NovelToon NovelToon
Sang Penggali Makam

Sang Penggali Makam

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: D.P. Auzora.

Bejo Mulyorejo pemuda berusia 18 tahun, dia hidup sendirian di Desa Krajan jauh dari hiruk-pikuk kota. Dia mendapatkan warisan dari leluhurnya menjadi Penggali Makam melanjutkan peninggalan sang kakek buyut.

Kehidupan sehari-hari Bejo terbilang cukup, dia selalu hemat dalam pengeluarannya. Walaupun sesekali dapat bantuan dari orang tak terduga tapi dia berusaha membuka usaha kecil-kecilan, akan tetapi perjalan panjang Bejo sedikit sulit.

Bukan kesulitan tentang kebutuhan tapi kesulitan dalam menghadapi segala penampakan setelah menggali makam, dia yang memiliki mata peka dan terbiasa dengan makhluk gaib namun dia juga memiliki rasa takut tersendiri.

Bagaimana kehidupan Sang Penggali Makam ini, kita lanjutkan dalam perjalanan panjangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kegemparan

  Suasana pemakaman Desa Krajan cukup ramai, dimana ada orang yang bersih-bersih dan juga membantu pemakaman seseorang yang meninggal. Namun semua orang gempar saat tau bahwa kuburan yang di gali sebelum mengeluarkan air hitam dengan bau busuk.

Berita itu sampai ke telinga keluarga yang bersangkutan, rasa sedih nyata terlihat jelas dari wajah mereka. Bejo hanya bisa menghela napasnya, ia tidak menceritakan itu ke siapapun kemungkinan besar dari bapak-bapak sebelumnya.

Bejo tidak langsung pulang, ia menunggu di sana bersama Jarot dan Dirga.

"Mas, mbak? Saya benar-benar meminta maaf atas apa yang kalian dengar sebelumnya, memang itu benar tapi saya tidak menceritakan semua ini," ucap Bejo.

"Mas gak salah, saya tau dari bapak-bapak yang membantu mas ada yang tidak suka dengan kakak ipar saya," balas wanita muda.

"Semoga keluarga di berikan ketabahan dan kesabaran,"

"Amin.. saya pamit pulang dulu ya mas?,"

"Iya mbak."

Bejo dan Jarot, bersama Dirga pulang bersama meninggalkan tempat pemakaman. Hari semakin sore, semarak sinar matahari hendak terbenam terlihat begitu indah.

Bejo mandi setelah Jarot dan Dirga selesai. Saat hendak selesai mandi Bejo mendengar suara pelan memanggil dirinya.

"Mas Bejo....."

Seketika bulu kuduk Bejo meramang bersama kulit terasa dingin, ia memejamkan mata menenangkan dirinya sendiri.

Bejo telah selesai, namun perasaan tidak nyaman kini menghantui hatinya.

"Jo?," panggil Dinda.

"Hmm.."

"Ini Salsa dan Clara ngajak bakar-bakar ayam, boleh gak nanti kita bakar-bakar disini?," tanya Dinda.

"Boleh. Tuh di warung alat buat bakarnya ada kok," jawab Bejo.

"Oke. Aku mau beli ayam dulu sama mereka," ucap Dinda.

"Iya. Hati-hati di jalan," balas Bejo.

"Siap bos."

Dinda tersenyum sebelum ia berangkat.

Bejo duduk di teras sendirian, ia melihat layar ponselnya. Ternyata Intan mengirim pesan pada Bejo, ia membaca dan membalasnya.

"Jo.... Tolong aku Jo...."

Bejo terdiam, dia memandang ke sekelilingnya. Tidak ada siapa-siapa, membuat ia menelan ludahnya. Bau wangi melati tiba-tiba lewat di terpa semilir angin, Bejo menyipitkan matanya.

Dia tau darimana datang bau melati itu, ujung mata Bejo menangkap sosok sangat menyeramkan berubah menjadi perempuan sangat cantik di depan matanya.

Bejo tetap tenang, namun ujung matanya terus memperhatikan sosok perempuan.

"Duh Gusti apalagi ini!!," dalam hati Bejo.

Bejo memberikan pesan pada Jarot dan Dirga yang katanya mau kerumah setelah sela berganti pakaian, namun hingga magrib tidak datang-datang.

