Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.
Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Setelah putusan itu, hakim pengadilan memberi Evren waktu tiga hari untuk bersiap sebelum berangkat ke utara. Malam harinya, beberapa jam setelah putusan, suasana di Kediaman Vance terasa begitu berbeda.
Semua orang terlihat sedih dan tidak bersemangat. Kediaman juga mulai berkurang orangnya karena status keluarganya kini hanya rakyat biasa. Tidak lagi bisa mengandalkan jabatannya sebagai jenderal untuk menerima gaji setiap bulan dari negara. Hanya bisa mengandalkan beberapa usaha kecil untuk bertahan hidup.
Di bawah rembulan yang menggantung di langit, Evren melihat pantulan bulan di permukaan kolam. Ia duduk di atas sebuah batu di tepi kolam sambil memikirkan kembali apa yang sudah ia alami hari ini. Tidak pernah terbesit sedikitpun di pikirannya, bahwa ia akan merasakan dikhianati oleh negaranya sendiri.
Eldrick yang baru saja pulang setelah mengurus beberapa hal di luar, melihat Evren duduk termenung di tepi kolam ikan di samping kanan halaman utama. Ia mendekatinya lalu berdehem pelan. Evren menoleh ke sumber suara dan melihat sepasang kaki berdiri di sampingnya. Ia mendongak melihat ke atas dan ternyata itu adalah pamannya. Sang paman duduk di samping Evren lalu memandang ke langit.
“Paman, tadi benda apa yang diberikan ke utusan Kerajaan? Kenapa bisa mengubah keputusan Kaisar?”
Pertanyaan yang menghantuinya akhirnya keluar juga.
“Kamu ingat dulu pernah pergi ke istana bersama mendiang ayahmu dan juga paman?”
Evren mengingat kembali masa kecilnya dan memang ia pernah pergi ke istana saat usianya lima tahun.
“Iya.”
“waktu itu ayahmu dan aku pergi menghadap kaisar untuk menerima penghargaan. Penghargaan itu diberikan khusus oleh sang Kaisar, dengan dua orang saksi yaitu kasim dan penasehat Kaisar waktu itu,” jelasnya mulai mengurai masa lalu.
“Penghargaan apa?” Evren semakin penasaran dan sedikit mengubah posisi duduknya agar menghadap langsung ke arah sang paman.
“Sebuah Plakat Pengampunan. Terbuat dari emas dengan cap Kaisar Aurelius terukir di bagian tengahnya. Tapi plakat itu hanya bisa dipakai sekali saja.”
Eldrick mengatakannya sambil menerawang melihat ke arah langit. Mengingat kembali kenangan lama yang selalu tersimpan di dalam hatinya.
“Jadi… karena itu hukuman mati bisa diganti, lalu setelah itu plakatnya dikembalikan lagi ke istana?” tanya Evren lagi.
“Iya, tapi satu hal yang harus kamu tau juga. Meskipun ada plakat pengampunan, kalau kasim tadi membaca titah kaisar hingga selesai, hukuman mati sudah mutlak jatuh ke kita semua.”
Evren menganggukkan kepalanya paham dengan apa yang dikatakan oleh pamannya. Di negaranya, titah Kaisar adalah mutlak dan berlaku sejak setelah titah dibacakan di depan penerima titah tersebut. Situasi siang tadi, kakeknya datang sebelum kasim benar-benar selesai membacakan titahnya, oleh karena itu masih ada kesempatan untuk diubah.
Eldrick kembali menerawang ke atas langit lalu bayangan masa lalunya kembali berputar seperti sebuah film. Waktu itu masa di mana kerajaan belum sestabil sekarang. Banyak terjadi peperangan hampir di setiap penjuru negeri. Mau itu di benteng kecil atau benteng besar.
Arthur dan dirinya dipanggil secara pribadi oleh kaisar dan diberi perintah langsung untuk turun ke garis depan. Mereka berkuda dua hari dua malam tanpa beristirahat menuju benteng Ardent, perbatasan kekaisaran di bagian selatan.
Benteng utama yang jaraknya paling dekat. Begitu tiba, mereka bahkan tidak sempat beristirahat. Keduanya langsung menerobos barisan musuh yang saat itu hampir meruntuhkan pertahanan benteng. Kemenangan pertama itu menjadi titik balik. Prajurit yang semula hanya bertahan mulai berani maju, sementara semangat pasukan kembali menyala.
Kemenangan berturut-turut kemudian diraih hingga pasukan musuh akhirnya memilih untuk mundur. Setelah itu, mereka kembali berkuda menuju tempat peperangan selanjutnya. Hampir tiga tahun mereka mengelilingi negeri ini, dari satu medan tempur ke medan tempur lainnya. Membawa kemenangan dan kedamaian untuk negeri ini.
Setelah tiga tahun, akhirnya Arthur dan Eldrick kembali ke ibukota atas perintah dari Kaisar. Mereka pulang ke rumah terlebih dahulu, mengganti pakaian untuk masuk istana lalu berangkat bersamaan.
“Ayah, ayah aku mau ikut.”
Evren kecil berlari dengan kaki mungilnya lalu menarik jubah sang ayah. Pipinya yang gemuk langsung dicubit oleh sang paman membuatnya cemberut.
“Ayah dan paman mau ke istana, kamu di rumah saja ya,” ucap Eldrick mencoba membujuk si kecil.
“Tidak mauu, mau ikut pokoknya ikut ikut ikut ikut!”
