Sejak bayi, Chelsea tumbuh dalam pelukan keluarga yang memberinya cinta tanpa batas.
Tanpa sadar ... Chelsea mencintai satu orang yang tak seharusnya ia cintai. Sampai sebuah rahasia menghancurkan semuanya.
Sayangnya, orang yang paling ia cintai memilih untuk mempercayai kebohongan. Chelsea pergi dengan hati yang hancur dan berjanji untuk kembali sebagai kebanggaan keluarga.
Dia bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Saat semua kebenaran terungkap
El baru sadar bahwa dia telah kehilangan seseorang yang selalu mencintainya.
Namun di saat yang sama, seseorang datang membawa cinta yang selama ini diam-diam ia simpan, Al. Akankah Chelsea membuka hatinya kembali? Atau memilih meninggalkan semua luka di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh
Matahari mulai bergeser ke arah barat ketika mereka selesai makan siang. Piring-piring di atas meja hampir kosong, tetapi tak satu pun dari mereka benar-benar menikmati hidangan itu. Pikiran El masih dipenuhi pertengkarannya dengan sang ayah, sementara Zoya sibuk memikirkan sesuatu yang sama sekali berbeda.
Seorang pelayan datang membawa map hitam berisi tagihan. "Silakan, Kak."
El mengangguk pelan. Ia langsung mengeluarkan dompet dari saku celananya. Dengan gerakan yang sudah menjadi kebiasaan, ia mengambil kartu bank berwarna hitam miliknya lalu menyerahkannya kepada pelayan.
"Pakainya ini saja."
"Baik, Kak."
Pelayan itu membawa kartu tersebut menuju mesin EDC yang berada di dekat meja kasir. El bersandar di kursinya. Ia sama sekali tidak memiliki firasat buruk.
Beberapa saat kemudian, pelayan itu kembali sambil tersenyum canggung. "Maaf, Kak. Kartunya gagal."
El mengangkat kepala. "Gagal?"
"Iya, Kak. Mungkin bisa dicoba sekali lagi."
El mengangguk. "Silakan."
Pelayan itu kembali menggesek kartu tersebut. Beberapa detik berlalu. Namun hasilnya tetap sama.
Pelayan itu datang lagi dengan wajah semakin tidak enak. "Maaf sekali, Kak. Kartunya tetap tidak bisa diproses."
Kening El langsung berkerut. "Sini saya lihat."
Ia mengambil kartu itu lalu memperhatikannya sebentar. "Harusnya nggak mungkin."
Ia tahu saldo di rekening itu lebih dari cukup untuk membayar makan siang mereka. "Coba sekali lagi."
Pelayan menurut. Namun untuk ketiga kalinya, mesin itu tetap menolak. El mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Ada pesan apa di mesinnya?"
Pelayan melihat layar EDC. "Status kartu tidak aktif, Kak."
Jantung El seperti berhenti berdetak sesaat. "Tidak aktif?"
"Iya."
El terdiam. Mana mungkin? Baru kemarin kartu ini masih bisa digunakan. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan mencoba membuka aplikasi perbankan.
Namun akun tersebut juga tidak bisa diakses. Wajah El perlahan berubah pucat.
Zoya yang sejak tadi memperhatikan akhirnya membuka tasnya. "Sudah, biar aku saja yang bayar."
"Nggak usah."
"Nanti malah lama."
El masih terlihat bingung. "Tapi ...."
"Nggak apa-apa."
Zoya mengeluarkan kartunya sendiri lalu menyerahkannya kepada pelayan. "Pakai ini saja."
"Baik, Kak."
Tak sampai satu menit, pembayaran berhasil dilakukan. Pelayan mengucapkan terima kasih sebelum pergi meninggalkan meja mereka.
Suasana kembali sunyi. El masih menatap kartu bank di tangannya seolah berharap semua itu hanya kesalahan sistem.
"Aku ganti nanti," ucapnya pelan.
Zoya tersenyum tipis. "Iya. Tenang aja."
Meski bibirnya tersenyum, pikirannya justru mulai dipenuhi kecemasan. Kalau kartunya benar-benar diblokir
Mereka pun keluar dari restoran. Udara siang terasa cukup panas. Mobil El masih terparkir di basement, tetapi sebelum masuk ke dalam mobil, pria itu masih sempat mencoba menghubungi layanan bank.
Beberapa kali panggilan dilakukan. Namun karena antrean panjang, ia tidak kunjung tersambung. Dengan napas panjang, akhirnya ia memilih menyerah.
Mobil melaju meninggalkan restoran. Selama beberapa menit, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.
Sampai akhirnya Zoya memecah keheningan. "El ...."
"Ya, ada apa?"
"Kamu tahu nggak?"
"Apa?" tanya El. Zoya menoleh pelan.
"Menurutku ini pasti ulah Daddy kamu."
El tetap fokus menyetir. "Maksud kamu?"
"Yang memblokir kartu kamu."
El menggenggam setir sedikit lebih erat. "Aku juga kepikiran ke sana."
"Beliau pasti menghubungi bank."
"Mungkin."
"Supaya kamu pulang."
El tersenyum tipis. "Biar saja. Aku tak akan pulang."
Zoya menatapnya. El kembali mengulang ucapannya. "Aku nggak akan pulang."
"El, kamu harus datang minta maaf sama Daddy ...."
"Tak akan. Kalau memang harus jadi gembel, ya sudah."
Zoya langsung menggeleng. "Jangan keras kepala," ucap gadis itu. El tidak menjawab.
"Kamu belum tahu kerasnya hidup di luar sana."Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Tanpa uang, semuanya susah."
