"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Hari Senin biasanya selalu menjadi musuh terbesar bagi siswa SMA Bina Bangsa, tidak terkecuali Almeera. Namun, Senin kali ini terasa jauh lebih mengerikan dari sekadar upacara bendera di bawah terik matahari atau ulangan harian Matematika minat.
Almeera berjalan menyusuri koridor lantai dua dengan langkah gontai, ransel hitamnya menggantung miring di satu bahu. Kantung matanya menghitam, persis seperti panda yang kurang tidur tiga hari. Sepanjang akhir pekan, otaknya tidak berhenti memutar ulang kejadian di ruang makan malam itu.
Menikah. Minggu depan. Dengan Akram.
Tiga frasa itu terus berputar seperti kaset kusut di kepalanya, membuat Almeera nyaris gila.
"Al! Ya ampun, muka lo kenapa kayak zombi belum sarapan gitu, sih?"
Sebuah tepukan kencang di bahu membuat Almeera terkesiap. Sophia Nareswari—sahabatnya sejak kelas sepuluh yang merangkap sebagai lambe turah sekolah—muncul dari belakang. Rambut panjang Sophia dikepang dua rapi, matanya berbinar-binar cerah, sangat kontras dengan aura suram Almeera.
"Kurang tidur," jawab Almeera singkat. Suaranya serak. Ia membuka pintu lokernya yang bernomor 07 dengan kasar, memasukkan beberapa buku paket yang terasa seberat beban hidupnya saat ini.
"Pasti gara-gara lo overthinking aransemen lagu buat pensi, ya?" tebak Sophia sambil bersandar di loker sebelah. Belum sempat Almeera mengiyakan agar urusannya cepat selesai, Sophia sudah memekik tertahan sambil memukul lengan Almeera berulang kali. "Al! Al! Lihat arah jam sembilan! Ya ampun, itu manusia atau dewa Yunani nyasar, sih?!"
Almeera memutar bola matanya malas. Tanpa perlu menoleh pun, dari wangi mint samar yang terbawa angin koridor dan pekikan tertahan siswi-siswi lain, ia sudah tahu siapa yang datang.
Dari ujung koridor, Akram berjalan santai bersama Bastian. Seragam cowok itu seperti biasa, rapi dan pas di badan, lengan kemejanya digulung sebatas siku memperlihatkan urat-urat lengannya yang menonjol. Di lehernya terkalung tali id card OSIS kebanggaannya. Ia menyapa beberapa siswa yang berpapasan dengannya, menebar senyum miring yang entah kenapa membuat separuh populasi perempuan di sekolah ini rela antre jadi pacarnya.
Melihat wajah tanpa dosa itu, amarah Almeera yang tadinya hanya bara kecil kini tersiram bensin. Bisa-bisanya dia senyum secerah itu setelah bikin masa depan gue hancur?! batin Almeera kesal.
Saat jarak mereka semakin dekat, mata Akram tanpa sengaja bersirobok dengan mata cokelat Almeera yang sedang memelototinya garang. Langkah Akram melambat sedetik. Ada kilat keterkejutan di sana, seolah ia juga baru teringat status absurd mereka. Namun, dengan cepat Akram menguasai dirinya. Alih-alih menghindar, cowok itu malah membelokkan langkahnya tepat ke arah loker Almeera.
Bastian yang mengekor di belakangnya mengernyit. "Kram? Ruang OSIS belah sana, woi."
Akram mengabaikan Bastian. Ia berhenti tepat di depan Almeera, jarak mereka hanya tersisa satu langkah. Sophia di sebelah Almeera sudah menahan napas, matanya berbinar-binar melihat Ketos idaman sekolah berdiri sedekat ini.
"Pagi, Al," sapa Akram ramah. Terlalu ramah, sampai-sampai Almeera bisa mendengar nada ejekan di baliknya. Mata hitam Akram menyapu wajah Almeera dari atas ke bawah. "Kusut banget muka lo. Habis jaga lilin semalaman?"
