“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Bab 10: Sumpah di Bawah Langit Senja
Langit senja di atas kota perlahan berubah warna menjadi jingga kemerahan, menyapukan bias cahaya hangat ke atas lantai lorong sempit tempat perkelahian singkat itu baru saja terjadi. Suasana di sekitar tempat tersebut mendadak sunyi, menyisakan deru napas Rangga yang perlahan mulai teratur setelah ledakan emosionalnya mereda. Di sudut lantai, salah satu anggota Viper yang sempat tersungkur akibat pukulan telak Rangga merintih pelan, lalu bangkit dengan susah payah dan berlari terpincang-pincang menyusul teman-temannya yang sudah kabur terbirit-birit lebih dulu.
Keisha masih berada dalam dekapan pelukan Rangga. Wajahnya terbenam di dada bidang pria itu, mencium aroma maskulin yang bercampur dengan peluh dan debu jalanan. Isakan tangis kecil yang sempat lolos dari bibirnya kini telah mereda, digantikan oleh rasa aman yang luar biasa pekat. Ia bisa merasakan debaran jantung Rangga yang berdetak cepat di balik kaos hitam yang dikenakan pemuda itu—sebuah bukti nyata bahwa insiden tadi juga menyisakan ketakutan mendalam di benak sang ketua geng, bukan karena takut pada musuh, melainkan takut kehilangan dirinya.
Rangga perlahan melonggarkan pelukannya, lalu menangkup kedua pipi Keisha dengan telapak tangannya yang hangat. Ibu jarinya dengan lembut mengusap sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipi mulus gadis itu.
"Udah... jangan nangis lagi," bisik Rangga dengan suara baritonnya yang serak, terdengar begitu kontras dengan sosoknya yang beringas saat menghajar musuh beberapa menit lalu. "Gua ada di sini. Nggak akan ada lagi yang berani nyentuh lo."
Keisha mendongak, menatap manik mata kelam Rangga yang kini memancarkan ketulusan mutlak dan rasa penyesalan yang mendalam. Dengan suara parau, Keisha berucap, "Kak Rangga... aku takut. Bukan buat diri aku sendiri, tapi... aku takut kalau suatu saat nanti Kakak terluka parah gara-gara terus-terusan ngelindungin aku dari mereka."
Mendengar kekhawatiran yang tulus itu, sudut bibir Rangga terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat langka. Ia menggelengkan kepalanya perlahan. "Dunia gua emang keras, Keisha. Luka, darah, dan musuh adalah hal biasa buat gua sejak lama. Tapi melindungi lo... itu bukan beban. Itu adalah satu-satunya hal bener yang sekarang lagi gua lakuin di hidup gua."
Kata-kata itu menghujam langsung ke lubuk hati Keisha, mencairkan seluruh sisa rasa takut dan keraguan yang sempat mengganjal di dadanya. Di tengah dunia anak-anak berandalan dan geng motor yang penuh kepalsuan, Rangga menawarkan kejujuran dan perlindungan tanpa syarat.
Rangga kemudian berbalik sebentar untuk memungut tas ransel Keisha yang berserakan di tanah. Ia membersihkan debu yang menempel di permukaan tas tersebut dengan tangannya, lalu merapikan buku-buku catatan milik Keisha yang sempat berserahan sebelum memasukkannya kembali ke dalam tas dengan cermat. Setelah itu, ia menyerahkan ransel tersebut kepada Keisha.
"Ayo, gua antar lo pulang sekarang," kata Rangga lembut sambil meraih tangan kanan Keisha, menggenggam jemari mungil gadis itu dengan erat seolah tak ingin membiarkannya lepas barang sedetik pun. "Hari sudah makin sore, dan ibu lo pasti udah nunggu di rumah."
Keisha mengangguk pelan, membiarkan tangannya berada dalam genggaman hangat sang ketua geng. Mereka berjalan berdampingan keluar dari lorong sempit menuju tempat motor sport hitam Rangga terparkir rapi di tepi jalan raya utama.
Perjalanan pulang sore itu terasa jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Hujan telah sepenuhnya reda, meninggalkan udara sore yang sejuk dan bersih. Keisha duduk di boncengan belakang, kali ini tanpa rasa ragu melingkarkan kedua tangannya memeluk erat pinggang Rangga sepanjang perjalanan. Ia menyandarkan kepalanya pelan ke punggung bidang pemuda itu, menikmati setiap detik ketenangan di tengah bisingnya deru knalpot kota.
