NovelToon NovelToon
Kapten Basket Itu Suamiku

Kapten Basket Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Perjodohan
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilazahra

Nikah muda? ✅
Nikah online? ✅

Satu kelas sama suami sendiri yang ternyata idola sekolah? Nah, yang ini di luar prediksi BMKG!


Satu tahun lalu, sebuah ijab kabul via video call mengikat takdir Ellea dengan seorang pria di kota. Tanpa cinta, tanpa tatap muka langsung.

Kini, Ellea harus menyusul sang suami ke kota setelah kepergian neneknya. Namun, saat tiba di sana, justru pria itu kabur dari rumah dan takdir membawa mereka untuk bertemu kembali di koridor sekolah.

Pria itu bernama Albiru, pria yang paling dielu-elukan, sang kapten tim basket yang dingin dan tak tersentuh, ternyata adalah pemilik cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Ellea.

Bagaimana cara Ellea menyembunyikan rahasia besar ini di depan teman-teman barunya? Dan mampukah sang kapten basket mengenali istrinya sendiri yang bercadar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilazahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Calon Istri

Albiru mengintip dari balik pintu yang tak tertutup rapat. Celah sempit itu menampilkan sosok Ellea yang masih terduduk di atas sajadah, mengenakan mukena putih bersih yang tampak kontras dengan kegelapan malam. Tiba-tiba, suara lantunan ayat suci Al-Qur'an yang merdu itu berhenti, digantikan oleh suara isak tangis yang tertahan, namun terdengar begitu menyayat hati.

"Nek, maafkan Ellea ..." Lirih Ellea di sela tangisnya. Tubuhnya bergetar hebat saat ia menyembunyikan wajah di atas lutut yang didekapnya erat-erat. "Ellea belum bisa menjadi istri yang baik. Ellea ... Ellea rasanya sudah tidak kuat lagi, Nek."

Melihat pemandangan itu dari balik celah pintu, ada seutas tali tak kasatmata yang mendadak melilit leher Albiru, membuatnya kesulitan bernapas. Penyesalan, rasa bersalah, dan kebingungan bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Pemandangan rapuh itu benar-benar membuat Albiru tidak tenang.

"Apa gue ... beneran se-keterlaluan itu?" gumam Albiru sangat pelan.

Puk.

Sebuah tepukan lembut di pundak kirinya seketika mengejutkan Albiru. Pria itu tersentak dan refleks menoleh ke samping.

"Bunda?" bisik Albiru tertahan.

Mahira berdiri di sana, menatap putra tunggalnya tanpa ada lagi sisa amarah atau tatapan ketus seperti di ruang tengah tadi. Yang tersisa di sepasang mata ibunya kini hanyalah kelelahan dan gumpalan rasa sayang yang teramat besar untuk sang anak.

Melihat sorot mata teduh ibunya, benteng pertahanan ego Albiru yang kokoh sepanjang hari ini runtuh sepenuhnya. Tanpa memedulikan gengsinya sebagai remaja yang kerap dicap berandalan di sekolah, Albiru langsung maju selangkah dan mendekap tubuh ibunya erat-erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Mahira.

"Maafkan Al, Bun ... maafkan Al yang sudah egois, maaf karena Al selalu membentak dan bikin Bunda kecewa," bisik Albiru dengan suara parau, menahan air mata yang mendesak keluar dari sudut matanya.

Mahira tertegun sejenak, lalu tangannya bergerak lambat mengusap punggung kokoh putranya, memberikan kehangatan yang selama beberapa waktu ini sempat renggang di antara mereka. Wanita paruh baya itu mengembuskan napas panjang, sarat akan keikhlasan.

"Bunda juga minta maaf, Nak," balas Mahira lembut, mengecup pelipis Albiru dengan penuh kasih sayang. "Bunda sadar, selama satu tahun ini bunda selalu memaksa dan tidak pernah benar-benar mencoba mengerti bagaimana perasaan kamu yang harus terikat pernikahan di usia muda. Sekarang ... bunda tidak akan memaksa lagi. Semua keputusan ada di tangan kamu, Nak. Pikirkan masa depanmu, dan pikirkan juga hati wanita yang sudah sah menjadi tanggung jawabmu."

Setelah mengatakan kalimat yang menyejukkan sekaligus menampar nurani Albiru itu, Mahira melepaskan pelukannya perlahan. Ia memberikan senyuman tipis sebelum akhirnya berbalik, berjalan pelan ke kamar meninggalkan Albiru sendirian di depan kamar tamu.

