Usianya baru 18 tahun, saat Ethan Algheano Sanjaya terpaksa merenggut mahkota paling berharga milik Ruby Mikhayla Attala yang merupakan kekasih Ethan sejak SMP.
Papi Juna marah besar pada Ethan, karena selain merusak masa depan Ruby, Ethan juga terlibat perkelahian dengan Rumi Rajendra Attala hingga membuat saudara kembar Ruby itu menjadi koma.
"Ethan hanya akan menjadi anak tak berguna yang akan selalu merepotkanmu, Alvin!"
"Anakmu tak akan jadi apa-apa tanpa campur tanganmu dan keluarga besarmu!"
Sebuah kalimat yang dilontarkan oleh Papi Juna, membuat Ethan bertekad untuk mewujudkan mimpinya sebagai dokter tanpa bantuan atau campur tangan sang Dad maupun keluarga besarnya.
Apakah Ethan akhirnya bisa membuktikan kalau ia mampu mencapai kesuksesan tanpa campur tangan dari keluarga besarnya?
Lalu apa sebenarnya yang terjadi pada Rumi di hari saat perkelahiannya bersama Ethan?
Benarkah Ethan yang sudah membuat Rumi menjadi koma?
Apakah pada akhirnya, Ethan dan Ruby akan kembali bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FOTO SIAPA?
Mom Ghea menggantikan Ethan memeluk Ruby yang masih menangis tersedu, lalu mengajak menantunya tersebut untuk masuk ke dalam rumah.
"Juna bahkan tak sedikitpun memukulmu," Dad Alvin bergumam tak percaya pada Ethan. Dua pria itu kini duduk di teras rumah.
"Apa itu karena Ruby, Dad?" Tanya Alvin bingung.
"Dad rasa bukan."
"Juna memang marah padamu, tapi itu sudah bukan lagi kemarahan seperti tujuh tahun yang lalu." Pendapat Dad Alvin lagi.
"Andai ada bukti untuk meluruskan kesalahpahaman ini," wajah tua Dad Alvin terlihat menerawang.
Nyatanya, bukan hanya Ethan dan Ruby yang merasa tersiksa dengan perseteruaan keluarga Attala. Namun Dad Alvin, Mom Ghea, Mami Lily, semuanya juga ikut tersiksa. Bahkan mungkin Papi Juna.
"Masuk dan hiburlah Ruby, Eth!" Titah Dad Alvin selanjutnya pada Ethan yang terlihat melamun.
"Apa Ethan harus membujuk Ruby agar mau pulang, Dad?" Tanya Ethan bingung.
"Ruby sudah memilih bersamamu dan memperjuangkan hubungan kalian. Kenapa kau malah tak memberikannya dukungan?" Jawab Dad Alvin sedikit geram dengan ketidakpekaan Ethan.
"Baiklah, maaf!" Ethan menundukkan wajahnya dan merutuki kebodohannya.
"Masuklah!" Titah Dad Alvin sekali lagi.
Ethan mengangguk dan segera masuk ke dalam rumah meninggalkan Dad Alvin. Tepat di bawah tangga, Mom Ghea memanggil Ethan yang hendak naik ke lantai dua.
"Ethan!"
"Ruby belum makan," Mom Ghea mengangsurkan sepiring makanan ke tangan Ethan.
"Bujuk dia agar menghabiskannya," pesan Mom Ghea lagi yang langsung membuat Ethan mengangguk patuh.
"Baik, Mom! Ethan ke kamar dulu," pamit Ethan seraya menapaki anak tangga dan segera menuju ke kamarnya.
Ethan membuka pintu kamarnya perlahan, dan kedua netranya langsung mendapati Ruby yang sedang memainkan senar dari gitar yang tersandar di sisi lemari.
"Hai," sapa Ethan lembut seraya menutup kembali pintu kamar.
"Bukankah ini gitar pemberian Rumi waktu itu?" Tanya Ruby pada Ethan yang sudah duduk di sebelahnya. Pasangan suami istri tersebut kini duduk di atas lantai beralaskan karpet warna cokelat.
"Ya. Rumi merengek minta dibelikan gitar oleh Papi Juna, tapi ia tak kunjung bisa memainkannya. Lalu Rumi marah dan malah memberikannya kepadaku," jawab Ethan seraya tertawa kecil mengenang masa-masa dulu ia berbagi mainan, lalu makan di piring yang sama bersama Rumi dan Ruby.
Ya ampun!
Sejak dulu mereka bertiga memang tak terpisahkan.
"Kau masih ingat cara memainkannya, kan?" Ruby sudah mengambil gitar tadi dan memberikannya pada Ethan.
"Aku rasa masih," jawab Ethan sedikit meringis sekaligus menerima gitar dari tangan Ruby.
"Mainkan untukku kalau begitu," pinta Ruby seraya menyandarkan kepalanya di pundak Ethan.
