NovelToon NovelToon
Penguasa Agung

Penguasa Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Spiritual / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueria

Qin Mu, putra Patriark Keluarga Qin, dianggap sebagai sampah karena gagal membuka meridian meski telah berlatih selama satu tahun. Di tengah hinaan, tekanan keluarga, dan ancaman diusir pada Upacara Uji Spiritual, ia tetap bertahan dengan tekad kuat.
Namun, di balik kegagalannya, tersembunyi misteri besar dalam tubuhnya. Hingga suatu malam, ia akhirnya melihat energi spiritual untuk pertama kalinya, tanda awal kebangkitan yang akan mengubah nasibnya.
Dari kehinaan menuju kekuatan tertinggi, Qin Mu menantang takdir untuk menjadi Penguasa Agung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch 13 — Upacara Uji Spiritual bg. 4

​Di bawah sorot mata ratusan orang yang masih terpukau oleh pencapaian gemilang Qin Lian, ada sedikit rasa keraguan yang bergelayut di dalam benak gadis itu sendiri. Sebelum kembali ke barisan para murid, matanya sempat mencuri pandang ke arah Qin Mu yang berdiri tenang di barisan belakang.

Selama ini, setiap kali mereka mengobrol, Qin Mu memang masih berada di tahap Penempaan Tubuh. Namun, selama satu bulan terakhir, ada satu hal yang terasa berbeda dari pemuda itu.

​Fisiknya terlihat jauh lebih gagah dan padat daripada praktisi biasa pada umumnya. Apakah itu murni karena garis keturunan Patriark Qin Feiyan yang dikenal memiliki tubuh yang kekar dan perkasa, atau ada rahasia lain yang disembunyikan pemuda itu?

Paras Qin Mu yang tenang dan sorot matanya yang tidak lagi memancarkan keputusasaan membuat Qin Lian bertanya-tanya. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia percaya bahwa Qin Mu pasti akan berhasil.

​Lantaran namanya berawalan huruf 'M', seharusnya Qin Mu-lah yang dipanggil setelah Qin Lian. Akan tetapi, suasana di tempat ini tiba-tiba berubah.

​Tetua Kedua, Qin Chong, yang berdiri di podium dengan pandangan meremehkan, memegang gulungan nama dan mengabaikan urutan abjad yang seharusnya.

​"Selanjutnya, nama terakhir dari kelompok usia 'enam belas tahun'..." seru Qin Chong dengan nada suara yang sengaja dikeraskan, terdengar jelas oleh seisi tribun penonton.

​"Qin Zhang!"

​Mendengar nama itu dipanggil, seisi tribun penonton langsung bersorak-sorai. Namun, kejanggalan dalam pemanggilan nama tersebut tidak luput dari perhatian para murid dan anggota keluarga di lapangan. Banyak dari mereka yang saling berbisik, mempertanyakan mengapa nama Qin Mu yang berada di urutan alfabet 'M' justru dilewati.

​"Hei, bukankah seharusnya Qin Mu yang maju setelah Qin Lian?" bisik salah satu murid cabang kepada rekannya.

​"Tentu saja Tetua Chong sengaja melewatinya. Dia tidak ingin upacara ini dikotori oleh kehadiran si sampah yang gagal membuka meridian. Lebih baik langsung ke Qin Zhang yang merupakan salah satu jenius klan kita," jawab rekannya sambil tertawa pelan.

​Di kursi kehormatan, suara-suara sumbang dan hinaan tidak lagi tertutup. Tetua Ketiga dan Tetua Keempat tertawa ringan sambil membicarakan ketidakberdayaan Patriark.

​"Sepertinya Tetua Chong sangat tahu mana anggota keluarga yang pantas diuji dan mana yang hanya menjadi pajangan," ujar Tetua Ketiga, Qin Tong, dengan senyum mengejek yang ditujukan langsung ke arah kursi Patriark.

​Patriark Qin Feiyan tetap berdiam diri. Meskipun hinaan itu ditujukan kepadanya, sorot matanya tidak menunjukkan kemarahan. Sikap diam tersebut justru membuat Qin Feiyan tahu secara pasti siapa saja yang saat ini masih berpihak kepadanya dan siapa saja yang telah menampakkan taring permusuhan.

​Di antara barisan kursi kehormatan, Tetua Pertama, Qin Xuanyu, duduk dengan wajah dingin dan datar. Walaupun ia tidak tertarik dengan Qin Mu yang dianggap tidak memiliki bakat, ia tetap menjaga etika dan martabatnya sebagai seorang tetua. Sementara itu, Tetua Kelima, Qin Changin, justru tertawa kecil menanggapi obrolan sinis para tetua di dekatnya.