Kemudian Bejo menggelar tikar di teras rumahnya, ia duduk sendirian menikmati keindahan terang bulan. Walaupun Bejo masih merasakan ada yang memperhatikan dirinya.

Mbak Mala yang melihat Bejo duduk sendirian menghampirinya.

"Kenapa sendirian disini Jo?," tanya Mbak Mala.

"Nungguin musang mbak," jawab Bejo.

"Musang!!," ucap Mbak Mala, bingung.

"Jarot sama Dirga katanya mau kesini, tapi lama bener," seru Bejo.

"Ohh jadi musang itu Jarot sama Dirga," tebak Mbak Mala.

"Iya"

Mala tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Bejo, ia tak menyangka bahwa Musang yang di katakan Bejo itu adalah temannya sendiri.

Tidak berselang lama Dinda, Salsa dan Clara datang bersamaan dengan mobil yang cukup bagus masuk ke halaman rumah Bejo.

Membuat Bejo dan yang lainnya bingung.

"Mas.." seru Intan, keras.

"Lah.. kok bawa mobil kesini?," tanya Bejo.

"Hmm.. dari kota tadi mas," jawab Intan.

"Bawa apaan itu Din?," tanya Intan.

"Ayam,"

"Mau di apain?,"

"Di bakar. Tumben lu kesini, mau ngapain?," balas bertanya Dinda.

"Ya mau main kesinilah mau ngapain lagi," ucap Intan.

Setengah jam berlalu, Jarot dan Dirga datang. Namun wajah mereka terlihat sangat pucat membuat Bejo dan lainnya terkejut.

"Lu kenapa Rot?," tanya Bejo.

"Ta-ta-tadi aku dan Dirga melihat penampakan Jo," jawab Jarot.

"Dimana?," tanya Bejo.

"Saat kesini tadi, aku dan Dirga kabur tetap di kejar sampai kelupaan mau kerumahmu," jelas Jarot.

"Aneh.." ucap Bejo.

Bejo mulai menyusun kembali ingatan, saat ia mandi di panggil seseorang lalu duduk di teras rumah tadi sama tapi ada penampakan samar.

Kini rumah Bejo sangatlah ramai, di tambah Bejo memanggil teman-temannya di kampung. Semakin rame semakin menyala, canda tawa mereka terdengar sampai perempatan kampung.

Bau ayam bakar terbawa semilir angin dengan sedapnya.

"Jo, tuh cewek yang deket Dinda siapa sih?," tanya Dika.

"Ohh itu Salsa namanya. Lu mau kenalan?," jawab Bejo, bertanya.

"Malu gua Jo," ucap Dika.

"Tumben lu malu, biasanya kan malu-maluin," balas Bejo, sambil menahan tawanya.

"Sialan lu Jo. Ya kan beda kalau kita main bersama lah ini kan ketemu disini pasti malu lah aku," ujar Dika.

"Dah.. nanti gua kenali," ucap Bejo.

Intan yang duduk di samping Dinda berdiri, membawa makanan yang ia lupakan.

"Mas.. nih roti! Oleh-oleh dari kota tadi," ucap Intan.

"Wah enak ini rotinya," balas Bejo.

Intan duduk di samping Bejo, membuat kesal Dinda yang melihatnya. Sedangkan teman-temannya Bejo saling pandang, mereka tidak pernah melihat wanita yang menghampiri Bejo tapi seperti tidak asing bagi mereka.

"Rot.. lu mau gak?," tanya Bejo.

"Mau lah Jo," jawab Jarot.

"Cuman tanah aja lu yang gak mau," seru Bejo.

"Nah itu tau,"

"Dah nih makan, ajak yang lainnya juga karena masih ada dua kotak ini! Nanti aku simpan satu kotak aja,"

"Siap komandan Batalyon Makam,"

"Ehh.. sialan lu musang pandan."

Tawa teman-temannya Bejo terdengar sayup-sayup, Bejo juga ikut tertawa bersama mereka. Intan juga ikut tertawa kecil, Dinda yang tadinya cemberut kini ikut tertawa juga.

