NovelToon NovelToon
Pergi Tanpa Kembali

Pergi Tanpa Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Anak Genius
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fakta menyakitkan

Sial!

Aku benar-benar melupakan masih adanya satpam sekolah yang selalu mengikuti aturan buka tutup gerbang dengan disiplin. Aku dengan beberapa siswa yang mengendarai motor terpaksa menghadapi para penjaga sekolah, sebelum bisa memasuki area sekolah ini. Andai kuikuti pesan mama untuk naik taxi online, mungkin dengan mudah aku bisa masuk lewat pintu belakang.

"Kami kelas XII pak. Dan info nya kelas XII bisa bebas kapan aja jam masuk nya." Salah satu dari kami menjelaskan, Guntur, kami pernah satu kelas di kelas X dulu. Aku hanya diam tanpa mengajukan protes. Cukuplah yang lain mewakili.

"Iya, memang boleh masuk. Tapi serahkan kunci motornya. Nanti bapak yang parkir kan dan kalian boleh ambil kunci lagi jam 3 sore nanti."

"Hah?! Sore banget pak. Sampai tengah hari aja lah pak. Kan kita kesini juga cuma mau nuntasin persiapan pensi aja." Lagi, Guntur mencoba bernegosiasi.

"Nggak ada! Hukuman buat kalian tetap berlaku seperti anak-anak yang terlambat lainnya. Hormat bendera 5menit!" Ini yang ku takutkan. Hukuman fisik yang harus kujalani. Semoga saja aku kuat, dan perut maupun kepalaku tidak berulah setelahnya.

Dengan berat hati, kami bertujuh menuntaskan semua hukuman yang pak satpam berikan. Konsekwensi ini harus kami terima.

Sepanjang sesi penghormatan bendera, aku sama sekali tidak berani membuka mata. Ada rasa khawatir tiba-tiba semua yang kulihat akan berputar atau akan berlipat-lipat jumlahnya meski sebenarnya objek yang kulihat hanya satu.

Setelah hukuman kujalani, langsung bergegas aku menuju kelas untuk menemui Ferdy. Aku harus menuntaskan masalah pensi ini. Namun sesampainya di kelas tidak kulihat keberadaan Ferdy di dalamnya. Sudah bisa dipastikan waktu-waktu persiapan pensi seperti ini dia pasti akan ada di ruang OSIS jika tidak ada di kelas. Aku pun melangkah cepat ke ruang OSIS.

"Dy, sorry,, lusa gue nggak bisa ikut tampil." Tanpa izin dan salam terdahulu, Aku menghampiri Ferdy yang terlihat sibuk dengan laptopnya di ruang OSIS. Sesuai kesepakatan sebelum nya, aku memang mendapat amanah untuk menampilkan lagu perpisahan di acara pensi perpisahan angkatanku besok lusa.

"Lho,, kenapa? Nggak! nggak bisa! Jatah Lo udah masuk di rundown gini kok. Lagian itu acara puncak kita satu angkatan smua ada di depan panggung." Masih dengan kesibukannya, Ferdy mengutarakan ketidak setujuan nya.

"Ganti orang aja ya, lagian banyak yang suaranya lebih bagus dari gue. Gue beneran nggak bisa." Kali ini Ferdy memusatkan perhatiannya penuh padaku, dia meletakkan laptop yang sedari tadi ada di pangkuan nya ke meja disebelahnya.

"Adit,,, yang terganteng di SMA sun flower,,, Lo inget kan siapa peraih medali MIPA tiga tahun berturut-turut di sekolah kita?" Aku hanya mampu mengangguk menanggapinya. Jelas aku tau, karena itu aku sendiri.

"Lo inget juga kan, siapa pemegang prestasi peringkat satu pararel di tiga tahun terakhir ini?"

"Terus,, Lo inget juga kan, siapa kapten basket sekolah kita yang sampai hampir lulus pun nggak bisa tergantikan karena pelatih belum menemukan bakat yang sama di siswa lainnya?"

"Lo juga inget kan, eks ketua OSIS kita yang pada masa jabatan nya bisa membawa sekolah kita menjadi tuan rumah pertandingan olahraga internasional?"

"Itu Lo Dit, jadi masih mau nanya kenapa nggak yang lain?" Ferdy masih mencecarku dengan pertanyaan retoris nya. Dia yang mengetuai acara pensi tahun ini memang cukup disibukkan dengan segala persiapannya. Mungkin akan sangat beresiko baginya jika diinjury time seperti ini harus mencari pengganti ku. Tapi aku benar-benar tidak bisa, aku ingin menuntaskan hal lain.

