NovelToon NovelToon
Takdir Di Pulau Bai She

Takdir Di Pulau Bai She

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Divya bharti

"Tiga minggu di surga tersembunyi, atau tiga minggu terjebak di istana para penguasa abadi?"

Liburan akhir semester yang seharusnya menjadi momen healing bagi empat sahabat Elena, Aldara, Keisha, dan Amanda berubah menjadi awal dari petualangan lintas dimensi yang berbahaya sekaligus mendebarkan. Tergiur oleh foto-foto estetik di internet, mereka sepakat untuk melakukan camping selama tiga minggu di Pulau Tirta Asri, sebuah pulau terpencil tak berpenghuni di wilayah laut selatan.

Mereka tidak pernah tahu bahwa di balik keindahan pasir putih dan air kristalnya, pulau itu memiliki nama asli yang terhapus dari peta manusia Pulau Bai She. Pulau tersebut adalah domain suci yang menyembunyikan empat istana kolosal kuno, rumah bagi empat raja klan siluman tertinggi dengan rupa ketampanan yang mematikan.
Bai Yuanjun, Sang Raja Ular Putih yang dingin Mo Chenxi, Sang Raja Buaya Putih yang tak tersentuh Su Lingkong, Sang Raja Rubah Putih yang penuh tipu daya dan Lang Ye, Sang Raja Serigala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana di Balik Layar Laptop

Suara gemerincing es batu yang berbenturan dengan gelas kaca bersaing dengan riuh rendah obrolan pengunjung kafe sore itu. Di pojok ruangan, dekat jendela besar yang langsung menghadap jalanan kota yang mulai padat, empat buah kepala tampak saling mendekat. Sebuah laptop diletakkan tepat di tengah-tengah meja, menampilkan halaman situs pencarian dengan puluhan tab yang terbuka.

"Aduh, kalau ke Bali lagi, bosen enggak sih? Liburan semester kemarin kan kita udah ke Nusa Penida," keluh Keisha sambil menopang dagunya dengan kedua tangan. Rambut bergelombangnya sengaja diikat asal, memperlihatkan raut wajahnya yang mulai lelah karena sudah dua jam mereka hanya berputar-putar mencari destinasi.

"Gue setuju sama Keisha," sahut Aldara. Jemari lentiknya bergerak lincah di atas trackpad laptop miliknya, menggeser layar yang menampilkan deretan foto pantai. "Kita punya waktu tiga minggu utuh, Guys. Tiga minggu! Kalau cuma rebahan di vila atau jalan-jalan ke mall di Bali, sayang banget momentumnya. Kita butuh sesuatu yang beda. Yang back to nature, yang bisa bikin kita bener-bener lepas dari stres ujian kemarin."

Amanda, yang sejak tadi sibuk mengunyah kentang goreng, tiba-tiba menegakkan punggungnya. Matanya berbinar. "Gimana kalau camping? Tapi jangan di gunung. Gue lagi pengen denger suara ombak, bukan suara angin gunung yang bikin merinding. Ada yang tahu pulau terpencil yang masih sepi tapi pemandangannya dapet banget?"

Mendengar kata 'camping', Elena yang semula hanya menyimak sambil meminum ice americano nya langsung tertarik. Ia menggeser duduknya agar bisa melihat layar laptop Aldara lebih jelas. "Coba cari dengan kata kunci 'pulau tak berpenghuni yang aman untuk berkemah'. Biasanya ada beberapa pulau kecil di sekitar wilayah selat atau kepulauan luar yang dikelola pokdarwis setempat tapi belum komersil."

Aldara langsung mengetikkan instruksi Elena. Layar Google berkedip, menampilkan beberapa artikel blog perjalanan. Setelah melewati beberapa laman, mata Aldara terpaku pada sebuah utas di sebuah forum diskusi daring yang baru diunggah beberapa bulan lalu.

"Eh, bentar. Coba lihat ini," ujar Aldara, menunjuk layar. "Pulau Tirta Asri. Katanya ini pulau kecil di wilayah perbatasan laut selatan, tapi ombak di bagian teluknya tenang banget. Di artikel ini ditulis kalau pulaunya punya pasir putih yang bersih banget, dikelilingi hutan lindung yang masih hijau royo-royo, dan yang paling penting... ada area datar di dekat pantai yang cocok banget buat dirikan tenda."

