Bagi Azam, satu-satunya wanita yang berhak bersandar di bahunya hanyalah Aira Humaira, istri sekaligus sahabat sejatinya.Namun, sebuah kesalahan yang tak di sengaja.kini berubah menjadi hantu yang menuntut penebusan. Safira kini hidup sebatang kara dan hidup menderita akibat kelalaian Azam. Ketika uang tak lagi mampu membasuh rasa bersalah, Aira justru menyodorkan madu pernikahan sebagai jalan keluar."Aku ikhlas, Mas..." kata-kata Aira terdengar tegas, meski hatinya sendiri hancur.Terjebak di antara tuntutan istri yang dicintainya dan penolakan hatinya untuk mendua, keputusan apa yang akan diambil Azam? Siapkah Aira menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain, ketika ego dan rasa bersalah bertabrakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adiba Aza hra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Nekat Demi Saudara Kembar
Hari ini Aira sangat bahagia karena dia bisa menjadi sekretaris suaminya tanpa ada hambatan ataupun drama.
"Gimana, Sayang, kamu happy?" tanya Azam saat mereka dalam perjalanan pulang.
Aira mengangguk antusias.
"Happy banget, Sayang. Makasih ya," kata Aira.
Perempuan cantik itu tidak terlihat lelah sama sekali. Senyumnya yang lebar dan matanya yang bulat membuat Azam semakin jatuh cinta.
"Mas," panggil Aira tiba-tiba.
Azam menoleh. "Apa, Sayang?"
Aira terdiam sejenak. Raut keceriaan di wajah cantiknya seketika hilang.
"Aku sama Kinan mirip ya? Kayak saudara kembar? Apa benar aku sama ...?"
"Kenapa ngomong gitu? Bukannya dari dulu udah kenal?" tanya Azam santai.
Aira mengangguk. "Tadi pagi waktu aku kebangun, aku perhatiin mukanya Kinan kok kayak mirip gitu ya."
Jelas sekali dari raut wajahnya, perempuan cantik itu sedang memikirkan hal yang sebenarnya benar, namun masih disembunyikan oleh orang-orang terdekatnya.
"Kalau emang iya, suatu saat kamu pasti akan tahu, Sayang. Mungkin sekarang belum waktunya kamu tahu," kata Azam santai.
Aira menoleh, menatap bingung suaminya. "Maksud—"
"Maaf, Tuan. Sepertinya di depan ada kecelakaan," kata Pak Tarto.
Azam dan Aira menatap ke depan.
"Apa? Kecelakaan?" tanya Aira.
Pak Tarto mengangguk. "Iya, Nyonya, sepertinya. Tapi biar saya—"
"Biar aku aja, Pak, yang lihat!" sela Aira cepat.
Perempuan itu buru-buru keluar dari mobil, lalu diikuti oleh Azam. Aira berjalan ke arah depan mobil mereka.
"UDAH TAHU DI JALAN RAYA, NGAPAIN BENGONG, WOIII?!" teriak seorang pengendara mobil.
Aira membelalak. "Safira?!"
Dengan cepat Aira menghampiri Safira yang sedang ketakutan. Perempuan berhijab itu dibantu Aira untuk berdiri. Kedua telapak tangannya tampak luka.
"Mbak kenapa? Ayo, Mbak, aku antar pulang," kata Aira berkaca-kaca.
Perempuan berhati malaikat itu membantu Safira, perempuan cantik berhijab yang hampir saja ditabrak mobil.
"Mas, jas kamu mana?! Sini cepat biar dipakai Mbak Safira!" omel Aira kesal saat melihat Azam hanya diam saja di belakang mereka.
"Gak bisa, Sayang, ini—"
"Cepat, Mas!"
Azam mendengkus pelan. Laki-laki itu dengan terpaksa melepaskan jas kerjanya, lalu memberikannya kepada Aira.
"Sini, Mbak. Gamisnya Mbak Safira basah karena terjatuh tadi," kata Aira tulus.
Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Azam bertanya kepada istri tercintanya, "Sayang, kita antar ke mana?" tanya Azam tanpa menoleh ke belakang.