"Kau harus menghabiskan makananmu dulu!" Ujar Ethan mengajukan syarat.
"Aku tidak lapar, Eth!" Tolak Ruby cepat.
Ethan menggeleng seolah mengatakan pada Ruby kalau ia tak menerima penolakan. Pria itu meletakkan gitar yang tadi berada di pangkuannya, dan ganti meraih piring berisi makanan, lalu mulai menyuapi Ruby.
"Ayo makan, Istriku sayang!" Bujuk Ethan dengan sedikit rayuan.
Ruby akhirnya membuka mulut dengan setengah hati dan menerima suapan Ethan.
"Kau tidak boleh terlambat makan agar tidak sakit," nasehat Ethan seraya menyeka sisa makanan yang ada di sudut bibir Ruby.
"Bukankah ada kau yang siap mengobatiku kapan saja jika aku sakit, Dokter Ethan!" Jawab Ruby di sela-sela wanita itu mengunyah.
"Hmmm, tetap saja. Aku tidak suka jika harus mengobati kau atau anggota keluargaku yang lain. Aku maunya kau itu selalu sehat dan selalu tersenyum bahagia," ujar Ethan yang hanya membuat Ruby tertawa kecil.
Ethan terus menyuapi Ruby sambil sesekali menyuapi dirinya sendiri.
Ya, Ethan mendadak ikut lapar gara-gara menyuapi Ruby. Tidak masalah sepertinya jika Ethan ikut makan juga, agar gunungan nasi di piring juga secepatnya habis.
"Ponselmu berbunyi," ujar Ruby menunjuk ke ponsel Ethan di atas nakas.
Ethan segera mengambil ponselnya dan memeriksa pesan yang masuk yang rupanya dari Marcell.
"Foto siapa itu?" Tanya Ruby curiga saat Marcell mengirimkan foto seorang wanita ke ponsel Ethan. Dan yang pasti itu bukanlah foto Brigita.
"Vi-"
"Vivian namanya," jawab Ethan setelah membaca daftar riwayat hidup dari wanita yang fotonya baru saja dikirimkan oleh Marcell.
"Siapa Vivian? Kau mau mengkhianatiku?" Tuduh Ruby yang raut wajahnya sudah berubah menjadi tak senang.
"Sama sekali tidak, Ruby!" Kilah Ethan yang buru-buru menenangkan Ruby.
"Lalu siapa itu Vivian? Kenapa Marcell mengirimkan foto beserta daftar riwayat hidupnya padamu?" Ruby terus menyentak tangan Ethan yang berusaha menenangkannya.
"Itu teman Marcell!" Ethan sedikit kewalahan menghadapi sikap barbar Ruby saat sedang marah atau cemburu.
"Vivian sedang butuh pekerjaan dan Marcell minta tolong padaku untuk mencarikan pekerjaan untuk Vivian," jelas Ethan yang masih berusaha menangkis tangan Ruby yang terus menyerangnya.
"Kenapa tidak mencari pekerjaan sendiri? Kenapa harus minta tolong kepadamu?" Tanya Ruby penuh selidik.
Ethan mengendikkan kedua bahunya.
"Vivian mencari pekerjaan dengan gaji yang diatas rata-rata karena ia sedang butuh biaya besar untuk pengobatan keponakannya," jelas Ethan pada Ruby.
"Apa memang keahlian Vivian Vivian itu, hingga ia percaya diri sekali kalau akan ada yang memberikannya pekerjaan dengan gaji besar?" Ruby sudah mulai tenang dan kini wanita itu kepo sekali dengan Vivian.
"Pernah menjadi baby sitter dan merawat lansia di panti jompo. Pernah menjadi admin juga di sebuah olshop selama satu tahun," terang Ethan pada Ruby.
"Apa itu artinya dia bisa merawat seorang pria lumpuh juga?" Tanya Ruby seraya menatap pada Ethan. Saat itulah Ethan paham arah pembicaraan Ruby.
"Apa Rumi baru saja memecat perawatnya lagi?" Tebak Ethan yang langsung membuat Ruby mengangguk.
Ruby mengambil kembali ponsel Ethan dan melihat foto Vivian tadi.
"Perawat sebelumnya belum ada yang semuda ini. Barangkali ini jawaban untuk kesepian yang selalu melingkupi hati Rumi." Ujar Ruby seraya menatap pada status single di data diri Vivian.
"Akan ku sampaikan pada Marcell kalau begitu," Ethan cepat-cepat mengambil ponselnya dari tangan Ruby dan menghubungi Marcell.
"Halo, Ethan! Bagaimana?"
"Aku punya pekerjaan untuk Vivian!"
.
.
.
Stop dulu.
Next ada adegan nganu soalnya 🤭🤭
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
kan bisa keliatan siapa yg ngasih obat kl ada cctv