Irene, seorang gadis cantik dan mandiri. Harus kehilangan ayah, satu-satunya harta yang ia miliki.
Mendekati usia dua puluh tiga tahun ia harus kehilangan kesuciannya yang secara tidak sadar direnggut oleh mantan kekasihnya.
Membuatnya harus tertatih berjuang untuk mendapatkan cinta yang tulus.
Hingga suatu ketika ia bertemu Tian, seorang presdir muda yang menduda diusia yang cukup muda.
Ketika cinta mereka mulai bersemi, Tian meragukannya.
Apakah cinta Irene dan Tian bisa bersatu?
Note : Karya pertama yang aku buat berdasarkan imajinasi dan beberapa penggalan pengalaman temen aku yang aku samarkan. Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms. Riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 34
"Hmmmm," Irene sejenak berpikir.
"Aku ingin makan bakso sama minum es degan," ujar Irene lagi.
Tian terkekeh. Ia berpikir Irene akan mengajaknya ke sebuah bar atau restoran pinggir pantai karena ia sudah berdandan sangat cantik.
"Aku kira kamu akan mengajakku kencan di restoran pinggir pantai, karena kamu sudah berdandan sangat cantik," kelakar Tian.
Irene hanya nyengir.
"Memangnya makan bakso tidak boleh berdandan?" ujarnya sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
"Boleh sayang," sahut Tian gemas sambil mencubit manja hidung Irene yang mancung.
Mereka memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri pantai menuju bakso langganan Irene yang memang tidak jauh dari hotel tempat Tian menginap.
"Sebentar sayang," ujar Tian ketika mereka melewati taman hotel. Ia menarik tali rambut yang mengikat rambut Irene.
Kemudian menyuruh Irene berpose ditaman hotel. Ia ingin mengabadikan kekasihnya yang sore itu begitu mempesona.
"Aku tidak ingin ada yang melihat leher jenjangmu," bisik Tian begitu Irene menghampirinya.
Wajah Irene merona mendengar perkataan kekasihnya itu.
Mereka berjalan bergandengan tangan tanpa alas kaki, merasakan pasir pantai yang menyatu dibawah telapak kaki mereka.
Tian mengagumi Irene yang sederhana. Selama menjalin hubungan bahkan sekalipun Irene tidak pernah meminta sepeserpun pada Tian.
Tian yang selalu memanjakannya, membelikan gaun-gaun mewah, tas branded ataupun sepatu mahal.
Bahkan seperti saat inipun, Irene lebih memilih makan bakso pinggir pantai daripada makan steak diresto mahal.
Ini salah satu sifat yang disukai Tian.
Setelah menikmati indahnya matahari terbenam dan menghabiskan bakso dan es degan yang mereka pesan, Tian dan Irene memutuskan untuk kembali ke hotel karena hari mulai gelap.
Dari kejauhan Maxi melihat keakraban Irene dan Tian. Ada perasaan tidak menentu.
Sepertinya diam-diam ia mulai menaruh rasa pada Irene. Tapi ia tutupi karena tidak ingin merusak pertemanan mereka.
Malam itu mereka memutuskan untuk makan malam diresto karena Irene ingin makan malam dengan suasana berbeda dan bisa berbaur dengan tamu lainnya.
Setelah makan malam, mereka memutuskan untuk bersantai disofa yang berada diruang tengah.
"Sayang," Irene memalingkan wajah untuk menatap wajah Tian.
Karena saat ini Tian mendekapnya dari belakang.
Irene terdiam sejenak. Ada keraguan dikedua matanya.
"Ada apa sayang? Ada yang mau dibicarakan?" tanya Tian.
Ia mengeratkan pelukannya dan menghirup wangi rambut Irene, berusaha menenangkannya.
Irene merubah posisi duduknya. Kini ia duduk bersila diantara kedua paha Tian dan berhadapan dengan Tian.
Tian menggengam kedua tangan Irene kemudian mengecupnya. Membuat hati Irene menghangat. Tian selalu memperlakukannya dengan manis.
"Aku ingin menceritakan tentang masa lalu aku," Irene menjeda. Dan Tian memberikannya waktu untuk lebih relax.
"Sudah saatnya kamu tau dan aku ingin kamu tau semuanya dari aku," ujar Irene lagi. Ia menggigit bibir bawahnya untuk mengusir rasa gugup yang menyelimutinya.
"Kalau belum siap, nanti saja sayang. Aku akan menunggu sampai kamu siap," ujar Tian sambil menangkupkan wajah Irene dengan kedua tangannya. Menatap lekat kedua bola mata Irene untuk meyakinkannya.
Ia berusaha menenangkan Irene dengan mengecup keningnya. Ia merasakan kegugupan dari kekasihnya itu.
"Menundanya bukan solusi terbaik sayang," ujar Irene dilema.