"Sorry banget, gue beneran nggak bisa. Ada kemungkinan gue nggak Dateng hari itu. Dan Sebenernya Lo bisa gantiin gue Dy. Suara Lo juga bagus. Dan Lo juga cukup berkompeten di sekolah kita." Aku masih mencoba bernegosiasi dengannya. Ada misi besar yang harus ku selesaikan seminggu ini.

"Dan perlu Lo inget juga, dibalik kesuksesan gue sebagai ketua OSIS saat itu ada Lo sebagai wakil yang super gercep dan mampu menghandle semuanya. Di ekskul basket pun, Lo yang sebagai wakil kapten sangat berjasa besar Dy. Gue bahkan nggak bisa hadir di pertandingan terakhir kita karena kecelakaan itu. Sorry banget ya Dy, gue bener-bener nggak bisa. Ada yang harus gue selesaikan di luar sana." Aku masih berusaha membujuk Ferdy untuk tidak mencantumkan namaku dalam daftar penampilan panggung nanti.

"Apa yang mau Lo selesaikan di luar sana? Gue bisa bantuin Lo buat menyelesaikan sekarang."

Hmmm,, inilah Ferdy si cuek dengan segala perfeksionis nya. Si cuek dengan segala tekad kuat nya. Si cuek yang tak tergoyahkan pendiriannya.

Aku hanya bisa menggeleng pelan.

"Lo nggak mungkin bisa... Gue udah izin baik-baik ke Lo, sorry banget gue nggak bisa Dateng di acara pensi kita." Tanpa menunggu jawaban dari Ferdy, aku melangkahkan kaki keluar dari ruang OSIS ini. Belum sampai langkahku keluar dari pintu berwarna coklat vintage ini, tangan ku di tarik paksa oleh Ferdy.

"Dit! Tunggu gue beresin ini dlu." Aku menurut menunggunya di depan pintu ruang OSIS. Tidak sampai hitungan menit, Ferdy telah muncul dengan menenteng laptop berlogo apel tergigit di tangannya.

"Lo mau kemana? Gue ikut." Ferdy bertanya sebelum kami melanjutkan langkah.

"Mau ke kelas. Mau tidur." Ya, aku memang hanya punya urusan pembatalan penampilanku di pensi nanti saat aku memutuskan untuk datang ke sekolah. Dan kukira sudah cukup aku menjelaskan pada Ferdy sebagai ketua acara ini. Rencana nya ingin langsung pulang, tapi kunci motorku masih tertahan di pak satpam.

"Ish, Lo nggak seru banget. Ke roof top aja kalo mau tidur mah. Ayo gue temenin." Tanpa memprotes aku menyetujui ajakan nya. Sepertinya cukup sepi diatas sana.

Aku mengikuti langkah Ferdy yang menuju tangga putar di belakang gedung berlantai empat ini, tangga keramat yang selalu dijaga ketat tim keamanan sekolah ini.

"Kami mau lanjutin tugas diatas pak, buat acara pensi. Soalnya WiFi sekolah agak lemot. Mau nyoba cari koneksi diatas." Aku hanya terdiam saat Ferdy bernegosiasi dengan pak Anggit, salah satu satpam yang mempunyai pos jaga dibawah tangga ini.

Beliau memperhatikan kami cukup lama, sampai akhirnya mengangguk dan mempersilahkan kami naik.

"Hati-hati. Jangan macam-macam diatas.  Kalau ketahuan ngerokok atau yang lainnya Bapak bisa laporin ke kepsek segera." Ancaman dari pak Anggit hanya kami tanggapi dengan anggukan kecil dan senyuman termanis yang kami bisa. Kami pun segera naik keatas.

"Noh, Lo bisa tidur disana. Gue lanjut ini dulu. Kalo Lo udah siap cerita, gue siap dengerin kapan aja." Ferdy menunjuk setumpuk matras tak terpakai di pojok roof top ini. Dengan area tertutup atap kanopi yang cukup menghalangi terpaan sinar matahari langsung. Aku masih menurut dan membentangkan jaket yang kupakai diatas tumpukan matras tersebut. Segera kurebahkan tubuh ini. Kulihat Ferdy membuka kembali laptopnya dan duduk di salah satu matras yang ada di bawah tumpukan matras yang dijadikan alas tidurku.

"Kabar Lo gimana? Om Hendry bilang asam lambung Lo udah cukup parah." Ferdy mengawali pembicaraan kami di rooftop ini dengan pertanyaan nya.

"Gue baik-baik aja. Titip salam makasih buat om Hendry ya. Gue belum sempet kemaren." Aku menjawabnya masih dengan posisiku menatap langit-langit kanopi yang terlihat berbayang di mataku.

"Gue ngerasa nggak kenal Lo lagi Dit. Lo berubah sejak kepulangan Lo dari rumah sakit." Aku sedikit kaget namun masih dalam posisi terbaringku aku berusaha tidak membalas ucapan Ferdy. Ingin kudengar semua kalimat dari isi hatinya dahulu.

