Dia cepat belajar mengenai bisnis, apalagi di bantu asisten-orang kepercayaan Lonard di perusahannya itu.
Di usia nya yang muda tapi sudah cukup terbilang dewasa, Leon sudah mengerti situasinya, bahkan dari sejak ia duduk di bangku SMP, Sang Daddy sesekali mendampinginya belajar sesedikit mengenai tata kelola Bisnis di dunia yang makin tua ini.