Keisha langsung merebut laptop Aldara untuk membaca lebih detail. "Wah, gila! Foto-fotonya bagus banget. Lihat deh cairan air lautnya, jernih sampai karangnya kelihatan. Tapi kok... gue jarang denger ya nama pulau ini?"

"Justru karena jarang didengar, makanya masih bagus, Kei," timpal Amanda antusias. "Kalau udah viral kayak Labuan Bajo, yang ada kita bukannya healing malah ketemu rombongan turis satu bus. Lagian di sini ditulis kalau mau ke sana, kita bisa sewa perahu nelayan dari dermaga lokal. Jarak tempuhnya cuma sekitar dua jam dari daratan utama."

Elena menatap foto Pulau Tirta Asri yang terpampang di layar. Memang tidak bisa dipungkiri, pulau itu terlihat seperti surga tersembunyi. Gradasi warna air lautnya dari hijau toska hingga biru tua tampak begitu memanjakan mata. Namun, entah mengapa, ada secercah perasaan aneh yang mendadak melintas di dadanya saat menatap siluet hutan lebat yang berdiri angkuh di belakang garis pantai pulau tersebut. Sebuah perasaan seperti... ditarik oleh sesuatu yang tidak terlihat.

"Gimana, El? Lo setuju enggak?" tanya Aldara, membuyarkan lamunan Elena.

Elena berkedip beberapa kali, lalu tersenyum tipis untuk mengusir rasa penasarannya sendiri. "Boleh. Lagian kuota tiga minggu itu pas banget. Kita bisa seminggu di sana, sisanya buat istirahat di rumah sebelum masuk semester baru."

"Oke! Deal ya! Pulau Tirta Asri!" seru Amanda riang, mengangkat gelas minumannya yang segera disambut oleh dentingan gelas ketiga sahabatnya.

Mereka berempat sama sekali tidak tahu. Di balik foto estetik beresolusi tinggi yang mereka lihat di layar laptop, Pulau Tirta Asri bukanlah sekadar pulau kosong berpasir putih. Pulau itu memiliki nama asli yang tidak akan pernah tertulis di peta manusia Pulau Bai She domain suci yang menjadi tempat berdirinya empat istana megah bernuansa kolosal kuno, rumah bagi para penguasa klan siluman tertinggi yang telah hidup selama ribuan tahun.

Rencana telah matang, namun tantangan sesungguhnya bagi seorang mahasiswa yang ingin berlibur adalah satu hal mengantongi izin orang tua.

Malam itu, rumah Elena terasa lebih sunyi dari biasanya. Aroma masakan sup ayam buatan ibunya yang biasa ia panggil Bunda masih tertinggal di udara. Elena sengaja membantu sang bunda mencuci piring di dapur, mencari waktu yang tepat untuk membuka pembicaraan.

"Bun," panggil Elena pelan sambil mengelap piring yang basah.

"Ya, Sayang? Kenapa? Kok tumben mukanya dipasang serius gitu," sahut Bunda sambil tersenyum, tangannya sibuk menata mangkuk ke dalam rak.

"Itu... kan El udah selesai ujian semester. Liburannya lumayan panjang, tiga minggu. Nah, temen temen Aldara, Keisha, sama Amanda ngajakin liburan. Kita rencananya mau camping ke Pulau Tirta Asri."

Gerakan tangan Bunda mendadak terhenti. Senyum yang tadinya menghiasi wajah wanita paruh baya itu perlahan memudar, digantikan oleh kerutan dalam di dahinya. "Pulau apa, El? Di mana itu?"

"Pulau Tirta Asri, Bun. Itu pulau kecil, agak ke selatan sih memang. Tapi kata pengelola di forum wisatanya, di sana aman kok. Pantai teluknya tenang, terus kita juga perginya berempat. Enggak sendirian." Elena mencoba menjelaskan selembut mungkin, menyadari perubahan ekspresi ibunya.

Bunda membalikkan badan, menatap Elena dengan tatapan mata yang dipenuhi kecemasan yang mendalam. Perasaan tidak tenang tiba-tiba menyergap dada sang bunda, sebuah firasat buruk yang mendadak berputar-putar di kepalanya bagai benang kusut. "El... kenapa harus pulau terpencil? Kenapa enggak ke tempat yang ramai saja? Ke Bandung, atau Jogja? Ibu kok rasanya... agak berat ya melepas kamu ke sana."