"Trus?" tanya Tian.
"Baiklah, aku akan ceritakan sekarang," ujar Irene setelah mengatur napasnya.
Ia memulai ceritanya dari awal. Dimana ia hanya tinggal berdua dengan ayahnya karena ibunya pergi meninggalkan mereka. Ayahnya berjuang seorang diri untuknya hingga akhirnya kanker paru-paru merenggut nyawanya.
Ia juga bercerita kalau ia masih memiliki paman dan bibi dikampung.
Ceritanya berlanjut, dimana ia berusaha mewujudkan amanah almarhum ayahnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Ia harus bekerja paruh waktu untuk mencukupi semua kebutuhannya sendiri, bahkan ia harus cuti kuliah karena keterbatasan biaya.
Hingga akhirnya ia bisa menyelesaikan kuliahnya.
Irene terdiam sejenak, mengatur napasnya. Baginya ini saat terberat yang harus ia ceritakan.
Tian masih mendengarkan dengan seksama semua cerita Irene. Sesekali ia mengusap tangan Irene yang berada digenggamannya.
Ia merasakan tangan Irene berkeringat.
Irene memejamkan matanya sejenak. Karena saat ini ia sedang membuka luka lama yang belum sembuh seutuhnya.
Setelah membuka matanya ia melanjutkan ceritanya lagi.
Ia mulai dari peristiwa naas yang terjadi di malam perayaan kelulusannya. Dimana kesuciannya direnggut oleh mantan kekasihnya ketika ia tidak sadarkan diri karena pengaruh alkohol.
Bulir air mata lolos begitu saja dari kedua matanya.
"Aku merasa bersalah pada almarhum ayah karena tidak bisa menjaga kehormatanku sendiri," ucapnya di sela isak tangisnya.
Tian membawa Irene dalam dekapannya. Mengusap lembut punggung kekasihnya itu.
"Sudah sayang, itu semua murni bukan salahmu," ujar Tian menghibur Irene.
"Laki-laki tidak tau diri itu yang salah," ucap Tian dengan nada geram.
"Aku minta maaf sudah mendiamkanmu waktu itu tanpa tau cerita yang sebenarnya," ujar Tian sembari menatap mata Irene.
"Maafkan aku," Tian mencium kening Irene. Rasa bersalah kembali menghantuinya. Matanya mulai berkaca-kaca.
Irene masih terdiam. Tangisnya sudah reda.
Setelah mengatur napasnya, ia mulai bercerita lagi.
Dimana ia berusaha untuk bangkit setelah tau mantan kekasihnya menghilang.
Sungguh beban yang ia pikul saat itu tidaklah mudah. Hingga ia hampir mendapatkan pelecehan dari beberapa orang yang mendekatinya setelah ia menceritakan masa lalunya. Bagi mereka, wanita yang sudah tidak suci layak dipakai.
"Itulah mengapa aku tidak berani jujur dari awal," ujar Irene sambil menundukkan kepalanya.
"Setiap kali aku berkata jujur, mereka selalu memanfaatkanku seolah menganggap aku wanita yang layak dipermainkan," ujar Irene lagi.
"Bahkan....." ucapannya terhenti.
Tian masih setia menunggu kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut Irene.
"Beberapa kali aku berusaha mengakhiri hidupku," pengakuan itupun lolos dari mulut Irene.
Tian tidak menyangka beban Irene begitu berat. Bahkan sampai ingin mengakhiri hidupnya.
Bahkan kini air matanya yang tidak dapat ia tahan.
Peristiwa ia meninggalkan Irene sendiri dihotel membayanginya lagi.
Ia begitu merasa bersalah.
"Maafkan aku, aku minta maaf," ujar Tian disela tangisnya. "Aku bahkan membentakmu waktu meminta penjelasan darimu," imbuhnya lagi.
Irene tersentuh. Baru kali ini ada seorang pria menangis dihadapannya.
"Sudah sayang, ini bukan salahmu," ujar Irene sambil memeluk Tian. Kini ia yang menenangkan Tian.
"Kita lupakan semuanya," sahutnya lagi.
Ketika Tian mulai tenang,
"Kita mulai semuanya dari awal, aku tidak peduli dengan masa lalu kamu. Bahkan aku bangga kamu masih bisa bangkit dari keterpurukanmu," ujar Tian.
"Aku juga bangga kamu bisa menjaga diri dari godaan, bahkan godaannya itu aku," imbuhnya lagi disertai seulas senyuman.
Ia teringat beberapa kali ia hampir lepas kendali dan Irene selalu berusaha menahannya. Andai Irene tidak bisa menahannya, mungkin ia juga sama saja dengan pria-pria breng sekkk itu.
dukung karya ku juga y cucu manja oma
*Suamiku ceo ganas
"Sarlince(cinta sepihak)