​"Saudara Feiyan," ujar Qin Changin dengan suara yang cukup keras.

​"Bolehkan aku memindahkan kursiku ke sebelahmu? Agak terlalu bising duduk di dekat orang-orang yang terlalu sibuk mengurusi urusan orang lain."

​Mendengar hal itu, beberapa tetua terkejut. Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Qin Changin bangkit dan menggeser kursinya tepat ke samping kiri Patriark. Hal yang lebih mengejutkan terjadi ketika Tetua Pertama, Qin Xuanyu, menghela napas pelan, ikut berdiri, dan memindahkan kursinya ke samping kanan Patriark.

​Tindakan kedua tetua berpengaruh itu membuat wajah Tetua Keempat, Qin Chukai, dan Tetua Ketiga, Qin Tong, menjadi sinis dan memerah karena marah. Mereka merasa diabaikan sebagai sesama tetua di dewan tetua.

​Di tengah situasi yang memanas di atas podium, Qin Zhang melangkah maju menuju area pengujian.

​Langkah kaki pemuda berusia enam belas tahun itu sangat tenang dan mantap. Auranya yang pekat menunjukkan bahwa kemampuannya tidak kalah hebat dibandingkan Qin Chen ataupun Qin Lian.

Semua penonton di tribun kembali memusatkan perhatian pada batu kristal tersebut.

​Qin Zhang meletakkan telapak tangannya di atas permukaan batu yang dingin, lalu mengirimkan aliran energi spiritual dari dalam Dantiannya.

​BOOM!

​Gelombang energi yang sangat kuat meletus. Batu Uji Spiritual bersinar terang, memancarkan pendar biru cerah yang sangat padat dan menindas.

​"Ranah Spiritual Mendalam Tahap Awal!" seru Qin Chong dengan suara bergetar karena rasa bangga yang berlebihan.

​"Luar biasa! Di usia yang baru enam belas tahun, Qin Zhang telah mencapai Ranah Spiritual Mendalam! Ini adalah bukti bakat langit yang luar biasa!"

​Seisi tribun kembali bersorak. Namun, di barisan belakang lapangan, Qin Mu hanya tersenyum tipis.

Sorak-sorai dari tribun penonton semakin membahana, memuji pencapaian Qin Zhang yang mampu menembus Ranah Spiritual Mendalam. Para kerabat dan pengikut setia Tetua Keempat saling melempar senyum penuh kepuasan. Namun, di barisan belakang lapangan, Qin Mu hanya menyunggingkan senyum tipis yang dingin.

Ia tidak terkejut melihat energi spiritual yang menguar dari tubuh Qin Zhang. Bukan karena bakat murni, Qin Mu tahu ada kejanggalan di balik pencapaian tersebut. Lima hari yang lalu, saat melintasi kediaman Qin Zhang, ia tidak sengaja mendengar percakapan antara Qin Chong dan Qin Zhang mengenai penggunaan Pil Merah Banteng Api.

Bagi praktisi beladiri biasa, pil tersebut mampu memanipulasi Dantian untuk meledakkan energi spiritual dalam jumlah besar secara instan, membuat energi di dalam batu uji terlihat setara dengan kultivator ranah yang lebih tinggi.

"Menggunakan pil curang untuk menipu mata seluruh klan?" batin Qin Mu sambil menggelengkan kepala perlahan.

"Apa gunanya pencapaian semu jika fondasi di dalam tubuhmu perlahan-lahan tergerus oleh panasnya energi pil itu?"

Di tribun penonton, pujian demi pujian terus dilontarkan kepada Qin Zhang. Beberapa tetua bahkan mengambil kesempatan itu untuk kembali menyindir Patriark secara terang-terangan.

"Lihatlah, Saudara Chukai, generasi muda kita masih memiliki harapan besar," ujar Tetua Ketiga, Qin Tong, sambil melirik tajam ke arah Qin Feiyan.

"Berbeda dengan mereka yang hanya menjadi parasit keluarga, menghabiskan ramuan tingkat tinggi selama setahun penuh namun tidak menghasilkan apa-apa."

Setelah sorak-sorai mereda, upacara pun dilanjutkan dengan pemanggilan ratusan murid berusia 15 tahun dari garis keturunan cabang. Seperti yang telah diduga, tidak ada satupun dari mereka yang melampaui standar, sebagian besar dari mereka bahkan masih tertahan di Tahap Penempaan Tubuh atau baru berhasil membuka beberapa meridian.

Waktu terus berjalan hingga matahari tepat berada di atas kepala. Kini, lapangan yang tadinya penuh sesak oleh ratusan nama telah menyisakan satu nama terakhir yang sejak awal sengaja diabaikan.