"Mbak, Mbak mau aku antar di mana? Alamat rumah Mbak mana?" tanya Aira.
"Di Jalan Anggrek nomor lima belas, Ra," jawab Safira yang masih gemetaran.
Di dalam mobil, Aira memberi Safira air minum lalu menyuapinya roti.
"Mbak kenapa? Ada masalah?" tanya Aira lembut.
Safira menghela napas dalam, lalu tersenyum ke arah Aira.
"Tadi aku habis dari toko kue, Dek. Terus Mbak kayak lihat adiknya Mbak. Tapi pas Mbak samperin, dia udah gak ada," jawab Safira jujur.
Aira mengangguk. "Emang adik—"
"Sayang, sudah sampai," potong Azam.
Aira mengangguk. "Mau Aira anterin masuk, Mbak?" tanya Aira lembut.
Safira menggeleng. "Enggak usah, Ra. Makasih ya udah repot-repot nganterin aku pulang," kata Safira lalu membuka pintu mobil dan keluar.
"Dek, nanti tolong kirim alamat kamu ya, biar besok Mbak anter jasnya," kata Safira sebelum meninggalkan mobil Azam.
"Siap, Mbak! Nanti aku chat ya, daaa!"
Azam memilih untuk tetap duduk di depan, sedangkan Aira malah asyik menonton kartun.
Setibanya di rumah, Aira langsung mandi.
"Mas, buruan mandi! Keburu malam loh," kata Aira yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Ia mengenakan gaun mandi dengan sehelai tali yang terikat di pinggang.
"Iya, Sayang," jawab Azam lalu berdiri dari sofa.
Dengan santai, Aira bersenandung ria sembari mengganti baju dan memakai makeup ala rumahan. Tak lama kemudian, ponsel Azam berdering di atas kasur.
"Siapa?" gumam Aira.
Ia lalu menghampiri ponsel Azam dan melihat siapa yang menghubungi suaminya.
"Ayah mertua? Ngapain Ayah telepon Mas Azam? Kok enggak telepon aku?" bingung Aira.
Aira akhirnya menerima panggilan tersebut. Namun, belum sempat Aira bersuara, ayahnya sudah berbicara terlebih dahulu di seberang telepon.
"Azam, Kinan diculik! Tolong kamu bantu cari! Tadi pagi sebelum ke kantor, Ayah sama Kinan sempat mengobrol. Ayah bilang kalau Kinan itu putri Ayah, saudara kembar Aira yang sejak kecil diculik Vito!"
Deg!
Bagai disambar petir di sore hari, Aira dengan syok menjatuhkan ponsel Azam ke tempat tidur. Sambungan telepon itu sebenarnya masih terhubung.
Klik!
Dengan tangan gemetar, Aira menatap ke arah ponselnya sendiri. Sepertinya ada notifikasi pesan masuk.
"Kinan," gumam Aira saat panggilan suara dari nomor Kinan tiba-tiba masuk.
Dengan tangan yang masih gemetar, Aira menerima panggilan tersebut.
"Saya tunggu kamu di Jalan Budiman nomor tiga puluh lima. Kalau sampai orang lain tahu, kamu tidak akan pernah bisa lagi bertemu dengan kembaranmu!"
Tut!
Panggilan langsung terputus. Aira mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Sementara itu, dari ponsel Azam yang tergeletak, Ayah Fikri terus memanggil-manggil nama Azam.
Aira mengambil kembali ponsel suaminya. "Ayah, ini Aira."
Suasana di seberang telepon mendadak hening.
"Aira yang akan mencari Kinan. Kenapa Ayah enggak kasih tahu Aira? Ayah jahat!" kata Aira terisak, lalu langsung mematikan sambungan telepon tersebut.
Aira bergegas mengambil kunci mobilnya, lalu pergi begitu saja tanpa memberi tahu Azam.
Rasa kecewa yang begitu dalam kini membuatnya benar-benar marah dan kesal. Dengan kekecewaan yang mendalam, Aira nekat meninggalkan rumah mewah mereka.
pokok lanjut bro Apa lagi pas di suruh masak nasi ngakak. habis hahaa lanjutkan bos kuhh
gk kebayang aku punya suami kayak azam 🤣 😍