"Lo juga selalu terlihat murung akhir-akhir ini. Semangat yang biasanya ada di diri Lo entah kenapa akhir-akhir ini menghilang begitu saja." Aku masih bergeming tanpa menjawab apapun. Ucapan Ferdy seakan memukul telak dalam hatiku.

Aku pun sama, aku merasakan nya. Aku merasa sulit mengenali diriku lagi. Sosok Adit yang dulu seakan telah tergantikan oleh sosok yang tidak kukenal.

"Dan Lo tau, yang paling gue sayangkan... Hubungan kalian. Hubungan Lo sama Dheka. Gue udah punya cita-cita bakalan ngawal kalian sampai bisa merried nantinya. Tapi kalian berdua tiba-tiba berubah. Gue nggak kenal lagi Adit yang selalu ceria dan Dheka yang selalu apa ada nya. Gue ngerasa kalian nyembunyiin hal besar dari gue." Ferdy masih terus melanjutkan kalimatnya sepertinya dia tidak berniat mendengar jawaban dariku.

Bugh!!!

"Brengsek!!! Gue benci kondisi ini! Kalian seakan buang gue dengan cara kalian masing-masing! Kalian anggap gue apa?!" Satu pukulan Ferdy pada matras yang kutempati membuatku tersentak kaget.

"Sorry,,, gue nggak bermaksud bikin Lo ngerasa terbuang." Aku terduduk dan mulai menatapnya. Ferdy butuh penjelasan detail sepertinya.

"Sampai kapan pun Lo sahabat gue Dy, sorry kalo gue nggak bisa jadi sahabat yang baik buat Lo. Gue juga nggak tau, Keadaan seakan memaksa gue menjadi diri yang lain. Gue lagi nggak baik-baik aja Dy." Satu tetes air mata berhasil meluncur dari mataku. Sangat berat untuk jujur, tapi persahabatan kami memang sudah mendarah daging, mungkin Ferdy memang harus tau semuanya.

"Maksud Lo?! Lo sakit?" Ferdy mendekati ku dan duduk di sampingku, tatapan matanya mulai memunculkan kekhawatiran. Satu tangannya merangkul punggungku dan memberikan sentuhan lembut yang sangat nyaman. Aku terdiam cukup lama menikmati setiap usapan lembut di punggungku.

Sejujurnya aku sangat membutuhkan sosok seperti Ferdy sekarang. Ingin kutumpahkan semua nya dan ingin kugenggam erat-erat tangannya untuk selalu mengokohkan ku. Aku merasakan panic attack beberapa hari ini, sampai aku bingung harus mengutamakan yang mana untuk kuselesaikan terlebih dahulu.

Diawali aku yang harus mendekam di rumah sakit selama tiga hari karena kecelakaan tunggal itu, aku merasa sangat bersalah saat itu. Banyak kegiatan yang akhirnya dibatalkan karena ketidakberdayaan ku. Padahal persiapan sudah sangat matang.

Selanjutnya, aku dihadapkan pada fakta lemahnya tubuh ini. Aku yang terbiasa aktif bebas bergerak kemanapun merasa terpenjara oleh kekuatan tubuh ku sendiri.

Selanjutnya, aku dihadapkan pada perseteruan kedua orangtua ku yang penyebab nya adalah aku sendiri tanpa kusadari. Sampai akhirnya papa memutuskan meninggalkan mama yang terus bertahan bersamaku. Meskipun mama selalu histeris melihatku. Aku bahkan harus mengucilkan diri di kamar, demi senyuman mama.

Selanjutnya, fakta bahwa tubuhku menyimpan virus mematikan semakin membuatku terpuruk, rasanya sudah tidak akan sanggup lagi menanggung semuanya jika mama masih bersikap sama. Tapi sebuah keajaiban terjadi, mama mulai memelukku dan mulai memperhatikanku kembali.

Selanjutnya, sebuah fakta menyakitkan berikutnya. Aku ternyata sedang menjadi alat uji coba pada penelitian obat di rumah sakit milik keluarga ku sendiri. Tanpa ku ketahui, bahkan tanpa mereka pedulikan betapa tersiksanya aku mengkonsumsi obat-obat yang mereka berikan.

Aku merasa sangat hancur.

Haruskah kubagi semuanya pada Ferdy?!

1
salma
jadi nostalgia ke masa perpisahan SMA dlu. lagu nya sama
halwa diyah: 🤭 memang lagu itu yang paling cocok buat moment nya kak
total 1 replies
salma
Suka ceritanya ngalir. alurnya santai tapi bikin penasaran kelanjutan nya
halwa diyah
siaap...
semangatt juga kak 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!