Albiru berdiri mematung, menatap punggung ibunya yang perlahan menjauh dan menghilang di balik pintu kamar utama. Koridor kembali sunyi, menyisakan dirinya yang kini dirundung dilema luar biasa.

"Ya Allah ... berikan aku petunjuk-Mu. Tolong bimbing hati Al yang bebal ini," batin Albiru lirih, menatap langit-langit koridor dengan gumpalan sesak yang masih bersarang di dada.

Merasa tidak ingin mengganggu ketenangan Ellea lebih jauh, Albiru akhirnya membalikkan badan, melangkah gontai kembali menuju kamarnya sendiri. Namun, tepat setelah derap langkah kaki Albiru menjauh, pintu kamar tamu yang tadinya sedikit terbuka kini bergerak pelan.

Ellea berdiri di balik daun pintu, menatap punggung tegap suaminya yang kian menjauh menyusuri lorong remang-remang. Air mata masih mengalir membasahi pipinya di balik kain cadar yang sudah ia lepas sebagian.

"Kak Al ... sakit rasanya mencintaimu sendirian seperti ini," bisik Ellea dalam hati, meraba dadanya yang terasa nyeri luar biasa sebelum akhirnya menutup pintu kamar itu rapat-rapat.

**

Keesokan harinya, mentari pagi bersinar cerah menembus jendela kaca kediaman Samudra, namun kehangatan itu sama sekali tidak menyentuh suasana di dalam ruang makan. Meja makan yang biasanya riuh oleh celetukan polos Alisa atau omelan kecil Mahira kini mendadak sunyi senyap, menyerupai sebuah ruang hampa udara.

Rendra duduk di kursi utama sambil membaca tablet kerjanya dengan wajah datar. Mahira sibuk mengoleskan selai ke roti tanpa bersuara, sedangkan Alisa hanya menunduk dalam, mengunyah makanannya dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara sendok yang beradu dengan piring. Di sudut lain meja, Ellea yang sudah rapi mengenakan seragam sekolah dipadu khimar dan cadar hitamnya, hanya duduk diam memandangi segelas susu putih hangat yang belum disentuhnya.

Albiru berjalan masuk ke ruang makan dengan seragam yang sudah rapi sesuatu yang langka, mengingat biasanya ia selalu membiarkan kemejanya keluar dan dasinya terpasang asal-asalan. Pria itu menarik kursi di sebelah Ellea, membuat gadis itu sedikit menggeser duduknya secara refleks, menciptakan jarak yang kentara.

“Kenapa dia nggak mau berdekatan denganku? Apa aku bau?” batin Albiru.

Setelah menyelesaikan sarapan yang terasa mencekam itu, mereka semua bersiap untuk berangkat ke sekolah. Saat berada di teras depan, Albiru sengaja memperlambat langkahnya, menunggu Ellea yang berjalan di belakang bersama Alisa.

"Ellea," panggil Albiru, membuat langkah kedua gadis remaja itu terhenti.

Albiru berdeham pelan, mencoba menetralkan suaranya yang mendadak gugup. "Hari ini ... lo berangkat bareng gue naik motor. Pakai helm ini, ayo cepat naik!" perintahnya sambil menyodorkan sebuah helm cadangan berwarna hitam ke arah Ellea.

Alisa yang berdiri di samping Ellea langsung melotot kaget, menahan diri untuk tidak memekik kesenangan melihat kemajuan kakaknya.

Namun, Ellea hanya menatap helm itu sekilas sebelum akhirnya menundukkan kepala, menghindari tatapan mata elang Albiru. "Maaf, Kak Al. El berangkat bareng Alisa saja hari ini,” tolak Ellea dengan nada suara yang teramat datar, namun terdengar sangat tegas.

Albiru tertegun, tangannya yang memegang helm menggantung di udara selama beberapa detik. Ada rasa kecewa dan penolakan yang menampar egonya, namun mengingat segala kesalahan kasarnya kemarin, Albiru sadar ia tidak punya hak untuk marah. Ia menarik kembali helmnya tanpa memaksa. "Ya sudah kalau gitu. Hati-hati di jalan,” tukasnya pelan.

“Ayo Alisa, kita pergi?” ajak Ellea terburu-buru.

“Ehh, tapi!! seru Alisa hendak protes.

“Assalamualaikum,” pamit Ellea terburu-buru seraya menarik tangan Alisa.

“Waalaikumsalam,” sahut Albiru.

*

Setibanya di sekolah, suasana di SMA tempat mereka bersekolah sudah ramai oleh para siswa-siswi lainnya. Albiru yang tiba lebih dulu menunggu Ellea di depan gerbang.