Ayam bakar sudah siap, mereka makan bersama-sama. Mbak Mala yang hendak pulang di hentikan Bejo untuk ikut makan, kini mereka makan ayam bakar dua ekor utuh bersama.

Dika di panggil Bejo untuk duduk dekatnya, dimana ada Salsa tak jauh duduknya.

"Sal?," panggil Bejo pelan.

"Apa Jo,"

"Ada yang mau kenalan?,"

"Siapa?,"

"Bentar lagi duduk sini dia,"

"Hmm.. okelah Jo."

Intan dan Dinda duduk di samping Bejo membuat Dika yang hendak duduk di sana berpindah tepat di samping Salsa. Kemudian Bejo membisikkan sesuatu ke Intan dan Dinda, membuat mereka tertawa pelan bersama.

Pandangan Bejo sesekali ke arah Dika yang terlihat gugup tidak seperti biasanya, sedangkan Clara sendiri terdiam duduk dengan salah satu teman Bejo yang bernama Aldo. Dimana teman Bejo ini memiliki kumis tipis sama seperti Bejo hanya saja lebih tinggi Bejo.

"Mas.. lihat teman Dinda terus memandangi Aldo!," bisik Intan.

Dinda mendengarkan bisikan Intan.

"Tau aja kamu Tan," seru Dinda.

"Hhehe taulah, kan aku punya mata," ucap Intan.

"Huhh.. dasar."

Lalu mereka berdua tertawa pelan bersama. Bejo menikmati ayam goreng dengan nasi yang di ambilnya, temannya tidak memakai nasi karena ingin makan ayam bakar saja.

Bejo sendiri memilih ini untuk kenyangkan perutnya sekalian, dimana ia jarang sekali makan ayam bakar. Karena Bejo sudah tidak memiliki ayam seperti tahun-tahun sebelumnya, semua sudah di jual untuk kebutuhan hidupnya.

"ARGGHHH... JURIKKK....."

Suara cukup keras, dengan hentakan berlari terdengar jelas membuat Bejo dan teman-temannya berdiri seketika. Mereka melihat kejalan, alangkah terkejutnya mereka saat melihat sosok yang sangat menyeramkan samar-samar. Namun hanya Clara, Mbak Mala, Dinda dan Bejo saja yang melihat jelas, yang lainnya samar tapi terlihat nyata bentuknya.

Semua orang ikut berlari masuk kedalam rumah Bejo meninggalkan acara yang masih berjalan, namun Bejo tetap tenang. Bejo tetap duduk di teras rumah sedangkan teman-temannya masuk kedalam, dalam hati Bejo ingin tau walaupun ada rasa takut di dalam hatinya juga.

1
Eliermswati
lnjut lg thor up nya😍
herupratama_
kenapa pocong nya gak ganti cewe thor 🤣
D.P. Auzora.: Nanti ada, tapi di bab selanjutnya. Dia sosok yang belum lama ini tiada, ada sebuah misteri atas kematian. Jadi Bejo akan memecahkan masalah itu, tunggu ya!! mungkin di bab 23 nanti 😊🙏
total 1 replies
Eliermswati
lnjut lg thor seru nih 😍😍smngt thor up nya
Eliermswati
smngt thor up nya lnjut lg dong cerita seru bngt g klh seru sm cerita aldi enk buat d bc nya😂😂
Eliermswati
ih ko serem banget sih thor cerita nya, tp q suka walaupun ad rasa takut klo mau bc gmn dong q g mau kelewatan walaupun 1 bab😂😂😂smngt thor up nya
Andi Akhasay: baca ceritaku kak
total 2 replies
Eliermswati
wah cerita nya mkn seru thor q suka bngt😍😍smngt thor up nya
Eliermswati
wah thor bkin penasaran nih jngn2 d rmh bejo ad tamu tak d undang yg nm nya geser laki sm mb kunti😂😂😂smngt thor up nya
D.P. Auzora.
Kalau itu sudah ada nanti, kemungkinan sama akhir bulan depan Aldi akan kembali juga. ada kejutan pokoknya tunggu saja 😊🙏
Eliermswati
g klh seru sm cerita aldi y thor, tp bnran kn thor nnti d cerita in ad aldi nya jg soalnya dah kangen nih😍smngt thor up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!