Akhirnya kedua orang dewasa itu menyerah dan mengajak si kecil ikut masuk ke dalam istana. Karena peraturan istana yang sangat ketat, hanya yang dipanggil saja yang bisa bertemu Kaisar.
“Evren, jangan nakal dan jangan kemana-mana ya. Ayah dan paman masuk dulu ke dalam.”
“Saya akan menjaganya, anda berdua silahkan masuk. Yang mulia Kaisar sudah menunggu kedatangan anda berdua sejak tadi,” Ucap seorang pelayan wanita.
Keduanya memasuki sebuah ruangan dengan melewati pintu yang menjulang tinggi. Hampir semua perabot di ruangan ini dilapisi emas, namun tidak terlihat mencolok karena setara dengan desain dan tatanan ruangan ini.
Kaisar turun dari singgasananya menghampiri Arthur dan Eldrick. Senyuman puas terukir di wajahnya. Lalu ia memerintahkan seseorang datang membawa hadiah yang sudah ia persiapkan. Beberapa orang mengangkut peti berisi uang, emas, dan perhiasan. Lalu seorang pelayan masuk dengan membawa nampan yang ditutup kain merah.
“Ini, aku berikan secara pribadi untuk kalian berdua.”
Arthur membuka kain merah itu dan melihat sebuah plakat yang terbuat dari emas dengan ukiran cap raja di tengahnya.
“Apa ini yang mulia?”
“Aku membuat ini khusus untuk keluargamu. Ini namanya plakat pengampunan, sudah tercatat dan memiliki kekuatan hukum yang sah,” Ucap Kaisar Aurelius.
“Jika suatu saat penerus takhtaku melakukan kesalahan dan merugikan kalian, plakat ini bisa membantu kalian bebas dari hukuman mati. Tapi, hanya bisa dipakai sekali setelah itu harus dikembalikan ke istana untuk dilebur.”
Arthur dan Eldrick saling berpandangan sebelum akhirnya menerima anugerah itu. Saat hendak bersujud kepada sang kaisar, kaisar menghentikannya lalu meminta mereka untuk duduk bersama dan menikmati teh di siang ini.
“Aku ingin mengingat kenangan lama saat aku masih menjadi pangeran. Kalian selalu bersama denganku dan tidak pernah memperlakukanku dengan cara yang berbeda hanya karena aku pangeran. Tapi lihatlah sekarang, kalian sama saja seperti pejabat lain.”
Gerutuan yang sangat tidak cocok dengan statusnya mulai terasa asing di telinga Arthur dan Eldrick. Sudah terlalu lama mereka tidak bertemu hingga hal yang dulu terasa biasa saja kini mulai terasa asing.
“Bagaimanapun juga sekarang anda Kaisar negeri ini, Yang Mulia.”
Sementara itu, si kecil Evren masih berdiri di depan pintu dengan patuh. Namun perhatiannya teralihkan saat melihat seekor capung terbang melintas tepat di depan matanya. Tiba-tiba wajahnya terlihat berbinar ceria dan kakinya dengan lincah langsung berlari mengejar hewan terbang itu.
Saat langkah kakinya membawanya ke sebuah taman, dari arah berlawanan ada anak kecil yang terlihat lebih kecil sedang berlari sambil menangis. Meskipun melihatnya, tapi Evren tidak sempat berhenti hingga akhirnya…
BRUK!
Dua anak kecil itu jatuh terduduk setelah tidak sengaja bertabrakan. Mereka saling bertatapan dan anak kecil itu juga langsung berhenti menangis. Justru menatap Evren dengan wajah penasaran.
“Kenapa kamu menangis?” pertanyaan itu spontan keluar dari bibir Evren karena sejak dulu dia diajari ayahnya agar jangan mudah menangis.
“hmm? Aku tidak suka obat pahit,” Ucapnya sambil menutup mulutnya sendiri. Katanya kembali berkaca-kaca membuat Evren sedikit bingung.
“Kenapa anak laki-laki mudah sekali menangis sih? Laki-laki harus kuat, sekuat kuda biar bisa menjaga ayah dan ibu!” Ucap Evren dengan lantang, sementara anak itu hanya menatapnya dengan bingung.
“Nih makan ini setelah minum obat, tapi diam jangan bilang siapa-siapa ya, soalnya aku membawa permen ini nggak bilang ayah dan paman.”
Anak kecil itu menerima permen tersebut lalu menyembunyikannya ke dalam baju sesuai perintah Evren.
“Pangeran!” Teriak seorang pelayan wanita sambil celingukan ke kanan kiri.
“Tuan muda!” Kali ini pelayan yang tadi menjaga Evren yang bergantian berteriak.
“Sstt janji jangan bilang siapa-siapa ya.”
Evren mengulurkan jari kelingkingnya yang disaut oleh anak itu. Sebelum melepas tautan kelingking itu, Evren menahan tangannya dan menarik jempol anak itu lalu menyatukan dengan jempolnya sendiri.
“Janji itu harus begini jadi nanti pasti ditepati.”
Si kecil yang lebih muda melihat kelingking yang tertaut dan jempol yang menempel. Lalu tautan itu terlepas dan Evren pergi berlari kembali ke arah saat dia datang barusan.
“Oh iya namaku Evren Vance!”
“Evren?” Gumamnya pelan.
“Pangeran, anda tidak apa-apa?” tanya seorang pelayan yang akhirnya berhasil menemukan sang pangeran.