Tepat sebelum memasuki gang sempit perumahan tempat tinggal Keisha, motor berhenti di ujung jalan seperti biasa. Keisha turun dengan hati-hati, lalu menyerahkan kembali helm cadangan kepada Rangga.
"Terima kasih banyak ya, Kak... buat semuanya hari ini," ucap Keisha tulus sambil menatap wajah Rangga di bawah temaram lampu jalan yang baru saja menyala.
Rangga menerima helm tersebut, lalu menatap Keisha lekat-lekat. "Masuklah ke rumah, istirahat yang tenang. Besok pagi, gua bakal jemput lo di tempat biasa jam enam lewat seperempat. Jangan nolak."
Keisha tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus pertama yang ia tunjukkan kepada Rangga sejak pertemuan pertama mereka di koridor sekolah beberapa hari lalu. "Iya, Kak. Aku janji nggak akan nolak."
Melihat senyuman itu, jantung Rangga berdesir hebat. Untuk sesaat, dinginnya dunia jalanan dan beban sebagai ketua Black Raven seolah menguap begitu saja, tergantikan oleh kehangatan sederhana yang dihadirkan oleh gadis di hadapannya.
"Masuklah," suruh Rangga pelan.
Keisha mengangguk, lalu berbalik dan mulai melangkah memasuki gang sempit menuju rumahnya. Ia sempat menoleh sekali ke belakang, mendapati Rangga masih berdiri di samping motornya, mengawasi setiap langkahnya hingga ia benar-benar hilang dari pandangan di balik tikungan gang.
Baru setelah sosok Keisha tidak terlihat lagi, Rangga menarik napas panjang, mengenakan kembali helmnya, dan memutar gas motornya untuk kembali ke markas. Namun, di balik ketenangan malam itu, insting tajam sang ketua geng mengatakan bahwa badai yang sesungguhnya dari kelompok Viper belumlah berakhir. Insiden sore tadi di lorong samping sekolah hanyalah permulaan dari konfrontasi besar yang akan segera meledak.
Keesokan paginya, matahari terbit dengan cerah, menyinari kawasan SMA Nusantara dengan kehangatan yang menyegarkan. Sesuai dengan janjinya, Rangga tepat waktu menjemput Keisha di halte taman kota. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, suasana terasa begitu nyaman, seolah jarak antara dunia mereka yang tadinya sangat kontras perlahan-lahan mulai melebur menjadi satu.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama begitu mereka menginjakkan kaki di gerbang SMA Nusantara.
Suasana di koridor utama sekolah pagi ini tampak jauh lebih riuh dan berbeda dari biasanya. Bisik-bisik para siswa terdengar di setiap sudut lorong, dan beberapa guru tampak berlalu-lalang dengan wajah tegang. Ketika Keisha dan Rangga berjalan melewati mading sekolah, mereka mendapati sekelompok siswa sedang berkerumun melihat sesuatu yang tertempel di papan pengumuman utama.
Rangga menghentikan langkahnya, sementara Satria dan Bara yang kebetulan menyusul dari belakang langsung maju untuk membuka jalan di tengah kerumunan siswa.
"Ada apa nih?" tanya Satria kepada salah satu siswa di dekat mading.
Siswa itu menoleh dengan wajah pucat, lalu menunjuk ke arah kertas pengumuman besar yang baru saja ditempel oleh pihak sekolah pagi ini. "Pihak... pihak sekolah baru saja mengeluarkan surat keputusan darurat, Kak. Geng Black Raven dan Viper dijatuhi sanksi skorsing massal akibat insiden perkelahian kemarin sore di luar area sekolah..." Siswa itu menelan ludah. "...dan... dan khusus buat Kak Rangga, pihak yayasan sekolah sedang mempertimbangkan keputusan sanksi skorsing panjang atau bahkan keluar dari sekolah."
Mendengar pengumuman tersebut, suasana di koridor mendadak hening seketika.
Keisha mematung di tempatnya, darah di tubuhnya seolah mendadak berhenti mengalir. Napasnya tercekat. Matanya menatap nanar ke arah kertas pengumuman di papan mading, menyadari sepenuhnya bahwa badai terbesar akibat kehadirannya kini benar-benar telah menghantam kehidupan Rangga secara telak.