Rahang Almeera mengeras. Ia menutup pintu lokernya dengan bantingan keras. BAM!
"Bukan urusan lo," ketus Almeera, suaranya tajam seperti belati. "Minggir. Udara di sini mendadak beracun."
Bukannya menyingkir, Akram malah mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan satu tangannya di pintu loker Almeera, mengurung cewek itu di antara tubuhnya dan deretan loker besi. Wangi mint dan aroma khas maskulin menguar kuat, membuat Almeera refleks menahan napas. Suasana koridor yang ramai mendadak terasa hening bagi mereka berdua.
Sophia di sebelah mereka sudah mematung dengan mulut sedikit terbuka. Ini adalah momen langka. Akram memang suka menjahili Almeera, tapi biasanya tidak pernah sedekat ini.
"Kusut-kusut begini, nanti kalau dilihat keluarga lo, mereka bisa sedih lho," bisik Akram tepat di telinga Almeera. Suaranya rendah, hanya bisa didengar oleh cewek itu. Ada penekanan aneh pada kata keluarga. "Apalagi bentar lagi kita ada acara penting, kan? Masa lo mau tampil dengan muka zombi begini di depan penghulu—akh!"
Kalimat Akram terputus oleh ringisan tertahan.
Almeera baru saja menginjak sepatu pantofel hitam Akram dengan sepatu ketsnya sekuat tenaga. Mata cewek itu berkilat memperingatkan. Satu kata lagi lo sebut soal nikah di sini, gue bantai lo, isyarat mata Almeera jelas.
Akram menarik napas panjang, berusaha mempertahankan senyumnya meski kakinya berdenyut nyeri. Ia menegakkan tubuhnya, melangkah mundur perlahan.
"Keras kepala banget sih lo jadi cewek," kekeh Akram, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar normal di telinga orang lain. Ia merapikan kerah seragamnya santai. "Gue cuma ngingetin, jangan sampai acara pensi sekolah hancur gara-gara drummer band-nya sakit tipes."
"Gue. Nggak. Bakal. Sakit." Almeera mendesis, mengeja setiap kata. "Mending lo urusin aja proposal lo itu. Jangan sok peduli sama urusan gue."
"Woy, woy, woy! Ada apa nih pagi-pagi udah panas?"
Sebuah suara nyaring memecah ketegangan. Nino muncul dengan gaya khasnya, merangkul pundak Almeera dari samping dengan santai. Di belakangnya, Baim dan Darren menyusul. Mereka baru saja kembali dari kantin dengan es teh plastik di tangan.
"Biasa, Bos Ketos lagi cari masalah sama primadona kita," celetuk Baim sambil menyeruput es tehnya.
Nino menatap Akram dengan gaya menantang yang konyol. "Kenapa lo, Kram? Mau cabut kabel kita lagi? Sori ya, sekarang kabelnya udah gue gembok."
Akram hanya tersenyum tipis menanggapi anak-anak NOISE. Matanya beralih dari Nino, lalu menatap tangan cowok itu yang bertengger santai di pundak Almeera. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang berdesir cepat di dadanya. Perasaan tidak suka yang tidak masuk akal.
Gue kenapa sih? Dia kan cuma musuh gue, batin Akram, menepis cepat perasaan konyol itu. Ia mengalihkan pandangannya kembali ke wajah Almeera.
"Tenang aja, gue sibuk. Nggak ada waktu buat ngurusin band kalian yang berisik itu," kata Akram santai. Ia menepuk bahu Bastian pelan. "Cabut, Bas. Udah mau bel."
Sebelum benar-benar pergi, Akram membalikkan badannya sedikit, menatap Almeera dengan senyum jailnya yang khas. "Oh ya, Al. Jangan lupa cek HP. Ada pesan penting." Setelah mengedipkan sebelah matanya yang sukses membuat Sophia nyaris pingsan, Akram berlalu pergi menyusuri koridor.