"Baiklah, karena semua murid dari kedua kelompok usia telah selesai dipanggil," suara Tetua Kedua, Qin Chong, kembali bergema dengan nada malas yang dibuat-buat.

"Masih tersisa satu nama dari garis keturunan utama yang belum maju. Kita panggil, Qin Mu!"

Sesuai aturan abjad seharusnya nama Qin Mu dipanggil tepat setelah Qin Lian, namun untuk kedua kalinya namanya sengaja dilewati hingga akhir. Banyak penonton yang heran dan menatap ke arah podium kehormatan.

Namun, yang lebih mengejutkan adalah Patriark Qin Feiyan. Ia tidak mengajukan protes ataupun marah; ia hanya mengangguk tenang, membiarkan Tetua Kedua mengatur jalannya acara sesuka hati. Sikap tenang tersebut membuat para penonton semakin yakin bahwa Patriark telah menyerah pada nasib putranya.

Begitu nama Qin Mu disebut, bisikan tajam dan tawa merendahkan langsung menyebar di antara tribun.

"Dia akhirnya maju juga. Si sampah yang hanya bisa berlatih dengan samsak pasir selama satu tahun!"

"Bocah sialan yang menghabiskan sumber daya keluarga secara percuma. Jika aku yang menggunakannya, aku sudah pasti setara dengan tiga jenius klan!"

Qin Mu melangkah maju. Ia berjalan tenang dengan tangan terkepal di balik jubahnya. Tidak ada tanda-tanda kecemasan atau rasa malu di wajahnya. Ia berhenti tepat di depan Batu Uji Spiritual yang dingin.

Sebelum ia sempat meletakkan tangannya di atas batu tersebut, Tetua Keempat, Qin Chukai, tiba-tiba bangkit dari kursinya. Ia tidak lagi memanggil Qin Feiyan dengan gelar kehormatan Patriark, melainkan langsung menyebut namanya dengan nada menghina.

"Feiyan!" seru Qin Chukai dengan suara keras yang memecah keheningan lapangan, membuat seluruh anggota keluarga dan murid yang hadir tertegun.

"Sebagai anggota dewan, saya menyatakan bahwa kepemimpinanmu selama 17 tahun ini telah membawa kemunduran besar bagi Keluarga Qin! Keberadaan putramu yang tidak berguna ini adalah bukti nyata ketidakmampuanmu mengelola sumber daya klan! Hari ini, sesuai kesepakatan, kau harus segera turun dari jabatan Patriark dan menyerahkan kepemimpinan kepada mereka yang lebih kompeten!"

Suasana di area panggung kehormatan seketika menegang. Para tetua yang berada di belakang saling berpandangan. Namun, di luar dugaan, Qin Feiyan tidak menunjukkan kemarahan. Ia berdiri, menatap dingin ke arah Qin Chukai, dan mengangguk perlahan.

"Aku menyetujuinya, Chukai," jawab Qin Feiyan dengan suara berat yang menenangkan namun sarat akan makna.

"Tetapi sebelum jabatan itu diserahkan, mari kita saksikan apakah putraku benar-benar tidak berguna seperti yang kau katakan."

Mendengar jawaban tersebut, para tetua di barisan belakang saling berbisik keheranan. Mereka bertanya-tanya tentang keyakinan yang ditunjukkan oleh Patriark. Apakah Qin Feiyan sepercaya itu kepada putranya sendiri di saat semua orang tahu bahwa Qin Mu masih belum melangkah dari tahap pertama? Ataukah, ada rahasia besar yang selama ini disembunyikan dan Qin Mu sebenarnya telah berhasil membuka meridian utamanya?

Qin Mu tersenyum tipis. Ia menoleh ke arah ayahnya, memberikan isyarat dengan tatapan mata, lalu menaruh telapak tangannya di atas Batu Uji Spiritual.

1
yos helmi
👍👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍
TGT
CERITANYA LMBAT TAPI BGUS
Putu Gunastra
seharus nya di cantumkan urutan Kultivasi nya Thor ..di bab2 awal..ato mungkin di bab setelah ini yaa..
Blueria: Terimakasih sudah memberikan saran, sudah author tambahkan tingkatan kultivasi di Chapter 1.😄💪
total 2 replies
T28J
sama sama👍
Blueria: sama-sama👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
yg bnyk tor up ya
Blueria: Siap💪 Gaskan. Vote dan Like ataupun gift agar author tambah semangat 👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
update
Blueria: Besok pagi ya updatenya, author lagi ada kerjaan. Terimakasih udah hadir Kak Roy👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
up
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Blueria: Siap, semoga terhibur. 👋😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!