Elena memegang tangan bundanya yang terasa agak dingin. "Bun, El udah gede. Lagian kita bawa persiapan lengkap kok. Aldara udah biasa naik gunung, Amanda juga pintar masak, Keisha bawa obat-obatan lengkap. Kita cuma mau santai-santai aja di pantai, menikmati alam. Tolong izinin ya, Bun? El janji bakal kabari Bunda terus begitu dapet sinyal di sana."

Bunda menatap mata anak gadisnya yang penuh harap. Ada keteguhan di sana, jenis keteguhan yang membuat Bunda tahu bahwa melarang Elena hanya akan membuat putrinya itu kecewa. Namun, rasa cemas di hatinya tidak bisa diredam begitu saja. Pikiran Bunda melayang pada silsilah keluarga mereka, pada garis keturunan yang sengaja disembunyikan dari Elena demi melindunginya.

Bunda menghela napas panjang, bahunya merosot pasrah. "Tunggu sebentar di sini," ucap Bunda pelan sebelum berjalan menuju kamar utamanya.

Elena menunggu dengan perasaan berdebar. Beberapa menit kemudian, Bunda kembali dengan sebuah kotak beludru kecil berwarna hitam yang tampak sudah berumur. Debu tipis terlihat di sudut-sudut kotak tersebut.

"Bunda izinkan kamu pergi," kata Bunda, membuat mata Elena berbinar. "Tapi dengan satu syarat. Kamu harus pakai ini. Jangan pernah dilepas, apa pun yang terjadi selama kamu di pulau itu."

Bunda membuka kotak beludru tersebut. Di dalamnya, terbaring sebuah kalung rantai perak kuno. Yang paling menarik perhatian adalah bandulan liontinya yang berbentuk ukiran sulur-sulur tanaman yang sangat rumit dan presisi gaya ukiran yang tidak tampak seperti buatan lokal. Di bagian tengah liontin tersebut, tertanam sebuah permata berwarna merah darah yang berkilau redup, seolah memiliki denyut nadinya sendiri.

"Ini... kalung apa, Bun? Bagus banget," bisik Elena, terpesona oleh keindahan permata merah itu.

"Ini pemberian dari Pakde mu. Kamu ingat kan, Pakde yang tinggal di kaki gunung di Jawa Timur?" tanya Bunda.

Elena mengangguk. Pakde nya adalah sosok yang misterius, jarang berkumpul dengan keluarga besar, dan dikenal oleh orang-orang sekitar sebagai orang pintar yang mengerti hal-hal gaib dan spiritual.

"Pakde menitipkan ini dulu, katanya untuk kamu kalau kamu sudah dewasa dan berniat pergi jauh ke tempat yang dekat dengan alam," ujar Bunda dengan nada suara yang berubah berat dan serius. Bunda tidak menceritakan bahwa Pakde-nya pernah berpesan. “Anak ini membawa wewangian yang bisa memicu kegilaan di dunia lain. Jika ia mendekati air atau hutan tak terjamah, bentengnya harus dipasang.”

Bunda memakaikan kalung itu ke leher Elena. Begitu permata merah itu menyentuh kulit dada Elena, ada sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh gadis itu, membuat rasa cemas yang sempat ia rasakan tadi menguap seketika.

"Terima kasih ya, Bun. El janji enggak akan lepas kalung ini," ucap Elena sambil memeluk bundanya erat.

Bunda hanya bisa membalas pelukan itu sambil berkomat-kamit memanjatkan doa keselamatan dalam hati.

Sementara itu, di dimensi yang berbeda namun berada di titik koordinat bumi yang sama dengan Pulau Tirta Asri, langit di atas Domain Empat Langit sedang berwarna ungu keperakan.

Di dalam Istana Ular Putih yang megah, di mana pilar-pilar batu giok putih menjulang tinggi diukir dengan relief naga dan ular, seorang pria sedang duduk di singgasananya. Pria itu bernama Bai Yuanjun. Ia adalah Raja dari Klan Siluman Ular Putih. Wajahnya luar biasa tampan, dengan garis rahang yang tegas namun memiliki sorot mata yang dingin dan tajam bagai mata pisau. Jubah kebesarannya yang berwarna putih bersih dengan sulaman benang perak menjuntai hingga ke lantai marmer yang berkilau.