Zoya kembali berkata pelan. "Apa pun sekarang butuh uang."
Mobil kembali dipenuhi keheningan. Beberapa saat kemudian, El tiba-tiba bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
"Zoya."
"Iya?"
"Kalau suatu hari semua fasilitas dari Daddy benar-benar ditarik, apakah kamu juga akan meninggalkan aku?"
Pertanyaan itu membuat suasana di dalam mobil mendadak terasa berat. Zoya tidak langsung menjawab. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan.
Dalam hati, ia sebenarnya sudah memiliki jawaban. Kalau El benar-benar miskin.Untuk apa aku bertahan? Namun tentu saja ia tidak mungkin mengatakan itu. Keheningan berlangsung cukup lama.
El bahkan sempat meliriknya sekilas. "Kok diam?"
Zoya akhirnya tersenyum kecil. "Aku akan tetap bersamamu."
El menatapnya beberapa detik. "Benarkah?"
"Iya."
Ada jeda sesaat sebelum Zoya kembali berbicara. "Tapi ...." Gadis itu menghentikan ucapannya. El kembali memandang jalan.
"Kalau suatu hari nanti kita menikah. Anak kita tetap butuh nama besar Daddy kamu."
El mengernyit. "Maksudnya?"
"Kita harus tetap menjalin hubungan baik sama beliau. Bagaimanapun juga, ia ayah kamu. Dan nama keluarga Arsaka pasti akan sangat berarti untuk masa depan anak-anak kita nanti."
El tidak menjawab lagi. Mobil terus melaju membelah jalanan kota. Sementara itu, di dalam hati El mulai muncul sebuah pertanyaan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Kalau suatu hari aku benar-benar kehilangan semuanya. Apakah Zoya masih akan tetap di sampingku? Atau ia juga akan pergi seperti yang lain?
Waktu berlalu begitu cepat. Hari yang dinantikan Chelsea akhirnya tiba. Hari wisudanya.
Sejak pagi, gadis itu sudah bersiap di apartemennya. Toga yang tergantung rapi di dekat lemari berkali-kali ia rapikan sendiri meski sebenarnya tidak ada yang salah.
Hari itu seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Ponselnya berdering. Nama Arsaka muncul di layar.
Chelsea langsung mengangkatnya. "Selamat pagi, Ded."
"Selamat pagi, Sayang." Suara Arsaka terdengar hangat seperti biasa. "Daddy sudah siap. Daddy jemput sekarang, ya?"
Chelsea tersenyum. "Nggak usah, Ded."
"Lho?"
"Aku berangkat dari apartemen saja."
"Tapi Daddy bisa sekalian nemenin."
Chelsea tertawa kecil. "Nanti ketemu di kampus saja."
Arsaka sempat terdiam. "Yakin, Sayang?"
"Iya, Dad."
"Baiklah. Jangan telat ya."
Chelsea mengangguk meski sang ayah tidak bisa melihatnya. "Siap." Panggilan pun berakhir.
Chelsea berdiri beberapa saat di depan cermin. Perlahan ia mengenakan toga sambil tersenyum sendiri. Namun di balik senyumnya, pikirannya justru melayang kepada seseorang.
Bang El, apakah hari ini Bang El akan datang?
Saat wisuda sarjananya dulu, El datang paling awal. Pria itu bahkan sibuk memotret dirinya dari berbagai sudut sambil terus berkata bahwa adiknya hari itu adalah wisudawati tercantik.
Chelsea masih ingat bagaimana El membelikannya bunga, boneka, bahkan mengajaknya makan malam setelah acara selesai. Kenangan itu membuat senyumnya perlahan memudar.
Semoga Bang El datang ....
Dengan harapan itu, Chelsea akhirnya berangkat menuju kampus. Tak lama kemudian, ia tiba di halaman perguruan tinggi.
Suasana kampus begitu ramai. Mahasiswa mengenakan toga sibuk berfoto bersama keluarga. Tawa dan tangis haru bercampur menjadi satu.
Chelsea baru beberapa langkah berjalan ketika melihat dua sosok yang sangat dikenalnya. Arsaka dan Hana sudah berdiri menunggu sambil membawa buket bunga besar.
Begitu melihat mereka, wajah Chelsea langsung berbinar. "Dad ... Mom!"
Ia berlari kecil lalu memeluk keduanya bergantian. Arsaka mengusap kepala putri angkatnya dengan penuh kasih sayang.
"Selamat ya, Sayang. Kami bangga sekali."
Hana ikut memeluk Chelsea erat. "Seminggu nggak ketemu rasanya kayak setahun."
Chelsea tersenyum sambil menahan air mata. "Aku juga kangen banget, Mom."
Tak lama kemudian, Al datang sambil membawa kamera di lehernya. "Kak Chelsea!"
Al langsung memeluk kakaknya itu. "Selamat wisuda!"
"Makasih, Al."
Mereka bertiga tertawa bersama. Namun beberapa detik kemudian, Chelsea mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Matanya mencari satu wajah yang sejak tadi ia harapkan muncul. Ia melihat banyak keluarga lain.
Senyumnya perlahan memudar. Dengan suara pelan, Chelsea menoleh kepada Arsaka.
"Dad ...."
"Iya, Nak."
Chelsea kembali melihat ke arah gerbang kampus seolah masih berharap seseorang akan datang. Lalu ia bertanya lirih, "Bang El ... nggak datang, Dad?"
tapi sama Noah jg gak papa🤭
semoga Arsaka lebih ngek dengan tujuan mereka