"Albiru! Tumben pagi banget datengnya hari ini," sapa Sandra dengan suara manja yang melengking. Gadis berambut bergelombang itu langsung bergelayut di lengan Albiru, mengabaikan tatapan mata murid-murid lain di sekitar mereka. "Nanti istirahat temenin aku ke kantin ya? Ada yang mau aku bicarakan sama kamu.”

Biasanya, Albiru akan membiarkan Sandra bergelayut atau setidaknya membalas dengan senyuman miring andalannya. Namun hari ini, entah mengapa, sentuhan Sandra terasa begitu mengganggu di kulitnya. Albiru menarik lengannya dengan gerakan tegas, membuat genggaman Sandra terlepas begitu saja.

"Gue sibuk nanti istirahat. Jangan ganggu gue," tukas Albiru cuek, tatapannya sama sekali tidak mengarah pada Sandra, melainkan lurus menembus kerumunan murid di ujung jalan.

“Elo kenapa sih Al? Aneh banget,” gumam Sandra kesal.

Sepasang mata tajam Albiru menangkap sosok Ellea yang baru saja berjalan masuk dari gerbang sekolah bersama Alisa. Namun, perhatian Albiru seketika terkunci saat melihat seorang pria tinggi berwajah menyebalkan, Andra, melangkah lebar memotong jalur berjalan Ellea.

Albiru menghentikan langkahnya di tempat, membiarkan Sandra yang terus mengoceh kesal di sampingnya menjadi angin lalu. Fokusnya sepenuhnya tercurah pada interaksi antara istrinya dan Andra.

"Ellea, tunggu?" panggil Andra sambil tersenyum hangat, menghentikan langkah Ellea dan Alisa di tengah jalan yang mulai ramai. Pria itu menyodorkan sebuah kotak bekal kecil berwarna biru dari dalam tasnya. "Kamu sudah sarapan? Gue, eh aku bawain roti spesial pagi ini, masih hangat. Ini aku yang bikin loh, pakai cinta lagi.”

“Duh, so sweet banget sih Kak Andra,” sela Alisa sembari melirik kakaknya berharap pria berhati batu itu melihat dan mendengar.

Ellea terdiam sejenak di balik cadarnya. Mengetahui kebaikan Andra selama ini, Ellea mengangguk pelan dan mengulurkan tangannya. "Terima kasih banyak, Kak Andra. Kebetulan El belum sempat sarapan tadi ..."

Sret!

Belum sempat jemari Ellea menyentuh kotak bekal tersebut, sebuah tangan kekar dengan urat-urat yang menyembul tiba-tiba menyambar pergelangan tangan Ellea dari samping, menarik tubuh gadis itu dengan sentuhan yang protektif hingga mundur dua langkah ke belakang tubuh tegap Albiru.

Ellea terpekik kecil karena terkejut, sementara Alisa yang berada di sana langsung menutup mulutnya, menahan napas melihat kedatangan kakaknya yang mendadak seperti badai.

Andra yang tangannya menggantung di udara seketika mengernyitkan kening dalam-dalam. Sorot matanya yang biasanya ramah kini berubah menegang saat menatap wajah Albiru yang mengeras dengan rahang yang mengatup rapat.

"Albiru? Apa-apaan ini? Lepasin tangan Ellea, lo bikin tangan calon istri gue ternoda!" seru Andra tegas, melangkah maju mencoba mengejar dan berniat melepaskan cengkeraman tangan Albiru pada pergelangan tangan Ellea.

Albiru tidak bergeming satu senti pun. Ia justru semakin mempererat cengkeramannya yang hangat namun tidak sampai menyakiti Ellea, lalu memposisikan tubuh besarnya sepenuhnya di depan Ellea, menghalangi pandangan Andra dari istrinya.

Dengan kilatan mata elang yang memancarkan aura permusuhan yang pekat, Albiru menatap Andra lurus-lurus dari atas ke bawah.

"Calon istri? Jangan mimpi!” timpal Albiru kesal. “Oh ya, Andra, mulai sekarang jangan pernah berani-berani dekati sepupu gue lagi! Apalagi sampai bilang dia calon istri elo segala!" tegas Albiru.

1
Iped Suhendi
sangat bagus cerita nya.
Iped Suhendi
semangat ya nulis nya.Bagus banget cerita nya.Saya suka 😍
Aqilazahra: terima kasih Kak, sudah mampir. semoga suka ya
total 1 replies
Muharlita Muharlita
saya suka
Devan Davin
bgus skli
Aqilazahra: terima akak sudah mampir
total 1 replies
rattna
bagus
Aqilazahra: terima kasih kakak, sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!