Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.
Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.
Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.
Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!
"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Hanya Akting
"Dompet Anda terjatuh."
Milka menyerahkan dompet itu tanpa benar-benar menatap wajah pemiliknya. Setelah itu, ia kembali melangkah, seolah pria di hadapannya hanyalah orang asing yang kebetulan melewati jalan yang sama.
Theo menerima dompet tersebut, lalu menatap punggung wanita berseragam itu yang kian menjauh. Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Lagi-lagi hanya dianggap angin lalu."
Ternyata ...
Setelah bertahun-tahun, Milka masih sama. Tak pernah benar-benar memperhatikannya.
"Milka."
Tak ada respons. Langkah wanita itu tetap pelan, seakan seluruh dunia di sekelilingnya telah lenyap. Theo menarik napas pelan.
"Milka Tera Wijaya!"
Kali ini langkah Milka terhenti. Perlahan ia memutar badan. Wajahnya tampak sembap. Matanya merah. Bibirnya bergetar pelan seolah masih berusaha menahan tangis.
Theo membeku. Baru beberapa menit yang lalu ia melihat Milka menangis dari dalam mobil. Kini, dari jarak sedekat ini, ia baru sadar betapa hancurnya perempuan itu.
"Kenapa ..." gumamnya lirih.
Air mata kembali mengalir di pipi Milka. Ucapan Vando terus berputar di kepalanya.
"Kalau tahu dari dulu kamu lebih hebat dari dia, aku pasti menolak dijodohkan dengan wanita itu."
"Dada kamu jauh lebih indah...."
Tanpa sepatah kata, Theo merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sapu tangan berwarna abu-abu tua, lalu menyerahkannya pada gadis itu.
"Maskaramu luntur."
Milka menatap sapu tangan itu beberapa detik. Barulah ia mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu.
Raut wajah pria itu terasa tidak asing. Rahang yang masih sama tegas. Sorot mata yang masih sama tenang.
Dan suara berat yang samar-samar membangkitkan ingatannya pada seseorang yang pernah mengajarinya taekwondo.
"... Kak Theo?"
Theo mengangguk tipis. "Syukurlah."
"Akhirnya kamu ingat juga."
Milka tak menjawab. Ia mengambil sapu tangan itu, lalu mengusap pipi dan hidungnya yang sudah berantakan. Suara isakan kecil bercampur embusan napas membuat Theo refleks memalingkan wajah.
Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Ia pura-pura memperhatikan kendaraan yang lalu-lalang, seolah tidak mendengar suara perempuan yang sedang berusaha menghentikan tangisnya.
Beberapa saat kemudian ... Theo kembali menoleh. "Sudah?"
Milka mengangkat kepala. "Hah?"
"Kalau belum selesai menangis, lanjutkan saja."
Milka mengerutkan dahi.
Theo mengembuskan napas pelan. "Kalau dipendam terus, nanti kepalamu malah jadi sakit."
Entah mengapa ... Kalimat sederhana itu justru membuat pertahanan Milka runtuh. Tangisnya pecah semakin keras.
"Bisa-bisanya ..." isaknya lirih. "Orang lagi sedih malah disuruh nangis ...."
Theo mengusap tengkuknya canggung. "Salah bicara lagi."
"Hah?"
"Nggak apa-apa."
Milka mendadak melempar sapu tangan yang telah basah karena air mata dan ingus ke arah Theo. "Pergi sana! Jangan ganggu aku!"
Theo buru-buru menggeser tubuh menghindari lemparan itu. Sapu tangan tersebut jatuh tepat di dekat sepatunya. Ia memungutnya, mengibaskan debu yang menempel, lalu melipatnya kembali dengan tenang.
"Masih bisa dicuci," gumamnya pelan.
Dari dalam mobil, dua orang anak buah Theo menyaksikan semuanya dengan mulut menganga. Bonar menggelengkan kepala dengan pelan.
"Buset ... ternyata Big Boss ngobrol sama cewek yang disukainya, kayak gitu?"
Naga terkekeh. "Kayaknya, itu udah jadi versi paling lembut dari yang pernah kita lihat."
"Hah?" Bonar menatap Naga bingung.
"Kalau sama kita kalau ngggak denger, pasti disuruh lari keliling minimal satu kilo," terang Naga.
Bonar mengangguk setuju. "Iya sih ... ternyata cinta pertama memang bikin manusia bisa berubah."
Sementara itu, Milka kembali melangkah menjauh. Theo memandangi langkahnya beberapa saat. Lalu berteriak tanpa mengubah ekspresi datarnya.
"Jalan pelan-pelan!"
Milka mendengkus kesal. "Ngapain ngatur-ngatur aku?"
"Soalnya ..." Theo menunjuk sepatu dinas Milka. "...langkahmu menggetarkan bumi."
"Kalau diteruskan, trotoarnya bisa pecah."
Milka menatap Theo tak percaya. "Dasar aneh."
Theo mengangkat bahu. "Aku memang begitu."
Milka kembali melangkah.
"Oh ya." Theo kembali bersuara.
"Kamu mau ke mana? Biar aku mengantarmu?"
Milka menghentikan langkah. "Naik mobil?"
Theo mengangguk ke arah SUV hitam yang terparkir tak jauh dari mereka. Barulah Milka menyadari keberadaan mobil mewah itu. Ia memicingkan mata menyelidik, lalu menatap Theo bergantian dengan kendaraan tersebut.
"Kak Theo ... Dompet yang jatuh tadi ..."
Theo tersenyum tipis. "Iya. Itu sengaja."
Mata Milka langsung membulat. "Jadi ... dari awal semua ini memang cuma akting?"
*bersambung*
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