Begitu sosok Akram hilang di belokan tangga, Nino langsung mengipasi wajah Almeera dengan sebelah tangannya. "Lo nggak kesurupan kan, Al? Tumben lo nggak ngelempar sepatu ke muka dia?"
"Gue lagi males buang-buang tenaga," kilah Almeera cepat. Ia buru-buru melepaskan rangkulan Nino dan merogoh saku roknya. Jantungnya berdebar tidak enak mengingat ucapan terakhir Akram tadi.
Ponselnya menyala. Ada satu notifikasi pesan masuk dari Mama.
Mama Negara:
Pulang sekolah langsung ke butik Tante Ratna di Sudirman. Jangan kabur. Akram juga nanti nyusul ke sana buat fitting baju pengantin kalian. Mama udah minta izin wali kelas kamu buat pulang cepet.
Mata Almeera terbelalak membaca rentetan kata di layar ponselnya. Fitting baju pengantin?! Hari ini?! Di saat gue ada kumpul rapat band buat pensi?!
Almeera meremas ponselnya kuat-kuat, buku-buku jarinya memutih. Pantas saja tadi Akram tersenyum sangat menyebalkan. Cowok itu pasti sudah membaca pesan dari mamanya lebih dulu.
"Al? Lo kenapa? Muka lo pucet banget," tegur Darren yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Almeera dalam diam. Suara kalem Darren menyentak kesadaran Almeera.
"Eh? N-nggak apa-apa, Ren." Almeera buru-buru memasukkan ponselnya ke saku dengan canggung. Ia memaksakan sebuah tawa hambar. "I-ini... nyokap gue. Kucing tetangga gue melahirkan. Iya, melahirkan! Jadi gue disuruh pulang cepet nanti siang buat... bantu potong pusar kucing."
Nino, Baim, dan Sophia menatap Almeera dengan tatapan kosong yang diisi oleh tanda tanya besar.
"Sejak kapan lo peduli sama pusar kucing, Al?" tanya Sophia curiga.
"S-sejak hari ini!" Almeera langsung berbalik badan, melangkah cepat menuju kelasnya. "Udah ah, gue mau ke kelas! Belnya keburu bunyi!"
Darren menatap punggung Almeera yang menjauh dengan kening berkerut. Sebagai orang yang paling rasional dan peka di antara anak-anak NOISE, instingnya mengatakan ada sesuatu yang salah. Sangat salah. Almeera tidak pernah gugup, dan cewek itu adalah pembohong yang sangat buruk.
Sementara itu, di dalam ruang OSIS yang dingin, Akram duduk di kursi kebesarannya. Matanya menatap kosong ke arah tumpukan proposal di atas meja. Tangannya memegang ponsel yang layarnya menampilkan pesan dari mamanya dengan isi yang persis sama dengan yang diterima Almeera.
Bastian meletakkan setumpuk dokumen baru di depan Akram. "Kram, draf susunan acara pensi nih. Coba lo cek dulu sebelum gue kasih ke kepsek."
Akram tidak merespons. Pikirannya melayang jauh melintasi ruang dan waktu, membayangkan dirinya berdiri di depan cermin butik, memakai jas pengantin, dan di sebelahnya berdiri Almeera dalam balutan kebaya.
Bulu kuduk Akram meremang seketika. Ia mengusap wajahnya kasar, membuang napas panjang.
"Gila," umpat Akram pelan. "Gue beneran bisa gila kalau begini caranya."
Bastian menaikkan sebelah alisnya bingung. "Siapa yang gila? Kepsek gara-gara proposal kita?"
"Bukan." Akram memasukkan ponselnya ke saku celana, lalu berdiri sambil meraih jaket OSIS-nya. "Gue yang gila, Bas. Gue cabut duluan hari ini. Urusin sisanya, ya."
Tanpa menunggu jawaban Bastian yang masih melongo, Akram melangkah keluar ruangan. Di kepalanya kini hanya ada satu misi: bagaimana caranya bertahan hidup di sesi fitting baju pengantin nanti siang tanpa harus mencekik leher calon istrinya sendiri.