Bai Yuanjun sedang menutup matanya, bermeditasi, sampai tiba-tiba indra penciumannya yang super tajam menangkap sesuatu. Sebuah riak energi yang sangat asing namun terasa begitu manis... dan murni. Energi itu menembus segel pembatas dimensi luar, berasal dari sisi dunia manusia.

Mata Bai Yuanjun terbuka lebar. Manik matanya yang semula hitam pekat sesaat berubah menjadi vertikal layaknya mata reptil sejati.

"Raja Bai," sebuah suara berat terdengar dari arah pintu aula istana yang terbuka.

Seorang pria dengan jubah hijau tua keabu-abuan melangkah masuk dengan wibawa yang tak kalah besar. Dia adalah Mo Chenxi, Raja dari Klan Siluman Buaya Putih. Perawakannya tegap, wajahnya yang tampan memiliki kesan dingin, cuek, namun menyimpan aura intimidasi yang sangat kuat dari predator air.

"Kau juga merasakannya, Mo Chenxi?" tanya Bai Yuanjun, suaranya terdengar bergema di aula yang sepi.

"Ya. Gerbang pembatas di teluk selatan bergetar sedikit," jawab Mo Chenxi, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Ada energi manusia yang tidak biasa. Bukan seperti manusia-manusia serakah yang biasanya tersesat ke sini. Ini berbeda."

Belum sempat Bai Yuanjun menanggapi, embusan angin yang membawa kelopak bunga persik putih berputar di tengah ruangan, memunculkan sosok ketiga. Pria ini mengenakan jubah putih longgar dengan aksen merah di bagian tepinya. Wajahnya adalah definisi dari ketampanan yang memikat senyumnya tipis namun penuh misteri, dan matanya yang berbentuk phoenix tampak selalu mengamati segalanya dengan geli. Dia adalah Su Lingkong, Raja dari Klan Siluman Rubah Putih.

"Ah, kalian berdua sudah berkumpul di sini ternyata," ucap Su Lingkong sambil memainkan kipas lipatnya. "Klan Rubahku mendeteksi ada empat jiwa manusia yang sedang menuju ke arah pulau ini melalui jalur laut. Mereka adalah perempuan-perempuan muda."

"Manusia bodoh. Mereka selalu mencari mati dengan mendekati tempat yang tidak seharusnya," sebuah suara dingin dan ketus menyela dari arah bayangan pilar.

Sosok tinggi tegap dengan jubah berbulu putih keperakan melangkah maju. Rambutnya yang hitam panjang diikat tinggi, menampilkan wajah tampan yang angkuh, dingin, dan tatapan mata yang tajam seperti serigala berburu di malam hari. Dia adalah Lang Ye, Raja dari Klan Siluman Serigala Putih.

"Apakah kita harus melenyapkan mereka begitu mereka menginjakkan kaki di pantai?" tanya Lang Ye, tangannya sudah bertumpu pada gagang pedang pusakanya.

Bai Yuanjun bangkit dari singgasananya. Jubah putihnya berkibar pelan saat ia melangkah turun mendekati ketiga raja lainnya. Tatapannya lurus menembus dinding istana, mengarah ke garis pantai dimensi manusia.

"Tidak perlu terburu-buru, Lang Ye," ujar Bai Yuanjun, bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis yang sarat akan antisipasi. "Sudah ratusan tahun tempat ini tidak kedatangan tamu. Biarkan mereka datang. Aku ingin melihat, energi macam apa yang bisa membuat segel pulau ini bereaksi sedemikian rupa."

Su Lingkong terkekeh pelan, menutup kipasnya dengan bunyi klik yang nyaring. "Menarik. Mari kita sambut para gadis manusia itu dengan cara kita sendiri."

Di bawah langit malam yang memisahkan dua dunia, takdir yang telah digariskan sejak ribuan tahun lalu mulai bergerak. Empat gadis manusia biasa dari Indonesia, dan empat penguasa klan siluman kuno, kini berada di ambang pertemuan yang akan mengubah hidup mereka selamanya. Perjalanan menuju Pulau Tirta Asri telah dimulai.

1
Devi..
bukannya di awal rencananya cuma seminggu y..kok jd lama banget 3 minggu..persediaan makannya gmna??🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!